Mencintai atau Mengasihi?

ms1Oleh: Miranda Suryadjaja*

Saya punya seorang teman jomblo. Orangnya menarik, supel, dan enak diajak bicara. Kita sebut saja namanya Ani. Dia merasa stok pria yang bisa diajak kencan sangat terbatas, atau boleh dikata tidak ada. Saya katakan padanya bahwa saya punya beberapa teman pria seumuran kami yang menarik untuk diajak berteman atau kencan.

Mau dikenalin enggak? tanya saya.

Mau, mau…, jawabnya.

Lalu, seorang teman lain menimpali, Kalau ternyata cocok kamu maunya gimana, apa cowok itu masih boleh berteman dengan cewek lain?

Ya enggak, harus stop dengan yang lainnya…,” kata Ani.

Lho, cinta kan tidak harus membatasi? kata saya. It is possible untuk mencintai tanpa harus memiliki. Mungkin saja para pria tersebut sudah beristri, tetapi masih membutuhkan teman mengobrol, teman jalan, dan teman main. Mungkin setelah lama menikah mereka menyadari ada sesuatu yang missing dari pasangannya, dan mencari yang hilang itu pada orang lain, tanpa harus berselingkuh dalam arti luas, tanpa harus menceraikan istrinya. Toh sebagai jomblo kita hidup berkecukupan dan lebih bahagia hidup tanpa harus mengurus suami atau pacar.

Wah, mana mungkin kita bisa mencintai seseorang tanpa ingin memilikinya? Kalau enggak ingin memiliki itu bukan mencintai, tetapi mengasihi namanya,” tukas Ani. Cinta tanpa syarat idealnya hanya mungkin dimiliki oleh seorang ibu untuk anak-anaknya.”

Buat saya mencintai dan mengasihi itu sama. Saya pernah mengalaminya, lanjut saya.

Sementara saya berpikir bagaimana cara menjelaskan apa yang saya maksud agar mudah dipahami, waktu kami untuk berdiskusi habis. Namun, percakapan kami terus mengiang-ngiang di benak saya, mencintai atau mengasihi; sama atau beda?

Saya pernah bercerita kepada seorang teman pria bahwa saya sekarang sudah mengerti apa artinya mencintai tanpa syarat, tanpa batas, tanpa hubungan itu harus jadi platonik. Dia paham apa yang saya maksud, tetapi dia minta saya coba menjelaskannya lebih jauh, supaya dia bisa menjelaskannya pada orang lain. Belum sempat saya jawab, sekarang topik ini muncul lagi, jadi saya akan berusaha untuk menjelaskannya.

Pemahaman ini lebih merupakan hasil dari suatu proses daripada merupakan sebuah kesadaran yang datang dengan tiba-tiba. Secara intelektual saya mengerti dan suka konsepnya, cinta itu memercayai segalanya, merangkul segalanya, mengikhlaskan segalanya, sehingga meng-transend segalanya. Kedengarannya indah, luar biasa.

Pengalamanlah yang akhirnya menghantarkan saya pada pemahaman sebenarnya dari konsep tersebut.

Saya tahu bahwa saya paham ketika saya tidak lagi merasakan penderitaan, kepedihan, ataupun ketakutan akan ‘kehilangan’, sementara perasaan cinta dan kasih mendalam terhadap orang yang berada di hadapan saya tidak berkurang satu iota (huruf, sedikit) pun.

Hingga pemahaman ini muncul, saya harus mengalami pengggodokan batin dan jiwa habis-habisan terlebih dahulu. Saat itu saya telah hampir setahun putus dari ex-partner saya. Sebelum break yang setahun itu kami sempat beberapa kali putus sambung. Dan, meskipun saya yang terakhir memutuskan, saya berkeyakinan bahwa suatu saat kami akan nyambung lagi karena saya tidak meragukan keutuhan tekad dan kesetiaan partner saya tersebut.

Saya putuskan hubungan tersebut karena pada dasarnyameskipun kami berdua tidak ingin berpisahada ketidakcocokan mendasar yang tidak bisa dijembatani saat itu. Saya merasa perlu waktu untuk memperjelas dan mempermudah hubungan kami. Semasa putus kami meneruskan pengembangan diri masing-masing, karena kebetulan kami berdua punya komitmen kuat untuk terus tumbuh dan berkembang, dan masih sering bertemu untuk berbincang dan berbagi.

Nah, setelah setahun, saya merasa mulai lebih dekat dan lebih memahaminya, serta siap untuk merajut kembali hubungan kami. Kami memang telah mendiskusikan kemungkinan itu, meskipun dia juga dengan jujur menyatakan bahwa dia merasakan ketertarikan pada seseorang yang baru hadir di kehidupannya. Saya merasa yakin bahwa saya punya pengaruh dan ikatan yang lebih kuat atas dirinya. Kami mempunyai kesamaan dalam banyak hal, sementara wanita baru ini seorang perempuan desa yang sangat sederhana, lugu, dan masih sangat muda. Partner saya adalah orang yang sangat serius untuk menjalin hubungan yang terakhir dalam hidupnya. Dan, dia adalah tipe yang tidak pernah perlu diragukan kesetiaannya.

Sementara itu, hubungan kami makin membaik, kami lebih mudah berkomunikasi dan lebih terbuka satu sama lain. Persahabatan yang sebelumnya bukan aspek utama dari hubungan kami kemudian menjadi semakin terpupuk. Tentunya hal ini tidak lepas dari usaha dan proses kami secara terpisah untuk lebih memahami diri lebih dalam dan belajar dari kehidupan maupun pengalaman.

Akhirnya, kami bertemu lagi untuk membicarakan kepastian apakah kami akan kembali melanjutkan hubungan kami atau tidak.

Ternyata… dia tidak memilih saya. Dan saya tahu, sekali dia memilih dan memutuskan dia tidak akan menoleh ke belakang lagi. Apa pun konsekuensi dari keputusannya akan dia jalani, sehingga saya pun tidak berusaha mengubah pikirannya. Saya merelakannya.

Tetapi, rupanya kerelaan saya hanya sebatas omongan, belum sampai kepada kesadaran yang terdalam. Di sinilah saya di-gojlog habis-habisan, mengalami penderitaan batin yang luar biasa, yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Hati sakit, ego terbanting habis, tak terkira air mata yang saya keluarkan. Rasanya ingin berargumentasi dengannya, membujuknya, bahkan memaksanya untuk melihat dan menimbang kembali apa yang kami miliki bersama, yang kayaknya tidak layak dibuang begitu saja.

Berhari-hari saya bergelimang dalam keterpurukan, ketidakrelaan, dan penderitaan yang luar biasa. Rasa kecewa, bingung, sedih, sakit, kehilangan harga diri, tercampakkan, ketidakberdayaan mengepung saya dari segala penjuru. Segala ilmu dan kemampuan yang saya miliki dan pelajari selama ini terasa majal, tidak mempan untuk mengatasi kepedihan yang begitu hebat.

Saya meminta-minta pada Guru saya untuk membantu mengakhiri penderitaan tersebut karena saya tahu beliau bisa. Namun ditolaknya. Dia katakan bahwa saya harus masuk ke dalam penderitaan ini sampai ke titik nadir, merasakan benar-benar semua perasaan yang muncul, supaya saya bisa keluar dari kubangan pesakitan.

Tentunya saya juga tidak berhentinya berdoa pada Tuhan, memanggil Jeshua berulang-ulang untuk memberi saya pencerahan. Saya sadar bahwa semua ini merupakan pembersihan dan penyucian dari cengkeraman ego, meskipun kesadaran tersebut tidak meringankan penderitaan saya. Saya hanya bisa berharap bahwa kegelapan ini segara berlalu.

Seminggu penuh saya hanya fokus merasakan perasaan, mengurung diri di rumah tanpa bisa melakukan hal lain. Akhirnya, suatu pagi kegelapan itu terkuak, secercah sinar menerangi jiwa saya. Plong sudah, penderitaan sirna, digantikan oleh kedamaian, rasa syukur, dan keikhlasan. Saya bisa tersenyum lagi.

Beberapa bulan kemudian ketika saya bertemu dengan seorang pria, berkenalan, dan rasa suka berubah menjadi rasa bersahabat menjadi rasa cinta, saya mengalami hal yang berbeda dari yang pernah saya alami sebelumnya. Pria ini mempunyai komitmen pada wanita lain di negaranya, namun ketika dia ada di depan saya dan saya di depan dia, perasaan cinta yang begitu besar kami rasakan. Perasaan cinta yang tidak terbebani, tidak berkaitan dengan masa lalu, tidak mengandai-andai ke luar dari apa yang ada di depan kami saat itu, namun fokus pada memberikan segalanya pada momen tersebut.

Yang terasa adalah suatu kebebasan merasakan, kebebasan memberi dan menerima, tanpa mengukur maupun mengurangi kapasitas mencintai yang ada pada diri kami masing-masing. Rasanya begitu penuh, kaya, tanpa ketakutan akan kehilangan. Kami memberi tanpa berharap, menerima tanpa berhutang. Tatkala dia tidak ada di depan saya tidak ada rasa kehilangan, cinta, rasa penuh, dan rasa ikhlas tidak berkurang. Tatkala kami berjumpa, kami berdua berada di dalam momen yang sama, bersama sepenuhnya. Tatkala kami berpisah tidak ada kebutuhan atas pengulangan ataupun keterikatan pada pengalaman. Rasa rindu datang dan pergi, diamati dan dinikmati bagaikan arakan awan putih yang lewat di langit yang biru.

Dari sana saya tahu bahwa saya sudah terlepas dari kebutuhan untuk memiliki orang yang saya cintai, dan bahwa mencintai adalah suatu pilihan, suatu keputusan. Saya bisa memilih dan memutuskan untuk mencintai secara sadar siapa pun yang ada di hadapan saya. Tuhan telah hadir.

Kalau saya tidak mencintai itu karena saya memilih untuk menilai orang tersebut berdasarkan nilai dan ukuran yang saya pilih dan tetapkan. Hal ini sudah saya praktikkan dengan orang lain, pria maupun wanita. Konteks hubungan menjadi tidak relevan lagi. Hubungan fisik pun tidak lagi menentukan. Karena, hubungan fisik tidak lain dari salah satu ekspresi cinta yang bisa menjadi pilihan, atau bukan pilihan, sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Sex, sentuhan, atau sekadar saling memandang lewat jendela hati memberikan kepuasan dan kenikmatan yang sama dalamnya.

Ah… nikmatnya mencintai yang memercayai, mengikhlaskan, merangkul, dan membebaskan…. Membebaskan dari penderitaan yang timbul dari ketakutan akan kehilangan dan kecurigaan, serta leluasa untuk memberi tanpa berharap dan menerima tanpa berutang…. Jadi, apa kita masih perlu memilah-milah siapa yang harus dicintai, siapa yang harus dikasihi?

Mungkin dunia belum siap untuk bercinta seperti ini, tetapi bukan berarti itu tidak mungkin dan tidak bisa…. Pilih cinta atau ketakutan? Kebutuhan untuk memiliki objek cinta kita tidak lain dari ketakutan akan kehilangan dan keyakinan bahwa cinta yang utuh adalah cinta yang tidak berbagi. Padahal, semakin kita membuka hati dan memilih untuk mencintai tanpa syarat, tanpa kualifikasi, maka akan semakin besar, kaya, dan utuh cinta yang dapat kita terima, rasakan, dan miliki.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putra. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Misteri Kematian Michael Jackson dan Deteksi Energi 5 Elemen

ahg1Oleh: Aleysius H. Gondosari*

Kita dikejutkan oleh berita kematian Michael Jackson pada tanggal 26 Juni 2009 yang lalu. Menurut berita, kematian Jacko, panggilan akrab Michael Jackson, disebabkan oleh serangan jantung dan kholesterol. Sementara itu, ada dugaan lain bahwa penyebabnya adalah stres yang diobati dengan obat-obatan penenang. Berikut ini hasil analisis saya dengan metode Energi 5 Elemen terhadap keempat dugaan tersebut.

Indeks Sehat dari jantung, kholesterol, Stres, dan dan Indeks Manfaat obat-obatan penenang:

Indeks Sehat ini diukur dari energi sehat yang dipancarkan oleh manusia. Indeks Sehat untuk manusia berkisar dari -100 s/d +100. Bila negatif, berarti orang tersebut sedang sakit. Semakin besar angka negatifnya, berarti semakin sakit. Angka “0″ menunjukkan batas antara sehat dan sakit. Angka positif menunjukkan bahwa orang tersebut sehat. Semakin besar angka positifnya, berarti semakin sehat.

Bayi yang baru lahir akan mempunyai Indeks Sehat +100, karena masih mengkonsumsi susu ASI. Setelah 6 bulan akan turun menjadi +50, dan setelah 1 tahun biasanya turun menjadi +25. Orang dewasa biasanya mempunyai Indeks Sehat yang berkisar antara 0 s/d +25. Bila rajin mengkonsumsi makanan sehat, maka Indeks Sehat bisa meningkat hingga +50.

Indeks Sehat untuk penyakit bernilai negatif, mulai dari -1 s/d -100. Semakin tinggi angkanya, berarti semakin berat penyakitnya. Sebagai contoh, penyakit flu biasa berkisar dari -1 s/d -10. Sedangkan flu babi dapat mencapai -40, sehingga dapat menyebabkan kematian.

  • Indeks Sehat dari gangguan jantung berkisar dari -5 sampai dengan -25.
  • Indeks Sehat dari gangguan kholesterol berkisar dari -2 sampai dengan -25.
  • Indeks Sehat dari stres berkisar dari -1 sampai dengan -20.
  • Indeks Manfaat dari pengaruh negatif obat-obatan penenang terhadap kesehatan berkisar dari -1 sampai dengan -50.

Orang dapat meninggal bila Indeks Sehat mulai mencapai -50. Bila daya tahannya kuat, maka ia akan meninggal ketika Indeks Sehat mencapai -100. Dengan demikian, gabungan dua dari tiga penyebab di atas dapat menyebabkan kematian pada Michael Jackson. Gabungan dari gangguan jantung dan gangguan kholesterol sudah cukup membuat Jacko meninggal. Demikian pula, gabungan dari obat-obatan penenang dan gangguan jantung juga sudah cukup membuat Jacko meninggal.

Makanan sehat untuk stres:

Untuk mengatasi stres, kita dapat menghindari penggunaan obat-obatan penenang dengan cara menggantinya dengan makanan sehat. Kita dapat mengonsumsi makanan dengan energi sehat dan frekuensi sehat yang sesuai dengan elemen tertentu. Stres berasal dari otak dan saraf pada elemen Kesadaran dan elemen Ether (elemen ke-5). Pada saat stres, frekuensi otak akan meningkat menjadi 2 Hz sampai dengan 7 Hz. Ini menunjukkan otak sedang tidak tenang.

Frekuensi sehat otak pada saat tenang akan berkisar antara 1 Hz sampai 1/7 Hz. Semakin tenang, maka frekuensi akan semakin rendah, yaitu 1/5 sampai dengan 1/7 Hz. Oleh sebab itu, kita juga memerlukan makanan yang dapat menyehatkan otak dan saraf dengan frekuensi sehat 1/5 Hz, 1/6 Hz, dan 1/7 Hz. Makanan sehat yang cocok adalah:

  • Tape singkong segar: Indeks Manfaat untuk stres = +30, Indeks Kecocokan = +70%.
  • Tempe segar: Indeks Manfaat = +30. Indeks Kecocokan = +50%.
  • Mentimun segar: Indeks Manfaat = +20. Indeks Kecocokan = +50%.
  • Minuman Cincau: Indeks Manfaat = +50. Indeks Kecocokan = +100%.
  • Rumput Laut dan agar-agar: Indeks Manfaat = +30. Indeks Kecocokan = +50%.

Indeks Manfaat menunjukkan seberapa besar manfaat dari makanan sehat tersebut untuk meningkatkan Indeks Sehat manusia. Makanan sehat selalu mempunyai Indeks Manfaat yang positif.

Indeks Kecocokan menunjukkan tingkat kecocokan dari makanan sehat terhadap orang yang mengkonsumsi. Kecocokan +50% menunjukkan makanan sehat ini cocok pada kira-kira 50% orang. Makanan sehat umumnya mempunyai Indeks Kecocokan di atas 20%. Suplemen rata-rata mempunyai Indeks Kecocokan 0 s/d +5%. Sedangkan obat mempunyai Indeks Kecocokan yang lebih kecil, yaitu umumnya hanya 0 s/d +1%, yang berarti hanya cocok untuk dikonsumsi oleh orang tertentu saja yang memang sedang sakit dan memerlukan obat tersebut.

Makanan sehat kholesterol dan jantung:

Kholesterol dan jantung ada pada elemen Udara atau elemen ke-4. Dalam kondisi sehat, jantung akan mempunyai frekuensi sehat antara 1 sampai dengan 1/4 Hz. Jantung akan paling sehat pada frekuensi 1/4 Hz. Dalam kondisi tidak sehat, jantung akan mempunyai frekuensi antara 2 Hz sampai dengan 7 Hz. Oleh sebab itu, diperlukan makanan dengan energi sehat yang sesuai dengan elemen Udara dengan frekuensi sehat 1/4 Hz. Makanan sehat yang cocok dengan frekuensi 1/4 Hz adalah:

  • Tempe segar: Indeks Manfaat = +30. Indeks Kecocokan = +50%. Tempe segar mempunyai frekuensi sehat 1/6 Hz, 1/5 Hz, dan 1/4 Hz. Jadi selain untuk otak dan saraf, tempe segar juga bermanfaat untuk jantung.
  • Beras merah atau air tajin beras merah: Indeks Manfaat = +40. Indeks Kecocokan = +100%
  • Apel merah segar: Indeks Manfaat = +40. Indeks Kecocokan = +100%
  • Sawo segar: Indeks Manfaat = +40. Indeks Kecocokan = +50%
  • Alpukat segar: Indeks Manfaat = +30. Indeks Kecocokan = +40%

Salam Sehat Bahagia![ahg]

* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, pengembang online business, dan sedang menulis buku tentang sehat secara alami dengan metode Energi 5 Elemen, yang juga dapat dilihat di www.5elemen.com. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail[dot]com atau di nomor telepon: 0818116669.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.6/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Link and Match dan Kemajuan Bangsa

iy3Oleh: Iftida Yasar*

Jika kita bicara soal kesempatan kerja, maka di negara kita jika ada satu pekerjaan maka diperkirakan ada seribu orang yang akan melamar. Dari seribu orang itu mungkin hanya sekitar seratus orang yang memenuhi persyaratan administrasi dan lulus tes psikologi. Intinya, begitu besar gap atau perbedaan antara supply and demand, antara persyaratan kerja dengan mereka yang memenuhi kualifikasi persyaratan kerja tersebut.

Hasil dari dunia pendidikan berupa lulusan SMK atau Politeknik yang memang dipersiapkan untuk segera memasuki dunia kerja masih jauh dari harapan. Ada beberapa sekolah kejuruan atau politeknik yang lulusannya langsung dapat masuk ke pasar kerja. Mereka mempunyai peralatan latihan kerja yang memadai, biasanya merupakan proyek percontohan atau bekerjasama dengan industri tertentu. Sekolah kejuruan dan politeknik yang berjalan tanpa menyediakan peralatan latihan kerja yang memadai, akan ketinggalan teknologi dan lulusannnya masih harus dibekali dengan keterampilan untuk dapat memenuhi standar industri.

Pada negara lain yang sudah maju masih terdapat juga masalah link and match antara keluaran dari pendidikan dengan kebutuhan dunia industri. Bedanya setiap tahun besarnya gap itu semakin diperkecil dengan selalu mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikannya. Jepang saja sebagai negara industri yang sangat maju masih ada mis-match dalam penempatan tenaga kerjanya. Hal ini diatasi dengan memberikan kesempatan bagi pencari kerja angkatan muda untuk melaksanakan program magang. Dengan magang di industri atau di UKM (Usaha Kecil Menengah), dan mendapatkan uang saku yang memadai, maka keterampilan bekerja seseorang menjadi meningkat.

Di Jerman untuk pendidikan Vokasi atau kejuruan, Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Jerman memegang peranan sangat besar. Pemerintah memberikan kewenangan kepada KADIN Jerman untuk membuat kurikulum, menyediakan tempat magang, menyediakan para trainer atau pengajar, dan juga assesor-nya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan materi ajar, penguji, pengajar, dan evaluasi sekolah kejuruan ditangani oleh KADIN Jerman.

Dual sistem atau sistem ganda pada sekolah kejuruan di Jerman, mengajarkan teori sekitar 20 persen di sekolah dan 80 persennya adalah magang dengan bimbingan para supervisor di industri. Tidak heran lulusan SMK otomotif misalnya langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan otomotif. Biasanya mereka langsung diterima bekerja diperusahaan tempat mereka magang. Dengan magang langsung di industri, semua peralatan dan kebutuhan perusahaan selalu up to date, tidak ada perbedaan anatara alat peraga yang ada di sekolah dengan yang ada di industri, seperti yang kita alami.

Saya melihat sendiri bagaimana anak magang mempelajari otomotif di pabrik Porsche, mobil canggih yang sangat mahal harganya. Paling murah harga mobil Porsche adalah 650.000 dollar AS. Bandingkan dengan anak SMK Otomotif kita yang masih belajar dengan mesin mobil kuno yang tidak sesuai dengan perkembangan teknologi.

Seharusnya pemerintah daerah dengan kekuasaan otonominya mengetahui dengan pasti apa keunggulan daerahnya. Berdasarkan produk keunggulan daerahnya, maka dibangunlah kompetensi sumber daya manusianya. Misalnya, di Bali yang terkenal dengan pariwisatanya, maka pemerintah daerah fokus pada pembangunan kompetensi keahlian yang berbasis pariwisata. Di Jawa Tengah yang terkenal sebagai pusat budaya dan juga kerajinan furniture, dibangun kompetensi yang berbasis kerajinan furniture. Di Papua yang kaya emas dan juga kayunya, dibangun komptensi keahlian emas dan kayu. Dengan demikian terbentuk suatu keahlian yang khusus, unik, dan berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Jika selama ini kita masih sibuk menghabiskan anggaran untuk membangun infrastruktur, misalnya gedung, sekolah, dan perlengkapannya atau mengundang investor membangun industri di daerah. Maka, sudah saatnya investasi kita arahkan untuk pembangunan sumber daya manusianya dulu.

Tanpa kompetensi, tanpa adanya link and match antara pendidikan dan dunia industri, maka segala peralatan, gedung, dan investasi menjadi tidak maksimal dan sia-sia. Berapa banyak gedung sekolah dengan segala peralatannya yang canggih tidak berfungsi dengan baik, karena tidak ada tenaga ahli yang dapat menjalankannya?

Sudah saatnya kita bekerjasama membangun kompetensi unggulan daerah. Anggaran pendidikan yang begitu besar seharusnya juga diberikan kepada lembaga pelatihan industri yang sudah terbukti berhasil. Misalnya, untuk mendidik tenaga kerja yang terampil dibidang otomotif, tidak perlu membangun sekolah otomotif sendiri, tetapi serahkan dana tersebut misalnya kepada ASTRA group untuk mengembangkan lembaga pelatihan otomotifnya. Untuk mencetak tenaga ahli elektronik, berikan anggaran kepada Panasonic Gobel misalnya untuk memperkuat lembaga pelatihan elektronik yang selama ini hanya untuk melayani kebutuhan internal.

Sudah saatnya kita bersatu, bekerjasama, saling membantu, dan saling memperkuat sektor yang sudah baik untuk kemajuan bangsa. Berapa banyak perjalanan studi banding dilakukan oleh para pejabat kita, tanya pada hati nurani apakah sudah saatnya menghentikan segala macam perjalanan studi banding yang menghabiskan anggaran dan belum terlihat tanda kapan akan diimplementasikan demi kemajuan bangsa kita tercinta.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

“CCTV” di Sekitar Kita

sg2Oleh: Sulmin Gumiri*

Untuk bisa sukses dalam kehidupan ini sebenarnya tidaklah terlalu susah. Kita cukup meniru saja kehidupan rekan-rekan kita yang berprofesi sebagai artis. Para artis adalah sekumpulan orang yang sangat pintar dalam memainkan setiap peran yang diminta oleh sutradara kepadanya. Mereka harus siap manakalah diminta untuk berperan sebagai pelajar, guru, dokter, pengusaha, politisi, dan berbagai tuntutan peran lainnya. Kadang-kadang mereka diminta berperan sebagai orang baik-baik, tetapi di lain waktu mereka juga harus siap jika diminta memainkan peran sebagai orang jahat, kejam, dan licik. Semakin banyak peran yang bisa ia mainkan, akan semakin sukses pula orang yang berprofesi sebagai artis tersebut.

Dalam kehidupan pun sebenarnya kita dituntut untuk memainkan segala macam peran. Adalanya kita dituntut untuk memainkan peran sebagai orang tua bagi anak-anak, pasangan bagi isteri atau suami, guru bagi anak didik, atasan bagi karyawan, atau sebagai warga dari komunitas masyarakat di sekitar tempat tinggal kita. Mungkin karena begitu miripnya kehidupan kita ini dengan dunia seni peran, maka benar juga apa yang dinyanyikan oleh Ahmad Albar di tahun 80-an yang mengatakan bahwa “dunia ini adalah panggung sandiwara”.

Agak berbeda dengan dunia seni peran yang biasa dimainkan oleh teman-teman kita para artis, orang luar biasa adalah orang yang “hanya” bisa memainkan satu sisi peran saja dalam kehidupan ini, yaitu peran sebagai orang baik. Masalahnya adalah, kalau hanya memainkan peran sebagai orang baik untuk sesaat dan di satu bidang kehidupan saja mungkin dengan mudah bisa kita lakukan. Tetapi, untuk selalu menjadi orang baik di segala aspek kehidupan kapan pun dan di mana pun, kita dituntut untuk selalu belajar dan mengendalikan diri setiap harinya. Pengendalian diri dapat kita lakukan dengan selalu memantau atau memonitor segala gerak-gerik dan tingkah laku kita ke mana pun kita pergi dan di mana pun kita berada.

Namun, tidaklah mudah untuk memantau atau memata-matai diri sendiri. Untuk melakukan penilaian apakah kita selalu berbuat baik setiap saat merupakan pekerjaan yang luar biasa beratnya, karena hal ini terkait dengan kejujuran kepada diri sendiri. Tidak jarang ketika kita berkomitmen untuk selalu jujur kepada diri sendiri, kita dihadapkan kepada permasalahan bagaimana memberlakukan dan mengukur takaran sangsi atau hukuman apabila kita melanggar komitmen tersebut. Kita bisa dengan mudah bisa menjatuhkan dan menentukan jenis sangsi terhadap kesalahan orang lain, tetapi kita juga memiliki pembelaan diri yang luar biasa manakala sangsi yang sama harus diterapkan pada diri sendiri.

Masalahnya adalah, seberat dan semahal apa pun kejujuran kepada diri sendiri tersebut, kita tetap harus terus berusaha untuk mencapainya. Karena jika kita tidak biasa jujur kepada diri sendiri maka kita pun akan dengan sangat mudah untuk tidak jujur kepada orang lain. Dan, penyakit ketidakjujuran kepada orang lain inilah yang sering menjadi batu sandungan kita dalam mencapai kesuksesan di kehidupan ini.

Sebenarnya, kita bisa memaksa diri untuk senantiasa jujur kepada diri sendiri. Pemaksaan ini bisa kita lakukan manakala kita menyadari bahwa selalu ada kamera CCTV di sekitar kita yang setiap saat memata-matai ke mana pun kita pergi dan di mana pun kita berada. Kamera CCTV yang selalu menyoroti semua aktivitas kehidupan kita tersebut bentuknya bermacam-macam mulai dari yang menggunakan teknologi konvensional sampai kepada yang paling canggih, dan mulai dari yang kasat mata sampai di alam maya. Orang-orang dekat di sekitar kita seperti anggota keluarga, teman, murid, dan tetangga adalah contoh-contoh kamera CCTV konvensional dan kasat mata, yang selalu merekam gerak-gerik kita dan siap setiap saat membongkar semua ketidak jujuran yang kita lakukan.

Dengan kemajuan teknologi saat ini, kita tidak saja selalu dipantau oleh orang-orang dekat kita tersebut, tetapi kita juga sudah semakin terekspos ke semua orang. Mungkin kita masih ingat kasus pembunuhan seorang artis di sebuah hotel atau peledakan bom Bali beberapa tahun yang lalu. Rekaman kamera CCTV di sekitar tempat kejadian menjadi alat bukti yang tidak terbantahkan untuk menjerat dan menangkap para pelaku untuk mempertanggung jawabkan perbuatan tidak baik mereka tersebut. Kita juga sering mendengar bahwa sudah tidak ada lagi tempat aman di dunia ini bagi para koruptor untuk melarikan diri menghindari jeratan hukum yang telah dilanggarnya, karena dengan kecanggihan teknologi semua orang bisa membuntutinya ke mana pun mereka pergi dan di mana pun mereka bersembunyi.

Saat ini, jika kita ragu dengan kredibilitas orang yang kita kenal, kita cukup browsing saja nama orang tersebut di internet. Melalui teknologi komunikasi ini, dengan mudah kita mengetahui apakah calon teman baru kita tersebut adalah orang baik-baik dan bisa menunjang kesuksesan kita, atau ia adalah orang jahat yang justru berpotensi membawa kita kepada kehancuran. Begitu juga sebaliknya, indentitas dan kepribadian kita akan dengan sangat mudah dilacak dan dipelajari orang memalui dunia maya tersebut. Apalagi melalui teknologi komunikasi terakhir Facebook, orang bahkan sengaja mengekspos dirinya ke semua orang termasuk untuk aktivitas-aktivitas pribadi seperti ketika ia baru bangun tidur, sedang mandi, sedang sarapan, mengantar anak, ngerumpi di café, atau bahkan ketika ia habis bertengkar dengan pasangannya sekalipun.

Jadi kalau ingin sukses, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mulai berkomitmen menjadi orang yang selalu berbuat baik dengan membangun kejujuran kepada diri sendiri. Hanya dengan jujur kepada diri sendiri yang akan membuat kita juga terbiasa untuk jujur kepada orang lain. Di zaman yang serba canggih saat ini, sekecil apa pun ketidak jujuran yang kita sembunyikan, cepat atau lambat pasti akan diketahui oleh orang-orang di sekitar kehidupan kita. Dan, sekali ketidakjujuran tersebut terbongkar, sangatlah sulit untuk mengembalikan kepercayaan mereka. Kalau orang sudah tidak percaya, lalu jalan menuju kesuksesan pun mulai terasa terjal. Karena itu ingatlah, selalu ada CCTV di sekitar kita.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Supaya Pede Berbicara di Depan Umum (2)

ap1Oleh: Agung Praptapa*

Pada tulisan sebelumnya sudah digarisbawahi bahwa untuk menjadi pede kita harus mampu melihat diri sendiri apa adanya, harus bijak memosisikan diri sendiri maupun orang lain, dan mampu menerjemahkan lingkungan sewajarnya. Kemampuan kita melihat diri sendiri secara manusiawi akan menempatkan diri kita maupun orang lain serta lingkungan ke dalam porsi yang benar. Hal tersebut akan melandasi kita supaya bisa pede dengan wajar, tanpa dibuat-buat. Namun, pede secara umum (in general situation) tidak menjamin akan pede pula saat harus berbicara di depan umum (public speaking). Mengapa demikian? Karena adanya unsur gangguan fisik dan gangguan mental dalam berbicara di depan umum.

Keadaan tidak pede saat berbicara didepan umum akan mengundang gangguan fisik maupun gangguan mental. Gangguan fisik dapat berupa tiba-tiba merasa gatal, gemetar, jantung berdebar keras, berkeringat yang tidak wajar, tangan dingin, suara parau bahkan tidak keluar, tenggorokan kering, kaki rasanya lemas, perut mulas, dan selalu ingin buang air kecil. Gangguan fisik ini kalau tidak berhasil kita atasi akan semakin membuat kita down, semakin tidak pede.

Gangguan fisik harus kita atasi secara fisik pula. Caranya adalah dengan mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Ini tidak harus dilakukan di ruang tempat kita berbicara, tetapi bisa dilakukan di luar gedung. Selanjutnya adalah kita harus mencoba tersenyum saat menarik napas maupun menghembuskan napas, sembari mengendurkan syaraf yang tegang. Saat kita tersenyum, syaraf akan terpancing untuk mengendur. Lakukan beberapa kali sampai kita merasa relaks.

Teknik lain untuk mengatasi gangguan fisik adalah dengan cara memberikan kejutan pada tubuh kita. Ini bisa kita lakukan dengan melompat yang tinggi kalau perlu sambil berteriak keras, saling menggenggam erat antara tangan kanan dan tangan kiri, atau membuat gerakan ekstrim yang membuat seolah badan kita tersengat. Malu dong melakukan gerakan kejutan di depan umum? Jangan khawatir. Ini ada triknya. Kita justru bisa mengajak peserta (audience) untuk melakukan bersama sama kita. Pernahkah Anda menjumpai pembicara yang mengajak peserta berjingkrak-jingkrak bersama sambil berteriak? Nah, ini adalah salah satu cara supaya kita memiliki kesempatan untuk menciptakan kejutan bagi fisik kita. Dengan cara ini peserta maupun pembicara menjadi lebih relaks.

Gangguan lain yang akan muncul saat kita tidak pede untuk berbicara di depan umum adalah gangguan mental. Gangguan mental muncul dalam bentuk perasaan khawatir secara berlebihan, grogi, minder, merasa akan diterkam oleh peserta, merasa disepelekan, merasa kecil, merasa bodoh, merasa kurang siap, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Gangguan mental ini juga harus kita atasi dengan menggunakan pendekatan mental pula.

Salah satu teknik yang bisa kita gunakan untuk mengatasi gangguan mental adalah dengan membuat keputusan kepada diri sendiri untuk tidak khawatir, tidak grogi, tidak minder, dan sebagainya. Perintahkan diri sendiri untuk tidak khawatir. Katakan dalam hati dengan lembut pada diri sendiri bahwa kita tidak perlu khawatir karena situasi akan membaik dan memihak pada kita. “Don’t worry, you will be fine.” Katakan berulang-ulang. Hipnosis diri sendiri. Kondisikan hati kita akan menerima saran baik dari kita sendiri. Lakukan lagi sampai kita merasa lebih baik.

Gangguan mental dapat pula kita atasi dengan cara melakukan reposisi pada diri sendiri maupun orang lain. Caranya adalah dengan memberikan posisi yang serba positif kepada peserta. Posisikan peserta sebagai pemaaf, orang yang menyenangkan, penuh pengertian, dan akan memberikan perhatian pada acara ini. Cara ini akan efektif karena saat kita grogi misalnya, karena ada peserta yang lebih tinggi pangkatnya atau lebih hebat gelarnya, adalah posisi yang kita pilih untuk diri sendiri. Saat itu kita memosisikan sebagai lebih rendah maka mereka menjadi tampak lebih tinggi.

Di sini perlu kearifan untuk menempatkan segala sesuatu pada porsi yang semestinya. Apa sih salahnya kalau ada peserta yang memiliki gelar lebih hebat dari pada pembicara? Apa pula salah pembicara kalau pangkatnya lebih rendah dari pada peserta? Posisikan diri sendiri maupun orang lain pada porsi yang wajar, maka kita akan mampu mengatasi gangguan mental.

Teknik lain untuk mengatasi gangguan mental adalah dengan cara yang disebut unfreezing, atau mencairkan kebekuan. Ini bisa kita lakukan dengan cara melakukan komunikasi awal dengan peserta. Kita bisa menanyakan sesuatu yang ringan-ringan saja yang untuk menjawab mereka tidak perlu berpikir keras. Misalnya kita menanyakan, “Siapa yang hadir di sini yang ingin kaya?” Mintalah mereka mengangkat tangan apabila ingin kaya. Pertanyaan seperti ini tentunya memiliki jawaban pasti karena semua orang ingin kaya. Tetapi, dengan kita tanyakan kepada peserta kita memiliki kesempatan untuk berinteraksi. Interaksi ini akan mencairkan suasana sehingga gangguan mental bisa kita atasi. Tentu saja pertanyaan yang kita ajukan harus ada hubungannya dengan topik yang akan kita sampaikan. Kalau kita sedang berbicara tentang kesehatan kita bisa menanyakan “Siapa di antara yang hadir di sini yang ingin sehat?”

Haruskah unfreezing dilakukan dengan bertanya? Tidak. Kita bisa juga melakukan unfreezing dengan menyapa peserta yang kita kenal, memuji baju yang dikenakan salah satu atau beberapa peserta, menyampaikan kata-kata bijak yang sesuai topik, dan kemudian menanyakan kepada peserta setuju atau tidak dengan kata-kata bijak tersebut. Atau cara-cara lain, yang penting kita bisa membuka interaksi dengan peserta agar kebekuan bisa cair.

Unfreezing bisa juga dilakukan dengan bertanya kepada peserta suatu pertanyaan yang sudah kita atur jawabannya. Misalnya, apabila ditanya apa kabar, mereka harus menjawab “luar biasa”, “fantastik”, “super”, dan jawaban lain yang membangkitkan semangat.

Ada pula yang mengatasi gangguan mental dengan cara humor, yaitu dengan memberikan sentuhan jenaka bagi peserta yang membuat kita grogi. Cara ini bukan berarti kita harus melucu, tetapi kita membayangkan mereka dalam posisi lucu sehingga kita bisa tertawa dalam hati. Misalnya, peserta yang matanya besar kita bayangkan bahwa matanya lebih besar lagi, lebih bulat, seperti mata Bagong, tokoh pewayangan yang selalu melucu. Peserta yang berjenggot kita bayangkan seperti seekor kambing, dan seterusnya.

Ini memang butuh kreativitas. Membayangkan wajah jelek dan lucu tidaklah mudah. Dalam training public speaking, untuk mendapatkan gambaran tentang wajah jelek dan lucu saya sering minta kepada peserta untuk berekspresi yang sejelek mungkin dan kemudian selucu mungkin. Peserta lain mengamati sehingga peserta memiliki inventory bayangan wajah jelek dan lucu. Inventory ini akan berguna dikemudian hari saat mereka harus mendapatkan sisi lucu dari peserta. Tertarik untuk mencoba? Silakan. Asyik juga cara ini.[ap](bersambung)

* Agung Praptapa adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolumnis tetap di andaluarbiasa.com. Tulisan ini untuk mendukung training “Empowering Your Confidence in Public Speaking”. Website: www.praptapa.com, pos-el: praptapa[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.6/10 (14 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +7 (from 7 votes)

No Action No Result!

rs1

Oleh: Relon Star*

“Words can inspire, thoughts can provoke,

but only ACTION truly brings you closer to your dream.”

~ Elianto Widjaja

Apakah yang membedakan the dreamer dan the achiever? Perbedaannya terletak pada action yang dilakukan. Kata-kata motivasi di atas—“Words can inspire, thoughts can provoke, but only ACTION trully brings you closer to your dream”—yang artinya: kata-kata dapat memberikan inspirasi, pemikiran dapat memprovokasi, tetapi hanya tindakan yang benar-benar akan membawa kita lebih dekat pada impian kita.

Saya membaca sebuah artikel di majalah, di mana penulis artikel tersebut menceritakan pengalamannya sewaktu mengikuti salah satu MLM (Multi Level Marketing). Waktu pertama kali ia memutuskan untuk join, ia sangat termotivasi. Ditambah lagi ia melihat anaknya menuliskan kalimat ini di buku kerjanya, “Daddy, go diamond, I love you.” Wah, tulisan tersebut sangat membuat ia termotivasi. Tetapi setelah berlangsung enam bulan, ia hampir tidak pernah lagi menyentuh bisnis tersebut. Bukan karena bisnisnya yang kurang baik. Kemudian ia mulai berpikir, “Kenapa ada yang berhasil—bahkan sangat berhasil—namun ada juga yang gagal?” Pertanyaan lain muncul, “Kenapa saya tidak berhasil?”

Setelah sekian lama ia kemudian menemukan jawabannya. Tentulah orang-orang yang berhasil di bisnis tersebut ialah orang-orang yang membuat daftar nama-nama orang yang akan dihubungi, kemudian benar-benar menghubungi mereka. Sementara, ia sendiri hampir tidak ada keberanian untuk mengangkat telepon, dan menghubungi orang-orang yang ada dalam daftar namanya. Dan tentunya Anda juga tahu hasilnya, bukan? No action, no result!

Seorang pelatih tim renang Rusia hampir putus asa dalam melatih tim renangnya agar bisa meningkatkan kecepatan. Karena semua atletnya merasa apa yang dilakukan mereka sudah maksimal, sehingga tidak merasa perlu untuk meningkatkan kecepatan dalam berenang. Sang pelatih terus berpikir, “Bagaimana caranya agar atlit binaannya ini bisa memiliki motivasi untuk meningkatkan prestasinya?”

Akhirnya, ia mendapatkan gagasan bagus. Aha… ia kemudian menyewa seekor buaya yang sudah dijinakkan, lalu mengadakan suatu latihan yang berbeda dari biasanya. Ia mengatakan kepada para atlet, “Sekarang kalian berenang, tingkatkan kecepatan! Karena saya akan melepaskan buaya ini di belakang kalian!” Semua atlet itu otomatis berenang dengan mengerahkan seluruh kekuatannya. Hasilnya? Dalam latihan itu, terpecahkanlah rekor nasional yang baru.

Action yang dilakukan para atlet dapat membangun motivasi, walaupun dalam hal ini motivasi mereka hanya menyelamatkan diri dari terkaman sang buaya. Sekarang penting mana, action atau motivasi? Tentunya keduanya penting. Dan, keduanya harus tetap bersarang di hidup kita. Tanpa motivasi, kita tidak akan terinspirasi untuk memulai sesuatu. Tetapi tanpa adanya action, kita tidak akan melihat hasil.

Kalau kita bepergian dengan pesawat terbang. Lalu, sebelum take off ada suara dari ruang cockpit berkata, “Saudara-saudara, di sini ada dua orang pilot untuk menerbangkan pesawat ini. Kita hanya memerlukan satu orang pilot saja. Mohon Anda yang memilihnya. Pilot pertama adalah orang yang memiliki motivasi sangat tinggi untuk menjadi penerbang. Motivasinya begitu tinggi, sampai ia sering diundang di mana-mana untuk berbicara tentang motivasinya menerbangkan pesawat. Ia begitu menggebu-gebu menjadi penerbang. Tetapi, hari ini adalah hari pertama ia menerbangkan pesawat. Selama ini ia hanya belajar melalui manual book.

Tetapi, ada pilot yang lainnya di sini, seorang yang sudah lima belas tahun menerbangkan pesawat. Ia sudah sering mendapatkan penghargaan dunia internasional. Ia juga merupakan ayah dari tiga orang putri, sangat santun, low profile, dan hidupnya bersahaja. Walaupun bercita-cita menjadi guru, tetapi karena kegemarannya ialah dalam dunia penerbangan, maka ia masuk dalam salah satu jajaran penerbang terbaik.

Kira-kira, Anda pilih yang mana? Kalau saya memilih pilot yang kedua. Apa alasannya? Karena pengalamannya—atau actionnya—sudah membuktikan ia tidak sekadar memiliki motivasi tinggi. Action-lah yang membuat mimpi Anda semakin dekat dalam genggaman Anda.

Mungkin sewaktu data-data tentang pribadi pilot pertama disebutkan, penumpang langsung segera turun dari pesawat. Tetapi, setiap orang tentu lebih memilih pilot yang kedua karena action yang ia lakukan membuat orang lebih percaya padanya. Bukan motivasi yang paling penting, tetapi action yang Anda lakukan. Karena hanya dengan bertindak, Anda dibawa lebih dekat dengan impian Anda. Selamat bertindak![rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui pos-el: relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Kekuatan Minat

ek1Oleh: Eni Kusuma*

Ketika saya memotivasi para mahasiswa di Ponorogo beberapa hari yang lalu, seorang mahasiswa bertanya pada saya, “Kenapa Mbak Eni memilih untuk menulis, kok gak yang lain?”

Saya menjawab, “Karena bidang yang saya minati adalah menulis.” Dan, ketika saya balik bertanya kepada mereka, “Apa bidang yang paling kalian minati sebagai bekal untuk hidup?” Kebanyakan dari mereka belum siap dengan pertanyaan saya. Hanya beberapa gelintir saja yang telah memiliki tujuan yang jelas.

Saat menjadi mahasiswalah saat yang paling tepat untuk menekuni bidang yang paling diminati. Masa menjadi mahasiswa adalah masa belajar dan berlatih sehingga ketika lepas kuliah diharapkan telah menjadi ahli di bidangnya. Nyatanya, kebanyakan dari mereka—yang mungkin bisa mewakili rekan-rekan mahasiswa dari perguruan tinggi lain—masih santai, sebagian lagi masih bingung. Hal ini dikarenakan oleh kondisi mereka yang belum mengalami masa kritis. Selepas kuliah, mereka baru akan mengetahui dunia yang sebenarnya.

Bagi yang telah memiliki keahlian yang dipupuk sejak kuliah, mereka tidak akan bingung dengan masa depan mereka. Tetapi, bagi mereka yang tidak belajar dan tidak melatih bidang yang diminati sebelumnya, mereka akan mengalami masa kritis. Terutama bagi mereka yang pada akhirnya menganggur. Jika toh kemudian mereka menemukan bidang yang diminati, mereka akan belajar dan berlatih dari nol. Ini bila dibandingkan dengan mereka yang telah memiliki persiapan sebelumnya. Tetapi, ini masih bagus daripada mereka yang tidak berusaha mencari minatnya sama sekali.

Kebanyakan dari kita akan bangkit dan termotivasi untuk melakukan sesuatu jika telah mengalami masa kritis atau masa terjepit. Kita akan dipaksa oleh keadaan untuk melakukan sesuatu, jika tidak kita akan mati. Sehingga, kadang ini justru menjadi titik awal kesuksesan kita. Karena, orang yang telah mengalami masa kritis, biasanya memiliki daya juang yang tinggi, berani mengambil risiko, dan tidak takut gagal.

Nah, ketidaktakutan akan kegagalan itu karena sekarang pun orang tidak memiliki apa-apa alias masih nol. Jadi, untuk apa takut? Namun, kita tidak harus menunggu masa kritis baru bertindak, bukan? Bagaimanapun juga persiapan tetap lebih baik dan memiliki peluang berhasil lebih besar jika dibarengi oleh motivasi yang besar pula.

Ketika saya ditanya kembali oleh salah satu mahasiswa di sana, “Menulis kan berisiko, Mbak?”

Setiap apa yang kita lakukan memang berisiko. Apalagi jika kita tidak melakukan apa-apa, risikonya mungkin malah lebih besar. Saya memulai menulis dari nol, jadi jika saya gagal pun saya tetap nol. Jadi, untuk apa takut? Jika tulisan-tulisan saya ditertawakan, saya akan ikut tertawa juga, hehehe…. Tetapi, “tertawa” saya adalah “tertawa” pertanda mengerti akan kebodohan saya sendiri. Yang berarti saya selangkah lebih maju dari sebelumnya. Yang berarti pula saya telah belajar. Itulah sebabnya, saya katakan: “Belajar adalah Hak Saya!”[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Malas Ah Jadi Orang Susah!

msa1Oleh: Maria Saumi*

Saya tertarik sekali dengan suatu acara di TV yang menayangkan adanya jalinan kerjasama antara pengusaha pemula dengan suatu bank tertentu. Kebanyakan pengusaha pemula tersebut mengisahkan cerita awal mula usahanya dari nol hingga kini telah besar dan bisa dikatakan cukup sukses. Sehingga, kisah suksesnya patut diangkat buat para pemirsa.

Di antara para pengusaha pemula itu ada yang menarik perhatian saya. Dia sekarang ini sukses sebagai pengusaha di bidang kuliner. Malahan, usaha tersebut sudah di-franchise-kan. Total outlet-nya sekarang sekitar 13 buah. Untuk membuka satu outlet saja dibutuhkan dana sekitar Rp 450 juta. Sebuah kemajuan yang cukup fantastis. Dikatakan demikian karena ternyata diketahui bahwa usahanya dimulai dari usaha jajanan kaki lima.

Dia mengisahkan awal mula usahanya dengan berjualan gorengan pinggir jalan di suatu kampus. Lantas berkembang menjual kuliner ayam bakar. Sebelumnya, dia juga bercerita pernah menjadi office boy di suatu perusasahaan. Tetapi itu dulu, sekarang dia telah menjadi seorang pengusaha pemula yang sukses. Hingga dia pun dengan senang hati berbagi kiat-kiat suksesnya.

Pengusaha itu menerapkan tiga hal sederhana yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan pelanggan, yaitu:

  1. Menjaga mutu.
  2. Memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan pelanggan.
  3. Tetap menjaga hubungan dengan pelanggan.

Prinsip sederhana tetapi penting dalam kehidupan berusaha. Motivasi yang dia terapkan di dalam hidupnya adalah prinsip kemalasan atau malas. Lho, kok? Dia mengatakan dia malas kalau jualan hanya kaki lima saja. Lalu, dengan ”kemalasan”-nya atas kondisi tersebut dia mulai membuka satu outlet. Kemudian, ”kemalasan” itu datang lagi dan diresponnya dengan membuka tiga outlet. Lalu, ”kemalasan” lainnya datang lagi hingga lagi-lagi direspon dengan membuka hingga lebih dari sepuluh outlet.

Menurut saya dia harus bersyukur. Dengan ”kemalasannya” itu sekarang usahanya—walaupun masih tetap di ranah kuliner—tetapi telah berekspansi ke berbagai jenis makanan. Awalnya dari ayam bakar lalu berkembang ke bakso, dan yang terkini adalah pecel lele.

Sungguh, saya melihat ”kemalasan” versi si pengusaha pemula ini telah memaksanya untuk selalu berpikir what next. Dia tidak pernah mengizinkan dirinya berada di level stagnan dan merasa puas. Itu terlihat dari keberanian dia mengubah bisnis dari berjualan gorengan yang sifatnya camilan hingga menjadi ayam bakar yang sifatnya lebih ngenyangin. Lalu, dia berpikir lagi untuk ekspansi ke varian makanan lainya, dari semula berjualan ayam bakar ke bakso dan kemudian menjual pecel lele. Ini menunjukkan bahwa dia tidak takut akan hal baru karena selalu mau lebih maju dan maju lagi.

Dia tetap berusaha meraih yang terbaik bagi dirinya dan atas semua kemampuan yang dimilikinya. Dia selalu memburu prestasi dan melakukan inovasi baru untuk memuaskan ”kehidupan usahanya”. Dia juga berprinsip ATM, bukan Anjungan Tunai Mandiri, tetapi Amati, Tiru, dan Modifikasi.

Dengan akal, pikiran, dan kemampuan keras dia selalu berupaya menjadi pribadi yang selalu belajar, belajar, dan terus belajar. Dia selalu membiarkan dirinya belajar akan hal-hal baru. Dia telah belajar mengamati usaha apa yang cocok, diminati, dan sesuai dengan kapabilitasnya. Ditambah lagi karena istrinya juga suka memasak, sehingga dia memilih usaha di bidang kuliner. Belajar dan terus belajar hingga mencapai ”bentuk terbaik” sebagai hasil dari upaya kerasnya.

Lalu, pengusaha tersebut pun melakukan proses meniru. Suatu proses yang terbilang mudah karena sebagai peniru pastilah dia bukan yang pertama. Jadi, ada suatu contoh sebelumnya dari seorang inventor sehingga dia langsung dapat menerapkannya. Tetapi, dia berhasil menjadi peniru yang baik, yang tidak gagal, dan akhirnya lulus menjadi si peniru yang sukses. Hal yang juga membutuhkan usaha ekstra keras adalah proses modifikasi. Proses tersebut membutuhkan suatu langkah inovasi dan kreativitas tinggi sehingga mencapai ”hasil akhir” terbaik.

Terakhir adalah cara dia memberikan sedikit wejangan kepada orang-orang yang mau memulai merintis usaha. Dia mengatakan bahwa dalam berusaha janganlah kita takut gagal, jangan menginginkan cepat balik modal, dan sebaiknya terus berkreasi hingga mempunyai ciri khas produk atau usaha yang diingat oleh pelanggan. Dia juga memaparkan pentingnya melakukan modifikasi jenis makanan yang disuguhkan ke pelanggan sehingga bisa memiliki bentuk dan citarasa yang berbeda dengan para kompetitor.

Tidak lupa dia juga mengajarkan kepada para SDM di setiap outlet-nya supaya selalu bersikap ramah. Para pelayannyadengan senyum tulus mereka—selalu menyuguhkan kalimat monggo silahkan kepada para tamu yang mampir. Ada juga penciptaan kalimat-kalimat parodi kreatif di dinding seperti: “Makanan dan minuman yang telah ditelan tidak dapat ditukar atau dikembalikan”.

Sungguh suatu hal yang membuka pikiran kita. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain yang mungkin dapat menggugah kita akan suatu hal baru. Belajar tentang keberanian akan suatu pembaharuan menuju kebaikan dan kemajuan. Kita dapat belajar di setiap waktu dan kondisi kehidupan.

Ada perbedaan respon orang-orang terhadap kondisi susah” yang mereka alami. Ada yang merasa nyaman-nyaman saja dengan kondisi tersebut karena merasa itu sudah nasib atau takdir. Lalu, kehidupan menjadi datar” saja bagi mereka. Tidak tahu manakah yang nasib dan takdir serta mana yang aslinya adalah kemalasan. Tidak ada ”pergolakan” yang menggairahkan kehidupannya.

Saya jadi ingat kutipan ucapan Andrie Wongso, sang Motivator No 1 itu, “Jika kita lunak terhadap diri kita, maka kehidupan akan keras kepada kita. Dan jika kita keras terhadap diri kita, maka kehidupan akan lunak kepada kita.

Ada juga yang merasa malas dan muak” dengan kondisi hidup susah tetapi tanpa upaya” dan kemudian menjadi frustrasi. Bahkan, orang-orang itu bisa saja ”terpeleset” sehingga melakukan hal yang tidak baik.

Yang terakhir adalah orang-orang yang ”malas dan muak” dengan kondisi yang dihadapinya karena tentu saja menganggap susah” itu tidak nyaman. Lalu, mereka mengubah ketidaknyamanan tersebut menjadi suatu kenyamanan dalam segala hal, bukan hanya skala materi saja. Kita bertanya kepada diri sendiri, termasuk yang manakah kita? Malas ah jadi orang susah! [msa].

* Maria Saumi, lahir di Jakarta 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia Tahun 2000. Dia bekerja di salah satu perusahaan investasi di Sudirman, Jakarta, spesialisasi di bidang futures trading investment. Maria dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at] yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Life is Wonderful

bk-ahoJudul: Life is Wonderful—101 Kiat Hidup Sukses dan Bahagia

Oleh: Andrew Ho

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009

ISBN: 978-979-22-4620-9

Tebal: xxxi + 279

Edisi: Hard cover

Ukuran: 18,5 x 22 cm

Bonus: CD audio The New Inspiration

Tantangan kehidupan bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan menjadikan kehidupan ini semakin berwarna-warni. Inti pesan dalam buku ini bukan sekadar menginspirasi beberapa hal penting agar berhasil melewati tantangan dengan baik, tetapi juga membantu Anda memahami makna kehidupan dan menikmati keindahannya. Buku ini akan membuat Anda lebih siap menyongsong masa depan dan optimis dalam melanjutkan perjuangan hidup.

Life is Wonderful. Buku ini menghadirkan cara pandang yang berbeda untuk menjadikan kehidupan berjalan bukan hanya wonderful, tetapi juga beautiful. Sungguh sebuah buku yang pantas untuk dibaca, direnungkan, dan dipraktikkan untuk mendapatkan pencerahan dalam kehidupan sehari-hari. Luar biasa!”

Andrie Wongso, Sang Pembelajar

Catatan: Buku ini juga mendapat pujian antara lain dari Andrias Harefa, Adi W. Gunawan, Andi Odang, Ayah Edy, Andrie Indrawan, Ariesandi S., CHt, Billi Lim, Bambang Trim, Darmadi Darmawangsa, Edy Zaqeus, Jennie S. Bev, Johanes Ariffin Wijaya, Leman Yap, Louis Sastrawijaya, Ponijan Liaw, Drs. Piandi, Masbukhin Pradana, Ustadz Komarrudin Chalil, dan Pdt. Prof. Dr. Conrad Supit.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Mendapatkan Karier Idaman dalam Sepekan

bk-awanJudul: Mendapatkan Karier Idaman dalam Sepekan

Oleh: Awan Santosa

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009

ISBN: 978-979-22-4640-7

Ukuran: 13,5 x 20 cm

Tebal: xxii + 148

Bonus: CD contoh lamaran, CV siap pakai, salary survey

Buku ini menyajikan teknik jitu untuk menjadi sukses yang berorientasi wirausaha, karena bekerja sebagai karyawan/wati adalah pintu gerbang menuju sukses menjadi wirausahawan/wati.

Bagaimana bisa cepat mendapatkan karier idaman untuk bisa meloncat dengan penuh keyakinan untuk menjadi wirausahawan/wati sukses? Buku inilah jawabannya.

“Buku ini cocok untuk kaum muda yang hidup dalam arus globalisasi dan persaingan bebas, di mana yang kalah akan tersingkir.”

Y. Bagus Wismanto

Rektor Unika Soegojapranata

“Saya mengamini semua isi buku ini. Orangtua, dosen, sekolah, dan universitas seyogyanya memberikan buku ini kepada semua siswa dan mahasiswa mereka. Beli dan berikanlah buku ini kepada saudara-saudari Anda, karena ini akan menjadi hadiah yang paling berguna.”

Mr. Ethos Jansen H. Sinamo

Direktur Istitut Darma Mahardika, Jakarta

Penulis buku Delapan Etos Kerja Profesional

“Membaca buku ini bisa menyelamatkan masa depan Anda. Inilah buku yang perlu dibaca oleh setiap insan pencari kerja dan mereka yang kelak akan berwirausaha!”

Andrias Harefa

Penulis 30 buku bestseller

yang nangkring di www.proaktif.biz

“Buku ini perlu dibaca oleh pelamar kerja. Tip dan trik yang diberikan sangat powerful karena dibocorkan sendiri oleh penulisnya yang merupakan HR Manager alias ‘orang dalam perusahaan’.”

Istijanto Oei

Business Trainer

Penulis bestseller Rahasia Sukses Toko Tionghoa

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox