Tentang Kejujuran
Editor | Kolom Tetap | July 28th, 2009 | 3 Comments »
Oleh: Sribudi Astuti*
Awal Juli 2009 lalu merupakan perjalanan darat terpanjang saya selama berada di Sulawesi Selatan. Bila sebelumnya setiap kali harus melakukan perjalanan saya tinggal terima beres dan berangkat tanpa harus pusing dengan ongkos dan transportasinnya, kali ini saya mengurus mulai dari kendaraan yang akan saya tumpangi, memesan tiket bus, booking kamar hotel, hingga urusan-urusan lainnya.
Tujuan perjalanan saya adalah Tomoni, kota kecamatan 500 km arah timur laut dari kota Makassar. Sekilas tentang Tomoni, adalah sebuah kota kecil yang hampir seluruh penduduknya adalah transmigran dari Pulau Jawa dan Bali. Perjalanan dan kerja yang harus selesai dalam lima hari berjalan dengan lancar. Bahkan, boleh dibilang sangat lancar dan suasana hati serasa berada di kampung halaman. Mulai dari makanan, bahasa sehari-hari, hingga suasana kota membuat saya dan teman saya sangat betah.
Kehidupan di tengah-tengah transmigran yang sedari awal memang berniat merantau untuk kehidupan yang lebih baik di tempat yang baru—tanpa mengorbankan kejujuran dan sikap kerja keras—merupakan pelajaran baru yang harus saya terima tanpa harus ada yang bertindak sebagai guru dan murid. Semua jelas terpampang di depan mata. Nuansa kerja keras tampak sekali di kota ini, yang terus bertumbuh untuk sejajar dengan kota lain seperti Makassar.
Satu pelajaran berharga yang menjadi kenangan terdalam saya atas Tomoni adalah ketika saya harus check out dari hotel dan membayar seluruh biaya kamar selama empat malam. Resepsionis hotel—setelah menerima seluruh pembayaran saya—kemudian menanyakan pada saya, “Mbak, mau ditulis berapa biayanya di dalam nota hotel?”
Dengan nada bingung saya balik bertanya padanya, “Lho, memangnya kenapa Mbak? Ada yang harus saya bayar lagi?”
”Tidak Mbak. Sering kok ada pengunjung hotel yang minta jumlah uang yang ditertulis di nota lebih besar daripada yang ia bayarkan,”jelasnya dengan sedikit canggung.
Saya tersenyum dan dengan bercanda saya timpali kata-katanya, ”Memangnya Mbak mau saya suruh bohong?” Dan, wanita cantik itu hanya tersenyum. ”Sudahlah Mbak, tulis apa adanya saja.”
Saya jadi miris…. Rupanya budaya mark up menjangkau juga di kota kecil seperti Tomoni. Dan, bisa dipastikan mereka yang secara sadar maupun tidak mengajarkan budaya tersebut—dan budaya sejenis demi sedikit keuntungan rata-rata—adalah orang yang melek huruf, mengetahui peraturan, dan bekerja di sektor-sektor yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Ada sebersit perasaan malu dengan hal tersebut, terlebih setelah peristiwa di hotel itu terus berputar-putar di kepala saya. Ini adalah peristiwa aneh pertama yang menguji saya.
Ketika saya masih bekerja di kampus, setiap kali harus melakukan praktik atau mengunjungi lokasi penelitian, berapa uang yang saya keluarkan itulah yang saya laporkan untuk mendapatkan penggantian. Bahkan, saya sangat mengagumi seorang profesor dari Universitas Tsukuba yang kebetulan datang ke kampus. Sewaktu kami mengantar dia mengunjungi Borobudur, dia menolak tiket yang kami bayarkan untuknya. Dia berkata bahwa dirinya sudah dibekali uang yang cukup untuk segala keperluannya.
Saya hanya bisa berkutat dengan pikiran saya dan membanding-bandingkan kondisi nyata yang saya hadapi dengan kondisi ideal yang ditanamkan oleh guru-guru saya dan orang tua saya. Akhirnya, perjalanan pulang dari Tomoni ke Makassar dihiasi percakapan saya dengan teman saya tentang itung-itungan berapa harga yang kra-kira dapat kami peroleh seandainya kami melakukan manipulasi kuitansi. Dan, kami sampai pada angka Rp 400.000 dibagi kami berdua berarti Rp 200.000.
”Hah… harga sebuah kejujuran di negeri ini rendah banget, Rp 200.000?”
Dan, kami pun saling berpandangan dan tergelak bersama-sama sambil membayangkan betapa tololnya kami bila sampai melakukan hal itu.
Satu jam setelah saya meninggalkan Tomoni, tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Entah ini kebetulan atau buah kekuatan batin ayah dan anak. Hal yang diungkapkan oleh ayah saya adalah tentang kejujuran dan ketulusan orang-orang yang bersamanya membesarkan kelompok petani yang sedang dirintisnya. Kejujuran yang kecil telah mengikat hampir 90 orang untuk maju bersama, dan manfaatnya cukup banyak. Bahkan, keluarga kami cukup merasakannya. Dalam perkataannya di telepon, ada sedikit pesan moral dari Ayah bahwa kejujuran kecil, dibarengi dengan ketulusan kecil, itu menjadi tak terbilang harganya dan nikmat rasanya. Ah… seandainya saya melakukan kecurangan di nota hotel… betapa sakitnya saya ”ditampar” oleh kata-kata ayah saya.
Sahabat, sepertinya ini terdengar klise jika seseorang mengatakan tentang kejujuran di tengah persaingan di mana banyak orang melaukan segala cara untuk meraih yang diinginkan. Hem… kalau sudah begini kita bisa melakukan apa untuk menegakkan kejujuran?
Cukup bayangkan saja uang Rp 200.000, bahkan kurang, yang sanggup membeli kejujuran kita. Dengan begitu kecilnya harga sebuah kejujuran, apakah kita akan melepaskannya? Perlu disadari, tanpa harus mengorbankan kejujuran pun, kita sebagai manusia yang dibekali akal, pasti dapat memperoleh rezeki yang lebih baik. Akhirnya, kita cukup membentengi diri dan tak ada salahnya jika mencamkan pepatah yang mengatakan meski zaman dimakan usia. Jujur tetap jujur yang tak lapuk ditelan masa meski erosi moral mewabah di seluruh negeri.[sba]
* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP: 085656450918.
Oleh: Eni Kusuma*
Oleh: Iftida Yasar*
Oleh:
Oleh: Sulmin Gumiri*
Oleh: Miranda Suryadjaja*
Oleh: Agung Praptapa*
Oleh: Relon Star*
DATA BUKU
Oleh: Maria Saumi*