Frenemy

fksOleh: Fatma Kartika Sari*

Pernah enggak merasakan teman yang awalnya sangat baik dan dekat dengan kita, tiba-tiba dia berubah menjadi musuh dan menusuk kita dari belakang? Banyak orang yang sudah mengalaminya, bilang sama saya, kalau hal itu membuat sakit hati banget! Enggak percaya, orang yang mulanya kita percaya dan yakini bahwa dia baik-baik saja, ternyata tega melakukan hal yang menyakitkan, baik di sengaja ataupun tidak.

Ada seorang teman yang pernah cerita pada saya. Sahabat teman saya ini tega main hati dengan cowoknya ketika ia sedang kuliah di luar negeri. Lu bayangin, dong Fat Gimana perasaan gue lihat cowok yang gue sayang direbut sama sahabat gue sendiri!” cerita teman saya sambil berurai air mata dan napas yang tidak beraturan karena rasa sesak di dadanya. Sementara, saya masih memutar otak membayangkan perasaannya yang tersakiti oleh perbuatan sahabatnya. Hhmm… membayangkan saja rasanya sakit, bagaimana kalau merasakannya, ya? Pasti sumpah serapah sudah dikeluarkan dari hati teman saya itu, gara-gara sakit hatinya.

Sejak saat itu, dia tidak pernah mau bertemu mantan sahabatnya maupun mantan kekasihnya, sampai sekarang. Begitu mengetahui kalau ternyata hubungan mantan sahabat dan kekasihnya itu akhirnya putus juga, teman saya itu bercerita lagi kepada saya. Syukurin deh, akhirnya putus juga tuh hubungan mereka!” Dan, setelah putus dari mantan sahabatnya, kekasih teman saya itu langsung memutuskan menikahi wanita lain.

Ada seorang teman saya yang lain juga bercerita tentang perbuatan temannya yang menjelek-jelekan dirinya kepada orang lain. Semua aib saya dibongkar sama dia, Fat! Kurang ajar banget!” Kelihatan sekali, teman saya yang masih keturunan keraton ini ingin melampiaskan kemarahannya. Tetapi, akhirnya ia mampu menguasai diri dan mengendalikan kemarahannya itu.

Namun, suatu hari teman saya ini menemui saya dengan wajah yang sumringah. “Habis dapat arisan, Bu?goda saya ketika itu. Ternyata, dugaan saya salah. Teman saya bilang, kalau orang yang dulu pernah menjelek-jelekannya itu mendapat musibah yang memalukan.

Tuhan tuh tidak pernah tidur Fat! Saya lega banget, sekaligus bahagia akhirnya dia merasakan juga apa yang saya rasakan dulu, malah lebih memalukan!” ujar teman saya sembari senyum berganti derai tawa. Sedangkan saya masih bingung mengartikan ucapannya, bahwa Tuhan tidak pernah tidur.

Ya, iyalah… Kalau Tuhan tidur, apa jadinya dunia!?

Terlepas dari permasalahan teman-teman saya itu, saya pun pernahbahkan cenderung seringmerasakan hal serupa dengan mereka. Saya selalu merasa bahagia jika mendengar kabar buruk dari orang yang tidak saya sukai. Meskipun, saya tidak sampai hati untuk mendendam. Saya tahu dan sadar, itu bukan perbuatan yang baik. Tetapi, saya sering tidak bisa mengelak dari perasaan-perasaan saya itu, yang mana banyak orang berkata, bahwa perasaan itu adalah hal yang manusiawi.

Hmm… aneh juga ya, kalau dipikir-pikir kenapa banyak manusiayang seperti saya khususnya—tidak mampu sekadar tersenyum atas keberhasilan dan kebahagiaan seseorang yang tidak saya sukai? Tetapi, kenapa saya bisa terbahak-bahak ketika orang itu mengalami cobaan dan musibah? Padahal, sudah berapa ustaz yang pernah saya dengar tausyiah-nya yang membahas tentang hati? Begitu banyak buku yang telah saya baca tentang kisah Nabi Muhammad SAW yang begitu sabar dan bersikap baik terhadap orang-orang yang tidak menyukai beliau.

Pada akhirnya, hikmah yang dapat kita petik dari pengalaman-pengalaman ini, bahwa tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri dan hati. Semoga saja sayadan makhluk-makhluk seperti saya khususnya hehehe—mampu menyingkirkan perasaan-perasaan jelek yang mengintai. Tak ada lagi istilah teman menjadi musuh. Kalau memang mereka ada kesalahan, belajarlah untuk cepat memaafkan dan tak mendendam.

Dan, hal yang paling sulit tetapi ingin saya wujudkan adalah menjadikan musuh-musuh sayamaksudnya orang-orang yang memusuhi saya—sebagai teman dan sahabat saya. Dunia pasti indah hehehe…[fks]

* Fatma Kartika Sari lahir di Jakarta pada 14 juni 1980. Sehari-hari ia adalah seorang wiraswasta di bidang travel haji, umroh, dan katering. Fatma dapat dihubungi melalui pos-el: fatma45_ibrahim[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

PR Besar bagi Klub Guru “Bangsa”

eshOleh: E. Setyo Hartono*

Tanggal 11 April 2009 lalu, sebuah organisasi profesi baru, yakni Klub Guru Surakarta diluncurkan. Kehadirannya memang tertinggal jika dibandingkan dengan daerah lain seperti Surabaya, Malang, dan Bandung. Kehadiran Klub Guru baik di Surakarta ataupun di kota lain tentunya akan menjadi langkah terbaik para guru untuk dapat mengemban misi dan visinya. Saya sangat yakin, bahwa dibentuknya Klub Guru di Surakarta ini bukanlah sekadar ikut-ikutan daerah lain, atau juga bukanlah sebagai proyek terbaru bagi guru-guru.

Klub Guru diharapkan, paling tidak, mampu menjembatani peningkatan kesejahteraan dan profesionalitas guru di masa depan. Akhir-akhir ini, sebelum ada Klub Guru, pemerintah memang sudah mulai memerhatikan kesejahteraan guru. Dari mulai peningkatan gaji guru, sertifikasi, dan lain sebagainya.

Di Malang, Klub Guru juga mampu membuat terobosan baru, yaitu bekerjasama dengan Telkom. Di mana seorang guru dapat memanfaatkan internet melalui Speedy hanya dengan biaya abonemen Rp 50.000 per bulan. Langkah ini memang begitu nyata dan sangat bermanfaat bagi anggota Klub Guru. Saya yakin Klub Guru akan mampu melakukan terobosan baru. Mengingat saat ini perkembangan dunia dan teknologi bergerak begitu cepat dan terbuka, sehingga mau tidak mau seorang guru juga harus berlomba mendapatkan ilmu terbaru secepat mungkin. Bahkan, bisa jadi akan berlomba dengan anak-anak muda yang notabene adalah murid-murid sendiri.

Namun sebaliknya, selain memerhatikan peningkatan kesejahteraan guru, Klub Guru diharapkan juga mampu menjadi penggerak dan motivator sehingga para guru benar-benar menjadi guru yang profesional di bidangnya. Sertifikasi yang sudah dijalankan para guru, alangkah baiknya memerhatikan kebutuhan dari masing-masing guru. Sehingga, tidak asal mengejar sertifikasi yang notabene banyak suara sumbang, bahwa ada kepentingan dan keuntungan materi lain di balik keikutsertaan dalam mengejar sertifikasi.

Guru bangsa yang siap melakukan perubahan

Selain dikenal sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, guru juga merupakan “Guru Bangsa” yang mendedikasikan hidupnya untuk mendidik murid agar mampu menjadi tunas-tunas bangsa yang dapat menjalankan berputarnya roda perjuangan dan kehidupan di negeri ini. Memetik tulisan Satria Darma, salah seorang pakar pendidikan, yang ditulis di Tempo Interaktif (2008), yang mengatakan bahwa guru merupakan pemimpin sejati yang sebenarnya. Gurulah yang memegang peranan sebagai pemimpin perubahan.

Dan, untuk dapat menjadi pemimpin perubahan, guru haruslah melakukan perubahan dulu dari dalam dirinya sendiri. Guru tidak selayaknya meminta pihak mana pun untuk mengubah guru. Perubahan harus datang dari dalam diri guru itu sendiri. Sekali para guru melakukan perubahan dalam dirinya, selanjutnya roda perubahan akan bergerak dengan sendirinya. Guru tidak bergantung pada pemerintah dalam mengelola pendidikan dan justru pemerintahlah yang bergantung pada guru dalam hal ini.

Permasalahan bangsa termasuk masalah pendidikan begitu kompleks, dan mustahil dapat diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Ada lebih dari 2,7 juta orang yang menyandang status sebagai guru di negeri ini. Berarti, 2,7 juta orang ini pula yang sebenarnya memegang kunci solusi dari permasalahan bangsa. Jika para guru tersebut dapat menjadi guru bangsa, semua permasalahan bangsa akan dapat terselesaikan dengan mudah.

Menurut pandangan saya, guru memang harus menyelesaikan masalah pendidikan, bukan dilakukan para birokrat. Sependapat dengan Satria Dharma, bahwa pemerintah hanya menjadi lembaga yang mengurus dan mengelola administrasi pendidikan.

Sebagai dosen yang juga merupakan seorang guru, saya sering bertanya dalam hati, apakah saya mampu menjadi guru bangsa bagi negeri ini? Paling tidak, sebagai guru bangsa saya harus menjadi guru yang tidak hanya mentransfer ilmu saya kepada anak didik saya. Tetapi lebih dari itu, yakni memberikan pengabdian dengan hati. Merangkul anak didik agar terjalin hubungan yang baik. Memberikan contoh kehidupan yang baik bagi anak didik. Bukan sebatas mengajar atau memberikan ilmu, tetapi juga mendidik mental, perilsaya, dan kehidupan.

Memahami arti guru bangsa, lalu saya teringat dengan beberapa kejadian pahit yang sempat mencoreng nama dan status guru. Beberapa media massa pernah dihiasi dengan berita-berita tentang kejahatan yang dilakukan oknum guru terhadap anak didiknya. Mulai dari penganiayaan sampai pencabulan. Kalau masih ada guru-guru seperti demikian, lalu akan jadi apa bangsa ini? Selain memiliki tugas yang teramat mulia, tugas guru sangatlah berat. Namun menurut saya, seberat apa pun tugas guru untuk mendidik bangsa ini, jika dilandasi dengan rasa syukur, serta tetap memegang teguh tujuan menjadi guru, pasti tugas ini akan berjalan dengan baik.

Sebagai organisasi profesi, Klub Guru diharapkan akan mampu meningkatkan kompetensi dan profesionalitas guru agar dapat menjadi pelaku perubahan. Jika setiap guru bangsa mampu menyadari dan melakukan perubahan dari diri sendiri, pastilah para pihak lain akan membantu proses berjalannya perubahan. Saya yakin, setiap guru di mana pun guru itu menjalankan profesinya, mau melakukan perubahan yang datang dari dalam diri sendiri, tanpa harus dipaksa atau didorong-dorong. Sebab, pendidikan sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas gurunya.

Klub Guru perlu perjuangkan siswa

Klub guru memang menjembatani peningkatan kesejahteraan serta profesionalitas guru di masa depan. Namun, perlu juga diperhatikan bahwa peningkatan kesejahteraan guru bukan tujuan utama. Ibarat sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Artinya, bersamaan dengan memperjuangkan kesejahteraan guru, para guru juga wajib memperjuangan siswa-siswa. Saya merasa kasihan dengan keadaan anak-anak didik sekarang. Beban pelajaran begitu besar, sementara waktu untuk mempelajarinya terasa begitu sempit. Rasanya sungguh sangat jauh dan berbeda dari keadaan waktu saya masih berstatus sebagai murid.

Perjuangan siswa-siswa sekarang memang banyak dipengaruhi oleh semakin pesatnya perkembangan zaman dan teknologi. Sehingga, mau tidak mau siswa-siswa juga harus mengejarnya agar tidak tertinggal. Tetapi sayangnya, ketika mereka telah letih belajar dan berjuang, mereka harus menghadapi ujian nasional yang pelaksanaannya seakan-akan masih terlalu banyak meninggalkan kesia-siaan.

Bagaimana tidak, mata pelajaran yang dipelajari begitu banyak, sementara yang diujikan tidak semua. Suatu hari, saya mengobrol dengan keponakan yang sedang menghadapi UN SMA. Selama tiga tahun mempelajari beberapa mata pelajaran, tetapi ia begitu kecewa karena yang diujikan tidak semua mata pelajaran. Keponakan saya berkelakar, sambil sedikit protes, kenapa bukan mata pelajaran yang diujikan saja yang diajarkan sehari-hari? “Coba selama tiga tahun saya belajar mata pelajaran yang hanya diujikan di UN. Pasti pikiran saya tidak seberat ini,” ujarnya.

Saya pikir, betul juga keponakan saya itu. Selama ini siswa terlalu banyak beban pelajaran, tetapi yang diujikan tak sebanding jumlahnya. Masalah-masalah seperti ini, saya rasa perlu menjadi agenda Klub Guru. Mungkin, dengan mengurangi jam pelajaran untuk pelajaran yang tidak diujikan, serta menambah jam untuk pelajaran yang diujikan. Pelajaran yang membutuhkan penalaran logika saya rasa lebih diperlukan dibandingkan dengan pelajaran yang membutuhkan banyak hafalan. Mutu pendidikan kita akan dapat dilihat hasilnya melalui penalaran, cara siswa mengutarakan penalaran, logika, serta pendapatnya. Bukan pada kemampuan hafalan-hafalan pelajaran. Saya rasa, catatan ini juga perlu diperjuangkan Klub Guru di mana pun.

Sebenarnya, masih banyak masalah pendidikan di negeri ini yang dapat kita pecahkan, termasuk mahalnya biaya pendidikan, banyaknya guru bantu yang merindukan statusnya diperbaiki, kurangnya kesejahteraan guru swasta, dan masalah-masalah lain. Hadirnya Klub Guru, termasuk di Surakarta, saya yakini akan dapat bersinergi pula bersama PGRI serta organisasi profesi guru lain.

Klub Guru bukanlah pesaing PGRI. Tetapi kehadirannya justru akan membantu dan berjalan seiring dengan PGRI, yaitu meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru. Meskipun terlambat, saya ucapkan selamat atas diluncurkannya Klub Guru di Surakarta. Untuk semua Klub Guru di Indonesia, selamat berjuang menjalankan tugas sebagai GURU BANGSA, yang memerangi KEBODOHAN, KEMALASAN, KETIDAKJUJURAN, DAN KEBERGANTUNGAN.[esh]

* E. Setyo Hartono lahir di Bandung, 25 Februari 1971. Ia adalah dosen Multimedia dan Animasi di STMIK AUB, Solo, dan sejumlah lembaga lainnya di Surakarta. Tinggal di Perum Pondok Karangsari A-11, Jongkang, Buran, Tasikmadu, Karanganyar, Surakarta. Setyo dapat dihubungi melalui telepon 0271- 6820674 atau HP: 08882942374.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Hitung, Lalu Syukuri

eaeOleh: Emmy Angdyani Erawati*

Masa ujian sekolah bagi saya, seorang ibu, adalah masa yang cukup membuat “tegang”. Saya akan mengerahkan seluruh tenaga , waktu, dan pikiran untuk mendampingi buah hati saya, agar sukses melewati ujian. Sebenarnya hanya Ujian Tengah Semester (UTS) untuk seorang murid yang masih duduk di Sekolah Dasar, tepatnya kelas 4. Mungkin, karena atmosfir persaingan di kelasnya begitu terasa, atau mungkin juga atmosfir dalam pikiran dan hati saya yang begitu bersemangat sekali untuk tampil perfect, yang membuat kami memberi ekstra perhatian pada moment ini.

Semaksimal mungkin saya memanfaatkan waktu saya. Kesempatan senggang di kantor, saya pakai untuk membuat soal latihan. Begitu sampai di rumah, saya segera mendampingi anak saya untuk belajar. Dini hari ketika semua terlelap, bahkan ayam jantan yang ada di rumah saya belum berkokok, saya sudah berlutut berdoa, tentu termasuk mendoakan anak saya. Di alam supranatural, selain berdoa, saya juga lengkapi dengan puasa.

Pagi-pagi sekali saya bangunkan anak saya untuk mengulang pelajaran. Referensi soal-soal ujian tahun lalu sudah saya kumpulkan, jauh-jauh hari sebelum tanggal ujian. Pokoknya, DO OUR BEST. Ketika ujian selesai, kami mempunyai keyakinan pasti semua hasil nilai UTS anak saya di atas 90. Dan, itulah target kami.

Memang hampir benar, hasil ujian anak saya Matematika 92, Agama 92, Bahasa Inggris 97, Bahasa Jawa 97, Sains 88, IPS 90, PKN 92, Bahasa Indonesia 100 dan 90. Puaskah kami? Maksud saya, puaskah saya ? Betul sekali, saya puas. Suenang dan buangga, namun hanya sebentar, tidak lebih dari dua menit. Begitu melihat jawaban-jawaban dari anak saya pada UTS, ternyata yang membuat salah adalah hal yang sepele. Misalnya, ia tidak teliti, tidak cermat membaca, lupa menulis, kelewatan, dll.

Entah apa namanya, tiba-tiba desire, passion, ambition, menjadi begitu terstimulus. Saya langsung berandai-andai, dan dilanjutkan dengan sedikit complain. Seandainya saja anak saya tidak terburu-buru, mau membaca ulang, lebih cermat, mau meneliti kembali jawabannnya, pasti nilainya bisa 100 atau minimal di atas nilai yang sekarang. Lho? Bukankah kami mempunyai target nilai di atas 90? Bukankah sudah tercapai?

Ini yang namanya tidak pernah puas. Tetapi, bukankah ini manusiawi? Mungkin pembenaran bahwa itu adalah nature dari seorang manusia bisa diterima, dan menjadi alasan saya tidak lupa untuk bersyukur.

Malam itu, pemikiran saya menjadi berubah. Ketika kami melaksanakan doa keluarga, bersama anak dan suami, anak saya berdoa dengan kalimat yang membuat saya terhenyak. “Tuhan, Obed bersyukur, Tuhan sudah memberkati dan memberi hikmat Obed sehingga Obed bisa dapat nilai bagus pada UTS. Terima kasih Tuhan.”

Wow… saya ingin segera membuka mata saya dan memeluk anak saya. Ia lebih memahami arti sebuah process oriented dan mengakhiri dengan ucapan syukur. Anak saya sudah melakukan semua proses dengan baik. Belajar ekstra dan men-delete jadwal bermain dari agenda sehari-harinya. Mengesampingkan kegemarannya main Play Station di hari libur. Melupakan nonton TV. Tentu “penyangkalan diri” seperti itu bukan hal mudah. Toh, ia sudah melakukannya tanpa keluhan. Tidak ada gerutu sedikit pun.

Saya tahu benar, ia berdoa dengan sungguh-sungguh. Ketika hasil telah dicapai, ia sangat senang, puas, dan kemudian sangat bersyukur. Targetnya jelas dan terukur, serta diakhiri dengan rasa terima kasih. Untuk selanjutnya ia membuat target yang baru, UTS ke depan nilai seratusnya harus lebih banyak. Jadi, ia harus lebih teliti, lebih tenang , dan tidak terburu-buru. Thus... intinya ia sangat menikmati semua proses dan hasil yang dicapai. Ketika saya sempat khawatir pada reaksi anak saya dengan complain yang saya utarakan, ia hanya tersenyum, tanpa beban. Tidak ada kata “nyesek” seperti yang saya alami. Benar-benar happy.

“Obed getun enggak dengan nilai ulangan yang dibagi, Nak?” tanya saya.

“Iya, sih, tetapi Obed senang nilainya sudah di atas 90 semua,” jawab anak saya dengan mata berbinar. “Tenang saja Mam, nanti UAS diusahakan dapat nilai 100.

Bukankah yang kerap terjadi pada “dunia hidup dewasa” kita adalah sering kali menaikkan goal kita pada garis yang imajiner, menariknya terus dan terus ke atas tanpa ada waktu jeda, menengok ke belakang, me-review proses yang kita lewati dan mencermati hasil yang kita capai. Jika sudah tercapai, kita bersyukur dan kemudian membuat target baru. Tentu, itu membuat kita lebih menikmati setiap proses dan hasil yang kita capai. Dan bahkan, kita memiliki multiplikasi energi karena ada sukacita dan rasa syukur di dalamnya.

So, mari kita hitung apakah kita sudah mengumpulkan poin dengan do our best dan memberi finishing touch dengan thanks God.[eae]

* Emmy Angdyani Erawati adalah seorang Insinyur Teknik Kimia yang lahir di Surabaya, 2 Maret 1969. Emmy adalah ibu dari seorang anak berusia 10 tahun dan pernah berkarier di perbankan selama sepuluh tahun. Sekarang ia bekerja di sebuah perusahaan pelayaran nasional di Surabaya sekaligus menjalankan wirausaha persewaaan mobil. Ia dapat dihubungi di Pantai Mentari M-40, Surabaya, HP: 081.2358.7773 atau pos-el: angdyany[at]telkom[dot]net.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Sukses Sekaligus Tetap Menikmati Hidup

lhOleh: Lianny Hendranata*

Banyak orang kaya sampai harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat besar untuk mengganti organ-organ mereka yang sudah rusak. Sementara, Michael Jakson yang dikaruniai raut wajah yang ganteng dan sehat, khas orang kulit hitam Amerika, berusaha mengubah wajah dan kulitnya agar sesuai dengan kepuasan hatinya.

Kelahiran dan kematian merupakan titik pemisah yang membedakan satu masa kehidupan. Memang, sangat kontras keadaannya, di satu sisi banyak orang yang ingin hidup lebih lama, di sisi yang lain banyak pula orang yang ingin cepat mengakhiri hidupnya. Begitu juga banyak orang yang cepat-cepat meninggalkan masa mudanya dengan berpikir dirinya sudah tua, mereka terus mengejar obat-obat awet muda pada usianya yang belum tua.

Menyikapi hidup

Musa, penulis kitab Mazmur, hidup hingga 120 tahun. Ia melihat kematian sebagai hal yang tak terelakkan di dunia yang telah dikutuk karena dosa. Namun, ia tidak pesimis. Ia memohon supaya Allah mengajarinya menghitung hari demi hari supaya dapat beroleh “hati yang bijaksana”. Ia juga meminta supaya Allah menunjukkan kemuliaan-Nya kepada generasi yang akan datang (Mazmur 90:16). Begitulah cara Musa menghadapi realitas kematian, beberapa ribu tahun silam (Gloria.net/Dennis De Haan).

Seperti halnya judul artikel ini, bagaimana seseorang berusaha mencapai kesuksesan dalam hidup ini. Untuk hal tersebut sudah banyak dibuktikan dengan banyak data, yang memperlihatkan di dunia ini banyak orang yang mencapai sukses dalam banyak hal. Mulai dari Sukses sebagai pengumpul harta terbanyak, sukses sebagai penemu penelitian ilmiah, sukses berkuasa dalam jangka panjang, dan sebagainya.
Soal kesuksesan, Napoleon Hill menjabarkannya demikian:

  • Kesuksesan Anda sangat tergantung kepada banyaknya kemampuan Anda sendiri dalam memahami bidang pekerjaan secara spesifik.
  • Kesuksesan adalah orang yang mampu membuat keputusan tegas dan cepat setelah melihat semua fakta yang ada dengan teliti.
  • Kesuksesan bisa terjadi dalam hidup orang yang mempunyai sikap optimis, dan orang yang mempunyai intuisi tajam untuk mendapatkan peluang emas yang membawa kemujuran.

Meditasi untuk sehat, awet muda

Banyak orang yang sukses dalam berkarier, tetapi sedikit orang yang sukses mempertahankan dirinya terhadap penuaan, serta tetap hidup sehat menikmati kesuksesannya! Walaupun produsen kosmetik antipenuaan serta obat-obatan untuk tujuan yang sama sangat banyak macamnya, dan terjual dengan laris manis. Bahkan, para ilmuwan membuat terobosan baru, yaitu dengan mengubah gen pengendali penuaan, mereka yakin menjelang akhir abad ini mereka dapat memperpanjang batas rata-rata usia manusia hingga 100 tahun.

Ketika saya bertemu beberapa orang teman lama, mereka mengatakan—sebut saja namanya Rani—menjadi lebih muda dan memesona. Padahal, dulunya Rani adalah sosok yang menyedihkan, berwajah kusut, menderita sakit maag kronis, sering kena flu, dan sebagainya. Tentu saja Rani sangat senang mendapat pujian tersebut. Teman-temannya serta merta berebut minta diberitahu ke dokter kecantikan atau salon mana yang membuat Rani menjadi berubah sehat, cantik memesona.

Kala Rani membeberkan rahasia awet mudanya, ternyata semua teman yang mendengarnya menyatakan tidak percaya! Karena, Rani menerangkan bahwa ‘obat awet mudanya’, selain minum air putih yang cukup serta banyak mengonsumsi makanan seimbang, yang diperbanyak adalah menu buah dan sayurnya. Dan, yang terpenting adalah menambahkan dalam menu hidupnya dengan meditasi, yaitu menyehatkan dan menyeimbangkan pikiran. Menjauhkannya diri dari stres berkepanjangan yang menjadi faktor utama pencetus penuaan dini.

Ya, meditasi! Suatu keterampilan yang wajib dilatih dan dijadikan menu keseharian dalam menetralisir ketegangan hidup. Wadah-wadah meditasi saat ini berkembang dengan pesat di mana sarana, tempat, sasana, atau pedepokan untuk meditasi banyak dibentuk dan banyak orang merasakan hasilnya. Bahkan, artis dunia selevel Madona, setiap hari tidak pernah absen untuk melakukan Yoga sebagai salah satu bentuk meditasinya. Maka, hasilnya dunia melihat Madona menjadi sosok yang tetap cantik dan berstamina tinggi. Bukan saja Madona, tetapi banyak nama beken yang bermeditasi setiap hari untuk menjaga tubuh maupun pikirannya supaya tetap seimbang dan sehat serta membuatnya tampil memesona.

Seperti telah banyak diuraikan dalam artikel-artikel yang lain, bahwa seseorang dalam keadaan meditasi menjadi lebih sehat secara jiwa raga. Sebab, pada saat meditasi seluruh organ mengoptimalkan fungsinya. Berbeda jika seseorang dalam keadaan tegang (stres), maka organ menjadi lemah dan kanibal (memakan dirinya sendiri).

Seperti contoh seseorang yang dalam kondisi tegang (stres) karena banyak berpikir. Sehingga, asam lambungnya memproduksi secara berlebihan. Padahal, seseorang yang tegang tidak bisa makan dengan lahap dan nikmat. Maka, dalam kondisi perut kosong asam lambung mencerna dirinya sendiri. Dan, kita mengenalnya sebagai penderita sakit maag. Karena ada ketidakseimbangan kerja sama antarorgan yang sama-sama tegang. Tubuh pun akan menderita berbagai macam keluhan dan membuat kesehatan terganggu. Hal ini selengkapnya sudah dibahas dalam artikel “Maukah Sehat Dengan Gratis”.
Yang terpenting dalam hidup ini, orang bisa mencapai sukses dan tetap hidup untuk menikmatinya. Bukannya bisa mencapai sukses, tetapi kesuksesan materi membuat hidup tidak bahagia, dirundung banyak penyakit, dan kesepian di tengah keramaian. Hidup bukan untuk dipahami, tetapi untuk dinikmati dengan memaknai keberhargaannya. Salam.[lh]

Lianny Hendranata adalah penulis enam buku kesehatan, kolomnis harian Suara Pembaruan, majalah Wanita & Kesehatan, portal Okezone.com, dan majalah Indonesie yang terbit di Belanda. Selain itu, ia adalah seorang pembicara seminar, instruktur healing energy, trainer autohipnosis, konsultan kesehatan energi aura dan cakra, instruktur kesehatan dan kecantikan dengan metode Tai Chi, sekaligus Direktur Srikandi Internusa dan Inspiration Centre.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Mahasiswa Menulis, A Breakthrough Strategy

snOleh: Sofa Nurdiyanti*

Menulis bisa dijadikan strategi bagi mahasiswa? Apa iya? Jangan salah lho, menulis adalah salah satu terobosan paling mudah yang dapat dilakukan oleh seorang mahasiswa.”

Menulis sebenarnya dapat dijadikan alat oleh mahasiswa untuk mencapai target tertentu yang menjanjikan peluang emas. Meskipun, saat itu ia masih menyandang status mahasiswa. Peluang emas yang dilihat oleh masing-masing mahasiswa itu memang berbeda dan tergantung ide kreatif yang tercipta. Ide kreatif itu tidak harus sesuatu yang baru dan langka, tetapi bisa juga melihat peluang yang tidak “dilirik” oleh orang lain.

Pandangan berbeda inilah yang dapat dijadikan peluang untuk melakukan terobosan-terobosan keahlian dalam membangun masa depan semenjak masih menjadi mahasiswa. Namun, dibutuhkan kejelian dalam melihat suatu peluang emas yang belum digarap oleh orang lain. Selain itu, sebagai pemula atau perintis, kita mahasiswa juga perlu bersabar dalam menggarap setiap lahan yang kita rintis. Jika tidak, kita akan tergusur oleh orang lain yang lebih ulet dalam mengembangkan peluang tadi.

Menulis dapat dijadikan sebagai salah satu strategi, karena mahasiswa memang sarat dengan berbagi disiplin ilmu yang bisa menjadi sarana pencapaian target. Ilmu yang dimiliki oleh mahasiswa bisa dari disiplin ilmu yang ditekuninya, atau bahkan dari luar bidang kemampuannya. Pada masa sekarang, kita tidak bisa mengandalkan salah satu kemampuan saja. Tetapi, kita juga harus secara aktif mengoptimalkan bidang lain yang belum terkuasai. Pengoptimalan bidang lain ini bisa menjadi sarana pendukung untuk menambah pengetahuan, atau bahkan sebagai bidang baru yang berpotensi sekali bagi keahlian kita.

Berbagai terobosan yang dapat dilakukan oleh mahasiswa dalam menulis, semisal adalah berprofesi sebagai penulis buku, kolomnis, wartawan, editor, mengikuti berbagai penelitian, atau hal lainnya yang dapat dijadikan sebagai perintis karier di masa depan. Hal ini juga dapat melatih mental seorang mahasiswa dalam mengembangkan berbagai sisi kemahasiswaaanya yang ”menjual”, untuk nantinya dijadikan sebagai solusi pascamasa kuliah.

Berkarier merupakan hal yang pasti akan diterjuni oleh setiap orang. Namun, akan lebih baik lagi jika dilakukan dan dirintis sejak mahasiswa. Merintis karier semenjak mahasiswa akan melatih kita agar lebih mengefisienkan waktu dengan baik. Dan, menulis merupakan hal yang tepat untuk dilakukan. Sebab, menulis tidak membutuhkan banyak waktu dan energi yang besar. Sekadar menuliskan ide yang terdapat dalam pikiran dan mengembangkan imajinasi kita, maka terciptalah suatu tulisan yang dapat kita pergunakan sebagai strategi perintisan karier di masa depan.

Kita dapat menulis berbagai tulisan sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing. Jika menyukai cerpen, kita dapat membuat cerpen dan mengirimkannya ke media yang sesuai dengan tulisan kita. Begitupun jika kita ingin menjadi seorang novelis, penulis buku, kolomnis, editor, dsb. Selain mencoba menghasilkan karya berupa tulisan, kita juga harus berusaha mengembangkan kemampuan dengan membaca berbagai buku yang dapat menambah wawasan kita.

Kita juga perlu bergabung dengan kelompok atau organisasi sesuai dengan bidang tulisan kita. Dengan bergabung pada kelompok atau organisasi, kita dapat berbagi pengalaman dan membuat rencana pengembangan karier menjadi semakin jelas. Sekarang, banyak website, blog, klub, atau organisasi lainnya yang memfasilitasi kemampuan kepenulisan kita. Untuk website, kita bisa sebut misalnya AndaLuarBiasa.com, Andriewongso.com, dan Pembelajar.com.

Lalu, untuk organisasi kepenulisan, kita kenal yang namanya Forum Lingkar Pena (FLP) yang jaringannya sampai ke mancanegara. Ada juga sejumlah mailing list untuk penulis yang banyak kita jumpai di dunia maya. Jika mau melihat contoh-contoh tulisan kita, kita dapat melihat website yang saya sebut di atas, atau sejumlah blog kepenulisan yang sekarang banyak dikembangkan para blogger. Blog juga merupakan solusi yang efektif dalam memublikasikan tulisan kita pada khalayak umum. Maka, membuat blog juga merupakan ide jitu yang perlu kita realisasikan.

Rencana karier perlu kita buat sejak dini karena hal ini akan mendorong kita agar lebih terarah dan termotivasi dalam mencapai target karier. Sering kali orang tidak membuat perencanaan karier yang jelas sehingga tidak fokus dalam meraih apa yang dicita-citakannya. Perencanaan karier yang jelas juga membutuhkan realisasi atau upaya nyata dalam meraihnya. Kita membutuhkan langkah-langkah nyata beserta evaluasi atas setiap hasil yang telah dicapai. Dengan begitu, kita dapat mengetahui kekurangan dan usaha apa saja yang berhasil kita capai.

Kita juga perlu kedisiplinan dan ketekunan dalam melakukan semua ini. Perlu disadari bahwa tidak setiap usaha yang kita lakukan akan membuahkan hasil sesuai dengan harapan kita. Namun, jangan berkecil hati jika hal ini terjadi. Yang perlu kita upayakan adalah evaluasi secara menyeluruh dan membuat rencana-rencana baru yang lebih efektif, sesuai dengan kondisi yang ada.

Kita sudah mendapat nilai lebih dalam setiap usaha yang telah kita lakukan, meskipun mungkin kita gagal mendapatkan apa yang kita inginkan. Sebab, tidak ada keberhasilan yang tidak pernah mengalami kegagalan. Sebab, tidak penting seberapa sering kita gagal, karena yang lebih penting adalah berapa kali kita bangkit setelah mengalami kegagalan. Itu kata-kata para orang bijak.

Menurut saya, mahasiswa menulis itu mempunyai manfaat lebih selain mengaktualisasikan diri. Dengan menulis, kita juga dapat melakukan proses pengembangan diri. Kita bisa mengambil contoh Gregrorius Agung, seorang penulis buku komputer yang merintis karier kepenulisannya sejak ia masih mahasiswa (baca wawancara Edy Zaqeus dengan penulis ini di: http://ezonwriting.wordpress.com/). Menulis buku komputer merupakan salah satu kejelian Gregorius Agung dalam melihat peluang emas yang belum digarap oleh banyak pihak waktu itu. Bahkan, ilmu psikologi yang dipelajarinya ternyata tidak menjadi hambatan baginya untuk menulis buku komputer.

Ini membuktikan bahwa tidak sepenuhnya kita berkembang sesuai dengan bidang ilmu yang kita pelajari. Kemampuan menganalisis dan mengeksplorasi kemampuan diri ini merupakan modal utama yang harus kita kuasai. Jika tidak, kita tidak akan bisa mengembangkan kemampuan kitasecara optimal. Jangan pernah berharap kita mampu membangun karier yang bagus jika kita tidak mau melakukan terobosan-terobosan yang baru dan mudah dilakukan, seperti menulis misalnya. Tidak perlu memikirkan langkah-langkah rumit untuk mulai merintis karier kita ke depan. Menulis adalah langkah termudah yang bisa dilakukan oleh setiap orang, termasuk mahasiswa. Temukan minat dan raihlah cita-cita Anda. Good luck![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa semester enam Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur pernah aktif menulis di wadah jurnalistik di kampusnya, dan menyebarkan tulisannya antara lain di AndaLuarBiasa.com, Andriewongso.com, dan Pembelajar.com. Ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Menyanyi dan Rasa Percaya Diri

vtOleh: Vina Tan*

Hidup akan terasa indah dan menyenangkan jika kita mengisinya dengan melakukan apa yang disukai dan dicintai. Dengan demikian, kita baru memiliki kesempatan untuk mengasah potensi diri.

Pada Selasa, 31 Maret yang lalu, seorang Editor Senior dari sebuah majalah grup Femina mengirimkan pesan pendek kepada saya. Dia ingin bertemu untuk wawancara tentang kegiatan ektrakurikuler yang saya tekuni, yaitu les vokal. Awalnya saya tidak percaya karena pada Desember yang lalu, saya baru saja menjadi narasumber untuk topik Rangkul Saja Remaja Anda. Apa waktunya tidak terlalu cepat jika saya kembali diwawancarai? Begitu saya berkata dalam hati.

Namun, karena saya suka bertemu dan berbagi cerita dengan orang lain, maka kesempatan ini tidak akan saya lewatkan begitu saja. Keesokan harinya, kami pun bertemu.

“Vina, ketika kita bertemu terakhir kali, Anda sempat menyinggung soal les vokal. Hari ini saya ingin tahu lebih banyak lagi. Pertanyaannya, apa yang membuat Anda tertarik untuk belajar vokal?”

“Belajar adalah berusaha memperoleh suatu ilmu pengetahuan atau keterampilan. Bisa dari pengalaman atau pengajaran. Saya sendiri ingin menambahkan, bahwa belajar juga diperlukan untuk mempertahankan dan meningkatkan pengetahuan atau keterampilan yang sudah kita miliki. Bagi sebagian orang yang kenal saya, mereka pasti heran kenapa saya masih mau belajar vokal dengan seorang guru. Saya lebih suka menyebutnya pelatih daripada guru. Karena, seorang pelatih bisa menjadi guru, konsultan, sekaligus mentor Anda.

Sejak kecil saya sudah memiliki bakat dalam beryanyi. Dan, saya sering menyanyi untuk acara sekolah saat di SD sampai SMA. Tidak setiap orang memiliki bakat menyanyi. Ketika masih di SMP, saya pernah meminta Ibu untuk mencarikan guru vokal agar ada tempat untuk berlatih. Namun, kami tidak pernah menemukannya. Kini, ketika kedua anak saya sudah beranjak dewasa dan cukup mandiri, saya memiliki banyak waktu luang untuk menggali potensi diri yang tidak sempat terasah selama ini. Saya bebas melakukan apa yang menjadi minat saya. Misalnya, membaca, menyanyi, dan menjadi pembicara. Itulah sebabnya, saya aktif di kegiatan Toastmasters untuk terus mengasah kemampuan berbicara di depan umum. Di samping itu, sekali seminggu, saya juga berlatih vokal.”

“Cukup menarik!”

“Hidup akan menjadi berarti jika Anda dapat melakukan hal-hal yang menjadi minat Anda. Untuk menyanyi dengan baik, kita harus mampu berolah vokal dengan benar. Di sini pelatih memegang peranan penting. Bakat serta kepekaan mereka sudah terasah untuk menilai kapan kita memiliki penempatan suara yang tepat dan kapan tidak. Mereka dibutuhkan dan tentu saja dibayar karena ketajaman telinganya.”

“Bagaimana Vina menemukan pelatih vokal tersebut?”

“Berkat suami saya! Dia tidak bisa menyanyi sehingga merasa kagum apabila ada orang yang dapat menyanyi dengan baik. Setiap kali, jika kami hadir di pesta perkawinan, saya selalu diminta untuk menyumbangkan lagu. Tentu saja saya tidak suka dan sering merasa kesal. Suami saya tidak habis pikir, kenapa ada orang yang memiliki bakat nyanyi seperti saya ini, tetapi tidak mau memperlihatkannya di depan umum.

Bulan Februari 2006, ketika salah seorang adik suami saya menikah, saya pun terpaksa menyanyi di resepsi pernikahannya untuk menyenangkan hati suami. Saat itu, saya menyanyikan dua buah lagu Mandarin. Ketika saya kembali ke tempat duduk, istri dari sepupu suami memberikan pujian. Katanya, jika saya menjadi penyanyi profesional, dia yang akan menjadi menejer saya. Suami pun merasa bangga. Sedangkan saya sendiri heran, kenapa melihat istrinya menyanyi menjadi berarti sekali bagi dia? Mungkin, dia merasa nikmat jika menjadi pusat perhatian.”

“Kemudian, ketika JTC, Jakarta Toastmasters Club, beracara pesiar ke Pulau Seribu tanggal 29 Juli 2007, saya berkesempatan menunjukkan kemampuan berkaraoke. Seorang teman sempat memuji dengan tulus. Katanya, saya menyanyi dengan hati. Tentu saja saya merasa sangat tersanjung. Namun di dalam hati, saya sadar bahwa kemampuan menyanyi saya tidaklah sebaik yang diperkirakan banyak orang.”

“Akhirnya, di bulan Agustus 2007, saya diundang adik saya untuk datang ke rumahnya. Ketika itu, ada misa 100 hari untuk memperingati kematian mertuanya. Di sana saya bertemu Ivan yang menyanyikan puji-pujian dengan baik dan merdu sekali. Di saat makan malam, saya pun mendekatinya seraya memuji kemampuannya. Kemudian saya bertanya, apakah dia belajar vokal? Dan, jawabannya adalah iya. Saya meminta alamat dan nomor telepon gurunya. Sesampai di rumah, saya pun menceritakannya kepada suami dan minta izin apakah boleh les vokal mulai Januari 2008. Suami saya adalah orang yang selalu mendukung saya untuk mengembangkan diri. Katanya, kenapa harus menunggu empat bulan lagi jika bisa memulainya saat ini juga?

“Begitu, ya.”

“Iya, sejak itu pula, saya mulai belajar vokal. Dan, selama delapan belas bulan saya tidak pernah absen kecuali benar-benar sakit. Saya selalu berusaha meraih setiap kesempatan yang datang pada saya. Kadang-kadang bukan hanya meraih, tetapi menciptakan kesempatan itu sendiri.”

“Apa hasil positif yang didapat selama belajar?”

“Menurut Walter Gagehot, kepuasan terbesar dalam hidup adalah melakukan apa yang menurut orang lain tidak dapat kita lakukan. Bagi saya, kepuasan terbesar dalam hidup adalah melakukan sesuatu yang orang lain tidak menduga kita dapat melakukannya.”

“Saya suka dengan kata-kata tersebut.”

“Pada hari Valentine 14 Februari 2009, saya ditunjuk menjadi Pembawa Acara untuk pelatihan kepemimpinan di Toastmasters. Di saat akan memulai acara, saya pun melantunkan beberapa kata dari lagu Valentine-nya Martina McBride. You’re all I need, my love, my Valentine. Setelah itu, saya pun menyapa hadirin, Hi teman-teman! Selamat merayakan Hari Valentine. Pasti tidak ada yang menduga kalau saya bisa membuat perbedaan kecil di hari yang spesial tersebut. Jika saya tidak mempunyai seorang pelatih vokal, saya yakin saya tidak akan berani memamerkan kemampuan menyanyi tersebut di hadapan seratus orang pada saat itu. Jadi, keuntungan yang utama adalah belajar vokal telah membuat saya menjadi lebih percaya diri lagi.

“Berikutnya, sebagai seorang pembicara dan konsultan, kadang-kadang saya harus berbicara selama berjam-jam. Jadi, suara adalah faktor penting. Untuk memelihara dan menjaga kualitas suara, kita harus tahu bagaimana cara bernapas yang benar dengan menggunakan diafragma. Cara kita bernapas benar-benar menentukan berapa banyak oksigen yang bisa dimasukkan ke dalam organ-organ tubuh kita. Semakin banyak oksigen yang masuk, semakin kita akan terlihat lebih awet muda dari usia yang sebenarnya. Jadi, menyanyi dan melakukan yoga sangat membantu untuk menjaga kualitas suara.”

“Masuk akal juga.”

“Saya sangat bangga memiliki pelatih vokal seperti Charles Nasution. Dia sangat menghormati, mengagumi, dan memuja gurunya, Ibu Chatharina W. Leimena. Ibu, demikian Charles biasa memanggilnya, adalah seorang guru vokal yang terkenal di negeri ini. Menurut Charles, dia sudah belajar dengan Ibu selama delapan belas tahun. Dan, sampai hari ini, setiap kali datang kepada Ibu, pasti ada hal baru yang dipelajari. Saya merasa beruntung berlatih vokal dengan seorang yang tidak pernah melupakan jasa-jasa gurunya. Saya dapat merasakan semangatnya yang tidak pernah luntur. Keinginan belajar yang tidak pernah lekang oleh waktu. Sebuah sikap yang patut diteladani.”

“Sekarang, keuntungan lain dari belajar vokal. Dengan bertambahnya pengetahuan, maka kemampuan untuk menilai penampilan seorang penyanyi menjadi lebih baik. Dan, menonton program pencari bakat seperti American Idol ikut mengasah pengetahuan yang dimiliki serta menambah wawasan.”

“Apakah Vina tidak memiliki tujuan khusus ketika memutuskan belajar vokal?”

“Maksudnya, menjadi seorang penyanyi profesional? Sama sekali tidak. Bagi saya, menyanyi sudah merupakan darah daging. Sejak kecil saya suka sekali menyanyi. Memang, ketika muda dulu, saya pernah bercita-cita untuk menjadi seorang penyanyi. Tetapi, sekarang keadaannya berbeda. Saya sangat bahagia dengan semua kegiatan saya sebagai seorang ibu rumah tangga, konsultan, dan pembicara. Menyanyi telah membuat hidup saya menjadi lebih berarti lagi.

“Saya selalu merasakan tantangan setiap kali melakukan vokalisasi. Hari demi hari, jarak nada yang saya capai semakin lebar. Tentu saja hal ini semakin dekat dengan nada maksimum dan minimum yang menjadi ‘range’ suar saya. Peningkatan ini terjadi sedikit demi sedikit. Hal ini membuat saya yakin bahwa saya bisa mencapai apa yang diinginkan asalkan mau melakukannya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Saat ini, saya telah menentukan target baru dalam hidup saya. Dua tahun dari sekarang, saya ingin bernyanyi di hadapan seribu orang.”

“Saya yakin itu akan menjadi kenyataan, Vina.”

“Terima kasih banyak! Saya setuju dengan nasihat dari pelatih saya, Michel Gagne bahwa kamu perlu membuat dirimu dikenal. Jika kita mengerjakan sesuatu yang menjadi minat kita, pasti akan dilakukan dengan penuh semangat. Sehingga, pasti akan mudah untuk menjadi pusat perhatian dan dikenal. Namun, dibalik semua itu, kita harus mempersiapkan diri dan tanpa henti terus meningkatkan kemampuan kita. Ungkapan Elmer Letterman, Keberuntungan akan tiba, jika kita siap di saat kesempatan datang’, sangat cocok dengan apa yang sedang saya lakukan saat ini.[vt]

* Vina Tan lahir di Sibolga. Selain menjadi ibu rumah tangga, ia juga berprofesi sebagai konsultan dan pembicara. Vina dapat dihubungi di vina.coach[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Potensi Manusia yang Luar Biasa

an1Oleh: Abidin Noor*

Tahukah Anda, pemborosan yang paling besar adalah di tanah pemakaman?seorang pembicara mengawali seminarnya. “Kenapa?” tanyanya. “Siapa yang bisa bantu saya untuk menjawabnya, tolong acungkan tangan!” pintanya. Melihat tidak ada satu pun yang mengacungkan tangan, akhirnya saya mengacungkan tangan. Kemudian saya jawab, “Pemborosan yang paling besar di tanah pemakaman, karena manusia mati sebelum dapat memaksimalkan seluruh potensi yang dimilikinya.Jawaban Anda betul sekali, sang pembicara membenarkan jawaban saya.

Kemudian pembicara menyebutkan, “Gus Dur, pangilan Abdurahman Wahid, dengan segala keterbatasan penglihatannya bisa menjadi orang nomor 1 di negeri ini, sebagai Presiden RI yang keempat. Stephen Hawking, yang menderita amyotrophic lateral sclerosis, yang mengakibatkan tubuhnya selalu terikat di kursi roda tercatat sebagai seorang ilmuwan yang sangat dikenal dengan teori physicists of his generation. Albert Einstein, seorang ilmuwan yang dikenal dengan teori relativitasnya. Segelintir nama yang saya sebutkan itu adalah orang-orang yang mampu memaksimalkan potensi luar biasa yang dimilikinya. Sehingga, namanya tercatat dan terukir dalam lembaran sejarah.

Pembicara melanjutkan seminarnya dengan sebuah cerita. “Konon, di salah satu negara di dunia, tidak dijelaskan pasti nama negaranya, diadakan sebuah pelelangan otak manusia. Salah seorang warga negara berkebangsaan Jerman maju ke panggung tempat pelelangan, menawarkan otak warganya setara dengan otak Albert Einstein. Harga penawar tertinggi sebesar 100 dollar AS. Kemudian, perwakilan dari warga negara Amerika, dengan langkah yang sangat optimistis, maju ke panggung dan kemudian menawarkan otak warganya yang setara dengan otak Abraham Lincon. Ia mendapat penawaran tertinggi 90 dollar, sedikit lebih rendah dari otak orang Jerman.

Tidak ketinggalan perwakilan dari negara Inggris yang menawarkan otak warganya setara dengan otak Margaret Thatcher, dan ia mendapat penawaran 89.50 dollar, sedikit lebih rendah dari otak warga negara Paman SAM. Terakhir, perwaklian dari salah satu negara, tidak dijelaskan betul nama negaranya. Namun, apabila dilihat dari postur tubuh dan gayanya, sepertinya dia orang dari Indonesia, yang juga menawarkan otak warganya. Tidak disebutkan dengan jelas, otaknya setara dengan otak siapa. Namun yang sangat mengejutkan, ia mendapatkan penawaran harga paling tinggi, sepuluh kali lipatnya harga otak orang Jerman, yaitu 1.000 dollar.

Kemudian waktu konferensi pers, pemenang lelang otak dari Indonesia itu berkomentar, ‘Otak ini keadaanya sangat baik sekali. Saya beruntung mendapatkannya.’ ‘Maksudnya?’ desak wartawan. Otak ini sama sekali belum pernah di pakai,’ jelas pemenang si lelang.

Ini hanya joke, pembicara mengakhiri ceritanya.Joke di atas hanya sebuah ilustrasi mengenai penggunaan potensi otak. Bisa jadi juga sebuah analogi dari keadaan yang sebenarnya. Karena, menurut kalangan peneliti, umumnya orang menggunakan empat persen saja dari kapasitas otaknya. Sama seperti penggunaan sebuah komputer. Kemampuan komputer itu sangat luar biasa, yaitu dapat membuat berbagai macam program. Namun kenyataannya, sebagian besar komputer digunakan hanya sebagai pengganti mesin ketik,” jelas si pembicara.

Kemudian pembicara melanjutkan penjelasannya. Bahwa setiap manusia dianugerahi potensi luar biasa, berupa otak. Otak merupakan komputer yang paling hebat yang dimiliki manusia. Ada yang menyebutnya sebagai the sleeping giant (raksasa tidur), dan ada juga yang menyebutnya sebagai the hidden power (tenaga yang tersembunyi). Dengan kekuatan pikirannya, manusia mampu berjalan di atas permukaan bulan, mampu membuat pesawat terbang, mampu mengarungi samudera luas, dan lain sebagainya.

Menurut beberapa literatur, otak manusia mempumyai 100 miliar sel, setiap sel mempunyai membran sel, membran, dan nukleus. Pada sel terdapat juga gen. Masing-masing sel mempunyai energi yang memancarkan gelombang elektromagnetik. Pada waktu berpikir akan terbentuk jaringan-jaringan antara sel yang satu dengan sel yang lainnya di dalam otak. Seperti kaset menyimpan hasil rekaman lagu. Pada waktu bernyanyi, semua nada baik atau sumbang terekam dalam sebuah kaset.

Nah, pada otak yang selalu dirangsang, terdapat banyak jaringan antara masing-masing sel yang menyerupai cabang dan ranting pohon. Sebaliknya, pada otak yang sedikit rangsangan, sedikit juga jaringan-jaringan yang terbentuk. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan, informasi tersimpan dalam sel-sel syaraf itu bercabang-cabang seperti cabang pohon. Agar semua informasi tersimpan dengan baik dan mudah diakses, ditemukan suatu metode atau alat berpikir (tools of thinking) yang ditemukan oleh Tony Busan. Alat itu dikenal dengan nama Mind Mapping yang dapat memetakan pikiran dan membantu otak berpikir secara teratur.

Kualitas seseorang sangat ditentukan oleh banyaknya jaringan yang terbentuk dalam sel otak dan kualitasnya dalam berpikir. Pada dasarnya, otak adalah suatu benda yang mempunyai energi yang memancarkan frekuensi dan dapat direkam dengan sebuah alat, yaitu Eletroenfalogram (EEG). Otak manusia yang direkam dalam berbagai kondisi memancarkan gelombang.

Gelombang Otak -> Frekuensi -> Kondisi

Beta -> 14-100 hz -> Terjaga

Alpha -> 8-13.9 hz -> Meditasi

Theta -> 4-7.9 hz -> Menjelang Tidur

Delta -> 0.5-3.9 hz -> Tidur nyenyak

Masih dalam penjelasannya, si pembicara itu menyatakan bahwa salah satu karunia luar biasa yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah akal atau pikiran, yang membedakan manusia dengan binatang atau ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya. Dengan akal atau pikiran manusia dapat berkreasi, berkarya, berbudi, dan berakhlak mulia sebagai khalifah di muka bumi ini.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh para ilmuwan, pada dasarnya pikiran manusia meliputi dua bagian yang satu sama lainnya merupakan satu kesatuan. Bagian pertama disebut pikiran sadar (conscious mind), dan bagian kedua disebut pikiran bawah sadar (subconscious mind). Pikiran manusia diibaratkan sebagai sebuah gunung es yang berada di tengah permukaan laut. Yang tampak dipermukaan hanyalah sebagian kecil saja dari yang sebenarnya. Bagian yang terbesar lainnya tidak tampak dari permukaan, kecuali bila diselami hingga dasar laut.

Demikian juga yang terjadi pada manusia. Sikap mental yang tampak di luar hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan sikap mental yang sebenarnya. Kita tidak mengenal lebih jauh apabila tidak mendalaminya, demikian Sigmund Frued memberikan perumpamaan.

Sikap mental atau kepribadian (personality), kebiasaan-kebiasaan (habits), ingatan-ingatan masa kecil (memory), dan citra diri (self image) tersimpan dalam pikiran bawah sadar sejak usia dini.
Pada usia itu
, kesadaran kritisnya belum berkembang. Pada usia itu ia hanya menerima saja informasi dari lingkungan terdekat, seperti dari kedua orang tuanya. Selanjutnya, pada usia sekolah yang diterimanya berasal dari guru-gurunya. Dan pada usia remaja serta setelah dewasa, yang diterima adalah informasi dari lingkungan pergaulannya. Bahkan, ada kalanya secara tidak sadar diprogram oleh diri sendiri (self programmed).

Setiap orang dapat memaksimalkan potensi yang ada dalam dirinya untuk meraih kesuksesan dengan memaksimalkan potensi pikiran bawah sadarnya. Namun demikian, tidak semua orang menyadari potensi yang dimilikinya. “Pikiran bawah sadar seseorang menurut para ahli mempunyai kemampuan tujuh kali lipat lebih besar dari pikiran sadarnya,” ungkap pembicara itu lagi.

Pikiran bawah sadar Anda diibaratkan sebagai penguasa tunggal yang ada didalam diri Anda, dan paling dominan dalam menentukan sikap dan kepribadian Anda yang tidak tampak dari permukaan. Pikiran bawah sadar Anda adalah bagian yang paling mudah untuk disugesti, tanpa Anda menyadarinya. Apabila pikiran bawah sadar Anda sudah tersugesti, dan sugesti tersebut tersimpan dalam bentuk sebuah program, maka dengan suatu stimulasi secara otomatis program yang ada di dalam pikiran bawah sadar Anda akan aktif bekerja.

Sebagai contoh, iklan sebuah produk di media televisi. Pesan yang disampaikan terus-menerus ke pemirsa berupa sugesti, yang diarahkan pada pikiran bawah sadar pemirsa, agar pesan tersebut terprogram dan tersimpan dalam pikiran bawah sadar mereka. Seperti iklan salah satu produk minuman yang satu ini, Anda pasti ingat betul, dan dapat meneruskan pesan iklan yang disampaikan, “Apa pun makanannya, minumnya…. Sehingga, apabila Anda merasa haus dan punya hasrat untuk minum, secara otomatis pikiran bawah sadar Anda terpicu dan aktif bekerja, dan kemudian mengarahkan pikiran sadar Anda ke sebuah produk minuman tersebut.

Contoh lain, adalah iklan salah satu supermarket terbesar di Jakarta, yang sering kita dengar pada salah satu media televisi, yaitu “Ke Carrefour aja, ahh…!” Sehingga, apabila Anda merasakan adanya kebutuhan bulanan yang harus dipenuhi dan punya hasrat untuk berbelanja, pikiran bawah sadar Anda akan terpicu dan aktif bekerja untuk mengarahkan pikiran sadar Anda berbelanja ke supermarket tersebut.

Pembicara mengakhiri penjelasannya, “Sebagai bagian tubuh manusia yang menghasilkan buah pikiran, otak manusia secara fungsional terdiri dari belahan otak kiri dan kanan. Otak kiri mempunyai fungsi yang berhubungan dengan logika, analisis, bahasa, rangkaian (sequence), dan matematika. Jadi, belahan otak kiri berfungsi ketika manusia melakukan aktivitas mengupas/meninjau (analyzing), menyatakan (declaring), menganalisis, menjelaskan, berdiskusi, dan memutuskan (judging).

Belahan otak kanan berkaitan dengan ritme, kreativitas, warna, imajinasi, dan dimensi. Jadi, belahan otak kanan berfungsi ketika manusia melakukan aktivitas menggambar, menunjuk, memeragakan, bermain, berolahraga, bernyanyi, dan melakukan aktivitas motorik lainnya. Kedua belahan otak tersebut mempunyai peranannya masing-masing, dan sekaligus saling melengkapi. Fungsi otak yang berbeda antara belahan kiri dan kanan ini pertama kali ditemukan oleh Dr. Roger Sperry dan kawan-kawan tahun 1960.”

Kesimpulan saya, manusia dianugerahi potensi luar biasa, yaitu berupa otak. Otak merupakan komputer yang paling hebat yang dimiliki manusia. Dengan kekuatan pikiran (the power of mind), manusia mampu melakukan banyak hal. Nah, Anda dapat membuat program terhadap diri Anda sesuai dengan apa yang Anda inginkan. Anda ingin sukses buatlah programnya dan tanamkan program-program itu ke dalam pikiran bawah sadar Anda. Sebagaimana Anda meng-install program pada sebuah PC.[an]

* Abidin Noor banyak menghabiskan waktu berkarya di sebuah perusahan minyak asing selama lebih dari 22 tahun. Saat ini, ia masih aktif berkarya pada perusahaan minyak lokal, di Jakarta. Ketertarikannya dalam dunia tulis-menulis memang sudah lama, tetapi karya tulisnya selama ini untuk koleksi pribadi. Abidin menyelesaikan pendidikannya di Fsayaltas Ekonomi pada salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, dan telah mengikuti berbagai pelatihan dan sertifikasi yang berhubungan dengan dunia perminyakan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el:0811986452, atau pos-el: abidinn22[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Siapa Mau Menjadi Tua?

igOleh: Ingrid Gunawan*

Hari libur Nyepi kemarin, saya pergi ke panti werdha, panti perawatan orang tua. Berarti dalam bulan tersebut saya sudah dua kali mengunjungi panti werdha dengan tempat yang berbeda. Di awal bulan ke Parung, dan di akhir bulan ke Bandung. Sebenarnya, bukan masalah di mana tempat panti werdhanya, karena keduanya sama-sama menampung para orang tua yang harus tinggal sendiri di sana. Sebab, tidak ada keluarga yang mengurus, atau tidak ada yang mau mengurus dengan berbagai macam alasan. Bisa karena alasan ekonomi, atau bisa juga karena anaknya tinggal di tempat yang jauh. Dan, ada juga yang memang tidak mempunyai anak serta saudara yang bisa ditumpangi.

Apa pun alasannya, ketika saya bertemu dan melihat mereka, saya sedih bahkan menangis. Bukankah ketika kita berulang tahun, orang sering kali mengucapkan selamat panjang umur? Jadi, kita pasti akan menjadi tua, dan dengan semestinya tubuh jasmani akan mengalami kemunduran-kemunduran. Tenaga akan melemah, pendengaran, penglihatan, dan penciuman semakin menurun, sehingga akhirnya mau tidak mau kita akan menjadi tergantung pada orang lain.

Orang-orang tua yang tinggal di panti werdha umumnya banyak yang sudah lemah fisik dan tidak kuat lagi melakukan pekerjaan. Bahkan, berjalan pun ada yang sulit. Kami tiba di Panti Werdha Senjarawi, (kenapa yah, namanya kok dipilih sesuai dengan kondisi penghuninya?) saat masih cukup pagi. Sebagian besar orang tua yang masih sanggup berjalan sudah berkumpul di serambi gedung. Mungkin ada sekitar 60 orang dan mereka sudah bersiap untuk memuji Tuhan.

Setelah duduk sebentar, saya berjalan ke samping gedung dan melihat-lihat keadaan kamar-kamarnya. Dalam satu bangunan ada tiga ruang yang diisi oleh tiga orang, masing-masing satu sekatan dan di ujung kamar ada kamar mandi. Akhirnya, saya berjalan ke arah belakang dan melihat ada seorang emak tua yang sedang berdiri di balik pintu, berpegangan pada ambangnya. Saya hampiri dia dan menyapanya, apakah dia mau keluar dan saya bermaksud membantunya karena jalannya sudah susah.

Dia hanya meraba untuk berpegangan pada pinggiran benda-benda yang dilewatinya, tubuhnya sudah bungkuk. Tetapi, ternyata dia tidak mau saya bantu, malah berjalan masuk dan menuju ke kamarnya. Saya mengikutinya karena memang ingin tahu seperti apa sih kamarnya. Ada satu tempat tidur nomor 3, kursi rotan, rak samping, dan lemari tua di ujung menutup sebagian jendela. Kamarnya cukup bersih, dan emak itu pun bersih, sepertinya baru mandi. Dia menyuruh saya duduk di kursi rotan yang ada, sementara dia sendiri duduk di pinggir ranjang.

Saya tanya, Emak, sudah lama tinggal di sini?

“Sudah sudah 6 tahun di sini. Sebelumnya kamarnya di sebelah depan. Karena banjir (ditunjukkannya bekas banjir yang membekas di tembok), lalu dipindah ke sini. Di depan 30 tahun….”

“Hah…! Sudah 36 tahun tinggal di panti werdha?!” tanya saya dalam hati.

Kemudian, dia bercerita masa lalunya, bahwa dia orang Semarang, namanya Anna Oei, anaknya satu, cucunya dua orang, suaminya sudah lama meninggal ketika masih muda. Dia bilang, “Dulu saya guru, pernah kerja di Jakarta di rumah sakit Yang Seng Ie (sekarang RS Husada) sebagai perawat merangkap bagian pemberian obat.”

Dan, masih beberapa saat dia bercerita, kalau saya total-total dari ceritanya umurnya berarti 91 tahun. Sebelum ceritanya habis, saya pamit keluar sebentar karena takut nanti dicari teman-teman yang lain. Memang, acara puji-pujian sudah hampir selesai dan dilanjutkan dengan pembagian bingkisan yang kami bawa dan makan siang yang telah dipesan.

Saya ambil beberapa bingkisan untuk dibagi-bagikan kepada oma-oma dan opa-opa, termasuk saya mau kembali ke kamar si emak Anna Oei tadi. Saya lihat dia sudah keluar dari kamarnya dan berdiri lagi di balik pintu. Kemudian, saya berikan bingkisan untuknya, dan dia mengucapkan terima kasih, lalu berjalan ke kamarnya.

Kembali saya ke luar untuk memberikan bingkisan kepada penghuni panti lainnya dan melewati lagi kamar emak itu. Saya lihat dia sedang berusaha membuka kantong kertas bingkisan yang distaples. Lalu, saya membantu membukakan dan mengeluarkan isinya. Yah, karena saya yang membungkusnya, saya sudah tahu isinya. Saya keluarkan handuk, mug plastik, dan biskuit. Dia bilang, “Bagus yah, bagus yah….” Mukanya pun berseri-seri.

Saya bilang, “Dipakai, ya handuk dan mugnya, biskuitnya dimakan….” Dia bilang mau kasih lihat anaknya dulu. Ternyata, seorang ibu tetap saja ingat anaknya, apakah demikian juga dengan anak akan selalu mengingat orang tuanya? Saya sih sungguh berharap, begitulah adanya.

Karena waktunya sebentar, saya segera berpamitan. Saya bilang, “Hati-hati ya, Tuhan Yesus memberkati.” Dia bilang terima kasih dan Tuhan memberkati saya juga. Dia sempat bertanya apakah saya sudah berkeluarga, saya bilang belum. Dia segera mendoakan saya agar mendapatkan jodoh dan berkeluarga. Kemudian, kami berpelukan dan saling mendoakan. Lalu, saya buru-buru meninggalkannya sebelum air mata saya mengalir, saya tidak mau menangisinya.

Saya sungguh menghimbau teman-teman yang masih mempunyai orang tua, agar menjaga dan merawat orang tua Anda. Jangan pernah menaruh mereka di panti werdha. Bukan panti werdhanya yang tidak baik, bahkan saya sungguh salut dengan para pengurusnya yang bersedia mengurus para orang tua itu. Namun, perasaan tidak dikasihi dan ditinggalkan sendirian itulah yang membuat sedih. Ketika mereka sudah tidak mampu melakukan sesuatunya sendirian, ah… enggak tega deh memikirkannya. Hormati dan kasihilah orang tua Anda, agar damai sejahtera hidup Anda. Amin.[ig]

* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui pos-el: ingridguna[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Saya Suka Nyontek

ensOleh: Endang Setyati*

Saya sudah mencari dalam Kamus Indonesia di Internet mulai dari KBBI, Kamus Online, sampai Kamus Bahasa Indonesia, ternyata kata “ Nyontek” tidak saya ketemukan datanya. Padahal, kata ini sangat popular di kalangan pelajar dan mahasisiwa.

Istilah nyontek rasanya sudah tidak asing lagi di telinga kita, dan sangat akrab saat kita masih bersekolah maupun ketika masih menjadi mahasiswa. Saya tahu pasti, Anda juga pernah melakukannya, walaupun sedikit. Dan menurut penaksiran, mungkin hanya segelintir orang pilihan yang tidak pernah melakukannya.

Menurut para guru, nyontek adalah perbuatan tercela, sebaiknya tidak dilakukan oleh murid-murid. Sementara, dari sudut pandang pelaku dan penggemar nyontek, ini terpaksa dilakukan dengan tujuan agar memperoleh dan mendapatkan hasil lebih baik. Jadi, boleh juga nyontek disebut dengan jalan pintas.

Terlepas dari masalah pro dan kontra tentang nyontek, saya sering mendengar anjuran para motivator dan inspirator ketika saya sedang mengikuti seminar, yaitu tentang membangun rasa percaya diri dan motivasi. Mereka menganjurkan agar kita tidak perlu sungkan menyontek orang lain, untuk meraih prestasi dan sukses.

Lihat saja contoh-contoh di depan mata kita. Banyak orang sukses dalam bisnis multi-nasionalnya, seperti keluarga Bakri dari Palembang. Sukses di bidang pendidikan seperti yang telah diraih keluarga Dr. Supandji dari Magelang. Sukses di dunia olahraga renang, seperti keluarga Nasution. Sukses membangun perusahaan properti seperti yang dilakukan oleh keluarga Ir. Ciputra.

Jujur saja saya suka nyontek. Banyak hal yang sudah saya sontek dalam mengisi hidup ini. Mulai  dari hal-hal yang sederhana, dan setiap hari kita lakukan. Misalnya, cara berbusana yang sopan dan serasi yang suka saya sontek dari gaya busana Ratih Sang, seorang peragawati yang sekarang sudah alih profesi sebagai penulis dan pembicara tentang fashion. Masih banyak hal yang beliau tekuni sampai saat ini, di antaranya sebagai perancang busana muslim yang andal dan banyak penggemarnya.

Saat hamil, saya sering mencari tahu tentang bagaimana caranya supaya kelak anak saya jadi anak yang soleh. Saya tidak malu bertanya pada seorang ibu yang sudah pengalaman hamil lima kali. Beliau mengatakan, bahwa sebaiknya mendidik anak itu sejak dari dalam kandungan. Ibu yang sedang hamil harus membiasakan diri disiplin, hidup di jalan yang lurus. Kalau muslim, ya kerjakan apa yang diperintahkan Alquran, jauhi larangan-larangan-Nya. Jaga hati dan lisan, maksudnya mulut kita, karena apa yang kita lakukan akan sangat berpengaruh pada jabang bayi yang dikandung. Apabila dari dalam kandungan sudah terlatih dengan kebiasaan hidup yang baik, Insya Allah anak kita kelak akan jadi anak yang baik dan saleh.

Kepada siapakah saya bertanya? Tak jauh dari rumah saya, ada sebuah keluarga yang layak disontek, seorang ibu single parent dengan dau putra dan tiga putri, yang dua tahun lalu suaminya meninggal dunia. Saya melihat kehidupan keluarga ini dan sangat tertarik. Sebuah keluarga tanpa ayah, namun harmonis. Di mata saya, mereka lebih baik dari keluarga lain di sekitarnya. Rumah tangganya tenteram, ibunya ramah, dan sangat komunikatif. Keempat putranya sukses S-1 dari UI dan UGM. Oh ya, ada satu putranya yang masih kuliah di UGM namun meninggal karena kecelakaan motor.

Ketika lahir, ternyata anak saya laki-laki, persis seperti yang saya harapkan. Entah mengapa saya sangat mendambakan seorang anak laki-laki. Padahal, anak-anak saya yang lain enam laki-laki dan satu perempuan. Betapa bahagianya jadi ibu kandung, sebab selama ini saya hanya menjadi ibu tiri.

Kebiasaan suami, memberi nama anak-anaknya supaya gampang diingat, yaitu dengan menggunakan abjad. Anak saya adalah anak kedelapan, maka jatuhnya pada huruf H. Lalu, saya cari nama dengan huruf awal H. Ini mah gampang, idola saya huruf awalnya juga H. Maka, tanpa banyak pikir saya pakai saja nama itu. Untuk nama anak saya ini, jadilah namanya Habibie Afsyah. Bagus, kan namanya? Tidak jauh dari nama idola saya, B.J. Habibie.

Nama anak adalah doa dan harapan orang tuanya, begitu kepercayaan kami. Habibie artinya kekasih, kesayangan, sahabat. Sedang Afsyah, artinya yang sah atau yang diakui. Jadi, kalau dirangkai artinya mengakui Habibie anak kesayangan kami.

Ketika saya ikut seminar Cara Cerdas Menulis Artikel Menarik pada tanggal 15-16 Maret 2009 bersama Habibie, kami diberi buku panduan yang berjudul Agar Menulis – Mengarang Bisa Gampang yang ditulis oleh Andrias Harefa. Saya telah baca dan pelajari juga praktik, satu di antaranya adalah artikel ini. Ternyata, apa yang saya lakukan itu ada dalilnya. Menurut penulis buku tersebut, dikatakan bahwa kita sebaiknya mengikuti anjuran sang guru yang bernama Mardjuki. Pesannya, agar kita menggunakan teori 3 N, yaitu:

  1. NITENI: yang artinya mengamati,
  2. NIROKKE: yang artinya meniru,
  3. NAMBAHI: yang artinya menambahkan.

N pertama, mengamati ada B.J. Habibie orang cerdas, pandai, itu saya suka.

N kedua, nama yang indah dan mulia, bagus untuk ditiru.

N ketiga, setelah meniru tinggal menambah. Jadilah nama indah: Habibie Afsyah.

Dalam mendidik anak, saya terinspirasi oleh cerita seorang ibu yang melegenda. Sering saya dengar di Radio SmartFM 95,9  ketika saya sedang di dalam mobil. TRUE STORY tidak hanya terkenal di negaranya, tetapi di seluruh dunia.

Tahukah Anda, ibu yang manakah yang telah menginspirasi dan menghipnosis saya? Sehingga, saya menyontek apa yang dilakukan untuk mendidik puteranya? Beliau sudah lama tiada, tetapi kesuksesan beliau dan putranya sampai sekarang masih dikenang, terutama oleh kelompok teknokrat. Keberhasilan beliau mendidik putranya telah berhasil menerangi dunia.

Seandainya saja, Ibu Nancy Matthews Elliott menerima saja pernyataan guru anaknya yang mengatakan, anaknya bodoh dan berotak udang, mungkin hari ini tak akan ada lampu pijar yang menerangi dunia. Pernyataan sang guru telah membakar semangat Ibu Nancy, yang ingin mendidik putranya sendiri.  Di rumah mendidik dengan hati dan cinta kasih. Beliau ingin menunjukkan pada dunia bahwa pernyataan guru tersebut salah.

Saat itu Nancy, Ibunda Thomas Alfa Edison, sangat marah dan menarik putranya keluar dari sekolah tersebut. Beliau bertekad mengajar sendiri Edison dengan ilmu dan pengetahuan yang dikuasainya. Ibu Nancy, yang juga seorang guru, kemudian memberikan banyak pelajaran.  Ternyata, apa yang beliau ajarkan bisa diserap dengan mudah oleh Edison. Hebatnya lagi, ia juga melahap habis beberapa buku ilmiah, seperti karya R.G. Parker’s yang berjudul School of Natural Philosophy dan The Cooper Union.

Dari buku-buku itulah, Edison kemudian gemar melakukan berbagai macam percobaan.  Akhirnya, itu mengantarkan dirinya menjadi tokoh dunia dengan seribu lebih inovasi. Dalam buku catatannya, Thomas Alfa Edison mengatakan, “Ibuku yang membentukku, ia begitu setia dan memiliki keyakinan pada diriku. Aku merasa memiliki seseorang untuk kuperjuangkan dalam hidupku, seseorang yang tidak boleh aku kecewakan.

Semua orang tua, pasti bercita-cita agar anaknya punya masa depan yang lebih baik dari dirinya. Semua daya dan kekuatan, baik moril dan materiil, dipersembahkan buat mengejar cita-citanya, demi meraih sukses anaknya. Ini hal yang manusiawi karena pada umumnya orang tua tidak rela apabila anaknya diberi predikat bodoh. Pasti, ia akan berjuang dan mengupayakan agar anaknya tidak memilki kehidupan yang lebih buruk dari orang tuanya.

Pandangan pribadi saya tentang urusan sontek-menyontek ini adalah sah-sah saja, tinggal bagaimanakah kita menyikapinya. Untuk kebaikan dan manfaat, tentu tidak ada salahnya. Tetapi, kalau menyontek untuk hal-hal negative yang banyak mudaratnya, sebaiknya jangan dilakukan.

Jadi, bagaimana kalau kita kembangkan saja budaya nyontek? Tentu saja, jangan sembarang nyontek, tetapi nyontek-lah sesuatu yang baik dan sudah terlihat nyata hasilnya. Tak perlu ragu atau malu menyontek kebiasaan-kebiasaan yang menuntun kita menuju kebaikan dan kesuksesan.

Sekali lagi tak perlu malu, karena Rasullullah pun menganjurkan. Dalam satu Hadist, beliau bersabda, Salatlah kamu sebagaimana kamu melihat saya salat.Untuk tujuan yang baik, menyontek bukan saja boleh, tetapi bahkan dianjurkan.[es]

* Endang Setyati, yang sering dipanggil Ibu Habibie ini, lahir di Yogyakarta pada 17 Desember 1951. Sehari-hari sebagai ibu rumah tangga dan sedang mengembangkan kemampuan menulisnya. Alumnus worskhop “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch IX ini tinggal di Jl. Sumbangsih V No.3, RT.06/01, Setiabudi, Jakarta Selatan. Bersama puteranya, Habibie, ia tengah mengembangkan website beralamat di http://www.ibuhabibie.com. Ia dapat dihubungi melalui telepon 021-92824783 atau HP: 0811876844, dan pos-el: endangsetyati[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Rike Amru: Presenter Harus Selalu Fresh, Fisik Maupun Mental

Rike Amru

Rike Amru

Mungkin Anda adalah sebagian dari pemirsa yang dalam satu dekade terakhir disuguhi penampilan para presenter atau penyiar berita yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Dan, salah satu wajah cantik yang mungkin sering Anda saksikan di SCTV melalui program Liputan 6 dan Barometer tersebut adalah Rike Amru. Ya, perempuan kelahiran Banda Aceh pada 7 Juli 1973, ini tidak menampik sinyalemen persaingan yang sangat ketat di antara stasiun-stasiun televisi yang ada, khususnya dalam menampilkan para presenter yang rupawan.

Tak heran bila kini, pemirsa bisa melihat sejumlah presenter berita khususnya, yang sempat menjadi semacam ikon di suatu stasiun televisi dan juga berpenampilan menarik serta berwajah rupawan—tentu saja diikuti dengan kemampuan profesi yang sangat baik—seperti menjadi rebutan stasiun-stasiun televisi lain yang ingin menonjol dalam persaingan. Bagi Rike, hal seperti itu lumrah saja, sebab setiap presenter juga membutuhkan tantangan lebih. Yang penting, setiap presenter memiliki modal yang cukup untuk bersaing dan mendapatkan tantangan lebih tersebut.

Walau begitu, menurut Rike, modal penampilan saja sebenarnya tidak cukup memberikan bobot lebih kepada seorang presenter. Menurut jebolan Fakultas Ekonomi USU dan STIE Perbanas ini, kecantikan seorang presenter haruslah terpancar dari intelektualitas dan personality-nya. Nah, kombinasi intelektualitas dan kepribadian yang menawan itulah yang bisa menjadikan penampilan sang presenter memiliki roh, dan itu pula yang memikat maupun mengikta pemirsa. “Sebaliknya, jika betul-betul mengandalkan kecantikan fisik, saya kira penonton tidak bakal betah,” ujar Rike.

Sementara melihat sejumlah rekannya terjun ke dunia politik, Rike menyatakan bahwa hal itu juga wajar-wajar saja. Sebab, dunia jurnalistik memungkinkan seorang jurnalis bersentuhan dengan banyak persoalan riil masyarakat. Dan mungkin saja, itulah yang mengetuk mereka untuk kemudian terjun ke politik. Namun, Rike mengaku akan tetap fokus dan menekuni dunia jurnalisme televisinya. “Jurnalistik adalah end of mind saya,” jelasnya. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Rike Amru, perihal pernak-pernik jurnalistik televisi di Indonesia, yang dilakukan melalui komunikasi via Facebook dan pos-el:

Sekarang ini hampir semua stasiun televisi swasta berlomba-lomba untuk menghadirkan para penyiar berwajah cantik. Komentar Anda?

Wajar saja. Karena itu salah satu cara yang ditempuh oleh stasiun televisi untuk merebut dan mempertahankan atensi pemirsa.

Apakah ini berdampak baik atau buruk?

Berdampak baik, jika kecantikan si penyiar atau presenter itu juga berasal dari intelektualitas dan kepekaannya. Artinya, si presenter tidak sekadar memperlihatkan kecantikan fisik, tapi juga merepresentasikan personality-nya. Dengan begitu, citranya akan memberi roh ke layar stasiun televisinya. Dan, penonton juga merasa nyaman. Sebaliknya, jika betul-betul mengandalkan kecantikan fisik, saya kira penonton tidak bakal betah.

Perpindahan penyiar dari satu stasiun televisi ke stasiun lain juga sering terjadi. Padahal, mereka ini seringnya sudah menjadi semacam ikon bagi stasiun televisi lama. Pandangan Anda?

Banyak faktor yang menyebabkan penyiar pindah ke stasiun televisi lain. Salah satunya, kebutuhan akan tantangan baru. Saya pikir, soal tantangan ini, bisa menjadi lebih penting ketimbang ikon.

Rike Amru: Liputan kebun ganja di Aceh

Rike Amru: Liputan kebun ganja di Aceh

Sebenarnya, modal apa saja yang idealnya dimiliki oleh penyiar televisi?

Yang paling penting memiliki sensitivitas, kepekaan terhadap lingkungan sekitar, sesama, dan isu-isu di tengah masyarakat. Lalu intelektualitas, kemampuan berbahasa yang memadai, serta kepribadian yang luwes, dan low profile. Ini semua modal yang akan membuat seorang penyiar selalu menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari pemirsa televisi.

Di tengah persaingan penampilan para penyiar sekarang ini, menurut Anda, apa yang mesti menjadi tonjolan, hal khas, atau unggulan masing-masing?

Saya pikir…. setiap presenter berita memiliki kekhasan dan daya tarik yang spesifik. Tapi, apa pun kelebihannya, harus selalu bisa diintegrasikan pada prinsip-prinsip jurnalistik, yang direpresentasikan melalui penampilannya. Artinya, prinsip jurnalistik itu yang paling utama untuk ditonjolkan. Seperti, tidak menghakimi dan tidak beropini. Dengan begitu, saat tampil di layar televisi, presenter tidak boleh membawa diri sebagai “selebritis”.

Ada rumor bahwa sejumlah penyiar televisi memaksa diri untuk tetap hidup single untuk mempertahankan penggemarnya. Benarkah itu?

Sama sekali tidak benar! Banyak penyiar menjadi makin matang performanya setelah menikah. Dan, penggemarnya juga menjadi semakin setia.

Dalam masa pemilu seperti sekarang, apakah kalangan penyiar atau jurnalis televisi sering mendapatkan pesan-pesan sponsor, atau bahkan tekanan tertentu?

Secara langsung atau eksplisit sih tidak. Karena, bisa jadi lingkungan jurnalistik justru yang paling disegani. Dan, jangan sampai jadi blunder dan bumerang untuk mereka sendiri. Secara implisit, mungkin ada juga. Tapi, karena kami berpijak pada jurnalisme, kami menjadi tidak peka dan tidak peduli dengan hal-hal semacam itu.

Rike Amru: Presenter harus selalu tampil fresh

Rike Amru: Presenter harus selalu tampil fresh

Sejumlah penyiar, baik yang senior maupun yang masih muda, mulai merambah ke dunia politik. Pandangan Anda?

Saya rasa, pilihan dan keputusan terjun ke politik itu dilandasi oleh keterikatan dan rasa tanggung jawab rekan-rekan tersebut terhadap masyarakat. Selama menjadi jurnalis, mereka selalu bersentuhan dengan persoalan-persoalan masyarakat. Barangkali, ini menjadi langkah konkret mereka untuk bisa berperan lebih banyak. Boleh jadi, ini juga terkait kebutuhan akan tantangan baru tadi.

Dengan tingkat popularitas Anda sekarang ini, apa Anda juga tertarik untuk melebarkan sayap ke dunia politk nantinya?

Tidak…. Jurnalistik adalah end of mind saya.

Anda sering memandu program debat untuk isu-isu yang cukup panas. Pernah punya pengalaman tak terlupakan?

Salah satu pengalaman paling penting, bagi saya, adalah waktu memandu debat para jurnalis senior mengenai kebijakaan pemberitaan eksekusi Amrozi dkk.

Bagaimana cara Anda mengendalikan situasi debat yang memanas itu?

Menghadapi debat yang memanas, yang paling saya pikirkan adalah pemirsa. Informasi apa yang berhak diperoleh pemirsa? Hal ini menempatkan saya sebagai “filter” untuk tidak membiarkan suhu panas menjadi satu-satunya daya pikat program itu. Artinya, saya akan menginjak pedal rem, jika perdebatan keluar dari koridor dan tidak lagi proporsional. Tapi, saya juga memberikan ruang yang leluasa bagi masing-masing panelis, jika dalam debat banyak informasi penting yang bisa dipetik pemirsa.

Kesimpulan apa yang bisa Anda petik dari situasi-situasi debat dalam itu? Apakah masyarakat atau tokoh-tokoh kita siap dan bersedia menerima perbedaan pendapat?

Jujur saja, kadang kala ada tokoh yang tidak siap berdebat, sekaligus tidak siap menerima perbedaan. Kadang kala, ada panelis yang berpikiran sempit, yang memandang forum debat menyerupai arena gulat, dan maunya menang. Tapi, jika presenter yang memandunya melakukan tugasnya dengan baik, masyarakat tentu bisa menilai masing-masing tokoh secara fair.

Rike Amru: Bersama rekan-rekannya di SCTV

Rike Amru: Bersama rekan-rekannya di SCTV

Apa pengalaman paling berkesan yang pernah Anda alami selama tugas jurnalistik?

Hmm, banyak ya. Salah satu yang saya ingat, saat meliput ladang-ladang ganja di lereng pegunungan Leuser. Liputan itu untuk program investigasi Sigi-30 Menit. Anda bisa bayangkan… Saya hampir ‘pingsan’ saat mendaki dan menuruni pegunungan di hutan, untuk mencari ladang ganja bersama tim. Sama sekali tidak mudah bagi saya. Kami stay di sana hampir dua pekan.

Dalam setiap penugasan di lapangan, penampilan tetap menjadi perhatian utama penyiar. Bagaimana Anda menyiasati hal ini, semisal tetap menjaga penampilan selagi tugas di daerah yang sulilt seperti di Aceh…?

Menurut saya, yang paling penting adalah tampil sesuai dengan keadaan dan lingkungan saya berada. Di wilayah sulit, apalagi di daerah yang dilanda bencana, tentu malah tidak wajar kan jika tampil kenes? Tapi, saya selalu memberi “warning” pada diri sendiri, bahwa presenter harus selalu fresh. Fisik maupun mental. Ini penting, supaya selalu siap memberikan informasi yang komprehensif dan detail pada pemirsa. Cara menyiasatinya? Ya, sekurang-kurangnya cukup istirahat dan cukup tidur. Dan, harus bisa istirahat dan tidur di mana pun. Di tenda maupun di kandang….

Penyiar-penyiar baru yang lebih muda dan menarik nantinya pasti akan terus berdatangan. Bagaimana Anda menghadapi situasi semacam ini ke depannya?

Saya sama sekali tidak memandang rekan-rekan muda sebagai pesaing. Saya juga tidak ingin menempatkan diri saya sebagai senior, yang lebih tahu segala hal. Jadi, menghadapi mereka, saya justru mempersiapkan diri, bagaimana supaya saya bisa menjadi rekan kerja dan partner yang ideal. Yang bisa saling berbagi dan belajar satu sama lain.

Siapa penyiar televisi idola Anda?

Banyak. Semua punya spesifikasi dan keunikan masing-masing. Saya juga banyak belajar dari senior saya di Liputan6 SCTV, seperti Ira Koesno dan Rosianna Silalahi.

Rike Amru: Sebuah aksen

Rike Amru: Sebuah aksen

Selain sebagai penyiar, apa yang sehari-hari Anda lakukan, atau yang menyibukkan Anda?

Baca koran, nonton berita maupun program-program dokumenter. Dan, current affairs dari stasiun televisi nasional lain, sampai CNN. Lalu, baca buku dan diskusi dengan rekan-rekan jurnalis maupun dari lintas bidang.

Anda punya mimpi-mimpi ke depan di bidang kehidupan pribadi dan karier? Menuliskan pengalaman jurnalistik dalam sebuah buku, misalnya?

Dalam karier, semoga bisa menjadi wartawan televisi seperti Lara Logan atau Christianne Amanpour, meskipun masih sangat jauh. Menulis buku? Ya, will do.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi Rike Amru, dan koleksi Gangsar AJ, Widhi Anthony, Kun GFX, dan Lee Kwangsung.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 3.7/10 (16 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 5 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox