Tentang Kejujuran

sba1Oleh: Sribudi Astuti*

Awal Juli 2009 lalu merupakan perjalanan darat terpanjang saya selama berada di Sulawesi Selatan. Bila sebelumnya setiap kali harus melakukan perjalanan saya tinggal terima beres dan berangkat tanpa harus pusing dengan ongkos dan transportasinnya, kali ini saya mengurus mulai dari kendaraan yang akan saya tumpangi, memesan tiket bus, booking kamar hotel, hingga urusan-urusan lainnya.

Tujuan perjalanan saya adalah Tomoni, kota kecamatan 500 km arah timur laut dari kota Makassar. Sekilas tentang Tomoni, adalah sebuah kota kecil yang hampir seluruh penduduknya adalah transmigran dari Pulau Jawa dan Bali. Perjalanan dan kerja yang harus selesai dalam lima hari berjalan dengan lancar. Bahkan, boleh dibilang sangat lancar dan suasana hati serasa berada di kampung halaman. Mulai dari makanan, bahasa sehari-hari, hingga suasana kota membuat saya dan teman saya sangat betah.

Kehidupan di tengah-tengah transmigran yang sedari awal memang berniat merantau untuk kehidupan yang lebih baik di tempat yang barutanpa mengorbankan kejujuran dan sikap kerja kerasmerupakan pelajaran baru yang harus saya terima tanpa harus ada yang bertindak sebagai guru dan murid. Semua jelas terpampang di depan mata. Nuansa kerja keras tampak sekali di kota ini, yang terus bertumbuh untuk sejajar dengan kota lain seperti Makassar.

Satu pelajaran berharga yang menjadi kenangan terdalam saya atas Tomoni adalah ketika saya harus check out dari hotel dan membayar seluruh biaya kamar selama empat malam. Resepsionis hotelsetelah menerima seluruh pembayaran sayakemudian menanyakan pada saya, “Mbak, mau ditulis berapa biayanya di dalam nota hotel?”

Dengan nada bingung saya balik bertanya padanya, “Lho, memangnya kenapa Mbak? Ada yang harus saya bayar lagi?”

”Tidak Mbak. Sering kok ada pengunjung hotel yang minta jumlah uang yang ditertulis di nota lebih besar daripada yang ia bayarkan,”jelasnya dengan sedikit canggung.

Saya tersenyum dan dengan bercanda saya timpali kata-katanya, ”Memangnya Mbak mau saya suruh bohong?” Dan, wanita cantik itu hanya tersenyum. ”Sudahlah Mbak, tulis apa adanya saja.”

Saya jadi miris…. Rupanya budaya mark up menjangkau juga di kota kecil seperti Tomoni. Dan, bisa dipastikan mereka yang secara sadar maupun tidak mengajarkan budaya tersebut—dan budaya sejenis demi sedikit keuntungan rata-rata—adalah orang yang melek huruf, mengetahui peraturan, dan bekerja di sektor-sektor yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Ada sebersit perasaan malu dengan hal tersebut, terlebih setelah peristiwa di hotel itu terus berputar-putar di kepala saya. Ini adalah peristiwa aneh pertama yang menguji saya.

Ketika saya masih bekerja di kampus, setiap kali harus melakukan praktik atau mengunjungi lokasi penelitian, berapa uang yang saya keluarkan itulah yang saya laporkan untuk mendapatkan penggantian. Bahkan, saya sangat mengagumi seorang profesor dari Universitas Tsukuba yang kebetulan datang ke kampus. Sewaktu kami mengantar dia mengunjungi Borobudur, dia menolak tiket yang kami bayarkan untuknya. Dia berkata bahwa dirinya sudah dibekali uang yang cukup untuk segala keperluannya.

Saya hanya bisa berkutat dengan pikiran saya dan membanding-bandingkan kondisi nyata yang saya hadapi dengan kondisi ideal yang ditanamkan oleh guru-guru saya dan orang tua saya. Akhirnya, perjalanan pulang dari Tomoni ke Makassar dihiasi percakapan saya dengan teman saya tentang itung-itungan berapa harga yang kra-kira dapat kami peroleh seandainya kami melakukan manipulasi kuitansi. Dan, kami sampai pada angka Rp 400.000 dibagi kami berdua berarti Rp 200.000.

”Hah… harga sebuah kejujuran di negeri ini rendah banget, Rp 200.000?”

Dan, kami pun saling berpandangan dan tergelak bersama-sama sambil membayangkan betapa tololnya kami bila sampai melakukan hal itu.

Satu jam setelah saya meninggalkan Tomoni, tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Entah ini kebetulan atau buah kekuatan batin ayah dan anak. Hal yang diungkapkan oleh ayah saya adalah tentang kejujuran dan ketulusan orang-orang yang bersamanya membesarkan kelompok petani yang sedang dirintisnya. Kejujuran yang kecil telah mengikat hampir 90 orang untuk maju bersama, dan manfaatnya cukup banyak. Bahkan, keluarga kami cukup merasakannya. Dalam perkataannya di telepon, ada sedikit pesan moral dari Ayah bahwa kejujuran kecil, dibarengi dengan ketulusan kecil, itu menjadi tak terbilang harganya dan nikmat rasanya. Ah… seandainya saya melakukan kecurangan di nota hotel… betapa sakitnya saya ”ditampar” oleh kata-kata ayah saya.

Sahabat, sepertinya ini terdengar klise jika seseorang mengatakan tentang kejujuran di tengah persaingan di mana banyak orang melaukan segala cara untuk meraih yang diinginkan. Hem… kalau sudah begini kita bisa melakukan apa untuk menegakkan kejujuran?

Cukup bayangkan saja uang Rp 200.000, bahkan kurang, yang sanggup membeli kejujuran kita. Dengan begitu kecilnya harga sebuah kejujuran, apakah kita akan melepaskannya? Perlu disadari, tanpa harus mengorbankan kejujuran pun, kita sebagai manusia yang dibekali akal, pasti dapat memperoleh rezeki yang lebih baik. Akhirnya, kita cukup membentengi diri dan tak ada salahnya jika mencamkan pepatah yang mengatakan meski zaman dimakan usia. Jujur tetap jujur yang tak lapuk ditelan masa meski erosi moral mewabah di seluruh negeri.[sba]

* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP: 085656450918.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Nyaman dengan Memahami Rasa Marah

ekOleh: Eni Kusuma*

“Berbicaralah kita ketika sedang marah,

maka kita akan melakukan percakapan terbaik yang akan selalu kita sesali.”

~ anonim

Satu dari banyak hal yang membuat seseorang merasa tidak nyaman dalam menjalani hidup adalah rasa marah. Rasa marah mungkin mendapat tempat istimewa daripada rasa takut dan rasa bersalah. Ini dapat dilihat dari dampak yang akan timbul jika seseorang bereaksi atas ketiga rasa tersebut. Reaksi dari rasa takut dan rasa bersalah mungkin tidak sedahsyat rasa marah jika dalam keadaan wajar. Reaksi dari rasa marah bukan saja berdampak pada diri seseorang saja melainkan juga akan melukai orang-orang di sekitarnya. Apalagi orang-orang yang sebenarnya kita cintai. Sedangkan reaksi dari rasa takut dan rasa bersalah dalam ambang kewajaran, mungkin hanya akan dirasakan oleh diri si perasa saja. Ini berbeda dengan reaksi dari ketiga rasa tersebut jika sudah akut. Reaksi dari ketiga rasa tersebut tidak saja melukai tetapi bisa membunuh, baik itu rasa marah, rasa takut maupun rasa bersalah.

Sebenarnya, tidak ada emosi negatif karena yang ada adalah emosi yang memengaruhi secara negatif. Mungkin, ini yang kerap kali sering kita sebut emosi negatif. Emosi ini bisa kita manfaatkan secara positif jika kita memahaminya. Hanya memahaminya karena memiliki, bukan dimiliki oleh mereka. Baik itu rasa marah, rasa takut, maupun rasa bersalah.

Rasa marah tidak boleh ditunjukkan karena akibat dari itu akan berdampak sangat merugikan. Bukan hanya melukai orang-orang sekitar, tetapi integritas kita dipertaruhkan dan kenyamanan hidup jauh dari kenyataan. Tetapi, jika itu sudah terjadi karena kekhilafan, tidak ada kata terlambat untuk berubah. Minimal belajar untuk berubah. Dan, biarlah waktu yang bicara.

Jika tidak boleh kita tunjukkan, apakah harus kita tekan dan sembunyikan? Menekan dan menyembunyikan rasa marah sama tidak nyamannya dengan menunjukkannya. Karena, ibarat bom waktu, dapat meledak suatu saat nanti, cepat atau lambat. Bagaimanakah sebaiknya? Seperti uraian saya di atas, rasa marah harus bisa dikenali, diamati, diperhatikan, dipahami, dan dimengerti.

Bagaimanakah melakukannya? Jika sedang marah, katakanlah: “Saya melihat sejumlah rasa marah dalam diri saya!” Atau, “Saya memiliki rasa marah pada diri saya!” Coba bandingkan dengan pernyataan kedua: “Saya marah!!!” lengkap dengan atribut yang menyertainya, yaitu nada tinggi, mata membelalak, napas naik turun dengan cepat. Mungkin akan sangat berbeda dirasakan ketika kita berbicara kalimat yang pertama tadi pada diri. Pada kalimat pertama, kita memiliki emosi tetapi emosi tidak memiliki kita. Sedangkan pada kalimat kedua, “Saya marah” berarti kita adalah emosi itu, dan emosi itu adalah kita, dan berarti pula kita dimiliki oleh emosi itu. Sehingga, secara alamiah kita terdorong untuk bereaksi menunjukkannya. Ini yang sangat merugikan.

Adanya emosi pada diri kita disebabkan oleh kebutuhan kita akan suatu hal belum terpenuhi. Ini berarti emosi merupakan tanda, sebagai indikasi, atau sebagai penunjuk kebutuhan utama kita. Untuk itu, menjadikannya sahabat adalah sangat bijak. Karena memperlakukan emosi sebagai musuh bisa sangat merugikan. Jika kita memahami perasaan ini, bukan bereaksi, kita dapat sangat beruntung. Bayangkanlah sesuatu yang menguatkan seperti kita membayangkan suatu hubungan yang damai dan harmonis, penuh cinta dan perasaan sayang. Dan, ini tidak bisa kita gadaikan dengan sejumlah uang. Semakin kita membayangkan hal ini, semakin kuat pula kita mengatakan “tidak perlu marah” kepada diri sendiri meskipun kita sadar memiliki perasaan itu.

Emosi-emosi yang merupakan tanda bahwa kebutuhan kita belum terpenuhi adalah seperti berikut:

Kemarahan, memberi tahu ada sesuatu yang keliru dan mungkin perlu diperbaiki.

Ketakutan, memperingatkan kita akan adanya ancaman.

Rasa bersalah, memperingatkan kita untuk bersikap sensitif terhadap hubungan yang penting.

Seperti nasihat bijak yang berkata: “Rasa marah dapat membutakan, rasa takut dapat melumpuhkan dan rasa bersalah dapat melemahkan.”

Demikiankah?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.3/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Mitra Kerja atau Budak Kerja?

iy1Oleh: Iftida Yasar*

Perusahaan besar biasanya memberikan kesempatan kepada pihak ketigayang dalam hal ini bisa berupa perorangan atau badan hukumuntuk mengerjakan sebagian pekerjaannya. Misalnya, menjadi pemasok barang-barang merchandize berupa gelas, jam tangan, atau tas dengan logo perusahaan sebagai alat bantu promosi. Atau, bisa juga pencetakan alat-alat kantor.

Banyak perusahaan yang telah menerapkan cara ini. Sebuah jaringan pusat perbelanjaan di Indonesia bahkan sama sekali tidak memiliki stok barang sendiri. Para pihak ketigalah yang memasok barang untuk memenuhi kebutuhan konsumennya. Proses terjalinnya kerjasama antara mereka biasanya didahului dengan pengumuman terbuka akan adanya tender pengadaan barang atau jasa. Kualifikasi dan persyaratan untuk dapat mengikuti tender itu juga diumumkan. Dengan penggambaran umum yang cukup jelas biasanya berbagai pihak yang merasa memenuhi kualifikasi untuk ikut tender akan tertarik.

Setelah itu, mulailah perjalanan panjang bagi mitra kerja untuk mengikuti berbagai babak kualifikasi, sampai akhirnya mendapatkan pekerjaan itu. Banyak hal yang menjadi alasan sebuah perusahaan dapat dipilih untuk menjadi mitra kerja. Misalnya, pengalaman dari pemilik atau profesionalisme dalam menangani pekerjaan yang sama sebelumnya. Siapa saja klien yang pernah ditangani, berapa lama usia perusahaan, nama baik perusahaan, dan harga yang kompetitif sering menjadi pertimbangan.

Sebagai perusahaan kecil, tentu saja bangga jika terpilih menjadi mitra kerja perusahaan besar. Terbayang hal itu akan dapat mendongkrak citra bonafiditas perusahaan dengan menyebutkan nama perusahaan besar itu dalam daftar portofolio klien. Begitu juga bayangan keuntungan yang akan mengalir dari perusahaan besar tadi.

Karena bayangan-bayangan indah itu, tak jarang mitra kerja mau saja melaksanakan apa yang diminta oleh perusahaan besar pemberi kerja. Biasanya perjuangan tahap akhir adalah menentukan harga jasa atau barang yang akan dijadikan objek pekerjaan. Tim dari perusahaan besar biasanya sangat ahli dan piawai dalam menekan harga. Maklum, mereka adalah sekumpulan orang pintar yang memang terlatih untuk melakukan pekerjaan itu.

Semua alasan yang dikemukakan mitra kerja seperti kualitas, keunikan, nilai tambah, dan lain-lain bisa saja tidak digubris oleh tim itu. Mereka hanya mau tahu, apakah si vendor bersedia atau tidak dengan harga yang ditawarkan. Setelah itu, take it or leave it. Vendor juga tak diberi waktu yang cukup untuk berpikir, karena masih banyak mitra kerja lain yang antri untuk mengerjakan pekerjaan ini, jika ia tidak mau. Take it or leave it, dengan kata lain tidak peduli apakah mitra kerjanya ini akan dapat bayaran atau imbalan yang layak sehingga dapat bekerja dengan baik. Mitra kerja yang dapat memberikan harga yang paling murah adalah mitra kerja yang bisa diajak bekerja sama dan diberikan kesempatan.

Akhirnya, menyerahlah mitra kerja tadi terhadap harga dan kondisi kerja yang sudah ditentukan oleh perusahaan besar. Harapannya, dengan mengerjakan pekerjaan ini akan memberikan nilai tambah terhadap nama perusahaannya, dan itu dapat menjadi bekal untuk mendapatkan pekerjaan lainnya di perusahaan besar lainnya. Mulailah mitra kerja ini bekerja dengan keras untuk menyiasati bagaimana dengan budget yang minim dapat memenuhi permintaan dan persyaratan dalam perjanjian kerja itu. Berat rasanya apalagi ditambah dengan adanya permintaan tambahan pekerjaan yang tidak tercakup di perjanjian kerja tetapi harus dikerjakannya. Mau menolak tidak enak, karena berharap akan mendapatkan pekerjaan tambahan lagi. Akhirnya, di akhir kontrak pekerjaan babak belurlah mitra kerja tadi, baik dalam pengerjaannya maupun dalam meraih keuntungan.

Perusahaan besar seharusnya menjadi bapak angkat, menjadi pendorong serta mentor agar perusahaan kecil dapat belajar mendapatkan transfer of knowledge atau technology, bukan menjadi monster yang menjadikan mitra kerjanya sebagai budak kerja. Hey…why not? Ini adalah hukum dagang , siapa yang pintar dan kuat berhak menentukan siapa yang menjadi mangsanya. Kalau tidak mau masih banyak perusahaan lain yang antri untuk mendapatkan pekerjaan ini. Bertanyalah pada hati nurani, jika kita sebagai pihak yang mengerjakannya, apakah sudah layak antara hak dan kewajibannya? Sudah saatnya diatur perjanjian kerjasama yang lebih adil antara pihak yang kuat dengan pihak yang lebih lemah agar perusahaan kerja betul menjadi mitra kerja bukan budak kerja.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Minta Amnesia

adOleh: Alexandra Dewi*

Mulai dari buku saya yang kedua Queen of Heart: Kartu Andalan untuk Memenangkan Hati Pria Idaman, hingga buku lanjutannya Heart inside the Heart: Apa yang Perlu Diketahui Wanita sebelum Menikah, Selingkuh atau Bercerai, pertanyaan yang paling banyak saya dapat dari pembaca adalah: “Bagaimana caranya saya melupakan orang ini?

Kasus soal cinta yang tidak kesampaian dan kandas atau soal hubungan yang tidak bisa dilanjutkan ini ternyata membuat orang menjadi kecewa, trauma, sakit hati, dan lain sebagainya. Orang sering meremehkan masalah perasaan, cinta, dan hati. Padahal saya yakin, kalau orang patah hati, hanya the brave, the strong willed, dan orang yang minta kekuatan iman dari Tuhan saja yang bisa survived.

Baru-baru ini negara kita kena bom. Saya yakin kalau tukang bomnya sedang patah hati atau sedang jatuh cinta, bomnya tidak jadi karena yang tukang bom kalau sedang jatuh cinta tidak bakalan mau repot-repot membuat bom. Sebab, dia bakalan sibuk pacaran, sedangkan kalau si tukang bom sedang patah hati, dia akan terlalu lemas dan tidak ada semangat bikin bom. Tetapi, kalau si tukang bom sungguh-sungguh patah hati dan patah semangat, saya enggak heran jika dia mau bawa bom dan bunuh diri, karena judulnya udah ogah hidup.

Saya sungguh tidak becanda dalam hal satu ini. Patah hati saja sudah lemas, tetapi itu masih OK kalau tidak dibarengi dengan patah semangat. SEMANGAT. Suatu kata yang Papa saya bilang, “Dewi, kamu boleh kehilangan segalanya asal kamu tidak hilang semangat!” Sehingga, yang namanya semangat saya enggak mau tahu bagaimana caranya, saya pelihara itu seperti saya memelihara kulit saya atau memelihara kesehatan saya. Pokoknya biar bagaimanapun, saya berdoa “Tuhan, apa gunanya kalau aku hilang semangat dan mati suri, bagaimana aku bisa menjadi alat-Mu?

Bohong kalau saya bilang tidak ada one of those days“ yang rasanya saya malas, lemas, tidak ada semangat untuk ngapa-ngapain. Bohong kalau saya tidak kena penyakit malas. We all just human and its OK to have one of those days. Tetapi, setelah saya menggeret pantat saya ke kamar mandi sambil mengimani bahwa kalau Tuhan masih kasih saya suruh bangun hari ini, berarti Dia belum selesai dengan saya. Tentu ditambah dengan memasang lagu Kek Apa Kek, dan yang paling menolong buat saya adalah teman-teman baik saya. Mereka tahu apa yang saya rasakan karena saya ceritakan apa adanya, dan akhirnya saya menertawakan segala kelemahan, kelemasan, dan apa pun ciri khas manusia yang hidupnya penuh dinamika.

Saya tidak bisa membayangkan orang yang tidak punya sahabat sejati itu akan seperti apa rasanya. Kenalan saya, kalau ketemu saya enggak tahu basa-basi atau apa, suka memuji bahwa saya awet muda. Dan, resep orang dulu bilang bahwa tertawa bikin awet muda itu mungkin ada benarnya juga (di samping saya spend a fortune on my skin), dan kebetulan saya usaha di bidang makanan kesehatan. Tetapi, saya punya habit menertawakan masalah dan diri saya sendiri (Dan, kadang tentu menertawakan orang lain).

Menangis juga sangat diperbolehkan. Kalau kita kehilangan orang yang kita cintai, sayangi, baik karena yang bersangkutan dipanggil Tuhan atau meninggalkan kita, monggo, Anda disilakan menangis. Sangat diizinkan untuk berkabung! Wong di perusahaan dan peraturan tenaga kerja saja ada izin cuti tiga hari tanpa potongan uang hadir jika ada keluarga yang meninggal. Hm mungkin kelak ada cuti patah hati juga tiga hari, kali ya? Anyway, apa pun emosinya, mau menangis silakan, mau menertawakan God’s sense of humor juga boleh. Asal: SEMANGAT tetap ada. Lose your heart to love, keep your SEMANGAT to you!

Kembali ke pertanyaan klasik: “Mbak Alexa, bantu saya Mbak. Bagaimana caranya supaya saya normal kembali dan bisa melupakan…?Yang dimaksud pembaca di sini kadang soal melupakan orang yang menyakiti mereka atau melupakan soal kejadian pacar, suami, atau istri yang ketahuan selingkuh.

Karena saya sendiri pernah sakit hati, dan saya pernah patah hati, saya tidak akan mengeluarkan jawaban-jawaban mengesalkan dan membosankan seperti;Time heals” atau “Aduh, cowok berengsek begitu saja dipikirin“ atau “Hey, move on!”. Karena, saya yakin pembaca sudah tahu soal itu dan mereka hanya bertanya soal “ How?” atau bagaimana?

Akhirnya, saya menulis soal ini dengan suatu jawaban yang menurut saya layak dicoba: Jangan dilupakan. Biarkan saja. Let it be.

Kenapa malah jangan dilupakan? Karena, Tuhan sudah memberi kita otak, memberi memory atau daya ingat. Ya, mau lupa? Kena amnesia dulu baru bisa lupa. Hal hal ini tidak bisa dilupakan. Sampai mati juga enggak bakalan lupa, teman-temanku.

Justru semakin dipaksa apa yang lumrah, sudah dasar dan intinya diberikan Tuhan, secara tidak langsung kita menentang kehendak Tuhan. Atau, setidaknya menentang pemberian-Nya. Jangan dilupakan, apalagi dipaksakan untuk dilupakan. Apa yang perlu dicoba dilakukan dan masih bisa besar harapan untuk terjadi adalah: Memaafkan dan berdamai dengan keadaan yang terjadi.

Terima saja bahwa kita mencintai orang itu dan orang itu bukan jodoh kita. Terima saja bahwa misalnya kita mencintai orang yang salah. Terima saja bahwa kita dikhianati oleh orang yang kita cintai dan coba pertama; menerima, kedua; memaafkan. Menerima semua akan membuat kita tenang karena kita tidak berontak akan keadaan yang sedang menghampiri kita, let it be. Sedangkan OMG…. Memaafkan itu enak sekali! Kalau kita benci sama orang, saya umpamakan adalah kita menjadi seperti seorang budak. Budak dari sifat tidak bisa memaafkan itu sendiri, atau bahkan budak dari orang yang kita benci.

Ketika kita sedang benci (tes ini sudah saya lihat di berbagai jenis kasus dan orang yang berbeda-beda); mereka mengutuk, memaki, bahkan ada yang mendoakan orang yang mereka benci supaya kena karma! Lha, kena kecelakaan, kena ini dan itu (yang jelek-jelek tentunya), dan tidak jarang yang bela-belain mau ke dukun kalau bisa diguna-gunain atau diapain deh untuk melampiaskan dan menghakimi orang yang menyakiti mereka.

Lalu, saya bertanya kembali: Lho, katanya CINTA kepada orang itu… kalau cinta beneran, doain dong yang baik-baik, bukan malah dikutuki? Hah! Kadang kata CINTA itu dipakai sembarangan juga. Kalau orang yang katanya kita CINTAI menyakiti kita, bisakah kita memaafkan dia, dan bahkan mendoakan serta mengaharapkan hal baik buat dia, walau apa pun rencana hidupnya tidak melibatkan kita?

SEMANGAT – kalau itu kita masih punya, kenapa takut dia bahagia? Kita pun masih bisa bahagia, mulai dari diri kita sendiri: Maafkan! Jangan remehkan ilmu menerima dan memaafkan. Itu obat yang jauh lebih manjur daripada memaksa otak kita untuk melupakannya.

CINTA—buka definisi dan kamusnya serta artinya, dari berbagai ahli agama saya rasa enggak ada yang mengajarkan bahwa cinta itu artinya membenci. Malah, bukankah diajarkan rasa amarah itu harus pupus sebelum matahari terbenam? Jangan pas matahari terbit lagi, ya marah lagi, malahan dua kali lipat dari hari sebelumnya. Ya, itu dia namanya juga manusia.

Kalau teringat dia terus ya biarkan saja. Yang penting sudah salam damai di dalam hati dan hei, kata orang dulu, kalau jodoh tidak ke mana. Sementara belum jodoh, mendingan hidup damai dan terima saja orang atau kejadian pahit itu apabila masih ada di memori kita. Entar sudah tua, sudah jompo pasti juga lupa sendiri hahaha….[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang keempat tentang fashion. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.7/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

Buku Saku

sg1Oleh: Sulmin Gumiri*

Dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey menjelaskan betapa pentingnya manajemen pribadi dalam menunjang kesuksesan seseorang. Menurut pakar pengembangan diri ini, salah satu hal mendasar dalam manajemen pribadi yang harus menjadi kebiasaan agar bisa sukses adalah dengan selalu mendahulukan pekerjaan berdasarkan skala prioritas. Bagi orang kebanyakan, pekerjaan yang penting dan urgen tentunya harus lebih didahulukan daripada pekerjaan yang penting tetapi tidak harus dilakukan sekarang. Tetapi bagi orang-orang yang proaktif, yang terjadi adalah kondisi sebaliknya. Mereka cenderung akan mendahulukan pekerjaan yang tidak urgen tetapi penting daripada selalu dikejar-kejar waktu dengan selalu fokus kepada pekerjaan urgen dan penting saja.

Masalahnya adalah kita tidak akan pernah bisa menentukan skala prioritas pekerjaan jika kita tidak memiliki daftar pekerjaan yang ingin kita lakukan. Dalam tulisan kali ini saya ingin membagikan pengalaman pribadi saya tentang betapa pentingnya sebuah buku saku dalam manajemen pribadi kehidupan kita sehari-hari.

Saat mengunjungi salah satu museum bersejarah di Jepang baru-baru ini, saya menyaksikan peninggalan salah seorang tokoh besar di negeri Sakura tersebut yang sudah meninggal beberapa puluh tahun yang lalu. Dari semua koleksi pribadi sang tokoh yang dipajang di kotak kaca, mulai dari publiaksi ilmiah, peralatan kantor, dan pakaian kerja, hingga berbagai medali penghargaan yang pernah ia dapatkan semasa hidupnya, saya sangat tertarik melihat tumpukan puluhan buku saku kecil yang juga dipajang di sana. Pada salah satu lembaran buku yang sengaja dibuka, terlihat tulisan tangan yang berisi agenda kerja harian sang pemilik buku.

Dengan memajang buku-buku saku sederhana tersebut, pengelola museum seolah-olah ingin menyampaikan pesan kepada pengunjung, bahwa sang tokoh adalah orang yang sangat disiplin mengelola dirinya dengan selalu membuat rencana kerja dan merekam apa saja yang ia lakukan setiap hari, sejak ia masih sangat muda hingga akhir hayatnya.

Seiring dengan perjalanan waktu sebagai pegawai negeri, akhir-akhir ini saya merasakan ada semacam peningkatan efisiensi dan efektivitas yang luar biasa dari kemampuan saya mengerjakan berbagai jenis dan volume pekerjaan, yang seolah-olah semakin bertambah dari hari ke hari. Saking padatnya agenda kerja yang harus dikerjakan setiap harinya, pernah salah seorang teman bergurau kepada saya, “Di saat para staf terlihat santai dan kadang berkeluh kesah tentang tidak adanya pekerjaan di kantor, Pak Sulmin justru selalu sibuk seolah-olah tidak pernah kehabisan pekerjaan. Memangnya yang dikerjakan Pak Sulmin apa saja, sih?”

Pertanyaan menggoda tersebut hanya saya jawab sekenanya, “Saya juga tidak tahu kenapa selalu saja ada yang harus saya kerjakan. Mungkin karena sebelum menjadi pegawai dulu saya memang seorang pencari kerja. Makanya, yang saya dapatkan setelah menjadi pegawai pun akhirnya juga cuma pekerjaan yang selalu datang tiada habis-habisnya.”

Saya sebenarnya ingin mengatakan kepada teman tersebut bahwa agar hidup kita senantiasa bersemangat dan antusias setiap hari maka kita harus memenuhi kapasitas kerja kita pada hari tersebut. Pemenuhan kapasitas kerja tersebut bisa dengan melakukan tugas-tugas rutin yang biasanya diberikan oleh atasan kita, atau secara proaktif membuat daftar kegiatan antisipasi sendiri sebelum disuruh sehingga kita tidak selalu tergantung kepada perintah atasan. Orang kebanyakan akan cenderung kepada pola yang pertama, sehingga mereka yang selalu pada posisi menunggu perintah atasan inilah yang sering mengeluh bahwa tidak ada pekerjaan di kantor. Alhasil, mereka banyak yang frustasi dan kehilangan gairah serta semangat dalam menjalani kehidupan. Mereka bahkan ada yang memilih ikut meliburkan diri begitu mengetahui bahwa pimpinan mereka tidak akan masuk kerja sehingga tidak ada yang akan memberikan pekerjaan kepada mereka hari itu.

Orang yang proaktif tidak akan pernah kehabisan pekerjaan. Mereka menyadari bahwa sebenarnya banyak sekali hal-hal yang bisa kita kerjakan tanpa menunggu perintah atau arahan dari orang lain. Bagi mereka, lebih baik menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan kesadaran dan keinginan sendiri daripada mengerjakannya karena disuruh. Dengan berprinsip seperti ini, mereka menjadi manusia-manusia yang bebas dan tidak pernah merasa dalam tekanan saat melakukan aktivitas-aktivitas pekerjaan mereka sehari-hari.

Sebuah buku saku akan sangat membantu kita untuk selalu menjaga antusiasme dan semangat kerja. Kita dapat memanfaatkan buku saku tersebut sebagai alat untuk merekam dan merencanakan apa saja yang ingin kita kerjakan setiap harinya. Cobalah untuk membuat kebiasaan baru dengan meluangkan waktu 5 sampai 10 menit sebelum tidur untuk memikirkan dan mencatat apa yang ingin kita lakukan esok hari. Besoknya, sebelum berangkat ke tempat kerja, buka kembali buku saku tersebut dan sempatkan sekitar 10 sampai 15 menit untuk kembali mengecek daftar pekerjaan yang telah kita buat malam harinya, dan bila perlu menambahkan daftar aktivitas lain yang baru kita ingat pagi itu.

Dari kedua kebiasaan ini, saya biasanya selalu mempunyai antara 5 sampai 10 daftar aktivitas yang akan dilakukan setiap harinya. Aktivitas-aktivitas tersebutlah yang selalu membuat saya selalu dalam kapasitas penuh untuk bekerja dan berproduksi dari hari ke hari.

Apa pun profesi kita, saya yakin bahwa kita akan selalu semangat dan terlihat bergairah setiap kali datang ke tempat kerja apabila memiliki daftar aktivitas harian yang telah kita buat dan prioritaskan sendiri sebelumnya. Semangat dan antusiasme ini disebabkan karena kita telah menciptakan tantangan yang berupa daftar aktivitas, dan berkomitmen untuk menyelesaikan setiap tantangan tersebut pada hari itu.

Dengan tantangan dan komitmen kepada diri sendiri ini maka kita akan terlatih untuk menghargai setiap prestasi yang berupa penyelesaian satu per satu daftar pekerjaan kita. Sebaliknya, kita akan merasa rugi dan bersalah jika kita tidak bisa menyelesaikan semua pekerjaan dan gagal memenuhi komitmen yang telah kita buat sendiri tersebut. Kondisi untuk memilih antara reward dan punishment inilah yang akan membuat kita selalu terpacu untuk secepatnya menyelesaikan setiap daftar pekerjaan yang telah kita buat.

Setiap kali kita menyelesaikan satu pekerjaan dan men-contreng-nya dari daftar yang ada dalam buku saku kita, di saat itulah kita akan merasa puas dan bangga kepada diri sendiri karena berhasil menyelesaikan satu tantangan pekerjaan. Semakin banyak pekerjaan yang kita bisa selesaikan, perasaan puas dan menghargai diri sendiri pun menjadi semakin besar. Sehingga tidak jarang, ketika kita menyelesaikan semuanya di akhir jam kerja, maka pasangan kita akan melihat kita ceria dan berseri-seri saat pulang ke rumah. Jadi, semakin sibuk kita maka semakin antusias dan bergairah pula kita menutup setiap hari yang kita lewati.

Pertanyaannya, buku saku seperti apa yang paling efektif untuk membuat komitmen harian untuk selalu menyibukkan diri dalam bekerja? Setiap awal tahun baru, saya cenderung selalu mengganti jenis buku agenda yang saya pakai, mulai dari yang sederhana, tipis, polos, dan murahan, sampai kepada yang edisi deluxe, sangat tebal, dan penuh informasi tambahan seperti peta kota dunia, daftar telepon penting, kata-kata mutiara, hingga list what to do dan kolom appointment. Dari semua koleksi itu, terakhir saya merasakan bahwa justru buku saku kecil dan sederhana adalah yang paling efektif. Bukan saja karena harganya murah, tetapi buku saku jenis ini lebih fleksibel, ringan dibawa ke mana-mana, dan tidak terkesan eksklusif sehingga tidak terlalu mencolok saat kita berada di tengah orang kebanyakan. Dan juga, buku saku itu tidak akan membuat kita minder saat berinteraksi dengan kalangan atas karena ia memang selalu tersembunyi di dalam saku kita.

Meskipun harganya cuma Rp 6.900, buku saku sederhana saya tahun ini benar-benar bisa menjadi alat untuk mengukur seberapa efektif saya bekerja setiap harinya. Jika lembaran buku saku saya terisi banyak daftar pekerjaan, saya akan merasa sangat bersemangat dan ingin cepat-cepat menuju ke tempat kerja, serta akan bekerja seperti kesetanan hari itu karena mengejar agar semua daftar pekerjaan yang telah saya buat bisa saya selesaikan sebelum berakhir jam kerja kantor. Jika saya berhasil menyelesaikan semua daftar saya, saya pun akan pulang ke rumah dengan ceria dan akan menutup hari itu dengan semangat baru untuk segera membuat daftar pekerjaan lagi sebelum berangkat kerja esok harinya.

Tetapi, jika buku saku saya kosong, sesampainya di tempat kerja saya kadang-kadang bingung dan tanpa terasa hanya menghabiskan hari itu dengan mengobrol yang tidak berguna atau surving di internet sampai mata saya terasa perih, tanpa jelas apa yang saya cari di dunia maya tersebut. Jika kondisi seperti ini yang terjadi, saat pulang ke rumah badan terasa lesu dan perasaan pun diliputi rasa bersalah dan rugi karena telah menghabiskan satu hari dengan sia-sia tanpa pencapaian sama sekali.

Karena itulah saya sangat menyayangi buku saku murahan saya. Buku senilai Rp 6.900 tersebut ternyata benar-benar bisa menjadi teman setia yang sangat powerfull dalam mengontrol efektivitas kehidupan saya sehari-hari.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Surat Cinta untuk Jeshua

msOleh: Miranda Suryadjaja*

Thank you, Jes….

Rasanya enggak mungkin aku mikir tentang diri-Mu tanpa merasa bersyukur atau mengucap syukur.

Aku cinta padamu, J….

Sesuai ajaran-Mu, aku merasa enggak benar kalau aku bilang aku cinta pada-Mu karena apa yang telah Kamu berikan untukku, atau karena semua yang Kamu lakukan bagiku, atau bahkan karena siapa Kamu sekalipun …. Kamu ajari aku bahwa aku sudah dicinta, penuh cinta, dan tercinta.

Sudah tiga tahun berlalu sejak kita ‘berkenalan’. Dan, lihatlah… bagaimana aku telah sangat berubah lewat perjalanan kita bersama…. Perjalanan tanpa akhir dengan tujuan yang enggak pernah berubah….

Kau ‘taklukin’ aku saat pertama kali kita ‘berkenalan’– ketika aku ‘mendengar-Mu’ untuk pertama kalinya. Sejak itu… aku enggak punya yang lain.

Aku ingat, waktu itu aku masih berupa si gadis kecil yang penuh ketakutan dan kecurigaan, yang merasa dirinya tidak berarti, yang menganggap dunia siap menerkamnya, menyakitinya… Menderita hidupnya….

Kamu telah mengirimi aku begitu banyak malaikat yang datang sebagai teman dan musuh yang mulia, mereka semua menjadi guruku sekarang….

Ada saat di mana aku menolak cara-Mu mentah-mentah, berdebat dengan-Mu, ngotot memaksakan mauku sendiri…. Kamu enggak pernah sekalipun menghalangi aku, mengejek, atau mengatakan aku enggak pakai otak, enggak pernah…. Alih-alih, Kamu diam-diam di salah satu sudut, dengan senyuman khas-Mu, sabar menunggu sampai aku sadar sendiri siapa diriku yang sesungguhnya.

Dan, ada saat di mana aku melakukan cara-cara Abba dan harus menanggung amarah dunia ini. Ketika aku tersisih, bingung dan tercampakkan, Kamu peluk aku erat, Kamu pinjamkan kekuatan-Mu sampai aku bisa berdiri kembali di atas kedua kakiku. Kamu selalu bisa mencari jalan untuk masuk kembali ke dalam diriku lewat celah-celah hatiku yang yang paling sempit sekalipun. Kamu dorong aku dengan lembut. Kamu bisikkan di telingaku: Pergilah ke sana, datanglah ke sini. Telepon orang itu. Ambil buku itu, baca halaman itu.

Atau, Kamu jatuhkan permata mutu manikam ke dalam benakku: Kau dicintai, pecinta, dan tercinta. Dengan dirimu sendiri kau tak bisa lakukan apa-apa. Tetapi Abba, lewat dirimu, bisa melakukan segalanya.

Lambat tetapi pasti, aku mulai lebih sering merasakan kehadiran-Mu dalam hidupku. Kamu selalu bersamaku, bahkan ketika aku sedang tidak bersama-Mu. Selalu siaga. Selalu siap.… Selalu mencari dan mencari lubang-lubang bukaan kecil itu. Menunggu aku menurunkan perisai hatiku, sehingga kau bisa menyelinap masuk, tanpa setahuku, ke sudut-sudut gelap pikiranku, mencurahkan sinar-Mu sehingga yang gelap menjadi terang kembali.

Dengan semakin terbukanya hatiku, semakin dalam juga cintaku pada-Mu.

Aku mulai melihat-Mu di setiap orang yang aku temui. Aku mulai merasa berani dan cukup berharga untuk mengundang-Mu masuk ke dalam hati dan benakku, untuk meminta-Mu menjadi diriku, sehingga aku juga bisa merasakan menjadi diri-Mu.

Kadang aku enggak tahu kapan Kamu berakhir dan aku dimulai. Tetapi satu hal yang aku tahu, aku jadi lebih kuat dan lebih jadi diriku yang sesungguhnya. Aku jadi lebih berani dan lebih pengasih. Aku mulai melihat yang Baik, yang Suci, dan yang Indah dalam diriku sendiri – sama seperti yang ada pada diri-Mu. Kamu menantang aku untuk berani masuk ke dalam kerajaan Abba, … aku lakukan itu… dan aku naik ke pangkuan-Nya, merangkak masuk ke sanubari-Nya, untuk serahkan hati dan jiwa ragaku pada-Nya. Dialah kekasihku.

Kamu ajari aku semua itu, Jes… Sering kali Kamu datang padaku ketika hari masih gelap, ketika subuh belum lagi menjelang. Kita bercengkerama, berdiskusi bernapas bersama-sama, kita rasakan dan saling sentuh jiwa kita. Kamu ingatkan aku bahwa aku mahluk tak berbatas, bahwa aku adalah jiwa yang murni, tak bisa dikotori, tak ternoda. Kau bilang bahwa Kau, aku, dan Abba adalah Satu adanya.

Kalau saja aku enggak mengalaminya sendiri, aku enggak bakal percaya bahwa hubungan Cinta di antara kita akan dan bisa terus tumbuh dan bersemi sepanjang waktu. Aku enggak mau kehilangan kamu, enggak untuk sedetik pun. Cinta kita begitu indah, begitu mulia, enggak bisa dilukiskan oleh oleh kata-kata.

Seiring dengan berjalannya waktu, aku belajar untuk mencintai diriku lebih dalam lagi, meskipun tetap belum sebesar cinta-Mu padaku.… Tetapi, aku terus belajar, apalagi aku punya Guru dan Contoh yang luar biasa…. Aku terus membuka diriku untuk mencintai.Bagaikan kuncup mawar yang merekah oleh sentuhan embun pertama di musim semi… kukecup, kurengkuh, kuteguk.

Engkau pernah mengatakan bahwa kerinduanku pada-Mu adalah kerinduan-Mu padaku, cintaku pada-Mu adalah cinta-Mu padaku. Betapa Kau mencintaiku, Jes…. Begitu setia, begitu ikhlas.… Kau curahkan cinta ke dalam hatiku tak henti-hentinya. Namun, hausku akan diri-Mu enggak kunjung habis, dan enggak bakalan habis…. Ajari aku, untuk bisa membuka diriku lebih dalam lagi, supaya Kau bisa masuk hingga nadirku.

Terima kasih, Jes.… Sekarang dan selamanya….

Enggak lagi aku kerdil oleh ketakutan.

Enggak lagi aku pakai perisaiku untuk menolak pandangan yang berbeda.

Enggak lagi aku bendung cucuran airmataku tatkala jiwaku ingin mebasuh bersih dirinya.

Enggak lagi aku melihat orang-orang asing dalam mata saudara-saudaraku.

Aku cinta pada-Mu, sayangku, aku kekasih-Mu.

……………………..

16 Juli 2009[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putra. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 3 votes)

Mengapa Berubah Tidak Mudah?

ap1Oleh: Agung Praptapa*

Motivasi untuk barubah tampaknya akan terus menjadi primadona sepanjang masa. Toko buku dipenuhi oleh buku-buku yang intinya mengajak pembacanya untuk berubah. Bahkan, kata perubahan atau change sering mampu menyihir orang untuk melihat harapan baru. Hampir semua orang ingin berubah. Tentunya berubah untuk menjadi yang lebih baik. Orang pada prinsipnya memahami bahwa bila perubahan itu benar-benar terjadi, maka ada harapan baru untuk menjadi lebih baik. Jadi, apa lagi kurangnya kata perubahan? Sangat powerful, bukan?

Sayangnya kekuatan kata perubahan itu tidak selalu seiring dengan aktivitas untuk berubah (action to change). Orang ingin perubahan tetapi orang juga tidak suka perubahan. Ini yang menjadikan perubahan itu rumit! Kita sadar bahwa kita harus bangun lebih pagi agar kita lebih produktif karena memulai aktivitas lebih dini. Namun, yang terjadi adalah tidak mudah untuk kita mengubah kebiasaan untuk bangun lebih pagi. Banyak hal yang kita ingin ubah. Kita ingin berubah dari suka menunda pekerjaan menuju tidak suka menunda pekerjaan; dari boros ke hemat; dari penakut ke pemberani; dari miskin ke kaya; dan masih banyak lagi daftar perubahan yang kita ingin lakukan. Tetapi, mengapa kita sendiri cenderung tidak mau berubah? Mengapa berubah tidak mudah?

Banyak pakar manajemen perubahan yang memberi resep untuk berubah, baik untuk perubahan diri maupun perubahan organisasi. Namun, jarang diteliti mengapa resep perubahan sering tidak dapat bekerja dengan baik. Secara konsep sudah luar biasa, tetapi hasilnya tidak juga menggembirakan. Mengapa?

Profesor John P. Kotter, pakar manajemen perubahan dari Harvard Business School, mengatakan bahwa orang maupun organisasi gagal berubah yang pertama-tama dikarenakan mereka tidak dapat melihat faktor kemendesakan (sense of urgency) dari perubahan tersebut. Semakin kita melihat suatu hal itu mendesakapa lagi yang akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup seseorang maupun organisasiakan semakin serius hasrat kita untuk berubah.

Saat kita ingin mengubah kebiasaan untuk bangun paginamun apabila kita tidak jadi bangun pagi tidak akan ada efek yang serius untuk kitamaka di sini kita tidak melihat adanya kemendesakan mengubah kebiasaan dari bangun siang ke bangun pagi tersebut. Namun, misalnya kita dihadapkan pada kondisi bahwa karena suatu alasan maka kantor kita harus buka pukul 5 pagi, dan bagi karyawan yang belum hadir pada pukul 5 pagi akan langsung dipecat tanpa alasan! Maka, di sini bagun pagi menjadi hal yang sangat penting, sangat menentukan hidup mati kita, sangat urgent!

Kondisi mana yang akan mendorong kita untuk cepat berubah? Tentunya kondisi yang kedua karena bila kita tidak bisa bangun sebelum pukul 5 pagi maka PHK menanti! Ini urgent!

Jadi, agar perubahan efektif kita harus pandai-pandai menciptakan sense of urgency. Kita harus bisa secara cerdas merumuskan bahwa perubahan yang sedang kita lakukan ini sangat menentukan kelangsungan hidup kita. Namun, harus diingat bahwa kita tidak boleh hanya berpura-pura mendesak! Jangan lakukan ini karena hanya membohongi diri sendiri. Sense of urgency harus asli, yang didapatkan dari perenungan yang mendalam, dan ada gambaran yang gamblang di depan mata kita bahwa perubahan tersebut benar-benar mendesak.

Alasan berikutnya mengapa berubah itu tidak mudah adalah karena perubahan selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Hampir semua perubahan akan menjadikan kita lebih baik, namun untuk menuju ke sana harus ada perubahan kebiasaan, perubahan proses, bahkan mungkin perubahan filosofi. Sangat tidak masuk akal kalau kita mengharapkan perubahan hasil tanpa mengubah proses untuk mendapatkan hasil tersebut. Kalau kita sudah terbiasa makan dengan tangan kanan kemudian kita ubah menjadi makan dengan tangan kiri, bisa kita bayangkan betapa tidak nyamannya. Nah, di sini kita harus pandai-pandai meyakinkan diri sendiri bahwa ketidaknyamanan itu sifatnya hanya sementara. Apabila perubahan yang kita lakukan sudah menjadi kebiasaan akhirnya akan menjadi nyaman pula.

Orang memang tidak mudah untuk meninggalkan comfort zone, yaitu suatu zona ataupun kebiasaan yang selama ini telah kita rasakan nyaman. Confort zone bukan suatu hal yang objektif. Ini menyangkut perasaan. Orang yang sudah terbiasa hidup di kota metropolitan akan tetap nyaman di tengah hiruk pikuk kota yang serba ada. Mereka merasa tidak nyaman bila harus hidup dalam suasana sepi di desa yang tentunya tidak didukung fasilitas yang sebaik di kota metropolitan. Jadi, orang kota memiliki kenyamanan tersendiri untuk hidup di kota, dan orang desa memiliki kenyamanan tersendiri pula untuk hidup di desa. Namun, mengapa ada orang desa yang kemudian nyaman hidup di kota metropolitan, dan sebaliknya ada pula orang kota yang kemudian hidup nyaman tinggal di desa? Ya, benar. Itu karena mereka akhirnya menemukan comfort zone yang baru.

Di sini kita bisa melihat bahwa sebenarnya perubahan itu, kalau kita sabar, kita akan menemukan comfort zone baru yang mungkin lebih nyaman. Masalahnya di sini, cukup sabarkah kita untuk meninggalkan comfort zone lama menuju comfort zone yang baru? Jadi, kekurangsabaran juga merupakan salah satu alasan mengapa berubah itu tidak mudah. Kesabaran jangan disalahartikan menjadi menerima apa adanya dalam kondisi apa pun. Kesabaran harus diartikan dalam koridor keteguhan hati untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Orang yang sabar akan terus berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Sebagai kesimpulan, perubahan itu tidak mudah kalau tidak ada unsur kemendesakan dalam perubahan tersebut. Perubahan juga tidak mudah karena pada mulanya perubahan akan menimbulkan ketidaknyamanan. Orang cenderung enggan meninggalkan comfort zone walaupun sebenarnya perubahan adalah perjalanan menuju comfort zone yang baru. Sayangnya, tidak banyak orang yang cukup sabar dan konsisten berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Berubah? Siapa takut![ap]

* Agung Praptapa adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolumnis tetap di andaluarbiasa.com. Tulisan ini untuk mendukung training “Empowering Your Confidence in Public Speaking”. Website: www.praptapa.com, pos-el: praptapa[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Saya Siap Menggantikan Michael Jackson!

rsOleh: Relon Star*

Kematian Michael Jackson, walaupun memunculkan banyak kontroversi, namun juga mengundang duka yang dalam bagi para penggemarnya. Betapa tidak, sang King of Pop ini meninggal dalam usia yang belum terlalu tua, dan meninggalkan sejumlah jadwal tour ke lima puluh negara—yang dapat memberikan kesempatan pada para penggemarnya untuk menjumpainya dengan karya musiknya.

Banyak orang berduka, tetapi saya tidak. Mengapa? Pendapat saya sederhana saja, kematian Michael Jackson akan memberikan kesempatan bagi “King of Pop yang baru untuk berkarya. Ini kesempatan bagi para pecinta musik untuk memunculkan karya musik mereka dan meneruskan perjuangan Michael Jackson.

Kalau seorang King of Pop sudah meninggal, tidak berarti dunia musik juga akan terkubur bersamanya. Justru lewat peristiwa inilah kesempatan yang baru akan terbuka bagi yang lainnya. Saya mengagumi karya musik yang dihasilkan oleh Michael Jackson. Saya mengagumi kekonsistenan dia dalam mencapai impiannya; menjadi superstar. Tetapi, jika dia harus mengakhiri perjalanan hidupnya, no body can deny it! Karena, jalan manusia ditentukan oleh Penciptanya. Yang bisa dilakukan adalah meneruskan perjuangan yang telah dilakukannya.

Saya sendiri seorang pecinta musik. Nada dan lagu menjadi akrab dalam hidup saya sejak saya kecil. Terlahir dari orang tua yang juga merupakan pecinta seni, saya hidup dibesarkan dalam dunia ini. Menyanyi merupakan hobi utama setelah menulis. Padatnya kegiatan saya didominasi oleh kegiatan nyanyi-menyanyi ini. Setelah sepuluh tahun malang melintang dalam dunia tarik suara, kini saya berkesempatan mengeluarkan album perdana, yang diproduksi oleh Maranatha record.

Menyanyi dan menulis merupakan satu rangkaian hobi saya yang saling bertalian, sama-sama dunia seni. Saya menyadari Tuhan memberi saya rangkaian saraf di otak kanan yang sangat kuat. Karena itulah saya menggeluti kedua bidang ini. Keduanya memerlukan keberanian untuk dapat menghasilkan suatu karya. Dan, untuk mewujudkannya, sayaharus bersedia menunggu proses yang amat panjang. Tetapi, penantian yang panjang tersebut akhirnya berlabuh jua. Satu buku berjudul Run or Die telah saya tuliskan, dan satu album perdana akan segera beredar sebelum akhir tahun 2009 ini.

Apa yang dimiliki Michael Jackson yang harus juga saya miliki? Keberanian, inovasi, optimisme, dan konsistensi. Saya berusaha untuk terus melibatkan keempat hal tersebut dalam hidup saya. Buktinya, saat ini saya sudah mulai latihan vokal setiap hari, minimal satu jam. Untunglah ayah saya mewarisi bakat seni dari kakek—Siddik Stiompul—pencipta lagu Butet. Jadi, saya tak perlu memanggil pelatih lain untuk melatih saya bernyanyi, cukup ayah saja.

Munculnya album perdana ini juga akibat keberanian dan semangat yang terlalu menggebu-gebu. Berawal dari perjumpaan dengan seorang rekan dalam sebuah talkshow di radio SSK. Teman saya itu bercerita bahwa dia sedang mempersiapkan album rekamannya. Saya secara spontan meluncurkan pertanyaan yang bertubi-tubi padanya seputar label yang bisa memproduksi album saya juga.

Ini mimpi saya sejak lama, saya ingin jadi penyanyi. Teman saya segera memberikan nomor yang bisa saya hubungi untuk berbicara lebih lanjut tentang keinginan saya ini. Finally, saya bertemu dengan owner perusahaan rekaman tersebut dan dia bersedia memproduksi album perdana saya. Yes! Satu langkah lagi yang membawa saya semakin dekat dengan impian. Saya bukan hanya orang yang senang bermimpi, tetapi bangun dan segera melupakan mimpinya. Tetapi saya lebih senang setelah bermimpi, lalu bangun dan mencapai impian saya tersebut.

Masanya Michael Jackson telah berakhir. Kini, kesempatan bagi penyanyi lainnya terbuka lebar. Siapa yang mau menggantikan? Saya siap menggantikan Michael Jackson! Resepnya kan cuma satu yang bisa saya dapat dari Michael Jackson: Berani menggapai impiannya.[rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Menulis Buku Bestseller? Anda Juga Bisa!

sofa-nurdiyanti-r

Oleh: Sofa Nurdiyanti*

Pernahkah terpikirkan oleh Anda untuk menulis sebuah buku bestseller? Saya rasa setiap orang yang berminat dan menekuni dunia penulisan buku tentulah menginginkan membuat sebuah buku yang bestseller!!! Tetapi, bagaimana caranya? Selama ini ada pandangan, buku bestseller seakan menjadi ‘hak milik’ penulis terkenal saja. Karena, para penulis terkenal tersebut sudah mempunyai ilmu yang mumpuni dalam meracik sebuah buku. Yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana dengan penulis pemula yang ingin menghasilkan karya perdana yang bestseller?

Buku Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller Edisi Revisi (Fivestar, 2008) yang ditulis oleh Edy Zaqeus benar-benar mengungkapkan cara membuat sebuah buku yang bestseller, secara gamblang dan mudah dicerna bagi siapa saja yang membacanya. Dengan membaca buku ini, Anda akan terstimulus untuk melahirkan sebuah buku masterpiece yang bestseller.

Buku yang berkaitan dengan menulis sudah banyak diterbitkan. Banyak sekali ragamnya, mulai dari cara menulis buku yang baik, mengarang yang mudah, menulis buku fiksi, menulis skenario, editing, menyusun paragraf yang baik, dan sebagainya. Namun, buku yang mengungkap cara menullis buku bestseller saya rasa, baru Edy Zaqeus yang menulisnya. Penulis delapan buku dan empat di antaranya bestseller ini dengan cerdas mengungkap dan merangkumnya dalam buku Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller ini (selanjutnya disingkat RCMBB).

Buku RCMBB Edisi Perdana (format pocket book) saja mampu menggerakkan hati banyak orang untuk membuat buku, dan terbukti buku mereka pun sebagian di antaranya menjadi bestseller. Beberapa testimoni yang terpilih sebagai pemenang dalam lomba memberikan testimoni atas buku RCMBB perdana memberikan bukti dari keampuhan buku ini. Dan ternyata, kebanyakan dari mereka ini adalah penulis yang lahir atau berhasil menerbitkan buku perdananya setelah membaca buku RCMBB edisi murah meriah tersebut.

Untuk edisi revisi kali ini, penulisnya menambahkan sebelas bab baru, di antaranya Bersiasat dengan Tema Bestseller; Menghindari Kelemahan Buku Kumpulan Tulisan; Melengkapi dan Merapikan Naskah; Bagaimana Mendapatkan Endorsement; Bagaimana Menembus Penerbit; Delapan Langkah Membuat Penerbitan Mandiri; Dari Fast Book Menjadi Masterpiece; Menjadi Penulis Buku Ber-Mindset Penjual; Strategi Promosi Buku Bestseller; Mem-branding Diri dengan Buku; dan Lima Kebiasaan Produktif Penulis Bestseller. Bab-bab terbaru ini semakin melengkapi edisi perdana dan tampaknya akan semakin memudahkan kita dalam mencerna maupun mewujudkan sebuah buku bestseller.

Memang, ada anggapan bahwa menulis sebuah buku saja sudah merupakan sebuah kesuksesan bagi seseorang. Jarang ada sebuah pemikiran bagaimana menjadikan sebuah karya tersebut bestseller dengan terencana. Setiap kesuksesan mempunyai kunci sukses, demikian juga dengan pembuatan buku bestseller. Kunci sukses membuat buku bestseller dapat dipelajari oleh setiap orang, karena tidak ada kesulitan dalam mengaplikasikan semua kiat yang sudah terangkum dalam RCMBB ini.

Edy Zaqeus menyatakan demikian, “Melahirkan buku tak ubahnya melahirkan seorang ‘anak’. Sukses kita diawali oleh keberhasilan kita dalam melahirkan anak tersebut. Selanjutnya, supaya masa depannya sukses, berikan dia makanan yang bergizi serta pakaian, perawatan, perhatian, pendidikan, dan lingkungan terbaik. Jadi, jangan sia-siakan dia. Jangan biarkan dia tumbuh liar dan tanpa masa depan yang pasti. Dengan melahirkan sebuah karya bestseller maka segala usaha yang telah dikeluarkan untuk membuat sebuah buku itu rasanya tidak akan terbuang percuma.

Membuat buku menjadi bestseller merupakan ide yang tampaknya jarang dipikirkan oleh sebagian penulis. Bestseller atau tidaknya sebuah buku biasanya diserahkan pada pasar yang menilai. Jika buku tersebut bagus, biasanya publiklah yang membaca, membeli, dan menentukan apakah buku tersebut menjadi buku bestseller atau tidak. Padahal, buku apa pun sebenarnya bisa dipersiapkan sebaik mungkin agar menjadi bestseller.

Itu sebabnya, kadang membuat buku menjadi bestseller seakan-akan jadi rahasia ‘mahal’ yang jarang diketahui oleh para penulis kebanyakan, bahkan yang terkenal sekalipun. Namun, dalam buku RCMBB ini Edy Zaqeus memberikan berbagai ide menarik atau pencerahan. Dan, mungkin ide-ide atau pencerahan itu tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Dari RCMBB ini kita akan diyakinkan bahwa bestseller-nya sebuah buku itu semata tidak tergantung pada pasar (pembaca), tetapi juga bisa kita ciptakan, rencanakan, dan rancang sedemikian rupa sepanjang proses penulisan buku kita.

Membaca buku RCMBB akan membuat kita merasa seperti dituntun oleh penulis secara langsung. Step by step pembuatan buku dijelaskan secara gamblang dengan penuturan yang mengalir dan tidak membosankan. Dalam RCMBB ini juga disertakan data-data penjualan buku bestseller lainnya, contohnya buku ESQ-nya Ary Ginanjar yang terjual lebih dari 455.000 eksemplar hingga tahun 2007 lalu. Sebuah angka yang fantastis, yang selain memberikan keuntungan finansial tentunya rasa bangga dan nilai aktualisasi diri yang pastinya terpenuhi. Dengan membaca berbagai kisah sukses penulis bestseller di bidang nonfiksi di sini, mungkin kita bisa mengetahui potensi sebuah buku bestseller. Dari kasus buku ESQ ini juga kita seperti disadarkan akan potensi atau kekuatan buku sebagai penopang kesuksesan kiprah seorang trainer atau public speaker.

RCMBB mengupas secara detail unsur-unsur yang diperlukan oleh seorang penulis supaya dapat melahirkan buku bestseller. Buku ini disusun berdasarkan pengalaman penulisnya sendiri dalam menerbitkan beberapa buku bestseller serta pengalaman para narasumber yang pernha diwawancarai. Bab-babnya pun disusun dalam rangkaian yang runut dan tidak meloncat-loncat idenya, antara satu pemikiran dengan yang lainnya. Memang, seperti dikatakan oleh penulisnya dalam Pendahuluan, buku ini memang lebih menonjolkan kiat-kiat praktis ketimbang uraian-uraian teoritis. Buku ini juga lebih ditujukan untuk memotivasi, menguatkan, dan menggerakkan agar setiap orang segera berani menulis buku.

Kelemahan buku ini menurut saya—kalau bisa dibilang sebagai kelemahan—terletak pada contoh-contoh pemaparan penjelasan setiap bab. Sebagai contoh, pada bab Menggali dengan Teknik Wawancara hanya dipaparkan sejumlah teknik wawancara yang menurut penulisnya bagus untuk digunakan. Namun, penulisnya tidak diberi contoh hasil dari teknik wawancaranya tersebut dalam bentuk lampiran atau kutipan wawancara dengan seorang narasumber. Padahal, salah satu basis penyusunan buku ini adalah wawancara dengan sekian banyak penulis sukses. Namun, karena dijelaskan di awal oleh penulisnya bahwa buku ini tidak bersifat teoritis dan lebih memotivasi sifatnya, kelemahan ini relatif masih dapat dimaklumi.

Bagi saya, akan lebih baik kalau buku ini memberikan penambahan contoh dan teori-teori penulisan pada bab-babnya sehingga pembaca bisa belajar lebih banyak mengenai teori menulis. Dengan demikian, kita bisa membuat gambaran secara utuh, baik dari segi kiat praktisnya maupun teorinya. Dengan begitu kita akan lebih lancar dalam membuat sebuah buku dan tidak kesulitan dalam mencari referensi teori menulis. Walau dugaan saya, posisi tidak memasukkan banyak teori itu mungkin sengaja diambil oleh penulis buku ini mengingat di pasaran telah beredar banyak buku yang mengupas berbagai teori dalam menulis, namun kurang dalam memberikan contoh-contoh praktis berbasis pengalaman.

Buat penulis ataupun pecinta buku yang mempunyai hobi membaca, buku ini sebaiknya kita baca. Kita akan semakin paham dan terdorong untuk meningkatkan kualitas buku kita, sekaligus memperbesar peluang menjadikannya bestseller. Sedangkan bagi para pecinta buku yang hobi membaca, mari kita bebaskan ide kita dengan mulai menulis dan tidak sekadar membaca buku saja. Karena, menurut Edy Zaqeus ternyata membuat buku bestseller itu tidaklah sulit. Yang jelas, setelah membaca buku ini, saya tersadar bahwa menulis buku bestseller dapat dilakukan oleh semua orang. Menulis buku bestseller? Rasanya Anda dan saya juga bisa![sn]

resep-cespleng-menulis-bukuDATA BUKU

Judul: Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller  Edisi Revisi

Penulis: Edy Zaqeus

Penerbit: Fivestar Publishing, 2008

Tebal: xxvi + 230 halaman

ISBN: 978-979-15887-1-3

Harga: Rp 50.000,00

Ctt: Pesan langsung dengan tandatangan dan ucapan khusus dari penulisnya hubungi 021-59400515/08159912074, atau pos-el: penerbitfivestar[at]gmail[dot]com atau edzaqeus[at]gmail[dot]com.

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.3/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 5 votes)

Amanat Posisi

maria-saumi-rOleh: Maria Saumi*

Ketika dunia sedang dilanda krisis finansial, saya malah diperlihatkan pada hal-hal yang selayaknya patut dipikirkan. Suatu kali ketika—seperti biasanya—saya mengunjungi salah satu nasabah. Dia adalah owner dari suatu perusahaan afiliasi yang bergerak di bidang supply atau pengadaan barang-barang elektronik. Merek dagangnya sangat terkenal di dunia. Kita pun sering melihat iklan merek dagang tersebut wara-wiri di layar TV ataupun menjadi sponsor dalam penyelenggaraan pertandingan olah raga, bola dunia contohnya. Boleh dibilang bisnisnya mencakup lokal dan internasional. Dia memang salah satu nasabah ”kakap” saya.

Biasanya saya selalu menjumpai dengan mata kepala sendiri misalnya, ataupun membaca, melihat hal-hal di mana seorang petinggi suatu perusahaan berprilaku sewenang-wenang terhadap bawahan atau pegawainya. Tetapi, tidak dengan nasabah yang saya kenal ini. Dia pernah bercerita bahwa koleganya banyak yang merumahkan pegawainya sebagai imbas krisis global ini.

Ketika saya pertanyakan ada atau tidak pegawai yang di-PHK di pabriknya, dengan santai dia menjawab, ”Enggaklah, kalau kondisi kita masih oke, kasihan mereka jangan ditakut-takuti hal seperti itu, nanti malah mereka enggak tenang dan nyaman kerjanya. Kalau mereka nyaman dan tenang bekerja, produktivitas mereka akan jadi bagus. Lagia pula, saya sih target tahun ini mencoba untuk break even point (balik modal) saja. Tidak melulu mengejar untunglah. Ada waktunyalah….”

”Wah, sangat bijaksana sekali…,” pikir saya.

Dia berprinsip, selain tujuan utama memang keuntungan, memiliki pegawai yang loyal dan produktif itu juga merupakan aset yang menguntungkan. Beruntung sekali saya memiliki nasabah seperti itu. Saya jadi bisa belajar dari pola pikirnya. Itu ilmu yang tentunya akan saya terapkan bila, siapa tahu di kemudian hari saya akan menjadi seorang owner dari suatu perusahaan hahaha….

Tetapi, nasabah saya itu hanyalah segelintir owner atau petinggi perusahaan yang karakter pribadinya kuat, baik, dan bijaksana. Masih banyak lagi tentunya yang juga kebalikan dari itu. Hanya mengejar untung banyak, mengurangi ukuran/timbangan kepada konsumen, berkompetisi dengan kompetitornya secara tidak sehat, menjatuhkan nama baik perusahaan lain, pribadi yang gila hormat, tidak memerhatikan kesejahteraan pegawai, dan lain sebagainya.

Bila dikategorikan, perusahaan nasabah saya ini tergolong cukup terkenal dan besar. Bagaimana dengan pemilik usaha dan pekerja pada level-level yang dibawahnya dari itu?

Suatu kali saya membaca artikel yang termuat di blog Kompasiana, 9 juni 2009. Di dalam artikel itu diceritakan bahwa suatu hari seorang ayah dan seorang anak lelakinya berniat membeli kue lopis. Penjual kue lopis berjualan di pinggir jalan itu boleh dibilang adalah pemilik usaha level bawah. Ceritanya, saat membeli kue ternyata si penjual tidak memiliki uang kembalian. Dengan terpaksa si bapak calon pembeli itu berjalan sejauh kira-kira 200-300 meter untuk menukarkan uang recehan yang lebih kecil agar dapat membeli dan membawa pulang kue lopis untuk dinikmati keluarganya, terutama anak lelakinya.

Ketika balik lagi ke tempat pedagang kue lopis tersebut, si penjual ternyata telah menjual kue lopisnya kepada pembeli lainnya, yang kebetulan membeli ketika si bapak itu menukarkan uang recehan. Si penjual mungkin takut rugi dengan menunggu si bapak dan anaknya itu sehingga dengan tanpa rasa bersalah dia menjual kepada pembeli lain. Akhirnya, bapak dan anak itu pulang dengan kecewa.

Contoh lainnya adalah cerita dari teman kantor saya yang mencoba membuka usaha kecil-kecilan, yaitu bisnis ayam goreng. Entah bagaimana cerita sebenarnya, katanya dia merasa ditipu dan dirugikan oleh salah satu pekerja kepercayaannya. Katanya, si pekerja ini membawa sendiri ayam gorengnya untuk dijual ke konsumen, sementera dia berpura-pura menyatakan ayam goreng majikannya tidak begitu laku. Jadi, si pekerja itu menumpang fasilitas majikannya untuk menjual barang dagangannya sendiri. Akhirnya, usaha teman saya itu tutup.

Yang lain adalah pengalaman saya sendiri. Suatu ketika saya dan teman kantor iseng berbelanja pakaian di sebuah pertokoan/plaza di Jakarta Pusat. Pertokoan itu dulunya memang megah tetapi sekarang kalah oleh munculnya mal-mal dan plaza-plaza baru yang menjamur di sekitarnya (saya tidak mau menyebut nama, takut bakal bermasalah seperti kasus si Prita hehehe…).

Pada pandangan pertama saya jatuh hati pada sebuah baju berwarna biru, berbahan ringan, dan sejuk. Baju berbahan transparan di daerah lengan itu cocok untuk semi pesta, dengan lengan ukuran panjang tiga perempat untuk model tangannya, serta bermanik-manik pula. Style-nya cocok dengan selera dan kebutuhan saya, dan tambahan lagi ada potongan 20 persen untuk setiap pembeliannya.

Saya menanyakan pendapat teman saya dan dia juga mengakui pilihan saya itu bagus. Tetapi, seperti biasanya saya melewatkannya dahulu, putar-putar, sambil melihat-lihat yang lainnya. ”Siapa tahu ada yang modelnya lebih bagus,” pikir saya. Akhirnya, saya balik lagi ke counter tersebut dan menanyakan baju yang saya pegang tadi kepada pelayan yang berjaga.

Ada dua pelayan wanita di sana, salah satunya yang melihat betapa saya tertarik sekali dengan baju gaya semi formal tadi. Dia lalu menaruh baju itu di tempat yang berbeda, bukan di tempat yang ada discount-nya. ”Ini discount 20 persen kan, Mbak?” tanya saya mencoba mengonfirmasi.

”Oh, yang ini enggak didiskon, Bu,” jawab pelayan itu.

Lho, kok bisa…? Ini tadi kan tempatnya di sini?!” saya menegaskan.

”Oh, enggak Bu, ini tempatnya di sini…” jawab si pelayan. Sementara pelayan yang satunya berdiam saja.

Saya berlalu dari tempat itu dan tidak jadi bertransaksi. Bagaimana mungkin seorang pelayan mencoba mengelabui saya? Sudah sangat jelas sekali pakaian yang hendak saya beli itu berasal dari barisan gantungan baju berlabel diskon 20 persen. Saya menduga kuat kedua pelayan itu berniat curang terhadap saya karena sebelumnya mungkin mendengar percakapan tentang ketertarikan saya. Jadi, hampir dipastikan ketika saya balik lagi dia lalu mempermainkan saya.

Teman saya saja hampir agak sewot dengan perilaku mereka. Apalagi ketika kami mencoba berjalan lagi ke dekat counter-nya untuk mengetes. Dan, benar saja… ternyata—dan ini yang membuat saya jengkel sekali—baju itu ternyata dibalikkan lagi ke tempat semula yang bertanda diskon 20 persen. Saya berlalu dari tempat itu dengan perasaan jengkel yang sebenar-benarnya. Kalau boleh dikatakan sebenarnya bukan saya sendiri yang dipermainkan.

Andaikan saja pemilik toko atau bosnya saat itu ada di tempat, mungkin mereka bisa kecewa melihat perilaku curang pelayan-pelayan yang mereka gaji itu. Memang, kenyataannya sering kali konsumen atau pelangganlah yang dirugikan.

Dari berbagai peristiwa tersebut saya seperti mendapatkan suatu perbandingan dalam sejumlah kejadian. Kemudian saya mencoba merangkainya. Bagaimana menjadi orang yang baik dalam posisi apa pun? Tidak memandang rendah atau tingginya posisi, baik itu sebagai pemilik usaha, petinggi perusahaan, dan pegawai atau karyawan perusahaan?

Posisi apa pun adalah suatu amanat yang diemban untuk melakukan usaha/kerja dengan kemampuan terbaik yang kita punya. Perlu tercipta suatu hubungan atau relasi yang sinergis antara pemilik usaha beserta jajaran pekerjanya. Apabila kesemuanya itu bersinergi dan saling melengkapi, bersimbiosis mutualisme, maka hubungan kerja akan berjalan baik dan menyenangkan semua pihak. Bukankah semuanya bertujuan dan bermuara kepada kepuasan konsumen atau pelanggan?[msa].

* Maria Saumi, lahir di Jakarta 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Lulusan dari Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia tahun 2000. Dia bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang investasi di daerah Sudirman, Jakarta, dengan spesialisasi futures trading investment. Maria dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at] yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox