Sukses dengan Sikap Positif

Aleysius H. GondosariOleh : Aleysius H. Gondosari

“Semua orang dapat mengubah kehidupannya dengan mengubah sikap mereka.”

Andrew Carnegie

“Sikap adalah hal kecil yang membuat perubahan besar.”

Winston Churchill

“Temuan terbesar generasi saya adalah bahwa seorang manusia
dapat mengubah kehidupan mereka dengan cara mengubah sikap.”

William James

Untuk sukses, kecakapan teknis perlu didukung oleh sikap positif. Demikian yang dikatakan oleh Roger Fritz, presiden Organization Development Consultants. Sikap positif memengaruhi setiap aspek kehidupan kita. Selain kesuksesan, sikap positif juga merupakan faktor berpengaruh untuk menciptakan komunikasi yang efektif, menghindari kelelahan fisik dan mental, memperbaharui ketrampilan kita, dan menciptakan iklim kesuksesan. Cara kita memandang kesulitan dan masalah dapat menunjukkan perbedaan antara kesuksesan dan kegagalan.

Sikap tidak saja meliputi cara kita melihat dunia di sekitar kita, tetapi juga cara kita menerjemahkan situasi, kondisi, dan tindakan orang lain. Dengan kata lain, reaksi atau sudut pandang orang lain perlu diperhitungkan. Sikap positif tanpa interaksi tidak ada artinya.

Ada perbedaan yang sangat jelas antara sikap negatif dengan sikap positif. Sikap negatif dapat menimbulkan kecerobohan, ketidaktahuan, fatalisme, sinisme, kemalasan, kenekatan, dan terlalu percaya diri. Sebaliknya sikap positif akan menuntun pada perencanaan ke depan, menyemangati yang lain, menunjukkan apresiasi, kesaksamaan, kesungguhan, dan kesiagaan.

Kita dapat memulai sikap positif dengan menemukan kesenangan dalam hal-hal yang sederhana, serta mengambil yang terbaik dari situasi yang terburuk. Kita perlu menyadari bahwa tak seorang pun memiliki segalanya, dan setiap orang dalam hidupnya mempunyai kepedihan yang bercampur dengan kebahagiaan. Triknya adalah, bagaimana membuat tawa melebihi air mata.

Buku ini sangat bermanfaat bagi orang-orang yang ingin belajar bagaimana mencapai sukses melalui sikap positif. Agar pembaca dapat segera mempraktekkan sikap positif, buku ini dilengkapi dengan berbagai daftar periksa untuk melakukan penilaian sikap positif, serta saran-saran dan cara-cara untuk meningkatkan sikap positif. Melalui buku ini, kita dapat belajar bagaimana meraih kesuksesan dalam komunikasi, relasi, pekerjaan, dan bisnis dengan cara meningkatkan sikap positif, yaitu :

  • Mengukur Positive Attitude Quotient (PAQ) atau kecerdasan sikap positif Anda
  • Menilai sikap Anda melalui diri Anda sendiri dan rekan sejawat Anda
  • Mengatasi sikap-sikap negatif
  • Mempelajari hal-hal yang harus dan yang tidak boleh dilakukan saat menghadapi atasan
  • Menjadi komunikator dan seorang pendengar yang lebih baik
  • Mengatasi penolakan untuk melakukan perubahan di tempat kerja
  • Menolak saran tanpa menimbulkan sakit hati
  • Memberikan dan menanggapi kritik dari anggota tim
  • Menyatakan ketidaksepahaman kepada karyawan dan rekan sejawat tanpa menimbulkan suasana tidak nyaman
  • Mengatasi kelelahan mental dan stres

* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, pengembang online business, dan sedang menulis buku tentang sehat secara alami dengan metode Energi 5 Elemen. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail.com atau di nomor telepon: 0818116669.

Power of AttitudeJudul Buku : The Power of a Positive Attitude – Kunci Kesuksesan Sejati Anda

Oleh : Roger Fritz

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009

ISBN : 978-979-22-4486-1

Tebal : xiii + 186

Ukuran : 13,5 x 17 cm

Jumlah Bab : 10

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Tersesat ke Jalan yang Benar: Refleksi Perjalanan Sebuah Buku

Melly KiongOleh: Melly Kiong*

Masih hangat dalam ingatan saya, bagaimana seorang teman memberikan ide agar saya menuliskan pengalaman saya dalam bekerja sambil mendidik anak. Rasanya, apa pun yang dia katakan pada saat itu masih terbayang, bagaimana saya membelalakkan mata atas ide yang sedikit gila itu. Namun, sepanjang perjalanan pulang dari Sukabumi ke Jakarta, ternyata ide tersebut cukup mengiang-ngiang di telinga saya. Dan, ternyata semangat saya untuk berbagi pengalaman dengan wanita-wanita lain yang juga bekerja seperti saya memang besar.

Tanpa disadari, seakan semuanya bersambut, hadiah communicator dari suami saya ternyata sangat bermanfaat. Saya pakai setiap waktu tunggu saya untuk mencoba menuliskan poin-poin yang ingin saya tuliskan, baris demi baris, lembar demi lembar, akhirnya tertulis juga sampai puluhan halaman. Seakan tidak percaya, ketika saya mencoba menawarkan ide penulisan saya dalam sebuah buku, ternyata sangat antusias tanggapan orang-orang yang saya tawari, padahal semua itu masih dalam wacana.

Banyak yang tidak percaya dengan niat saya, karena ini benar-benar adalah dunia yang sangat jauh dari kebiasaan saya, itu adalah dunia menulis. Orang yang paling mencintai saya pun akhirnya ikut komentar, “Jangan bermimpilah, siapa sih lu? Kalaupun mau jadi penulis, mulailah dulu menulis di pojok-pojok koran kecil….

Ada lagi komentar, menulis buku sepertinya hanya meletakkan kartu nama, orang baru mau ambil. Jadi penulis tidak bisa kaya… Dan, masih banyak lagi komentar-komentar, yang oleh saya kemudian saya ramu menjadi tenaga dahsyat yang menghasilkan sebuah tekad, “Saya akan buktikan kalau saya tidak main-main!”

Ternyata, perjalan saya yang berliku perlahan mulai terbuka sudah. Banyak orang besar yang akhirnya dibukakan pintu hatinya untuk bergabung dalam gelombang pikiran saya, yaitu gelombang perubahan untuk anak bangsa. Bagaimana saya memulainya?

Saya punya dua teman kepala sekolah yang dengan ketulusan luar biasa akhirnya membukakan pintu jalan bagi perjuangan saya. Berkat pengalaman berbagi secara nyata, yaitu dengan program ngamen (diskusi dan seminar: red) di sekolah, akhirnya semakin memantapkan jalan saya, bahwa saya harus melanjutkan jalan yang sudah saya pilih dengan hati nurani.

Semua pihak tercengang melihat keberanian saya memutar haluan, dunia kepenulisan pun ikut terimbas karena ketersesatan saya. Namun, ada kebahagian lain yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata. Ternyata tulisan saya mengguncang dunia kepenulisan dengan lelucon, Wong seorang Melly Kiong yang tidak bisa menulis saja bisa jadi buku!? Kalau di dunia milis, saya selalu diketawai karena tulisan-tulisan saya yang tidak sesuai dengan tatanan EYD. Namun, saya hanya menghibur diri, “Memang saya harus berbagi kerjaan kok sama editor hahaha….

Dan, tanpa terasa dari proses ngamen sejauh ini, akhirnya saya merasa menemukan dunia yang selama ini belum pernah saya temukan. Saya merasa tersesat, tetapi saya berharap dan berdoa semoga saya tidak kembali ke dunia saya yang semula.

Hari ini saya mencoba mengungkapkan semua pengalaman saya, semoga apa yang saya lakukan, apa yang saya dapatkan bisa menjadi inspirasi bagi penulis-penulis lain di negeri ini. Dan, hanya satu kata kunci yang saya punya, menuliskan dengan jujur apa yang kita ketahui dan kita rasakan itu sangat baik untuk bisa di-share kepada orang lain.

Terima kasih banyak untuk orang-orang hebat yang telah dikirim Tuhan untuk memberikan support kepada saya, baik dengan maupun tanpa sengaja, serta teman-teman media yang telah berpartisipasi dalam pemberitaan yang tulus. Dan, terima kasih terutama untuk seluruh keluarga besar saya yang akhirnya harus bangga dengan perjuangan saya.

Akhir kata, saya ucapkan banyak terima kasih untuk Edy Zaqeus (editor buku saya) yang selalu dengan sabar memberikan masukan-masukan, bahkan telah menyebarkan kabar tersesatnya Melly Kiong di dunia kepenulisan. Salam Rumah Moral Peduli Anak Bangsa![mk]

* Melly Kiong adalah lahir tahun 1969 di Singkawang, Kalimantan Barat. Semula dia adalah tenaga pemasaran sebuah perusahaan kimia, yang menuliskan pengalamannya dalam mendidik anak sembari aktif sebagai wanita pekerja, dalam buku Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik? (Elex Media Komputindo, 2008). Kini, Melly aktif menjadi pembicara publik tentang parenting dan moralitas dalam sekolah dan rumah tangga. Untuk mendukung kiprahnya, Melly mendirikan sebuah lembaga bernama Rumah Moral. Melly dapat dihubungi melalui pos-el: melly_kiong[at]yahoo[dot]com, atau telepon 021-68016672.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Luar Biasanya Hari-Hari Kita

Lisa NuriyantiOleh: Lisa Nuryanti*

Semua orang punya tujuh hari dalam seminggu. Berapa hari yang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Apa arti hari-hari tersebut untuk kita? Mari coba kita lihat.

1. Senin adalah singkatan dari “Semangat Nan Indah”

Sebagian orang mengharap-harap tibanya hari Senin karena hari itu mereka mendapat uang. Yang telah libur, kembali berjualan sehingga uang masuk lancar lagi. Yang bekerja harian, berarti upah harian akan diterima kembali.

Sebagian orang tidak suka dengan hari Senin. Yang malas bekerja merasakan beban berat karena Senin berarti mulai bekerja kembali. Yang tadinya bisa santai di rumah, kini harus kembali masuk kantor. Anak sekolah kembali bersekolah, tidak bisa main-main Play Station lagi. Para ibu harus bangun pagi lagi untuk memasak sarapan pagi anak-anak yang akan berangkat sekolah. Ada yang menunggu-nunggu hari Sabtu lagi yang rasanya masih sangat lamaaaa….

Apa pun sikap yang kita pilih, tidak akan mengubah hari Senin. Senin tetap datang. Senin tetap harus kita lalui entah kita senang atau tidak. Sikap mana yang akan kita pilih? Memulai hari Senin dengan menggerutu atau memulai hari Senin dengan Semangat Nan Indah?

2. Selasa adalah singkatan dari “Selalu Luar Biasa”

Ada orang yang berpendapat bahwa Selasa adalah hari yang biasa saja. Tidak ada yang luar biasa. Mengapa begitu? Mengapa kita tidak membuatnya menjadi hari yang luar biasa? Luar biasa atau tidak, bukan tergantung dari nama hari atau pekerjaan kita. Tetapi, tergantung dari sikap hati kita. Tiap pagi saya bermain skipping (main tali) sebanyak 300 kali. Saya merasakan bedanya, ketika hati sedang malas, ya main tali jadi terasa berat. Tetapi bila hati gembira, maka main tali menjadi ringan. Bahkan tanpa terasa bisa sampai 400 kali. Jadi, saya selalu main tali sambil bernyanyi dan tersenyum. Hehehe….

3. Rabu adalah singkatan dari “Rasakan Bahagia dalam Kalbu”

Apakah kita bersyukur hanya kalau kita mendapatkan sesuatu? Kalau sedang senang dan kita bersyukur, itu sih biasa. Tetapi, bagaimana kalau kita sedang ada masalah? Apakah kita menggerutu dan marah-marah? Apakah kita bisa mensyukuri setiap kejadian dalam hidup kita?

Waktu anak saya masih kecil, dia sering menangis di malam hari. Padahal, tiap hari saya harus bekerja. Tetapi, saya bersyukur bisa bangun di malam hari dan memberikan ASI kepada anak saya. Saya senang ketika di malam hari dia terjaga dan memanggil “Mama... Mama….” Malah saya sengaja melarang baby sitter bangun di malam hari dan mengurus anak saya. Saya pikir, toh tidak lama dia begitu. Nanti kalau dia sudah besar, dia tidak akan lagi memanggil “Mama… Mama” ketika terjaga di malam hari.

Jadi, saya nikmati keadaan itu. Saya syukuri saat-saat tiap malam saya bangun dan menggendong anak saya. Biarlah hati kita selalu dipenuhi rasa syukur. Biarlah kalbu berseri. Hati yang gembira adalah obat yang paling manjur.

4. Kamis adalah “Kami Sukses”

Apakah hari Kamis juga hari biasa? Bagaimana kalau kita membuatnya sebagai hari di mana kita sudah lebih sukses? Rasanya, kita perlu mengingat kembali pentingnya “Berpikir Positif”. Bagaimana kalau tiap minggu kita mendapatkan sukses? Bagaimana kalau tiap hari? Apakah mungkin? Tentu saja. Yang perlu dilakukan adalah selalu berpikir positif. Kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja….

Bila seseorang berkata kepada kita, “Wah, enak ya kerja di sana!” Daripada berkata, “Enak apanya? Biasa saja, kok!, mengapa kita tidak berkata, “Amin!“? Bila seseorang berkata, “Pasti Anda banyak uang.” Daripada berkata, Enggak, kok. Siapa bilang banyak uang?” Lebih baik kita berkata, “Amin.” Kalau nanti benar-benar banyak uang, siapa yang menikmati? Kita sendiri kan? Asyik….

5. Jumat berarti “Juga Amat Hebat”

Sering kali Jumat menjadi hari yang kurang produktif karena sudah mendekati Sabtu, sehingga pikiran sudah ke hari libur. Mengapa menyia-nyiakan satu hari dalam hidup kita? Bagaimana kalau kita menjadikannya hari Jumat yang Juga Amat Hebat? Bagaimana kalau kita menggunakan hari ini untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tertunda? Memeriksa surat masuk? Mengevaluasi hari-hari kemarin? Mengatakan hal-hal indah yang belum sempat dikatakan?

6. Sabtu berarti “Saatnya Bersatu”

Hari Sabtu bisa menjadi hari yang produktif atau tidak produktif. Semuanya tergantung diri sendiri. Seorang pengusaha justru paling produktif di hari Sabtu karena dia bisa memeriksa semua pekerjaan, memantau hasil kerja karyawan, mencari ide baru, dan puluhan kegiatan lain yang sangat bermanfaat. Bahkan, dia membuat hari Sabtu sebagai hari di mana dia mendengarkan semua masalah yang dihadapi anak buahnya.

Orang tua yang libur dan ingin membina kedekatan dengan anak-anaknya bisa memanfaatkan hari Sabtu untuk bermain bersama, berenang, makan bareng, membersihkan rumah bersama, atau jalan-jalan. Daripada hanya duduk dan masing-masing nonton acara TV kesukaannya tanpa adanya komunikasi. Pasangan yang saling mencinta bisa menggunakan hari ini untuk saling mengerti bukan hari untuk bertengkar. Hayoo….

7. Minggu berarti “Mari Ingat Berkah Seminggu”

Hari Minggu bisa dijadikan hari bermalas-malas atau bisa juga menjadi hari untuk mengevaluasi diri kita. Untuk mengevaluasi sikap kita. Apa yang telah dilakukan dalam seminggu? Apa yang salah? Apa yang benar? Apa yang dapat kita lakukan lebih baik minggu depan? Apa rencana baru yang perlu dibuat? Bagaimana supaya minggu depan lebih sukses? Bagaimana caranya bekerja lebih baik? Bagaimana caranya agar tidak terlambat masuk kerja? Dan, seribu satu kegiatan lain.

Dengan demikian, hari Senin akan kita nantikan dengan semangat karena kita telah punya rencana yang akan diterapkan. Hari Senin menjadi awal minggu depan yang lebih sukses. Give Thanks for Every Day in Your Life![ln]

* * Lisa Nuryanti lahir di Yogyakarta pada 21 Agustus dan alumnus Teknik Arsitektur Universitas Parahyangan, Bandung. Ia adalah Master Trainer dan President Director Expands Consulting. Berpengalaman bekerja di beberapa perusahaan, seperti PT Sandoz Biochemie sebagai Product Manager, di PT Tempo Scan Pacific sebagai Product Manager, di Sewu New York Life sebagai Branch Manager, serta delapan tahun menjadi International Director John Robert Powers, kini ia mengelola Expands Consulting dengan bidang bisnis Training SDM. Selain sebagai motivator dan master trainer soft skill, Lisa juga menjadi fasilitator di berbagai perusahaan training lainnya. Ia paling cinta dengan dunia training dan memberikan pelatihan personal development dan soft skill yang hidup, fun, dan aktif. Lisa dapat dihubungi melalui email: expands[at]cbn[dot]net[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Menulis di Mata Orang yang Benci Menulis

Sofa NurdiyantiOleh: Sofa Nurdiyanti*

Pernah dengar, kalau ada orang yang mengaku benci menulis?

Pernah mengalami perasaan seperti itu?

Sebenarnya bagaimana sih kalau kita mengalami hal seperti itu?

Definisi benci bagi tiap orang tentu berbeda, bukan? Relatif!!! Ini adalah kata yang sering digunakan orang jika sudah bingung dan enggak menemukan persamaan ide terhadap sebuah konsep tertentu. Sekarang, saya enggak bakal mempersoalkan definisi benci yang mempunyai arti berbeda bagi setiap orang. Benci, menurut saya adalah tidak suka dan sangat ingin dihindari. Ini merupakan definisi yang lugas dan dimengerti oleh banyak orang, bukan?

Jika dikaitkan antara benci dengan menulis, maka dapat ditebak bahwa jawabannya adalah rasa tidak suka seseorang terhadap aktivitas menulis. Semua hal yang terkait dengan menulis tentunya akan membuat seseorang tersebut “tersiksa”, terutama ketika dia harus menuliskan sesuatu. Jangankan menulis sebuah artikel, menulis tentang apa yang dirasakannya dalam satu kurun waktu tertentu atau episodic memory, tentunya akan sangat membuatnya tertekan.

Ibarat sebuah rumah maka fondasi rumah tersebut adalah kemauan dan kecintaan yang besar terhadap dunia menulis. Sementara, tiangnya adalah kesungguhan untuk terus mau berusaha dan belajar menulis. Sedangkan atapnya adalah kreativitas yang tak terbatas, dengan pintu untuk selalu up to date terhadap ilmu pengetahuan, dan jendelanya adalah kelapangan hati untuk selalu menerima kritik dan saran dari orang lain. Bukan demi interdependensi, tetapi lebih kepada pembangunan gagasan dan konsep kita dalam menulis.

Jika untuk berada pada tahap fondasinya saja, yaitu kemauan dan kecintaan yang besar untuk menulis, tidak terbangun dengan baik, maka seseorang tidak akan mampu melangkah ke tahap berikutnya. Tahap di mana ia dapat mengembangkan ide-ide dan membangun komunikasi dengan orang lain lewat tulisannya. Ia akan terus terkungkung dalam ketidaksadaran yang ia ciptakan sendiri, bahwa menulis bukanlah hal yang menyenangkan baginya.

Jika terus dipelihara, perasaan tidak bisa inilah yang membahayakan. Akan tumbuh sebuah kesadaran yang muncul dari dalam diri kita sendiri, bahwa kita tidak bisa menulis. Hal ini terjadi karena otak terstimulasi untuk terus menyimpan informasi bahwa kita tidak bisa menulis. Memory inilah yang natinya akan membuat kita merasa benar-benar yakin bahwa kita tidak bisa menulis, sekaligus mematahkan seluruh potensi yang ada.

Nah, jadi penasaran, kan? Sebenarnya, apa sih yang membuat seseorang itu benci menulis? Alasan klasik seperti malas, cepat bosan jika idenya macet, enggak bisa nulis, ribet, adalah beberapa alasan yang dikemukakan oleh orang yang mengaku dirinya benci menulis.

Sedangkan beberapa masalah teknis dalam menulis seperti merangkai kata dalam kalimat, pemilihan tema, penyampaian gagasan dalam satu kalimatapalagi harus menyusun sebuah kalimat dalam sebuah paragraf yang harus mempunyai ikatan yang bernama koherensitentunya akan semakin menambah rasa malas dan benci yang menjadi-jadi.

Hal ini terjadi pada orang yang tidak mempunyai niat maupun minat terhadap hal-hal yang “berbau” kepenulisan. Maka, tidaklah mengherankan jika oleh sebagian besar orang, menulis merupakan sebuah rutinitas yang dihindari, diasingkan, dianggap ribet, dan dianggap harus punya kemampuan intelektual tertentu.

Tidak salah memang, tetapi benarkah demikian? Kaitan antara kebencian seseorang terhadap menulis tentunya berdasarkan hal-hal tertentu yang relatif bagi setiap orang. Ada yang benci menulis karena tidak suka dengan struktur bahasa yang harus dipelajari dan diterapkan dalam suatu tulisan. Terkadang, pemilihan sebuah tema dan kata dalam penyampaian suatu ide bisa menjebak si penulis ‘yang benci menulis’ tadi untuk menuliskan sebuah ide, tetapi mempunyai penafisiran yang berbeda ketika dibaca oleh orang lain. Hal ini bisa saja terjadi pada setiap orang. Karena, mungkin saja ia kurang bisa mengomunikasikan idenya secara jelas pada orang lain. Namun, bisa juga hal ini terjadi karena kurangnya latihan dalam menulis.

Seperti bidang yang lain, menulis tidak lagi hanya membutuhkan bakat tetapi juga latihan yang rutin. Perasaan tidak suka ini akan terus berkembang jika kita selalu negative thinking dan enggan untuk mulai belajar menyukainya. Seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang“ demikian pula dengan menulis. Kita perlu menumbuhkan rasa suka pada dunia tulis-menulis sehingga kita dapat melakukan segala sesuatunya dengan lebih mudah.

Perasaan positive thinking perlu dikembangkan karena hal ini akan mampu menumbuhkan semangat individu dalam menulis. Proses menumbuhkan perasaan suka dalam dunia menulis dapat dilakukan dengan membaca artikel atau cerita yang berhubungan dengan minat kita. Dengan membiasakan diri membaca, lambat laun kita akan mempunyai motivasi untuk menulis.

Ketidakmampuan seseorang dalam menulis biasanya bersumber dari perasaan tidak mampu yang dikembangkan oleh individu itu sendiri, jadi jangan heran jika potensi menulis yang bagus pada sesorang akan lenyap seiring dengan tumbuhnya perasaan benci pada kegiatan menulis.

Jika Anda masih punya rasa benci untuk menulis, maka hal yang harus Anda lakukan adalah membuang jauh-jauh perasaan itu, dan mulailah yakinkan diri kalau Anda bisa menulis. Teruslah yakinkan diri Anda mampu dan jangan berhenti mencoba. Jangan sekali-kali Anda benci menulis karena itu akan merugikan diri Anda sendiri. Karena, menulis merupakan salah bentuk komunikasi yang harus kita kuasai dengan baik selain komunikasi secara lisan. Selamat menulis dan ingat practice makes perfect![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di wadah jurnalistik Fakultas Psikologi, Sanata Dharma. Ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Mengapa LoA Tidak Bekerja?

aasOleh: Ade Asep Syarifuddin*

TEMAN saya yang pernah menonton film The Secret sekaligus membaca bukunya protes kepada saya bahwa Law of Attraction (LoA) atau hukum tarik menarik sama sekali tidak bekerja. Dirinya melakukan semua saran dan tahapan-tahapan yang disarankan di dalam film itu. Mulai dari meminta, menerima, dan merasakan seolah-olah sudah terwujud.

Kemudian saya tanyakan apakah dirinya masih memiliki ganjalan hati sehingga tidak merasa bahagia, tidak merasa damai? Dari situ dia merenung sejenak, kemudian terlihat matanya menerawang masa lalunya. Dengan kalimat yang terbata-bata dia mengatakan bahwa dia memang memiliki dendam kepada seseorang. Sampai sekarang dendam itu belum juga hilang dari ingatannya. Bahkan dia pernah bersumpah, sebelum membalas dendam itu, dia tidak akan melupakan kejadian yang menyakitkan tadi.

Pertanyaan berikutnya, apakah LoA itu memang tidak bekerja atau memang kita sendiri yang menghambat kerja LoA? Dalam kasus ini teman saya memiliki energi negatif yang terus-menerus disimpan di dalam tubuhnya sehingga dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan. Bisa jadi yang menghambat terwujudnya hukum tarik-menarik adalah dendam yang tersimpan tadi. Hukum tarik-menarik ini tidak pernah berhenti bekerja, persis seperti hukum gravitasi atau hukum sebab akibat. Bila terlihat tidak bekerja dipastikan ada persoalan di dalam diri kita.

Coba bandingkan kalau kita memiliki sebuah magnet, tetapi sayangnya magnet tersebut sangat kotor dan penuh dengan tanah dengan ketebalan tidak kurang dari 1 sentimeter. Pertanyaannya, apakah magnet tersebut masih bisa bekerja secara efektif, menarik benda-benda seperti besi atau tidak? Bisa dipastikan cara kerja magnet tersebut sudah berkurang kekuatannya atau bahkan tidak bisa lagi menarik besi. Sebab, terhalang oleh kotoran tadi.

Coba magnet tersebut dibersihkan bisa dengan cara dicuci, dilap sampai kotoran-kotoran dan tanah yang menempel tadi terlepas. Sekarang, coba lagi apakah magnet tersebut bisa menarik besi atau tidak. Ternyata, magnet tadi sudah bisa bekerja sesuai dengan “fitrahnya”. Bahkan, kekuatannya terasa lebih besar. Sama halnya dengan hukum tarik-menarik, kalau di dalam diri kita banyak kotoran negatif apakah itu trauma, dendam, kebencian, atau energi negatif lainnya, bisa dipastikan kita tidak bisa menarik sesuatu yang kita inginkan. Kemudian, bagaimana caranya agar kita bisa kembali menarik segala sesuatu yang kita inginkan sesuai dengan hukum tarik-menarik?

Pembersihan. Benar sekali pembersihan. Persis seperti magnet yang dibersihkan tadi. Di dalam diri manusia juga banyak sekali kotoran negatif, baik yang terasa maupun yang tidak terasa. Apa saja? Bisa luka lama seperti trauma masa lalu, benci kepada seseorang, iri, berburuk sangka, dll. Berapa kali harus membersihkan dan siapa yang tahu kalau kita sudah bersih? Ini bukan membersihkan lantai atau kamar mandi. Kita bisa melihat kotoran dan noda-moda dengan mata kita. Ini membersihkan rasa, kita tidak bisa melihat secara langsung.

Tetapi, ada cara untuk mengetahui apakah yang kita bersihkan sudah benar-benar bersih atau tidak, yaitu lewat perasaan kita. Kalau perasaan kita masih galau, bingung, tidak nyaman, khawatir, itu pertanda bahwa hati kita belum bersih. Tetapi, kalau perasaan kita sudah gembira, damai, bahagia itu adalah suatu pertanda bahwa hati kita berangsur-angsur mulai bersih. Indikator perasaan ini yang harus selalu dikontrol oleh kita untuk mengetahui sejauh mana tingkat kebersihan pikiran dan hati kita.

Pertanyaan lainnya, bagaimana cara membersihkannya? Ini juga hal penting sehingga kita tidak ragu-ragu untuk membersihkannya. Secara sederhana pembersihan luka di hati bisa dikatakan mudah bisa juga sulit. Mengapa demikian, kalau seseorang sudah berniat untuk membersihkan dendam kepada seseorang maka prosesnya menjadi lebih cepat. Secara teknis, carilah tempat yang nyaman, duduk dalam posisi yang enak, tarik napas dalam dalam beberapa kali, dan keluarkan secara pelan-pelan. Lakukan beberapa kali sampai tubuh benar-benar terasa nyaman.

Setelah masuk dalam kondisi yang nyaman mulailah kita meniatkan diri untuk membersihkan segala energi negatif. Sampai di sini kita harus mengidentifikasi ada berapa energi negatif yang menjadi beban pikiran. Kalau kita merasa hanya ada satu energi negatif, benci kepada seseorang misalnya, maka mulailah berniat melepaskan kebencian tadi. “Saya berniat melepaskan kebencian kepada seseorang.” Ulangi beberapa kali sampai merasa ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuh kita baik lewat telapak kaki maupun lewat kepala.

Rasakan, apakah beban sudah berkurang? Kemudian dilanjutkan lagi dengan kata-kata, “Saya menyayangi orang tersebut, seperti saya menyayangi diri sendiri dan keluarga. Karena, saya tahu bahwa dia adalah orang yang baik.” Rasakan kembali apakah beban yang ada berangsur-angsur mulai berkurang? Lanjutkan dengan kata-kata, “Maafkan saya kalau selama ini saya membenci Anda. Saya sudah melakukan perbuatan dosa.” Diakhiri dengan kata-kata, “Terimakasih ya Tuhan, Engkau sudah memberikan berkah dan nikmat yang tiada terhingga kepada saya.”

Rasakan apa perubahan yang terjadi dalam diri kita ketika melalui proses pembersihan tadi. Ulangi beberapa kali dalam sehari, kalau sudah merasakan bahagia, damai, lakukan hal tadi untuk kepentingan pembersihan diri atas energi negatif yang nyangkut di dalam pikiran dan hati yang terjadi setiap hari. Ketika hari-hari kita diisi dengan hati dan perasaan yang damai, bahagia, senang di situlah hukum tarik-menarik mulai akrab dengan kita. Dan, niatkan untuk meminta sesuatu, kemudian serahkan kepada Yang Mahakuasa dan lupakan.

Apa yang terjadi? Rasakan saja sendiri, Anda pasti akan menemukan sesuatu yang selama ini Anda idam-idamkan. Salam damai, bahagia. Saya menyayangi Anda, terimakasih, dan mohon maaf.[aas]

* Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, bisa dihubungi di asepradar[at]gmail[dot]com atau http://langitbirupekalongan.blogspot.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Berkorban?

fspOleh: Fajar S. Pramono*

Malam tadi, saya dengar dari Mario Teguh, “Berkorban itu sesungguhnya lebih untuk menambah kemuliaan bagi diri kita sendiri.” Ia mencontohkan–dalam bahasa saya—: kalau kita memberikan sebagian harta kita untuk zakat, infaq, sodaqoh, sebenarnya kita justru sedang membayar kewajiban dalam rangka “membersihkan” harta kita, sehingga apa yang kita miliki menjadi barokah bagi kita. Dengan “kesyukuran” yang justru sering salah kaprah kita sebut dengan “pengorbanan” itu, kita berhak menunggu janji Tuhan: Bersyukurlah, maka akan Ku-tambahkan nikmatmu.

Lalu, ketika kita “berkorban” untuk anak istri atau keluarga kita, kepada siapa sesungguhnya kebahagiaan itu akan kembali? Tak hanya kepada mereka yang kita “korbani”, bukan? Namun juga pada kita. Bahkan, sering kali perumpamaan seorang tua mengatakan, ”Meskipun kita lapar, betapa bahagianya melihat wajah anak-anak kita yang ceria karena mereka bisa menikmati nasi bungkus yang kita bawa pulang, yang sesungguhnya merupakan jatah lembur kita di kantor….

Dengan demikian, adakah ”pengorbanan” itu yang sebenarnya?

Saya sepakat, bahwa istilah ”pengorbanan” sejatinya muncul karena adanya negative mindset yang mengatakan bahwa pengorbanan identik dengan sebuah pengurangan. Istilah ”berkorban”, bahkan sering kali mengandungkan sebuah unsur ”keterpaksaan”; betapapun kecilnya.

Jika kita memberikan sebagian rezeki kita kepada sesama, maka yang di-mindset-kan adalah harta kita akan berkurang. Jika kita sebagai seorang kepala rumah tangga memberikan waktu dan tenaga kita untuk bekerja demi keluarga, maka kita katakan bahwa kesempatan untuk diri kita sendiri menjadi berkurang karenanya. Jika kita relakan sesuatu yang kita miliki kepada kekasih kita, maka kita menyebutnya bahwa kita telah berkorban untuknya.

Padahal, semua itu adalah ”kewajiban”. Tak ada pengurangan di sana. Siapa pun yang memiliki harta dunia, memang diwajibkan menyisihkan sebahagiannya, karena dalam hartanya terdapat hak orang lain. Barang siapa berani mengajak berkeluarga hingga berketurunan, maka kewajibannyalah mencarikan nafkah bagi orang-orang yang kepadanya “dititipkan” kehidupannya. Bagi yang ingin mendapatkan keberlanjutan hubungan cinta dengan sang kekasih, maka wajib baginya untuk memberi dan melindungi.

Jadi, bagaimana kalau kita ganti kata “berkorban” dengan “kewajiban untuk memberi”? Ketika kewajiban itu dimaknai sebagai keharusan yang datangnya dari Sang Mahapemberi Rezeki, Sang Mahapemberi Nafkah, Sang Mahapemberi Cinta, maka kita bisa lepaskan unsur keterpaksaan. Serasa tak ada yang perlu ”dikorbankan” di situ.

Kita ini hanyalah ”jalan rezeki” bagi orang-orang yang mungkin saat ini sedang kekurangan. Kita ini adalah ”sarana” bagi kenyamanan hidup yang memang telah menjadi ”jatah” dari Tuhan untuk anak istri kita. Kita sekadar ”saluran” cinta kasih dan perlindungan yang memang seharusnya menjadi hak bagi kekasih kita.

Jadi, tak perlu ada pamrih memang. Kembali kepada konteks bahwa memberi adalah untuk meningkatkan kemuliaan diri, memang seolah ada sesuatu yang ”rancu”. Ketika ketanpapamrihan itu merupakan sesuatu yang akan kembali kepada kita, maka ia semestinya disebut dengan ”ikhtiar”. Upaya. Bukan pengorbanan. Upaya yang disertai dengan sebuah keikhlasan, di mana nantinya akan kita lengkapi dengan kepasrahan.

Ikhtiar untuk apa? Untuk membahagiakan diri kita sendiri, melalui kebahagiaan orang lain. Sekali lagi, melalui kebahagiaan orang lain. Bukan penderitaan orang lain.

Repotnya, saat ini banyak orang merasa bahagia karena merasa berhasil mengalahkan orang lain. Banyak caleg yang merasa begitu senang karena ia berhasil terpilih dan menyisihkan saingan-saingannya, bahkan dalam satu partainya sendiri. Banyak pengusaha yang merasa bahagia karena berhasil membuat bangkrut rival bisnisnya, sehingga ia bisa sendirian berkarya sebagai leader di bidangnya.

Mestinya, si caleg baru bisa berbahagia ketika ia bisa benar-benar mengabdikan dirinya bagi nusa bangsa, dan membuat rakyat di negara ini menjadi makmur sejahtera. Kenapa sih, si pengusaha tidak berbahagia ketika ia justru bisa mengangkat harkat martabat sesama pengusaha untuk bersama-sama menjadi kumpulan pengusaha yang sukses? Salam perenungan.[fsp]

* Fajar S. Pramono adalah seorang banker yang gemar menulis dan penulis buku Rahasia Sukses Ngutang di Bank. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: padjar_espe[at]yahoo[dot]com atau atau blog: http://www.fajarspramono.blogspot.com/.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.5/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +7 (from 7 votes)

Dari Mario Kempes Sampai ke Pilpres 2009

ebpOleh: X.L. Effendi Budi P.*

Ketika saya masih SMP, di tahun 1978 ada sosok yang sangat memesona dunia, setidaknya bagi diri saya. Tugas striker dalam permainan sepakbola adalah memasukkan bola ke gawang lawan. Tugas yang tidak mudah untuk dilakukan. Kepiawaian idola saya dalam menggiring bola dengan cepat sembari meliuk-liukkan badannya, menghindari sergapan lawan dengan ketenangan bak biarawan dari Tibet, menjadi atraksi yang sangat memukau saya. Maka, pasti tidak perlu diragukan lagi bila kakinya sering kali menjadi sasaran tebasan pemain belakang lawan.

Ia begitu memesona saya, bukan hanya karena kepiawaiannya mengolah bola dan menceploskannya ke gawang lawan saja. Tetapi, aksinya ketika ditebas lawan dan terjatuh itulah menjadi momen yang sangat membius saya. Saya tak pernah melihatnya marah seperti kebanyakan pemain bola lainnya, yang kerap meminta sang juru adil untuk mengganjar lawan main yang telah mencuranginya dengan kartu kuning atau kartu merah. Idola saya sangat tenang, paling-paling ekspresinya hanya mengangkat bahu dan tangannya, sambil dihiasi segaris senyum di bibirnya. Ekspresi yang meneduhkan—dalam sebuah pertandingan yang ketat—adalah langka dan sangat luar biasa menurut saya. Ia mengajari saya tentang arti sebuah “sikap”. Ia adalah Mario Kempes– sang superstar bola dari Argentina.

Tidak mudah bagi kita untuk tetap bisa tersenyum ketika kita jatuh, apalagi dijatuhkan orang lain. Mario Kempes memilih sikap positif; ia pasti tahu betul bahwa bermain bola ada risiko untuk dijatuhkan lawan. Namun, ia melawannya dengan keteduhan, kesabaran, ketenangan, dan yang khas adalah senyumnya yang menyejukkan.

Sering kali kita bersungut-sungut, bahkan meledakkan amarah ketika kita terjatuh atau dijatuhkan oleh orang lain. Semakin kita hanyut dalam sikap negatif ini; kita akan kehilangan keseimbangan dan kehilangan energi untuk bisa bangkit dan berlari lagi mengejar bola sukses kita.

Kita bisa memilih sikap yang akan kita bawa dalam perjalanan hidup kita. Sikap menjadi hal penting dalam hidup kita. Sebab, sikap itu diperlukan untuk melihat kedalaman diri kita sendiri; nilai apa yang ada di dalam sikap dan perbuatan kita dalam sebuah pertandingan.

Setiap pertandingan selalu memisahkan kelompok atau kubu-kubu. Namun, memisahkan bukan berarti saling meniadakan, justru saling mempersatukan agar bisa bermain bersama lagi. Alangkah indahnya sebuah pertandingan, jika kita mengerti dan memahami maknanya untuk dilaksanakan. Bukan sekadar retorika.

Sebentar lagi pertandingan kolosal pilpres akan segera digelar di negeri kita tercinta. Calon presiden dan wakilnya sudah muncul sebagai para pihak yang akan maju dalam pertandingan. Mereka diusung oleh kekuatan-kekuatan yang–tampaknya—hebat di negeri ini. Apakah sejatinya benar-benar hebat untuk rakyat?

Ibarat penonton sepakbola, rakyat paling tahu ke mana seharusnya bola ditendang untuk memuaskan dahaga emosionalnya. Rakyat paling merasakan kegetiran, bila tidak tercipta goal. Betapa tidak? Coba bayangkan! Berapa banyak rakyat sudah berkorban demi janji ‘sang idola’ yang tak kunjung mampu menciptakan goal? Sang idola hanya mampu membuat ‘peluang-peluang’ melulu. Fenomena ini pasti sangat menyesakkan dada, bukan? Belum lagi bila tingkah polahnya dalam bermain yang tidak bisa menghormati pemain lawan; menghalalkan segala cara dalam bertindak untuk sebuah ‘kemenangan’ semu, demi pembenaran diri sang idola semata. Pastilah tindakan tersebut akan menghasut penonton yang akan membuat mereka bertindak anarkis.

Wahai penonton, mari kita siapkan dan jaga diri kita untuk pertandingan akbar di negeri ini. Janganlah mudah terjerat keindahan fisik semata, tetapi pilihlah pemain yang seperti Mario Kempes, idola saya. Yang bermain sangat elegan demi ‘fair play’ yang sesungguhnya. Sekalipun tak tercipta goal, jiwa kita akan sedikit terpuaskan oleh permainan yang cantik, bersih, dan menghibur. Sejauh bola masih bundar, kita masih akan bisa menikmati permainan berikutnya dengan semangat dan harapan baru.

Semoga dalam pertandingan yang akan kita ikuti nanti akan tercipta goal yang sangat indah, yang akan membawa kita semua menjadi ‘masyarakat sejahtera.’ Semoga Tuhan berkenan![ebp]

* X.L. Effendi Budi P. adalah seorang public speaker dan penulis buku Branding You with Your Smile dan Rahasia Sukses Membangun dan Mengelola Bengkel/Toko Spare Parts Motor. Pendiri GroEdu yang bergerak di bidang konsultansi bisnis dan pelatihan.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Menyambut Hari dengan Senyum Kemenangan

ghsOleh: Gatut Heru Susanto*

Tersenyum dan menyambut kemenangan setiap pagi? Ah, yang bener saja! Di masa sulit begini sudah untung kalau saya belum stres. Bisnis mandek, investasi di saham hancur, kerjaan di kantor tidak ada habisnya, mana bisa tersenyum setiap pagi?

Kalau saat bangun pagi, diri kita mengingatkan ada pekerjaan di kantor yang belum beres, atau kondisi kesehatan kita yang sedang tidak bagus, atau hal negatif yang lain yang akan membuat hari itu menjadi hari yang suram. Maka kita sudah mempersepsikan hari itu adalah hari kekalahan kita berikutnya, kita akan jadi pecundang lagi hari ini. Kalau semangat sudah hilang dari diri kita, ide kreatif untuk memecahkan masalah sudah pasti absen. Mengharapkan pertolongan orang lain? Ah, jangan-jangan mereka malah menghindar melihat muka kita dilipat tujuh dan pasang tampang angker. Mukjizat Tuhan yang disediakan untuk kita pun terlewatkan begitu saja karena pikiran kita terlalu sibuk untuk berkeluh kesah menyesali keadaan.

Tetapi, kalau kita awali hari dengan senyum dan katakan pada diri kita bahwa kita akan atasai masalah dan sambut kemenangan hari ini. Dan, bangun dari tempat tidur kita berdoa: “Ya Tuhan, hari ini aku akan jalani hidupku dengan penuh semangat dan siap menjemput rezeki-Mu. Aku tahu Engkau punya banyak mukjizat untukku dan akan kujemput sebagian hari ini.” Maka, hari itu akan menjadi hari kemenangan kita, ide kreatif akan hadir dalam jiwa yang bersemangat dan pikiran yang positif.

Karena dengan senyum, keramahan dan pikiran positif, maka setiap orang yang kita jumpai akan senang dan ikut bersemangat. Bukan mustahil kalau atasan Anda tiba-tiba menawarkan bantuan tambahan tenaga untuk menyelesaikan proyek yang tertunda. Atau, teman lama yang baru berjumpa kembali tiba-tiba menawarkan peluang bisnis kepada Anda.

Ada kisah dua orang mahasiswa mengurus permohonan beasiswa pada saat-saat terakhir. Bagian administrasi mengatakan kalau batas waktu mengajukan permohonan beasiswa adalah kemarin dan nama beserta data calon penerima beasiswa sedang dikonsolidasi untuk diranking dan di-review. Salah satu mahasiswa tersebut langsung kecewa dan sambil menggerutu dia pun pergi. Sementara, mahasiswa yang satu lagi dengan tetap tersenyum menanyakan apakah boleh tetap memasukkan aplikasi karena orang tuanya baru saja kehilangan pekerjaan. Melihat senyum dan semangat mahasiswa ini, mungkin saja bagian administrasi menjadi iba dan akhirnya menerima aplikasinya.

Seminggu kemudian, keluar pengumuman dan nama mahasiswa yang memasukkan aplikasi permohonan di saat-saat terakhir rupanya masuk dalam daftar penerima beasiswa semester itu. Beberapa hari kemudian, dia tahu namanya masuk karena menggantikan penerima beasiswa yang pindah ke universitas lain.

Terinspirasi burung-burung yang berkicau heboh setiap pagi di pepohonan di depan dan belakang rumah menyambut datangnya pagi. Siulan mereka saling sahut meriah sekali seolah-olah sedang merayakan pesta besar setiap pagi, ya setiap pagi.

Kalau bisa ingin rasanya saya tegur: “Hai burung, apa kalian tidak membaca koran yang menyebutkan harga saham makin anjlok dan ekonomi makin buruk? Apa belum dengar banyak perusahaan merumahkan karyawannya karena penjualan anjlok?”

Namun, mungkin juga burung-burung itu lebih mengerti rahasia Tuhan yang tidak pernah meninggalkan mereka dan selalu menyayangi makhluk ciptaan-Nya.

Jadi, jangan biarkan diri kita mengatakan pada kita apa yang akan terjadi hari ini. Tetapi, kita yang mengatakan pada diri kita, apa yang akan kita lakukan hari ini untuk menyambut sukses. Kalau biasanya orang menang dulu baru tersenyum, maka kita tersenyumlah dulu karena sudah tahu akan menang hari ini. Kalau burung saja bisa, masak kita tidak. Salam Kemenangan!!![ghs]

* Gatut Heru Susanto SE. AK, adalah profesional yang berkarier di perusahan minyak dan gas multinasional sejak lulus kuliah tahun 1989, dan telah menempati berbagai posisi di departemen Finance dan Planning. Ia menguasai berbagai aplikasi finance dan planning, mengantongi sertifikat penyusun model keekonomian (Certified Economics Modeller), menguasai sistem Kontrak Bagi Hasil (PSC Fiscal Terms), US GAAP, proses penyusunan Business Plan dan Strategic Plan, dll. Saat ini, ia bertugas di kantor pusat perusahaannya di Houston, AS. Gatut adalah pendiri Chevron Automotive Club dan menjadi chairman-nya yang pertama (2002-2006), Presiden Rumbai Country Club (2004-2006), dan saat ini berdomisili di Houston, Amerika Serikat. Ia bisa dihubungi melalui pos-el: gatuths[at]chevron[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Guru dan Orang Tua: Sebuah Pesan Moral dari Adagium Klasik Cina

Sawali TuhusetyaOleh: Sawali Tuhusetya*

Ketika iseng membaca sebuah artikel, tiba-tiba saya tertarik pada pepatah klasik Cina: “Yi ri wei shi, zhong sheng wei fu” (sehari menjadi guru, seumur hidup menjadi orang tua). Jujur saja, saya shock ketika berusaha memahami makna idiom ini. Benar-benar menohok ulu hati saya yang selama ini telanjur mengagung-agungkan guru sebagai sebuah profesi. Padahal, sejatinya guru bukanlah sebuah profesi, melainkan status.

Lho! Bukankah pemerintah baru saja meluncurkan UU Guru dan Dosen yang jelas-jelas menashihkan (red: mengesahkan) guru sebagai profesi yang selama ini dinilai telah terpinggirkan? Bukankah dengan menaikkan derajat guru menjadi sebuah profesi akan menjanjikan kesejahteraan yang lebih baik sehingga para guru tidak lagi naik sepeda kumbang di atas jalan berlubang seperti yang sering disindir oleh Iwan Fals? Bukankah tuntutan itu yang selama ini menggema di balik demo para guru sehingga terpaksa harus mangkir mengajar dan mendidik demi memperbaiki kesejahteraan hidup?

Tunggu dulu! Kesejahteraan guru harus lebih baik, itu jelas. Guru tidak lagi naik sepeda kumbang ketika menunaikan tugas, itu wajar. Guru tidak lagi pusing memikirkan isi periuk di dapur, itu sudah pasti. Guru tidak lagi repot harus hutang ke sana kemari ketika tiba-tiba anaknya masuk rumah sakit, itu juga sangat beralasan. Guru tidak lagi nyambi jadi tukang ojek atau penjual rokok ketengan, itu sudah jelas masuk akal.

Namun, ada pesan moral yang lebih agung dan mulia di balik adagium Cina klasik itu. Guru bukan semata-mata sebuah profesi, melainkan status; sebagai Shi Fu; guru yang sekaligus berstatus sebagai orang tua. Alangkah luhur dan mulianya status yang disandang oleh para guru. Mereka tak sekadar mentransfer ilmu pengetahuan an-sich, melainkan juga membangun karakter. Mereka tak hanya pintar memberikan punishment, tetapi juga bijak memberikan reward. Ada sentuhan tangan sang guru yang lembut, penuh perhatian, dan sarat nilai kasih sayang kepada para murid ketika sedang bergulat di tengah rimba belantara dunia pendidikan. Ada simpul-simpul syaraf kemanusiaan yang dengan amat sadar dialirkan ke ruang-ruang kelas, sehingga atmosfer yang terbangun menjadi lebih beradab dan berbudaya.

Itulah sebabnya, saya menjadi sangat shock ketika mencoba menghitung “dosa-dosa” saya selama menjadi guru. Betapa selama ini saya merasa cukup bangga disebut sebagai guru profesional. Betapa wibawanya saya di depan siswa didik saya yang dengan otoritas yang saya miliki, saya bisa menjadi “aktor” tunggal yang diperhatikan dengan puluhan sorot mata penuh ketakutan. Betapa bangganya saya bisa menakut-nakuti murid dengan ancaman tidak naik kelas atau gagal lulus, bahkan mengeluarkan mereka dari sekolah apabila mereka mau main-main dengan peraturan dan tata tertib sekolah.

Cobalah kita tengok sebentar suasana ruang-ruang kelas yang berlangsung selama ini. Para murid bagaikan objek mati yang gampang dikebiri melalui otoritas sang guru. Para murid hanya jadi robot. Sang gurulah pengendalinya. Para murid sekadar mengikuti sinyal “remote control” yang disetir sang guru. Robot-robot yang sedang “error” tak segan-segan dibuang dan disingkirkan. Ancaman menjadi senjata ampuh bagi sang guru dalam menegakkan wibawa dan kharismanya. Tak heran jika selepas dari ruang kelas yang angker bak kerangkeng penjara, para murid seperti terbebas dari sekapan medan karantina berbau busuk. Lantas, mereka mencari pelampiasan dengan melakukan aksi yang sesuai dengan naluri agresivitasnya. Tawuran, pesta pil setan, pergaulan bebas, dan perilaku tak terpuji lainnya gampang sekali membius mereka.

Betapa naifnya saya setelah pantulan dari cermin kehidupan itu menampar wajah saya yang penuh bopeng dan dosa. Saya telah berlaku biadab dan kejam terhadap anak-anak bangsa negeri ini. Mereka saya perlakukan semau gue, sesuka gaya saya. Kapan pun mau, saya bisa meminta mereka untuk menjilati tembok dinding ruang kelas yang kasar dengan lidah mereka apabila mereka nyata-nyata melanggar aturan. Saya bisa menghakimi siswa didik saya untuk menguras WC yang berbulan-bulan lamanya lupa dikuras oleh petugas sekolah. Bahkan, saya sering mempermalukan murid-murid saya dengan cara menggantung kaki sebelah ketika mereka terlambat masuk kelas. Saya jarang tersenyum karena takut kehilangan wibawa. Saya harus lebih banyak menciptakan ketegangan di ruang kelas, agar mereka memusatkan perhatian pada materi ajar yang saya sajikan. Kalau ada murid yang berotak pas-pasan, tak segan-segan saya memvonis mereka dengan label “bodoh atau tolol”. Celakanya, saya beranggapan, mereka hanyalah anak orang lain yang dititipkan ke sekolah, sekadar untuk cari selembar ijazah.

Selama ini ternyata saya bukanlah seorang guru. Saya hanya menjadi tukang ajar. Saya sering mengatakan, “Saya punya ilmu, kamu punya uang!” Jadilah transaksi. Sekolah jadi ladang bisnis. Tak ada nilai karakter dan budi pekerti yang saya tanamkan kepada murid-murid saya. Tugas saya semata-mata hanya mengantarkan anak-anak negeri ini bisa memperoleh ijazah. Titik. Tak ada pertautan nilai kemanusiaan yang tersalur ke dalam gendang nurani siswa didik saya. Kalau ada siswa yang berotak pas-pasan, sering saya tinggalkan begitu saja. Saya tak peduli, toh anak orang lain, salahnya sendiri bodoh! Selama ini ternyata darah yang mengalir dalam tubuh saya bukanlah darah seorang guru, melainkan darah seorang pekerja dan pencari penghasilan.

Bertahun-tahun lamanya, saya terpasung dalam suasana semacam itu. Idiom klasik Cina itu telah mengingatkan saya agar menjadi seorang shi fu; menjadi guru sekaligus orang tua. Guru tak hanya sebatas memainkan peran sebagai tukang ajar, tetapi juga sekaligus sebagai orang tua yang mengemban misi mendidik. Kalau ada anak yang berotak pas-pasan, sudah seharusnya diajak untuk mengembangkan potensi kecerdasannya; dbimbing dan dilatih dengan penuh sentuhan perhatian dan kasih sayang; tak ubahnya kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya. Kalau ada murid yang melanggar aturan, mereka perlu diajak dan dilibatkan untuk membuat “kontrak sosial” agar mereka patuh terhadap aturan main yang telah disepakati.

Guru juga tak hanya mengemban misi mencerdaskan otak siswa, melainkan juga membangun pilar-pilar karakter yang kuat agar kelak anak-anak negeri ini juga cerdas secara emosional, spiritual, dan sosial. Sungguh, betapa dalam dan luasnya makna shi fu itu ketika saya silau oleh predikat sebagai guru profesional. Semoga, negeri ini akan bermunculan shi fu-shi fu baru yang benar-benar memiliki darah “guru sejati” yang memperlakukan siswa didiknya tak ubahnya seperti anak-anak kandungnya. Hanya dengan sentuhan tangan yang lembut, bijak, penuh perhatian, dan sarat belaian kasih sayang, anak-anak negeri ini akan menemukan dunianya yang beradab dan berbudaya.[st]

* Sawali Tuhusetya adalah seorang guru dan penulis buku Kumpulan Cerpen Perempuan Bergaun Putih, kini juga mengelola blog: http://sawali.info/.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.7/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Tiga Cerita Beasiswa

rmhOleh: Radinal Mukhtar Harahap*

Terhitung hingga hari ini, ada tiga cerita mengenai beasiswa yang disampaikan seorang teman maupun yang saya terlibat sendiri. Cerita pertama berasal dari seorang anak yang asal Medan dan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di UGM, Yogyakarta, tepatnya pada Fakultas Hukum. Beasiswa yang diterimanya adalah beasiswa penuh, meliputi biaya perkuliahan, buku-buku perkuliahan, maupun biaya kehidupan selama menempuh perkuliahan.

Jika saya yang menerima beasiswa tersebut, saya akan bersorak gembira. Saya akan mengundang seluruh teman dan para tetangga untuk tasyakkuran atas rezeki yang diberikan. Bayangkan saja, sekolah gratis ditambah uang saku untuk keperluan sehari-hari. Namun, tidak dengan anak tersebut. Ia menolak melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum UGM dengan suatu alasan mendasar, yaitu fakultas yang tidak sesuai dengan cita-citanya.

Semenjak kecil, anak tersebut telah bercita-cita menjadi seorang dokter. Orang tuanya pun telah menyetujuinya. Tidak heran ketika sang anak menyatakan penolakannya terhadap beasiswa tersebut, sang ayah maupun ibu menyetujuinya. Bahkan, kedua orang tua anak tersebut langsung memasang kuda-kuda untuk meluluskan anaknya ke Fakultas Kedokteran di Universitas Sumatera Utara (USU).

Terkadang, persiapan yang matang tidak selalu menghasilkan prestasi yang diharapkan. Anak yang diharapkan dapat lulus di fakultas kedokteran gagal. Walhasil, ia sekarang menempuh pendidikan di Fakultas Ushuluddin IAIN Sumatera Utara .

Cerita yang kedua juga mengenai anak yang memperoleh beasiswa. Bedanya, anak pada cerita ini menerima beasiswa tersebut dengan tiga pilihan jurusan. Jurusan teknik mesin, teknik penerbangan, dan teknik material. Ketika bingung memilih jurusan ia meminta saran kepada teman-temannya maupun kakak kelasnya.

Sungguh sayang, terkadang seseorang itu lebih memilih sesuatu dengan pertimbangan gengsi daripada murni dari hati nurani dan keinginan. Sang anak memilih teknik mesin karena teman-teman terdekatnya memilih jurusan tersebut, padahal ia lebih condong kepada teknik penerbangan. Akhirnya, ketika menjalani pendidikan ia “tersiksa” dengan penolakan batinnya sendiri.

Sementara, cerita ketiga berasal dari dua orang penerima beasiswa yang berasal dari sekolah yang sama dan kelas yang sama pula. Ketika di sekolah, kedua penerima beasiswa tersebut juga sama-sama bergelut di bidang kepenulisan majalah dinding sekolah.

Ketika berada di kampus, saat menghabiskan hari-hari beasiswa, anak yang pertama menjalankan aktivitas akademik apa adanya. Kehidupannya hanya sebatas kampus, perpustakaan, kantin, dan kamar kos. Ia tidak mengembangkan kemampuannya di bidang penulisan sebagaimana dahulu ketika di sekolah. Akhirnya, ia lulus dengan predikat sarjana.

Berbeda dengan temannya. Selain aktif di perkuliahan, ia juga mengembangkan kemampuannya di bidang kepenulisan. Ia menulis di majalah kampus, media massa lokal maupun nasional, hingga media-media elektronik. Ia lulus dengan sebuah predikat sarjana plus penulis.

***

Cara pandang merupakan hal yang penting dalam kehidupan. Seorang anak dengan “rela” menolak beasiswa untuk kuliah di UGM hanya karena memandang cita-cita sebagai sebuah impian yang tidak dapat diganggu gugat. Seorang anak akhirnya tersiksa mengikuti perkuliahan hanya karena memandang persahabatan dan saran-saran dari teman merupakan pandangan yang cocok terhadap dirinya. Begitu juga dengan dua orang anak yang masing-masing lulus dengan keadaan yang berbeda karena perbedaan cara pandang.

Dalam bukunya Setengah Isi Setengah Kosong, Parlindungan Marpaung membagi cara pandang menjadi dua bagian. Yang pertama, mereka yang optimis dengan memandang bahwa sebuah gelas masih berisi setengah. Sedangkan mereka yang pesimis, cara pandang kedua, mereka beranggapan bahwa gelas sudah kosong setengahnya.

Walaupun pada hakikatnya sama-sama menjelaskan tentang suatu hal, ternyata cara pandang sangat berpengaruh terhadap hasil kinerja seseorang. Seorang penulis misalnya, yang berpandangan positif dan optimis akan mengatakan, bahwa ia telah berhasil menemukan satu bentuk tulisan yang ditolak ketika tulisannya ditolak oleh redaksi majalah atau media massa. Namun, bagi seorang penulis yang berpandangan negatif sekaligus pesimis, dia akan mengatakan bahwa dirinya telah gagal dalam dunia kepenulisan.

Cara pandang jugalah yang akan membedakan seorang karyawan ketika mengerjakan sesuatu. Dengan sisa lima menit, seorang karyawan yang optimis akan mengerjakan pekerjaan dengan perkataan, masih ada lima menit, kerjakan sebisanya dan akan disambung besok. Namun, mereka yang berpikir pesimis akan meninggalkan pekerjaan tersebut seraya berkata, besok saja sekalian. Walhasil, besok kerjaannya bertumpuk dan harus lembur menyelesaikan semua itu.

Demikianlah pengaruh cara pandang atau paradigma. Seorang yang berpandangan positif dan optimis akan menuai hasil yang positif lagi berhasil. Demikian juga sebaliknya, mereka yang berpandanga negatif serta pesimis akan menjalani hari-harinya dengan kesusahan dan kesulitan.

Andrie Wongso pernah bertutur, “Jika engkau keras terhadap kehidupanmu (optimis) dunia akan lunak terhadap dirimu. Jika engkau lunak terhadap kehidupanmu (pesimis) dunia akan keras terhadapmu”. Mari berpandangan positif dan optimis.[rmh]

* Radinal Mukhtar Harahap adalah alumnus PP Ar-Raudhatul Hasanah, Medan, Sumatera Utara. Kini menempuh pendidikan sambil “nyantri” di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sedang “jatuh cinta” dengan dunia kepenulisan dan motivasi. Ia dapat dihubungi di radinal88[at]gmail[dot]com atau 081331185527.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.6/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox