Hukum Toleransi

sgOleh: Sulmin Gumiri*

Secara alamiah, ada satu ketentuan yang diajarkan oleh kehidupan kepada kita. Ketentuan tersebut bernama “Hukum Toleransi” yang mana kebutuhan semua makhluk hidup sudah ditentukan oleh Yang Kuasa dalam suatu rentang antara batas minimum dan maksimum. Tumbuhan tidak akan bisa hidup tanpa sinar matahari, tetapi ia pun akan layu dan mati jika kepanasan terus-menerus. Seekor harimau lapar akan mengerahkan segala kekuatannya untuk menaklukan seekor banteng, tetapi setelah kenyang ia pun akan merelakan saja sekawanan burung gagak yang datang tiba-tiba dan berebut makanan gratis sisa hasil kerja kerasnya. Begitu juga dengan manusia, selapar apa pun kita, tidak mungkin kita bisa menghabiskan semua macam masakan lezat yang ditawarkan oleh para pelayan restoran padang di depan mata kita.

Prinsip adanya faktor pembatas di atas berlaku untuk setiap pemenuhan kebutuhan dasar semua makhluk dalam upaya mempertahankan hidupnya. Namun demikian, berbeda dengan tumbuhan dan hewan, ternyata kebutuhan manusia tidak cukup hanya berupa kebutuhan primer untuk bertahan hidup, seperti kebutuhan akan air, udara, makanan, dan tempat tinggal. Karena manusia mengenal tingkat kemakmuran, maka kebutuhan kita pun menjadi begitu banyak mulai dari minyak rambut di atas kepala sampai kepada sepatu di ujung kaki, dan mulai dari sesederhana jarum untuk menjahit sampai kepada yang kompleks dan mahal seperti komputer, mobil, dan pesawat terbang.

Untuk mendapatkan semua kebutuhan sekunder itu, kita semua memerlukan uang. Dan, karena mengejar uang itulah maka kita kadang-kadang perlu memengaruhi orang lain untuk meraih kekuasaan, kerja keras mencari harta , dan berusaha memoles diri untuk mendapatkan popularitas. Apakah kebutuhan sekunder manusia akan kekuasaan, harta, dan popularitas ini juga diatur oleh hukum tolerasi? Uraian berikut mencoba mendiskusikannya.

Beberapa waktu yang lalu, saya tertarik dengan sebuah berita di koran lokal yang berjudul “Janji Tidak Akan Permalukan Najib”. Berita tersebut mengulas tentang kenegarawanan Abdullah Ahmad Badawi yang berjanji untuk tidak mempermalukan pemerintah kelak, yang rencananya akan ia serahkan kepada Wakil Perdana Menteri Najib Razak, setelah ia lengser dari jabatan Perdana Menteri Malaysia bulan Maret 2009.

Yang menggelitik saya adalah rencana sederhana sang Perdana Menteri pascaturun tahta nanti, yang mana beliau hanya ingin menjadi rakyat biasa dengan menghabiskan sisa usianya untuk bercocok tanam, memancing, dan menanam pohon. Keinginan tersebut sebenarnya bukanlah sesuatu yang luar biasa dan tidak ada istimewanya sama sekali. Namun, setelah dihubung-hubungkan dengan kejadian-kejadian serupa yang menimpa kalangan mantan penguasa, para miliarder, dan selebriti, akhirnya saya merenung. Jangan-jangan, hukum toleransi juga berlaku dalam setiap aspek kehidupan manusia.

Di deretan para mantan pejabat negara, bukan hanya Abdullah Ahmad Badawi saja yang akhirnya mengalami “antiklimaks” dengan berkeinginan menjalani kehidupan sebagai rakyat jelata, setelah sebelumnya menikmati masa-masa jayanya sebagai penguasa negara. Di dalam negeri, kita mungkin masih ingat dengan kebiasaan Pak Harto, yang setelah berkuasa sebagai presiden Republik Indonesia selama lebih dari 30 tahun, di saat-saat akhir masa jabatan beliau justru suka menyepi dengan menghabiskan hari libur di lahan pertanian Tapos.

Jimmy Carter, seorang mantan presiden Amerika Serikat di era 80-an yang sangat berkuasa dan terkenal di seantero dunia karena permusuhannya dengan Iran, kembali menjadi petani kacang setelah ia lengser dari jabatannya. Baru-baru ini, George Walker Bush yang sangat arogan karena berhasil mengekspansi Irak dan membunuh musuh bebuyutan ayahnya, Saddam Husein, juga langsung luruh hatinya. Dia menyingkir ke lahan pertanian keluarganya di Texas, sesaat setelah menyerahkan tampuk kekuasaannya sebagai presiden Amerika Serikat kepada Barack Obama.

Kalau para mantan pejabat negara cenderung ingin menyeimbangkan kekuasaan berlebihan yang pernah didapatnya dengan kembali hidup sebagai rakyat jelata, “antiklimaks” juga biasa terjadi di kalangan orang-orang kaya dan selebritis. Bill Gates, si pemilik Microsoft dan merupakan orang terkaya di dunia saat ini, telah menyumbangkan 70 persen kekayaannya kepada yayasan Bill & Melllinda Gates Foundation, yang ia dirikan bersama istrinya untuk membiayai pemeliharaan kesehatan dan menanggulangi kemiskinan di seluruh dunia. Seperti tidak mau kalah, Warren Buffet si raja properti yang merupakan orang terkaya kedua di dunia setelah Bill Gates, juga menyumbangkan 85 persen hartanya kepada yayasan yang sama.

Setelah puas menikmati kehidupan bebas sebagai artis Hollywood yang penuh glamour, sehingga menjadikannya tidak ingin menikah dan memiliki anak, akhirnya Angelina Jolie menyadari bahwa ia tetaplah seorang manusia biasa. Dan kemudian, ia memilih menjadi seorang ibu dengan mengadopsi sepasang anak miskin dari Kamboja dan Ethiopia.

Apa jadinya jika seseorang lupa diri dengan kekuasaan, harta, dan popularitas yang ia miliki? Rasanya, sudah tidak terhitung lagi “antiklimaks tragis” yang terjadi di seputar kehidupan kita. Di kalangan penguasa, kita pernah mendengar nasib mantan Presiden Ferdinand Marcos, sang diktator dari Filipina. Marcos bukan hanya diturunkan secara paksa dan diusir ke luar negeri oleh rakyatnya, tetapi setelah ia meninggal pun, mayatnya sangat sulit dibawa kembali ke negara yang pernah dipimpinnya.

Sang superstar dunia Michael Jackson tidak pernah membayangkan bahwa akibat popularitas yang dicapainya, akhirnya ia tercabut dari akar kehidupan ini. Karena ingin terus mempertahankan ketenarannnya, ia nekat mempermak wajahnya dengan operasi plastik untuk memperbaiki hidungnya yang kurang mancung. Celakanya, bukan wajah tampan yang ia dapat, tetapi malah wajahnya berubah menjadi bak monster hidup. Dengan wajah mengerikan yang tidak bisa dikembalikan ke bentuk semula tersebut, ia menjadi malu dan berusaha menghindari para penggemarnya. Karena perasaan malu ketemu orang itulah, konon ia akhirnya memilih menjalani kehidupan dengan mengurung diri terus-menerus di ruang persembunyiannya dengan bantuan tabung oksigen.

Siapa yang tidak ingin berkuasa, kaya raya, dan menjadi orang terkenal? Tetapi, setelah semua itu kita dapatkan, “pejabat yang sadar” sebenarnya rindu menjadi rakyat biasa; “miliarder yang sadar” ternyata perlu menyumbangkan sebagian hartanya; dan para “selebritis yang sadar” dengan rela akan meluruskan gaya hidupnya karena merasa tampilan wajahnya yang kian meredup akibat termakan usia.

Bagaimana dengan mereka yang tidak menyadari faktor pembatas alamiah tersebut? Jadilah mereka seperti Marcos, yang karena kehausannya akan kekuasaan, akhirnya setelah meninggal pun orang tidak bersimpati kepadanya. Atau seperti Michael Jackson, yang karena kehausannya akan ketenaran malah akhirnya terpaksa mengurung diri, hidup sendirian tanpa teman.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui email: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Menghargai Pilihan

fi2Oleh: Fita Irnani*

Memasuki pergantian tahun dari 2008 menuju 2009 yang lalu, pastilah menorehkan kisah tersendiri bagi setiap orang di belahan bumi mana pun. Masyarakat Eropa, Amerika, Asia, Australia, dan tidak terkecuali kita di Khatulistiwa, bersuka cita merayakan pergantian tahun. Tradisi count down menuju pukul 00.00 dini hari, tepat di hari pertama bulan Januari diwarnai dengan pesta kembang api aneka warna dan rupa, membangkitkan decak kagum umat manusia atas kreativitas anak-anak negeri. Ingar bingar tontonan musik yang digelar sebagai perhelatan akbar perayaan Old and New, seolah menandai kebangkitan semangat untuk kembali melangkah, mengisi tahun yang baru, dan memperbaiki rencana masa silam di tahun ini.

Namun, benarkah momentum tahun baru selalu diwarnai dengan kebahagiaan, spirit baru, dan keyakinan untuk mantap memijakkan kaki di tahun baru? Saya agak ragu, terlebih ketika teman dekat saya justru mengutarakan keraguannya, untuk tetap melanjutkan prestasi pada perusahaan tempat kami mengabdikan diri di awal tahun ini. Kecewa, sedih, shock bercampur menjadi satu manakala dia mencurahkan isi hatinya. Ada keraguan di matanya, ada kebimbangan dalam suaranya, dan ada air mata manakala dia bertutur perihal alasannya.

Saya hanyut dengan sedu sedannya. Kata-kata manis dan klise pun terlontar dari bibir saya, “Yang sabar ya, jangan gegabah menyimpulkan, coba berpikir positif, jangan terburu-buru mengambil keputusan, kamu belum dapat kerja lagi, lho ….” Saya memahami, sebanyak apa pun saya coba menghiburnya, yang dia butuhkan hanyalah tempat untuk menumpahkan emosinya, dan jadilah saya pendengar terbaiknya kala itu.

Seiring, dengan bergulirnya waktu, saya menangkap kebulatan tekad yang semakin nyata pada dirinya. Inikah akhir pilihannya? Saya masih berharap dia mengubah keputusannya. Saya masih berharap, dia tetap di sini. Ada banyak hal yang masih ingin saya pelajari darinya, namun tampaknya nasi sudah menjadi bubur. Hingga pada suatu hari, memasuki minggu pertama bulan kedua, kebimbangan saya terjawab. Sepucuk pemberitahuan resmi pun dia layangkan. Ada yang berdesir di hati saya, antara percaya dan tidak. Saya baca berulang kali kalimat pengunduran dirinya. Bersyukur, saya lebih dulu menangkap sinyal ‘pilihan lain’ di hatinya, hingga pada hari itu saya tidak terlalu terkejut dengan keputusan terakhirnya.

Dalam kehidupan, kita dihadapkan pada berbagai macam pilihan. Memilih untuk diam atau bergerak; memilih untuk maju atau mundur; memilih untuk tegar atau hancur; memilih untuk memimpin atau dipimpin; memilih yang positif atau justru terperosok ke arah negatif; dan masih banyak lagi pilihan-pilhan lain yang disiapkan Tuhan untuk manusia. Pilihan-pilihan ini bisa menjadi pijakan kokoh bagi hidup kita selanjutnya. Atau, dapat pula menjadi batu sandungan bagi kita, karena setiap pilihan memiliki konsekuensi tersendiri. Ada risiko yang harus ditanggung pada setiap pilihan.

Seperti keputusan sahabat saya di atas. Keluar dari perusahaan dengan kondisi belum memiliki pekerjaan kembali. “Tidak masalah,” katanya pada kami, teman-teman dekatnya, kala mempertanyakan kesiapan dia ‘menganggur’. “Setidaknya, gue bisa fokus merawat anak-anak, gue bisa ada waktu lebih untuk tugas-tugas S-2 gue, ya… Walaupun gue sudah tidak ada ‘bulanan’ lagi, tapi gue harus jalani.” Jawaban yang mantap mengindikasikan bahwa dirinya telah memikirkan keputusan menentukan pilihan dan risiko yang akan dia hadapi.

Tidak jarang dalam mengambil keputusan manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Lalu, bagaimana memutuskan atau memilih yang terbaik? Tuhan menganugerahkan akal dan hati kepada manusia. Akal dipakai sebagai ‘alat’ oleh manusia untuk memutuskan yang terbaik serta memikirkan konsekuensi apa yang mungkin menyertai pilihan-pilihan itu. Akal memegang peranan penting. Akal dapat melihat kebenaran dan dapat pula menuntun hati yang diliputi kebimbangan. Ilham yang diperoleh dari kebersihan hati berperan untuk mempertajam akal. Kolaborasi antara akal dan hati sangat diperlukan untuk melahirkan pertimbangan yang bijak, yaitu pertimbangan yang tidak dimenangkan oleh hawa nafsu atau ketersesatan hati.

Terkadang, hasil pengambilan keputusan tidak selalu berdampak untuk kita sendiri, namun juga berpengaruh kepada orang lain. Bayangkan, jika seorang pemimpin salah mengambil keputusan, akibatnya akan berdampak kepada anak buahnya. Kadang-kadang kita bahkan tidak mengetahui apakah pilihan tersebut benar atau salah. Lantas, bagaimana jika pilihan kita salah? Salah ‘memilih’ bukan berarti kita bodoh. Jangan pernah menyerah, terima dengan lapang dada, karena pada tahap berikutnya kita akan bertemu dengan persimpangan, di mana kita harus memilih kembali.

Saya jadi teringat dengan diri saya sendiri. Pada saat kuliah dulu, saya memilih mengambil fakultas sesuai impian saya. Namun, ketika selesai kuliah, saya justru memilih bekerja di bidang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kuliah saya dulu. Apakah saya telah salah memilih? Atau, apakah Tuhan yang telah memilihkan untuk saya? Tentu saja tidak, karena semua pilihan adalah keputusan saya sendiri. Tuhan hanya menyediakan pilihan yang tak terhitung jumlahnya di setiap detik kehidupan, dan Dia hanya akan mengatur hasil akhirnya.

Kondisi ini akan berulang dan terus berulang dalam kanvas kehidupan kita. Banyak pilihan akan melatih kita mengambil keputusan dan berani menghadapi kesulitan. Bukankah ini juga ujian dari Tuhan yang akan menjadikan hidup kita menjadi lebih hidup dan berwarna? Yang terpenting adalah hargai pilihan kita, hadapi kehidupan dengan gagah, jalani keputusan dengan penuh tanggung jawab, dan yakini bahwa pilihan kita saat ini akan menjadi batu pijakan untuk melompat lebih tinggi.

Dan terakhir, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah berdoa, semoga pilihan kita benar dan tetap berada dalam koridor Tuhan, sehingga kita dapat menerima dengan legowo segala konsekuensinya.[fa]

* Fita Irnani, lahir 13 Juni 1975, menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota Semarang. Saat ini bertempat tinggal di kota Bogor dan bekerja sebagai HR Executive pada sebuah perusahaan multinasional di Jakarta. Fita dapat dihubungi melalui email: acho_fit[at]yahoo[dot] co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Menjadi Manusia “Luar Biasa”

ap1Oleh: Agung Praptapa*

Saya mempunyai hobi unik, yaitu senang mengamati orang sukses. Tidak henti-hentinya saya pelajari,Mengapa ada orang yang sukses dan ada orang yang tidak sukses?” Begitu hebatkah orang sukses? Benarkah mereka luar biasa?

Ukuran sukses memang relatif, tidak ada ukuran yang pasti. Namun demikian, orang sukses ada ciri-cirinya, yaitu mereka “di atas rata-rata”. Ini pula yang saya jadikan pegangan untuk mendefinisikan kata “luar biasa”. Orang yang biasa-biasa saja adalah orang yang “rata-rata” saja, sedangkan orang yang luar biasa adalah orang yang “di atas rata-rata.” Nah, sekarang mari kita pelajari siapa saja orang-orang yang kita sebut “luar biasa” itu.

Setiap manusia memiliki pilihan, menjadi biasa-biasa” saja atau menjadi “luar biasa”. Yang memilih menjadi biasa-biasa saja pada umumnya adalah orang-orang yang suka bermain aman, yang suka menghindari risiko, yang memilih mengalah dari pada mendapat saingan, yang tidak mau kerja ekstra, dan yang mementingkan kenikmatan saat ini daripada harus mencadangkan kenikmatan untuk masa datang.

Di dalam kelompok ini juga termasuk orang-orang yang tidak memilih menjadi luar biasa. Mereka memilih menjadibiasa-biasa” saja, kemudian dalam pemikirannya, kalau memang nasibnya baik, toh bisa jadi luar biasa pula. Orang yang berada dalam kelompok ini membiarkan dirinya mengalir saja, terserah ke mana alam ini akan membawanya. Ini memang tidak salah, hanya seperti saya katakan tadi, ciri-ciri orang yang biasa-biasa saja adalah mereka menempatkan dirinya di dalam kelompok rata-rata. Atau bahkan di bawah rata-rata dan membiarkan dirinya menjadi “objek” yang bisa tertiup angin ke mana pun alam ini membawanya. Bukan sebagai “subjek”. Mereka “diperankan” bukan “memerankan”.

Namun, ada pula orang yang memang dengan sengaja memilih dirinya menjadi “luar biasa”. Orang yang ada di kelompok ini biasanya memiliki impian untuk menjadi luar biasa, mau belajar dari orang lain maupun belajar dari pengalaman hidupnya, dan selalu ingin menentukan keputusan pada dirinya sendiri, “Mau ke mana aku pergi?”

Dari sini kita bisa melihat bahwa menjadi luar biasa bukanlah tentang “where are you from, tetapi tentang “where are you going to go”. Pendapat saya ini bukanlah tanpa dasar. Saya mengamati hal ini bertahun-tahun termasuk mempelajari kisah sukses banyak orang. Keluarga Bakrie yang sempat masuk sebagai 100 orang terkaya di dunia bermula dari tukang rongsok kelilingan.

Bill Gate, yang sekarang dinobatkan menajadi orang terkaya di dunia, tadinya seorang mahasiswa yang “biasa-biasa” saja. Dia bahkan tidak pernah menyelesaikan kuliahnya alias dropout. Robert Kiyosaki, orang kaya yang konsep bisnisnya sangat memengaruhi orang , saat sekolah bahkan sering dianggap sebagai anak bodoh. Yang mengherankan justru Einstein, sang ilmuwan yang tak tertandingi ini juga termasuk anak yang dianggap bodoh di sekolah. Lantas, mengapa mereka menjadi luar biasa?

Mereka yang tadinya biasa-biasa saja, dan kemudian tumbuh menjadi luar biasa, ternyata memiliki cara pandang yang berbeda dengan orang-orang yang kemudian menjadi biasa-biasa saja. Yang pertama, mereka tidak melihat apa yang mereka miliki sebagai “harga mati”. Jadi, kalau mereka saat itu miskin, mereka tidak melihat miskin itu akan selama-lamanya. Saat mereka dianggap bodoh, itu pun bukan sesuatu yang tidak bisa berubah. Saat mereka lemah, mereka berpandangan pada suatu saat akan bisa berubah. Di sini mereka melihat bahwa sesuatu tidak ada yang abadi, termasuk kelemahan (disadvantages) yang mereka miliki.

Yang kedua, mereka yang menjadi luar biasa memiliki kekhasan yang jarang dimiliki oleh orang yang biasa-biasa saja, yaitu: mereka tahu yang mereka mau. Di sini mereka tahu ke mana mereka mau pergi, apa yang akan menjadikan mereka memiliki kepuasan hidup, dan apa yang ingin mereka miliki.

Ini memang sedikit bersifat imaginatif. Tetapi, memang begitu cara mereka mendapatkan yang mereka inginkan. Bahkan, dalam buku-buku manajemen populer kontemporer, sering dibahas apa yang disebut sebagai visioning. Visioning maksudnya menggambarkan dengan jelas apa yang kita inginkan, sehingga ada getaran dan energi yang akan membawa kita menjadi benar-benar seperti apa yang kita gambarkan tersebut. Ujungnya adalah, kita mendapatkan apa yang kita mau.

Ketiga, orang yang kemudian menjadi di atas rata-rata pada umumnya memiliki semangat yang tinggi untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Ini bukan berarti ngeyel atau mau menangnya sendiri, namun dengan kesadaran penuh mereka terus bersabar, satu demi satu langkah mereka bergerak menuju arah yang mereka mau. Mereka ada keinginan kuat dan kesabaran yang luar biasa untuk mendapatkannya. Kondisi seperti ini sering disebut sebagai passion.

Jadi, di sini kita bisa melihat bahwa untuk menjadi luar biasa kita tidak perlu luar biasa. Apa pun keadaan awal kita, sekali lagi itu bukan harga mati. Memahami apa yang kita mau menjadi kunci berikutnya agar kita menjadi luar biasa. Dan kemudian, seberapa besar keinginan kita untuk mewujudkan apa yang kita mau akan menentukan apakah kita bisa menjadi “luar biasa”.

“Anda Luar Biasa!”[ap]

* Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Ia adalah alumni Universitas Diponegoro, Semarang, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Agung telah mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam maupun di luar negeri, termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Saat ini, ia sedang menikmati profesi barunya sebagai penulis manajemen populer. Website: www.praptapa.com, Blog: www.praptapa.unsoed.net Email: praptapa[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Berhasil di Masa Krisis

lnOleh: Lisa Nuryanti*

Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Tetapi, yang penting adalah, apakah setelah melakukan kesalahan dia menyadarinya, lalu mengubah sikapnya yang salah dan kemudian menjadi lebih baik?
Ruli bekerja di sebuah perusahaan yang sedang mengalami krisis. Pabrik yang biasa beroperasi penuh kini hanya beroperasi dua hari dalam seminggu. Bisa dibayangkan betapa sulitnya keadaan tersebut. Tetapi anehnya, Ruli justeru menuntut macam-macam dari perusahaan. Sampai-sampai, bagian SDM memanggilnya dan berusaha menjelaskan keadaan perusahaan. Tetapi, Ruli tetap merasa tidak puas.

Yang menjadi masalah adalah Ruli bekerja di bagian sales (penjualan). Sudah beberapa bulan ia gagal menjual produk perusahaan, sehingga target penjualan tidak tercapai. Selama ini, hasil penjualan Ruli juga tidak bagus. Hanya saja, kadang-kadang memang ada penjualan juga. Yah, kira-kira dua atau tiga bulan sekali.

Kebetulan, marketing manajernya sedang cuti melahirkan, sehingga tidak ada yang mengontrol Ruli. Tetapi, Ruli masih tidak merasakan adanya kesalahan dalam bekerja. Dia hanya menganggur, mengobrol, atau mengunjungi meja kerja teman lain untuk mengobrol.

Berbeda dengan Teny. Dia juga satu tim dengan Ruli. Dulu mereka memang agak santai. Tetapi, sikap Teny kini bertolak belakang. Melihat keadaan penjualan yang sangat jelek, Teny justru semakin rajin bekerja. Dia rajin menelepon dan melakukan follow up terhadap semua kliennya. Memang kelihatannya sia-sia, namun setelah sebulan lebih dia berusaha, ternyata mulai ada penjualan lagi. Hasilnya mulai terlihat.

Selama ini Ruli berpikir bahwa percuma berusaha karena dunia sedang dilanda krisis. Jadi, untuk berusaha pun dia sudah malas. Ruli merasa sulit. Ruli sudah kalah sebelum mulai berperang.
Berbeda dengan Teny, dia tidak peduli krisis. Dia maju terus. Buktinya, usahanya membawa hasil. Klien yang selama ini belum pernah membeli, tiba-tiba mulai melakukan pembelian. Sepertinya tidak mungkin. Tetapi memang sungguh-sungguh terjadi.

Melihat itu, Ruli bukan berubah. Dia malah iri terhadap Teny yang berhasil. Malah Ruli menunjukkan sikap menjauh dari Teny. Aneh. Melihat hal positif, dia malah menjauh dan menolak untuk berubah menjadi lebih baik. Padahal ada contoh bukti nyata yang memastikan bahwa apabila dia melakukan hal yang sama, maka usahanya tidak akan sia-sia.

Orang yang mau berusaha, mengubah sikapnya yang salah dan tidak kenal menyerah, pasti akan merasakan hasilnya. Always try to do better, the results will be better![ln]

* Lisa Nuryanti lahir di Yogyakarta pada 21 Agustus dan alumnus Teknik Arsitektur Universitas Parahyangan, Bandung. Ia adalah Master Trainer dan President Director Expands Consulting. Berpengalaman bekerja di beberapa perusahaan, seperti PT Sandoz Biochemie sebagai Product Manager, di PT Tempo Scan Pacific sebagai Product Manager, di Sewu New York Life sebagai Branch Manager, serta delapan tahun menjadi International Director John Robert Powers, kini ia mengelola Expands Consulting dengan bidang bisnis Training SDM. Selain sebagai motivator dan master trainer soft skill, Lisa juga menjadi fasilitator di berbagai perusahaan training lainnya. Ia paling cinta dengan dunia training dan memberikan pelatihan personal development dan soft skill yang hidup, fun, dan aktif. Lisa dapat dihubungi melalui email: expands[at]cbn[dot]net[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Spirit of Change

Relon StarOleh: Relon Star*

“Jika Anda punya mobil tua dan Anda mengecatnya kembali dengan warna baru,

maka sesungguhnya mobil itu bukanlah mobil neos,

sebab secara usia, mobil itu tetaplah mobil tua.”

~ Yosi Rorimpandei

Ada yang bilang, kalau kita tidak berubah, bisa mati. Karena, perubahan itu sendiri akan melindas kita, sehingga kita jadi tertinggal jauh di belakang. Tetapi, kalau terlalu sering berubah, bisa membuat orang tergoda untuk berkata, Dia harus belajar konsisten!” Lalu, mana yang benar?!

Belakangan, banyak orang berbicara tentang perubahan. Sewaktu Barack Obama mengumandangkan slogan, yang menariknya ke puncak tertinggi kepemimpinan di Amerika—Yes, we can change”—seketika itu juga orang-orang heboh membicarakan perubahan. Tetapi sayangnya, perubahan itu tidak hanya untuk dibicarakan. Perubahan tidak sekompak itu dengan hidup kita. Ia tak mau hanya dibicarakan, tetapi perlu ditindaki.

Orang yang tidak mau melakukan perubahan, jangan bermimpi mendapatkan hasil yang maksimal. Jangankan bicara soal sukses, berada di garis rata-rata saja sudah lumayan. Memang benar pendapat yang mengatakan bahwa kegagalan itu sukses yang tertunda. Bahkan, Edward Dowden menyatakan, Kadang-kadang suatu kegagalan yang mulia melayani dunia sama setianya seperti sukses yang terhormat.” Tetapi, jangan terlalu mengakrabi kegagalan, sehingga Anda sulit melakukan perubahan untuk mencapai sukses.

Saya menganalisis, ada empat hal yang dapat membawa kita ke dalam perubahan, yaitu:

1. Buatlah keputusan untuk berubah

Sebelum Anda melangkah lebih jauh kepada perubahan, putuskan terlebih dahulu untuk berubah. Perubahan bukanlah perubahan sampai terjadi perubahan,” sebuah slogan yang sering kali dikumandangkan. Nyatanya, perubahan itu sendiri perlu keputusan. Anda perlu memutuskan untuk berubah, dan Anda sendiri yang harus mengambil keputusan tersebut. Anda tidak harus bergantung pada orang lain untuk mewujudkan perubahan, tetapi Anda yang sangat bertanggung jawab mengambil keputusan untuk berubah. Karena sering kali, perubahan-perubahan kecil yang kita lakukan, bisa berdampak besar.

Biarkan saya memberi contoh. Kekurangan saya yang paling fatal adalah pelupa. Padahal, profesi saya sebagai penulis dan pembicara sangat membutuhkan daya ingat yang kuat untuk segala aktivitas saya. Lalu, apa yang saya lakukan? Apakah saya tinggal diam dan meratapi kekurangan saya itu? No, itu tidak membantu. Langkah pertama yang saya lakukan, saya putuskan untuk berubah. Menyadari bahwa saya ini pelupa, saya mulai putuskan untuk lebih kuat mengingat segala hal yang penting. Misalnya, dengan mencatat segala hal yang harus dilakukan hari ini.

Setelah beberapa kali melakukan, ada kalanya saya gagal. Tetapi, setelah mencoba beberapa kali, resep ini cukup manjur dalam membantu perubahan saya.

2. Buatlah perubahan yang ACHIEVABLE (dapat dicapai)

Jangan terlalu muluk-muluk dalam melakukan perubahan. Nanti Anda sendiri yang stres karena tidak dapat mencapainya. Sebagai contoh: kalau Anda ingin menurunkan berat badan Anda, tetapkan berapa kilogram yang sanggup Anda capai. Kalau Anda ingin menurunkan lima kilogram berat badan Anda, tetapkan dulu dua kilogram. Setelah berat badan Anda turun dua kilogram, lanjutkan pencapaian Anda sampai berhasil turun lima kilogram. Mudah, bukan?

Buatlah perubahan yang achievable. Saya lebih senang menggunakan bahasa Inggris, karena lebih mendekati arti yang sesungguhnya. Banyak orang mundur sebelum melakukan perubahan—dan akhirnya tidak berubah—karena mereka menetapkan target perubahan yang sulit dicapai. Jika Anda sendiri sulit mencapainya, siapa lagi yang dapat membantu Anda melakukan perubahan?

Masih ingat contoh kekurangan saya yang disebutkan di atas? Pelupa. Target saya, untuk hari ini saya mengingat, misalnya, lima hal yang harus saya lakukan—yang benar-benar penting. Saya kemudian mencapainya. Setelah saya mencapainya, saya tambahkan lagi berapa hal lainnya yang harus saya ingat. Itu salah satu usaha saya menuju pribadi yang sukses. Karena, perubahan kecil yang saya lakukan sekarang menentukan hasil saya beberapa tahun ke depan.

3. Berubah tanpa tapi

Banyak orang ingin berubah, tetapi dengan melakukan banyak persyaratan. Saya mau meningkatkan kinerja saya, asalkan bos menaikkan gaji saya. Walah! Perubahan yang seperti ini merepotkan. Merepotkan diri Anda maupun orang lain. Ada lagi yang beralasan, saya mau berubah asal suami saya mendukung perubahan saya.

Perubahan hanya bisa dilakukan tanpa ’tapi’. Berubahlah untuk diri Anda sendiri. Jika Anda melakukan perubahan, Anda sendiri yang akan menikmati hasilnya. Lakukan perubahan itu sekarang atau tidak sama sekali!!

4. Berikan REWARD untuk perubahan Anda

Jika Anda telah melakukan upaya perubahan—sekecil apa pun itu, berikan reward atau penghargaan untuk diri Anda sendiri. Ada seorang psikolog bercerita pada saya, ia mempunyai anak yang sangat malas. Nilai pelajarannya selalu jelek, beda sekali dengan kakaknya. Psikolog ini bingung apa yang harus ia lakukan, padahal ia seorang psikolog.

Lalu, ia mencoba konsultasi pada psikolog lainnya. Jawaban sederhana yang didapatnya, Berikan reward (penghargaan) untuk hal sekecil apa pun yang menunjukkan perubahannya. Puji dia atas usahanya.” Maka, mulailah ia menyemangati anaknya untuk meningkatkan nilai-nilai pelajarannya. Dari angka 2,8 berubah menjadi 3,2. Lalu, ia memuji usaha anaknya itu. Walaupun dalam hatinya dongkol karena nilainya masih tetap jelek. Setiap kali nilai anaknya meningkat, ia memberikan pujian. Dan, saat ini anaknya telah berhasil mencapai nilai cum laude di tempat kuliahnya.

Sedikit perubahan yang kita lakukan, tetapi jika dilakukan secara konsisten bisa menelurkan hasil yang besar di kemudian hari. Berikan penghargaan atas perubahan yang Anda lakukan sekarang, jangan kaget atas hasil besar yang Anda capai kemudian hari. Tunggu apa lagi? Mulailah lakukan perubahan![rs]

* Relon Star adalah seorang public speaker dan penulis buku Run or Die (2008). Saat ini ia bekerja sama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, aktif mengisi seminar-seminar serta penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai bahaya narkoba. Relon dapat dihubungi melalui email relonstar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Label Seorang Penulis

fa1Oleh: Fida Abbott

Apakah Anda menganggap diri sendiri sebagai seorang penulis? Apakah Anda dikenal sebagai seorang penulis oleh khalayak umum? Termasuk jenis penulis apakah Anda? Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin pernah terlintas di benak seseorang sebagai penulis.

Tiga puluh tahun silam, menulis merupakan bagian dari salah satu kegiatan sekolah bagi saya, seperti mengerjakan pekerjaan rumah yang telah diberikan oleh para guru, termasuk di dalamnya menulis halus. Setelah mengenal mata pelajaran Bahasa Indonesia yang mengajarkan tentang mengarang, saat itu saya mulai mengenal salah satu dunia baru. Mengarang awalnya menjadi suatu hal yang cukup mengasyikkan, meskipun akhirnya saya pun sedikit bosan karena tema yang diberikan selalu mengenai hari libur sekolah, mengunjungi nenek di desa, berkebun, membantu ibu di rumah, dan sejenisnya.

Tak ada satu hal yang lebih menarik dari hal tersebut, waktu itu, meskipun saya tergolong masih terlalu muda untuk berpikir ke arah sana. Untunglah, berkat asahan sang Ayah, mulai terbukalah banyak ide dalam menulis. Beliau merupakan salah satu sosok yang turut andil dalam mematri pertumbuhan saya dalam tulis-menulis, meskipun tak selamanya beliau memantau karena tugas negara yang diemban. Paling tidak beliau telah mengarahkan sesuatu kepada saya. Menulis apa saja, yang dilihat, dipikirkan, dirasakan, dialami, diinginkan, dan sebagainya.

Walaupun aktivitas menulis hanya sekadar pengisi waktu, akhirnya membuahkan sesuatu di saat saya berusia sekitar 13 tahun. Saat itu, majalah sekolah akan dipublikasikan pertama kali, dan setiap siswa diharapkan berkontribusi. Tanpa pikir panjang pun ajakan itu menyulut hasrat saya untuk menulis sesuatu. Sesuatu yang pernah terlintas di pikiran saya dan terbuang begitu saja.

Tanpa terasa, dalam waktu tak berapa lama, saya menyelesaikan sebuah cerpen remaja yang saya tulis untuk pertama kalinya. Setelah itu, tanpa pikir panjang lagi, saya meminjam mesin ketik tetangga dan mulailah saya mengetik serta menyerahkannya di hari berikutnya. Puas rasanya, tiada terkira. Kepuasan itu sedikit pudar setelah mengingat berapa jumlah murid di sekolah saya. Kalau murid kelas I SMP di sekolah saya berjumlah sekitar 38-40 murid per kelas, dan apabila jumlah kelas I saat itu adalah sepuluh kelas, maka untuk murid kelas I saja sudah berjumlah 380-400 orang siswa. Jumlah itu belum terhitung untuk kelas II dan III.

Akhirnya, perasaan ciut juga untuk berharap cerpen saya akan dipublikasikan. Apalagi sekolah saya termasuk salah satu sekolah favorit di Kota Pahlawan, yang anak-anaknya umumnya berlevel cukup diperhitungkan di peringkat SMP Negeri. Kesimpulannya, umumnya mereka pandai-pandai dan sangat kreatif. Perasaan itu terus menghantui yang mengakibatkan saya tak lagi memikirkannya, apalagi berharap akan dimuat.

Setelah beberapa minggu berlalu, tiba-tiba seorang pengurus OSIS masuk ke ruangan dan menyerahkan majalah sekolah volume I kepada Ketua Kelas untuk dibagikan ke setiap siswa. Tak berharap apa pun, saya buka majalah itu. Dan, betapa terpananya ketika cerpen saya dimuat di halaman berikutnya sebagai cerpen utama. Jantung saya berdebar mengikuti rasa gembira yang tiba-tiba memuncak. Bahagia tak terkirakan dan tak dapat dikatakan lewat untaian kata. Sejak saat itu saya mulai melirik kemungkinan menulis cerpen lagi, juga puisi untuk majalah sekolah, yang akhirnya tak lama usia keberadaannya.

Beruntunglah, setelah beberapa tahun kegiatan menulis saya berhenti, saya masih memiliki sahabat-sahbat di bangku SMA yang sama-sama menyukai dunia tulis-menulis. Ajang tulis-menulis menjadi meningkat saat itu. Kalau dulu di SD hanya untuk mengisi waktu luang, di SMP untuk mengisi majalah sekolah, maka di SMA saling berlomba mengirimkannya ke surat-surat kabar lokal dan jenis-jenis lomba lainnya yang digelar di Kota Pahlawan.

Masa mahasiswa pun tiba. Fakultas Pertanian yang telah saya pilih tak memungkinkan saya memfokuskan diri ke dunia tulis-menulis lagi. Setiap hari tugas praktikum menumpuk dan harus diselesaikan bila ingin mengikuti praktikum berikutnya. Hingga terkadang, di akhir pekan pun terisi hanya untuk mengerjakan tugas-tugas praktikum. Tak ayal keingingan menulis tenggelam begitu saja.

Masa-masa bekerja juga menyita waktu. Kegiatan menulis pun tak terpikirkan sama sekali. Setelah kepindahan ke Amerika Serikat, salah satu teman setia saya adalah komputer dan internet. Tidak pernah terlewat sehari pun untuk online meskipun hanya mengecek email saja. Suatu hari, saya menemui blog seorang penyair muda yang cukup terkenal, dan sebuah karyanya yang sangat saya sukai dan telah menyentuh hati saya. Dia juga salah seorang rekan dari salah satu sanak famili saya di Surabaya.

Langsung saja saya mencoba menyapanya dengan mengirim sebuah email kepadanya dan disambut dengan baik. Di akhir email-nya dia mengajak saya untuk membuat sebuah blog yang menurutnya sebagai tempat untuk mencurahkan perasaan saya. Istilah umumnya sebagai tempat curhat. Awalnya, benar-benar saya tak mengenal sama sekali mengenai dunia blog, tetapi ajakan itu membuat saya sangat tertarik untuk mencobanya.

Betapa senangnya saya, akhirnya memiliki sebuah blog, meskipun sangat sederhana sekali. Setelah mulai berselancar, saya merasa blog saya tak ada apa-apanya bila dibanding dengan blog lain yang telah saya kunjungi. Atau mungkin dengan perkataan lain, blog saya adalah yang terjelek. Hal ini mengusik hati saya. Mulailah belajar sedikit demi sedikit, dari yang tak mengenal kode HTML, saya mulai belajar sendiri meskipun hanya dasarnya saja. Saya juga mulai melakukan improvisasi sedikit demi sedikit, baik itu penampilan blog maupun content-nya. Ini tidak memerlukan waktu yang pendek. Berbulan-bulan saya belajar sendiri, terutama dalam hal menulis yang tentu saja berpengaruh setelah sekian lama lebih dari 10 tahun lamanya tidak pernah menulis.

Waktu pun berlalu. Dunia blogging sudah menjadi bagian dari aktivitas saya. Rekan-rekan blogger dari berbagai latar belakang telah mengenal saya, bahkan secara terus terang menyatakan kalau mereka menyukai tulisan-tulisan saya, karena memberikan berkat dan inspirasi kepada mereka. Tidak berlebihan bila pernyataan tersebut membuat saya bersyukur, karena memang itulah niat saya ber-blogging-ria. Tidak untuk tempat curhat, tetapi untuk berbagi kepada sesama. Mendengar betapa rekan-rekan blogger menyukai berkunjung ke blog untuk membaca tulisan-tulisan atau warta terbaru saya, sudah merupakan sebuah tanda bahwa di mata mereka saya cukup berpotensi dalam dunia menulis.

Tahun 2008 saya pun terpilih menjadi salah satu finalis untuk kategori blog Personal di ajang Christian Indonesia Blogger Festival (CIBFest 2008). Tujuan saya mengikuti festival itu tidak lain hanya ingin melihat sejauh mana kemampuan saya untuk berkiprah di ajang nasional, sekaligus menimba pengalaman dari ajang tersebut. Jadi, bukan melihat hadiahnya karena terus terang saya pun tidak tertarik dengan hadiahnya, sebuah Ipod Touch untuk pemenangnya. Selain jenis hadiahnya, juga pasti tak akan dapat digunakan di AS karena bentuk electrical penghubungnya pun sudah berbeda. Dan, tak mungkin juga mereka akan mengirimkannya ke AS karena biayanya yang mahal. Bisa jadi, lebih mahal ongkos pengirimannya daripada harga Ipod Touch itu sendiri.

Dua alasan di atas itulah yang mendorong saya mengikuti festival itu. Template lama pun tidak saya ubah, tetapi mengandalkan content-nya saja. Beruntunglah, meskipun hanya sebagai finalis dari ratusan peserta, sudah cukup membuat senang untuk mengukur kemampuan.

Ajang dunia blogging menjadi perhatian saya. Bulan Februari 2009, saya masuk nominasi Best Personal Development Blog di sebuah ajang kontes. Kali ini bukan tingkat nasional tetapi bertaraf internasional. Saingannya pun cukup berat. Saya bersyukur dengan komentar dan voting yang masuk mendukung saya, juga termasuk penilaian team mereka, blog saya pun terpilih sebagai Honorable Mention bulan Februari 2009. Predikat ini tak lebih berpengaruh selain untuk keperluan dunia blogging saja, melainkan komentar-komentar yang ditujukan oleh rekan-rekan blogger itulah yang sebenarnya membuat saya terharu. Benar-benar di luar dugaan dan telah menyentuh hati saya.

Beberapa komentar yang masuk, baik di ajang contest atau melalui email menjadi perhatian saya adalah sebagai berikut:

- 10 stars for Fida! One of my favorite friends online, with a passion to blog and write. Her published work continues to inspire me to be the best writer and blogger I can be, good luck Fida! You rock! (Mariuca, Malaysia)

- The first time I visited her blog, I like to stay there to read all about her personal blog and that time I felt I wanna be her friend. I tried to visit her blog every time if I was blogwalking. Now, we know each other although through bloggosphere world. One day I have to meet her. (Bintang, Dubai)

- My Vote is 10 stars for her!!!!
She is a great and an inspirational woman. I love to read what she wrote. They are different. She presented in her own different ways in her writing style. Never boring to read them. Good luck and success for you!!!! (BaikBear, USA)

- I just Vote 10 Stars, my dear friend. You are an extraordinary woman blogger. Salut! (Wuryanano, Surabaya)

- Madame Fida, I’ve voted for you 10 stars. I know, you are an extraordinary woman, but the most important, your writings inspired to others people. Good Luck! (Sahala, Jakarta)

- Fida’s blog is very useful, inspiring, and motivating me… really. (Edy Zaqeus, Tangerang).

Awal bulan Februari, seorang rekan blogger telah mengundang saya untuk berkontribusi di website motivasi AndaLuarBiasa.com. Dia diminta untuk mencari seorang penulis wanita yang memberikan inspirasi-inspirasi dalam tulisannya. Betapa terkejutnya saya menerima email-nya, ternyata secara diam-diam ia pun memberikan perhatian kepada tulisan-tulisan saya. Kalau pun saya telah dianggap menjadi seorang penulis inspirasional, tanpa pernah terbersit satu pun di benak dan pikiran saya, pernyataan itu merupakan anugerah yang harus diemban untuk terus berbagi melalui tulisan-tulisan saya. Menjadi berkat untuk sesama adalah yang utama bagi saya yang telah menjadikan kegiatan tulis-menulis bagian dari kehidupan saya saat ini.

Apabila Anda mengalami hal serupa, itu merupakan suatu biji yang keluar dari sebuah bunga. Biji itu harus ditumbuhkan pada lahan yang sesuai untuk dapat tumbuh dan berkembang. Hasilnya akan menjadi berkat untuk sesama, entah itu menghasilkan buah yang nikmat atau bunga yang indah.

Suatu hari suami saya pernah berkata bahwa sebagai penulis yang ingin memublikasikan buku-bukunya untuk pertama kali, jangan berharap buku itu akan jadi bestseller. Saya menjawabnya, apabila saya memublikasikan sesuatu, tujuan utama bukan untuk menghasilkan dan mengumpulkan materi, atau menjadi terkenal. Tetapi, jauh di lubuk hati, saya berharap akan banyak menarik minat pembaca yang telah terispirasi oleh tulisan-tulisan saya. Kalaupun menjadi bestseller, itu merupakan suatu anugerah dan sebuah berkat berikutnya yang patut disyukuri.

Kemarin, hari Kamis, 19 Februari 2009, saya menerima sebuah email dari seorang penulis dari salah satu international writer community, sebuah website tempat para penulis bergabung. Ia menulis:

Fida: I read your autobiography article and was impressed with your story. I live in Pennsylvania, too, at the other end of the state from you, in Indiana, PA. I have a friend at the university here, IUP, who is from Indonesia as well. He is from Jakarta.

Memang tanpa diduga artikel saya itu pernah bertahan beberapa bulan sebagai artikel top dari 68 artikel yang masuk, dan saat ini telah berbulan-bulan lamanya bertahan di peringkat kedua. Tentu saja menjadi perhatian bagi mereka yang ingin menulis pada judul yang sama.

Tanpa pikir panjang, saya langsung membalasnya mengucapkan terima kasih. Pagi ini saya mendapat email balasan darinya, memberitahukan bahwa email saya telah masuk ke junk email, dan telah terhapus. Ia meminta saya untuk mengirimkan kembali email balasan saya yang pertama. Sebelum saya membalasnya, terlebih dahulu ingin rasanya mengetahui siapa gerangan penulis tersebut melalui halaman profilnya. Betapa terkejutnya, ternyata ia adalah seorang penulis profesional, mendapat tiga bintang untuk karya-karya tulisnya, dan telah meletakkan saya sebagai penulis favoritnya, hanya seorang.[fa]

Coatesville, 20 Maret 2009

* Fida Abbott adalah Arek Suroboyo yang lahir pada 11 Pebruari 1970 di Surabaya dan sekarang tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia mengenal dunia tulis menulis sejak usia 8 tahun hasil didikan langsung ayahndanya, Imam Sujono, dan melahirkan cerpen remaja pertamanya berjudul “Kidung Kasih untuk Lintang” pada usia 13 tahun. Menulis merupakan aktivitas lulusan Pertanian jurusan Agronomi dari UPN ‘Veteran’ Surabaya ini. Fida memiliki beberapa pengalaman kerja di bidang landscape, dari proyek kecil hingga besar, dari perumahan tunggal, real estate, hingga hotel, kondominium, apartemen berbintang lima di Surabaya. Ia pernah berkarier di AIG-Lippo, jadi guru les privat, dan kini tercatat sebagai WALMART Associate, menjadi Redaktur Pelaksana Harian Online KabarIndonesia (HOKI), www.kabarindonesia.com sekaligus Direktur Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH). Tulisan-tulisannya tersebar di beberapa media online, antara lain di KabarIndonesia, Helium, Cross-Written, The Daily Avocado, dan ketiga blog-nya di www.fidaabbott.com, www.buanainspiration.blogspot.com dan www.abbottsbooks.com. Fida adalah penulis buku What Prayers does Mommy Teach Me, Dancing in My World, dan buku seri Amerindo Kitchen. Buku seri pertama Amerindo Kitchen sudah terbit dengan judul Fabulous Leftover Turkey.


VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Menghapus Dosa Ekstensial dengan Menulis

snOleh: Sofa Nurdiyanti*

Banyak dari kita yang tidak menyadari arti sebuah tulisan. Sehingga, kita sendiri mengabaikannya, dan tidak menganggapnya sebagai sebuah senjata, bagi pembebasan ide yang terpenjara dari hati dan pikiran kita. Bukankah kebebasan adalah hak kita? Dan, sebuah tulisan adalah salah satu warna indah bagi segala perjuangan kita.

Masih ingat dengan berbagai tulisan Sang Proklamator, Soekarno, tentang kemerdekaan? Pada masa penjajahan Jepang di Indonesia, dengan lantangnya Soekarno meneriakkan keinginannya dan keinginan bangsanya untuk merdeka. Dipenjarakan berkali-kali, tetapi itu tidak membuatnya jera dalam menulis, demi menularkan semangat kemerdekaan pada kaum pemuda Indonesia di masa itu. Apa jadinya jika para perintis kemerdekaan tersebut tidak menuliskan ide-idenya? Akankah kita dapat menikmati kemerdekaan? Walaupun, hingga kini pun, kita belum sepenuhnya merdeka dari warisan-warisan kultur penjajahan yang selama ini membelenggu kita.

Tulisan, sebuah hal besar yang artinya sering dimaknai kerdil oleh sebagian orang. Betapapun cemerlangnyaatau sedahsyat apa pun ide kitatanpa ditulis dan ditunjukkan pada orang lain, hal itu akan menjadi sia-sia. Karena apa? Karena kita sendirilah yang menilai, menikmati, dan membanggakan semua ide tersebut. Tidak ada orang yang akan turut serta menilai, memberi komentar, dan mendiskusikan buah dari pikiran kita.

Ide tidak akan terwujud nyata jika kitasebagai pemilik atau penemunya—tidak berusaha memublikasikannya ke khalayak. Karena, bisa jadi orang yang membaca tulisan-tulisan kita dapat merasakan hal yang sama, dan bahkan mau turut serta memperjuangkan ide-ide kita.

Banyak hal terjadi, dan kita lupa bahwa sejarah adalah hal berharga yang dapat kita jadikan sebagai pembelajaran bagi generasi selanjutnya. Siapa yang akan menuliskan sejarah tersebut? Kita atau orang lain yang mempunyai pandangan yang berbeda, atau bisa juga seorang penulis yang menulis dengan mengatasanamakan kepentingan tertentu. Sejarah adalah hal yang tidak boleh dimanipulasi.

Dan, generasi mendatang berhak mendapatkan sejarahnya yang asli, tanpa diwarnai oleh kepentingan tertentu yang merusak sejarah itu sendiri. Menuliskannya merupakan salah satu upaya yang bisa kita tempuh dalam memperkaya pandangan dan objektivitas suatu peristiwa. Menulis akan menjadikan belenggu-belenggu tertentu lepas dengan sendirinya.

Tak dapat dimungkiri, selama ini kita terlalu terpaku dengan berbagai hal yang membuat kita terpenjara dan menenggelamkan potensi kita. Bisa jadi, dengan terpenjaranya berbagai potensi diri tersebut, maka kita mempunyai dosa ekstensial. Maksudnya, dosa yang tercipta karena kita terlalu terpaku dan tunduk pada penghalang-penghalang internal, yang membuat kita tidak mampu memperjuangkan segala potensi diri.

Apakah kita sungguh-sungguh tidak mampu memperjuangkan ide kita? Atau, apakah kita yang terlalu takut dengan perjuangan sebuah kemerdekaan diri maupun ide? Banyak hal yang bisa kita perjuangkan dan harus kita perbaiki. Dan, salah satu senjata perjuangan pemerdekaan diri, ide, dan potensi adalah dengan menulis.

Menulislah dan sebarkan ide Anda kepada orang-orang di sekitar Anda, setidaknya agar Anda tidak mempunyai dosa ekstensial. Apa pun yang terjadi kemudian, paling tidak kita telah memperjuangkan dan berusaha memberitahukannya pada orang lain. Ketidakmampuan diri sesungguhnya adalah ide ciptaan kita sendiri, sebagai dalih/pembenaran atas semua alasan enggannya kita dalam memperjuangkan ide-ide kita.

Kepribadian dan pemikiran seseorang dapat dilihat dari tulisannya. Dari sebuah tulisan kita dapat mengetahui dinamika perkembangan idealisme, kematangan pemikiran, sikap, serta derajat intelektualitas seseorang, yang ternyata tidak cukup dinilai berdasarkan gelar formal semata.

Tulisan seseorang sering kali dijadikan sebagai cermin dalam menilai eksistensi dan apresiasi orang terhadapnya. Banyak penulis yang dihargai karena pemikirannya. Sementara, jarang ada orang yang dihargai dengan tulus karena kekayaan materinya semata. Hal ini menunjukkan bahwa tulisan, sesungguhnya, mampu mendobrak belenggu “kasta-kasta sosial yang mungkin hidup dalam masyarakat mana pun.

Seperti sosok aktivis mahasiswa legendaris kita, Soo Hok Gie, yang dicintai orang-orang muda waktu dulu hingga sekarang, karena tulisan-tulisannya yang sangat kritis pada pemerintahan di masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru. Mulai dari satpam, tukang sapu, buruh, pedagang, dan kalangan bawah lainnya, begitu mencintai sosok ini. Mereka merasa sangat kehilangan saat mendengar kabar kematiannya.

Soe Hok Gie tak hanya dikenal, namun juga dikenang sebagai sosok yang berani menyuarakan perubahan dan pembaharuan. Ia terus menulis walaupun berbagai teror selalu menekannya. Bahkan, keluarganya sekalipun pernah mengacuhkan karya-karyanya. Ia bergeming, karena yang dipikirkannya bukan soal apresiasi orang lain, namun demi menyampaikan suara hatinya pada orang lain. Sekarang, banyak orang mengagumi sosoknya, berusaha mengumpulkan berbagi tulisan dan membukukannya, termasuk membuat film sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan idealismenya.

Tulisan-tulisan, buku-buku, serta film tentang Soe Hok Gie bisa menjadi stimulus bagi kita dalam mengembangkan semangat perjuangan di segala hal. Persoalannya, terkait dengan kekuatan tulisan dan semangat aktivis legenda ini, apakah kita akan meneruskannya atau sekadar menjadi penonton semata?

Ide yang kita perjuangkan merupakan perwakilan atau cerminan jati diri atau potensi kita, yang dapat membangkitkan semangat kita dalam meraih cita-cita. Tak masalah jika akhirnya tidak ada orang yang mau mendukung ide-ide kita. Karena, setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda. Padahal, kita juga tidak berhak memaksakan kehendak atau gagasan kita pada orang lain.

Hal paling penting dari semua usaha kepenulisan kita itu adalah pembebasan ide-ide dari penjara ketakutan akan dicemooh oleh orang lain; ketidakpercayaan diri sebagai pembunuh aktualisasi potensi diri; dan ketidakyakinan akan kemampuan diri sendiri. Kita semua bisa menulis. Kita pun sesungguhnya mampu merontokkan belenggu-belenggu mental yang merugikan dan melukai harga diri kita, sebagi manusia bebas merdeka yang berhak menyampaikan gagasan dan pemikiran sendiri.

Puncak kemerdekaan seseorang terletak pada terbangunnya semangat dan keberanian untuk perjuangan ide-ide sendiri. Tidak peduli dengan intensitas kita dalam menulis serta ada-tidaknya pengahargaan orang lain atas karya kita. Sebab, yang lebih penting adalah kemauan dan sikap pantang menyerah kita dalam memperjuangkan ide-ide kita. Apalah arti diri kita ini jika untuk memperjuangkan ide saja kita sudah tidak punya keberanian lagi?[sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa semester VI Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia suka membaca buku dan saat ini aktif menulis di majalah “eksis”, sebuah wadah jurnalistik di fakultasnya. Tulisan-tulisannya tersebar di sejumlah website motivasi seperti www.andaluarbiasa.com, www.andriewongso.com, dan www.pembelajar.com. Ia juga tengah semangat berlatih supaya kelak mampu menjadi penulis dan trainer andal. Email: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Apakah Hanya Anak yang Durhaka?

Iftida YasarOleh: Iftida Yasar*

Banyak cerita tentang bagaimana seorang anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya, yang akhirnya dikutuk menjadi batu seperti si Malin Kundang. Dari kecil, kita diajari untuk patuh kepada orang tua, menghormati, dan mentaati perintahnya. Anak yang menurut apa kata orang tuanya akan selamat, dan yang tidak menuruti nasihat orang tua akan celaka.

Kebanyakan orang tua masuk dalam kategori baik dan normal sehingga antara nasihat dan perbuatan seiring sejalan. Anak akan mengikuti nasihat orang tuanya jika ia juga tahu bahwa orang tuanya melakukan hal-hal yang dinasihatkannya. Orang tua yang mengajarkan disiplin, misalnya bangun pagi, dan jika mereka juga bangun pagi setiap hari, maka akan menularlah kebiasaan bangun pagi itu kepada keluarganya.

Sebaliknya, jika antara nasihat dan perbuatan tidak seiring sejalan, bahkan bertolak belakang, maka anak akan sulit menuruti nasihat orang tuanya. Orang tua yang merasa bahwa nasihat itu hanya berlaku untuk anaknya, dan bukan kepada dirinya juga, akan kesulitan dalam memberikan pengertian kepada anaknya. Contoh paling nyata adalah jika kita tidak pernah terlihat melakukan salat lima waktu, bagaimana kita dapat membuat anak kita salat? Mungkin, waktu masih kecil mereka bisa dipaksa melakukan hal itu. Tetapi, pada saat mereka sudah mampu berpikir, apalagi sudah dewasa, maka nasihat orang itu tidak berlaku.

Beberapa teman sering mengeluhkan bagaimana perilaku orang tua mereka. Ada yang tidak memikirkan sama sekali bagaimana persiapan pensiunnya. Pada waktu muda dan masih menjabat, uang dihabiskan untuk kesenangan diri sendiri. Pada saat sudah tidak mempunyai penghasilan lagi, gaya hidup enak sudah tidak bisa diubah. Kebiasaan hidup senang, makan enak, baju bagus, dan bepergian ke mana saja dia suka tidak dapat ditinggalkan. Hasilnya, sedikit demi sedikit uang yang tersisa jadi habis, lalu mulailah menjual harta benda yang ada, bahkan sampai tidak mempunyai apa-apa sama sekali.

Memang, kewajiban anak adalah menjaga dan merawat orang tuanya pada saat mereka sudah tidak mampu. Di sisi lain, orang tua juga harus sadar atas kemampuan anaknya. Jika kebetulan mempunyai anak yang berlebihan dan cukup, mungkin tidak ada persoalan lagi. Tetapi, jika anak hidupnya pas-pasan, seharusnya orang tua memahami keadaan ini. Kalaupun anak hidup berkecukupan, alangkah indahnya jika kita sebagai orang tua tidak menggantungkan diri sepenuhnya kepada anak. Untuk orang tua yang memang keadaannya tidak mampu dan mengharapkan agar anaknya gantian menjaga serta merawat mereka, memang itu bisa dimaklumi.

Yang ingin saya bicarakan di sini adalah orang tua yang tidak mempersiapkan hari tuanya, padahal sebenarnya mereka mampu. Ada orang tua yang tidak mau tahu dengan keadaan anaknya. Mereka, dengan gaya hidupnya yang tidak mau susah, akhirnya bisa menjadi beban anaknya. Keadaan rumah tangga anak pun dapat menjadi panas dikarenakan urusan mertua dan orang tua yang tidak ada habisnya.

Ada juga orang tua yang senang menjalin hubungan dengan orang lain, dalam arti mempunyai affair atau kawin cerai, tanpa memikirkan bagaimana nasib anaknya. Yang dikejar hanya kesenangan dirinya sendiri. Sebagian laki-laki muslim—dengan dalih mampu dan mengikuti sunnah Rasul—mereka melakukan poligami. Jika dilakukan dengan baik dan terbuka, serta dimusyawarahkan dengan baikapalagi jika dapat berlaku adil terhadap keluargamaka keadaan akan aman dan damai. Biasanya, yang terjadi justru sebaliknya, selingkuh atau kawin lagi dilakukan dengan diam-diam. Jika ketahuan akan terjadi keributan. Bisa juga mereka yang doyan kawin cerai, hanya mengurus istri dan anak yang terakhir saja, sementara anak-anak dari perkawinan yang terdahulu tidak diurus lagi.

Ada teman perempuan saya yang sudah kawin cerai sebanyak tiga kali. Setiap kali kawin pasti mempunyai anak, dan ketika bercerai semua anak ikut dia. Masalahnya, selain beban ekonomi juga ada masalah antara anak dengan bapak tirinya, atau dengan keluarga suaminya. Biasanya, perempuan menjadi rentan atau stres, berakhir dengan marah-marah dan pelampiasan kepada anak-anaknya yang tidak berdosa.

Dari cerita teman saya itu, suami ketiganya yang diharapkan terakhir, ternyata hanya bertahan baik selama setahun pertama saja. Sekarang, suaminya mulai main judi dan tidak memberikan nafkah lagi. Apa ini nasib? Atau, apakah ini disebabkan karena teman saya itu terlalu cepat mengambil keputusan kawin lagi, tanpa pertimbangan yang cermat?

Ada juga teman saya yang punya anak lima. Alasan dia kawin tidak dengan dasar cinta, tetapi karena dijodohkan (dan karena anaknya lima?). Teman ini membalas perilaku selingkuh suaminya dengan ikutan-ikutan selingkuh. Lucunya, pasangan selingkuhnya suami orang, dan jauh kualitasnya dibandingkan suaminya yang dulu. Alhasil, anak-anaknya yang sudah besar, dan bahkan sudah ada yang menikah, jadi kecewa sekali. Ibu seharusnya memberikan contoh ketabahan dan kesetiaan, bukannya menghibur diri sendiri dengan jalan yang salah.

Dari cerita di atas, kemungkinan besar anak akan mendapat gambaran yang buruk mengenai perilaku orang tuanya. Mereka akan merasa sebagai pihak yang disakiti, tidak diperhatikan, kurang mendapatkan kasih sayang, bahkan berebut perhatian dan kasih sayang di antara saudara. Sebagai anak, hak kita dirampas tanpa bisa berbuat apa pun.

Kalaupun kita termasuk anak yang tidak terurus, tetapi nantinya berhasil atau sukses, maka jangan disalahkan jika anak tidak menaruh hormat atau sayang kepada orang tuanya. Mereka merasa bahwa kesuksesannya diraih tanpa dukungan orang tuanya. Merekayang tidak mengerti latar belakangnya mengapa anak bersikap demikianakan memberikan komentar, bahwa kita adalah anak yang tidak mengurus orang tuanya. Apalagi jika kita mampu dan kaya, mungkin komentarnya kita ini sebagai anak durhaka.

Selalu dikatakan, bahwa jangan pernah melawan orang tua, jangan pernah menyakiti mereka, dengan alasan apa pun, tidak ada ruang gerak bagi anak untuk berbuat tidak baik terhadap orang tuanya. Memang, tidak dapat dipaksakanjika anak yang merasa disakiti, tidak diurus, bahkan ditelantarkan—akhirnya mereka tidak meedulikan orang tuanya.

Kalau kita termasuk orang yang bijak dan ikhlas, kemungkinan besar kita akan mengurus orang tua kita, tanpa memerhitungkan bagaimana jeleknya perlakuan orang tua kepada kita dahulu. Yang terpenting, kita mengambil hikmah untuk tidak melakukan hal yang sama seperti orang tua kita. Kita mesti belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik, sembari mempersiapkan hari tua kita sendiri. Kita mesti belajar menjadi teladan bagi anak-anak kita serta berusaha supaya tetap dapat bermanfaat bagi lingkungan kita.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau email: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 4 votes)

The Winner’s Attitudes

bk-libertusJudul: The Winner’s Attitudes

Oleh: Libertus S. Pane

Penerbit: Libri, Jakarta, 2009

ISBN: 978-979-687-535-1

Tebal: xxii + 196 hal

Ukuran: 14 x 20,5 cm

Siapa yang tidak ingin memperoleh promosi jabatan, pangkat, kenaikan gaji, atau kemajuan dalam karier? Setiap pekerja tentu memimpikannya. Namun, ada satu dimensi paling penting yang sering dilupakan, yaitu bagaimana sikap kita dalam bekerja. Kecemerlangan seseorang (yang terlihat dalam pencapaian kariernya) hanya kaan sempurna apabila disertai dengan prinsip dan sikap pemenang. Melalui buku dengan bahasa lugas dan populer ini, Libertus S. Pane, seorang praktisi SDM, akan membantu Anda untuk mencapai keberhasilan bekerja secara lebih cepat dan sekaligus meraih kebahagiaan.

PUJIAN UNTUK BUKU INI

“Saya yakin, buku ini bisa menjadi tonikum Nomor 1 bagi para pekerja dan profesional yang ingin terus dan mantap di jalur prestasi puncak.”

Edy Zaqeus, Bornrich Consulting, Penulis Bestseller

“Buku ini syarat dengan muatan filosofi praktis menyikapi dunia nyata, dunia kerja, dan petunjuk praktis bagi siapa saja yang masih mau belajar, berubah, dan maju.”

Drs. Yohanes AD Purnomo MBA, Managing Director PT Trust First Indonesia, pernah menjadi praktisi SDM di berbagai perusahaan multinasional

“Sebuah buku yang telah ditulis dengan hati dan prestasi untuk memberkati. Buku ini harus dibaca oleh setiap pribadi yang ingin menjadi Pemenang Sejati!”

Ayuningsih Benyamin, MA, Trainer dan Activator, Pendiri Global Talents, Human Resources Activation

“Isi buku ini menggugah hati dan pikiran saya, sehingga saya semakin yakin bahwa siapa pun memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi seorang pemenang sejati. Denman membacanya, Anda sudah memulai mengayunkan langkah untuk menjadi seorang pemenang!”

Haryono Bancin, Community Relation & Development Specialist, PT Thiess Contractor Indonesia

“Buku ini benar-benar bagus. Semua orang yang menyandang status ‘orang gajian’ wajib membaca buku ini. Tidak peduli apa pun jabatan yang disandang, direktur atau office boy sekalipun. Buku ini tidak hanya penting bagi karyawan, tetapi juga semua orang yang ingin meningkatkan kualitas hidupnya.”

Rosa Catur Muhammad, Legal Manager Agung Podomoro Group

“Buku ini inspiratif. Bisa mengajak pembacanya untuk melihat potensi lain daripada yang terlihat oleh kacamata umum. Buku ini sehat dan bisa menghibur juga.”

Lusie I. Susantono, S.H., L.LM, MBA, Pengacara, dosen pascasarjana Swiss German University dan Sampoerna School of Management ITB

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Naomi Susan: Ambisi Itu Penting, Seperti Mesin yang Harus Tetap Menyala

ns1Namanya mudah diingat, Naomi Susan atau suka disingkat NS. Usianya, pada 15 Januari 2009 lalu, baru juga menginjak 34 tahun. Namun, investor sekaligus pemilik Ovis Group dan direktur pada tujuh perusahaan ini sudah menorehkan berbagai prestasi, yang mencatatkan namanya di jajaran para pengusaha muda paling sukses di negeri ini. Ia menguasai bisnis kartu diskon, merchant network berbasis Short Message Service (SMS), biro perjalanan dan penerbangan, properti, restoran dan kafe, hingga ke bisnis salon kecantikan.

Tak heran, bila kemudian media massa tampak memanjakan Naomi dengan publisitas yang melambungkan namanya, serta beragam apresiasi atas prestasinya. Tahun 2002, ia masuk dalam daftar 50 Tokoh Wanita Paling Berpengaruh di Indonesia versi majalah SWA. Tahun yang sama, masuk dalam deretan 18 Pengusaha Sukses di Bawah 35 tahun di Indonesia versi majalah Warta Ekonomi.

Lalu, pada tahun 2003, Naomi kembali masuk deretan 100 Tokoh Sukses Menurut Diagram Robert T. Kiyosaki versi SWA. Majalah DEWI juga memajang namanya ke dalam daftar 10 Wanita Sukses Profesi dan Prestasi. Berlanjut tahun 2004, kembali majalah Warta Ekonomi memasukkan namanya dalam daftar 20 Pengusaha Sukses di Bawah Usia 35 Tahun di Indonesia. Terus-menerus, Naomi mendapatkan aneka predikat penyandang prestasi dari majalah ekonomi bisnis; Srikandi Tangguh, Bukan Wanita Biasa, Entrepreneur Muda, Simbol Prestasi Disiplin 2005, dan sebagainya.

Muda, cantik, terpelajar, smart, energik, bergaya, dan sukses dalam bisnis, itulah gambaran sosok ideal seorang perempuan masa kini. Dan, itu semua dimiliki oleh Naomi, lulusan University of Portland, Oregon, USA, ini. Sukses Naomi menjadi semakin lengkap, setelah belum lama berselang ia menemukan pasangan hidupnya, seorang obstetrician bernama Yusfa Rasyid, seorang dokter spesialis Obgyn. “Saya kan senang dengan pria berseragam, tuh! Tetapi, seragam putih, tukas Naomi.

Akhir 2007, Naomi dibantu Agoeng Widyatmoko, seorang penulis buku wirausaha bestseller, merilis buku laris berjudul Be Negative (iNSpired Books). Buku yang sepintas menentang arus dan dikemas secara populer itu, ternyata penuh dengan gagasan-gagasan bernas nan unik a la Naomi Susan. Tak heran jika, selain menarik, buku yang sudah dicetak ulang tersebut juga mendapat pujian di mana-mana, termasuk dalam salah satu episode talkshow Kick Andy di Metro TV. Berikut petikan obrolan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Naomi Susan mengenai Be Negative, yang berlangsung melalui medium Facebook:

Anda sangat sibuk dengan segala aktivitas bisnis. Bagaimana cara Anda mengatur waktu sampai bisa menulis buku Be Negative?

Sebenarnya, tidak ada waktu khusus untuk menulis ya. Semua hanya diambil dari ingatan saja. Karena, mayoritas isi buku tersebut adalah pengalaman sendiri maupun pengalaman teman-teman. Jadi, saya hanya merekam suara saya dengan menggunakan recording mobile, yang saya bawa ke mana saja. Pas teringat, saya rekam. Kemudian, ada teamwork saya yang mengetiknya. Yah, saya baca kemudian dipersingkat, dijadikan bahasanya sedikit lebih rapi, walaupun tatanannya tetap saja bukan dari seorang penulis hahaha.... Then, Mas Agoeng membantu mengompilasikan.

Buku perdana Anda itu langsung memancang label session 2. Apa maksudnya, atau ada apa di balik pengemasan seperti itu?

Tadinya sih saya pikir, saya mau mengisahkan perjalanan saya, yang mana saya ada di tengah-tengah. Sehingga, edisi ketiga merupakan pencapaian-pencapaian yang sudah saya ciptakan. Nah, baru yang kesatu, cerita negative saat awal-awal saya memulai berbisnis. Di samping itu, juga dari sisi marketing sendiri. Hal itu sangat membantu bagi pasar. Mereka membeli dan mencari yang awal atau menunggu yang akhirnya. Jadi, ide awal tersebut, tentunya dengan harapan yang optimis, buku diminati oleh pembaca.

Kapan Be Negative berlabel session 1 akan diluncurkan?

Sebenarnya kapan saja bisa diluncurkan hahaha.Semua materi, bahan, sangat banyak dan jelas. Tapi masih di kepala saya. Tinggal direkam saja. Sebenarnya, justru sesi tiga yang sudah selesai. Cuma masih belum sempurna. Saya sudah mencoba menyelesaikannya semua. Tetapi, tetap saja kan saya bukan penulis… Saya hanya ‘kambing percobaan’ hahahaha…. Yang siap cuap-cuap dengan gaya nyeleneh, yang bisa saya pergunakan dalam berbicara sesuatu yang berbau negative.

ns2Buku Anda penuh dengan ide-ide yang tampak kontroversial. Sepertinya sungguh-sungguh mengajak orang supaya berpikir negatif, walau sejatinya tetap mendorong orang untuk berpikir positif, tapi melalui cara pandang yang berbeda. Ada strategi apa di balik ini semua?

Hmmmm…. Saya pribadi sudah cukup sesak dengan semua motivasi-motivasi untuk menjadi berhasil, menjadi positif, dll. Yang seperti itu, akhirnya malah membelenggu orang, jadi jenuh. Keberhasilan atau kesuksesan yang mereka raih itu adalah milik mereka. Sedangkan saya, saya memiliki kapasitas, kualitas, kekuatan, daya dan upaya yang berbeda dengan mereka. Istilahnya,Don’t push anybody to wear your dress! Nah, saya seperti berbicara kepada diri saya sendiri kok, saat menulis buku itu. Apa yang sama mau dengar dari seseorang, bukan lagi mendorong dan memotivasi dengan cara yang umum. Misalnya,Ayo, bangkitlah, kamu pasti bisa kok!Yang kayak begitu sudah tidak mempan buat saya hehehe.... Sudah kebal.

Maunya yang bagaimana?

Saya justru mau diperlakukan seperti Mike Tyson, pada saat dia jatuh di ring. Pelatihnya bukan memotivasi supaya bangkit, tapi justru memaki-maki. “Hey, kamu adalah niger, sampah masyarakat! Kalau kamu tidak mampu, jangan pernah bangkit, dan jangan memenangkan pertandingan. Karena kamu adalah anjing yang mengambil makanan dari tong sampah!” Then, what happen? Mike marah, bangkit dengan penuh kemarahan, memukul lawannya sampai KO, menang, deh hehehe.

Saya juga begitu. Saat orang bilang,Ah, you cant make it, you just a woman bla…bla...bla Then, saya sangat marah. Saya ambil semua strategi, dan lakukan sesuatu. Di Indonesia, sesuatu yang negative lebih bisa dijual daripada yang positive. Contohnya saja lagu-lagu yang populer, melejit di pasaran. Mayoritas kan yang negatif, misalnya Si Jablai, Kamu Ketahuan, SMS Siapa, dan lain-lain.

Coba jelaskan maksud dari rumusan di buku Anda, bahwa “Negative + Positive = Negative” dan “Negative + Negative = Positive”!

Gampang, kok! Misalnya, dari kata-kata saja sudah dapat merumuskannya. Misalnya, ragu, malas, takut itu negatif. Kemudian, mencoba, memulai, bertindak itu positif. Kalau digabungkan menjadi sesuatu yang negatif. Ragu mencoba, malas memulai, takut bertindak…. Hal ini bisa dijabarkan dengan mental seseorang, digabung dengan kondisi dan keadaan, atau orang-orang di sekitarnya, yang memiliki macam-macam sosok. Ada yang negatif, ada juga yang positif.

Kebalikannya adalah, saya sendiri mengalami bagaimana mentalitas saya yang negatif. Karena, orang-orang di sekitar saya keadaannya juga semua serba negatif. Dan, kami terbiasa menggabungkannya. Misalnya, saat saya marah, kesal, tidak punya daya upaya, dikecilkan karena ketidakmampuan saya. Kata-kata seperti takut, gagal, malas, pesimis, marah, tidak mampu, dll semua negatif. Gabungkan saja, maka justru akan menjadi positif. Tapi harus dilakukan, bukan hanya dibaca hehehe

Sekarang ke soal bisnis dan gaya hidup. Anda dipandang sebagai salah satu pengusaha sukses yang mampu mengemas atau memasukkan unsur gaya hidup dalam bisnis Anda. Menurut Anda sendiri?

Sebenarnya sih, saya selalu mau mengemas bisnis saya supaya to make everybody happy”. Misalnya, waktu saya chartered pesawat memprakarsai liburan ke Bali dengan fasilitas maksimal, namun hanya dengan membayar minimal. Pastinya people will be happy with that. Dan, kerenanya, market menerima product atau services dari tiap bisnis saya dengan welcome. Salon misalnya. I want to make all women looks beautiful hehehe…. Jadi, buatkan beberapa paket kecantikan.

Poinnya adalah, saya mau being treated and being serve as I am the only one customer. Dan, hal tersebut saya terapkan di setiap bisnis saya. Bila kebetulan setiap bisnis saya terkesan memasukkan gaya hidup, mungkin lebih tepatnya adalah, saya selalu melihat peluangnya. Bila kuenya masih besar, saya akan ambil bagian.

Apa inovasi-inovasi terbaru yang telah, sedang, dan akan Anda luncurkan untuk mendorong perkembangan semua bisnis Anda ke depan?

At the end of the day, ya hanya ada tiga elemen penting supaya saya survive. Yaitu, pertama, database, connection, dan network. Kedua, branding position, image, atau reputation. Ketiga, advance in technology, follow the trend. Jadi, dari dulu sampai sekarang, untuk mempertahankan perkembangan bisnis, saya mengarah ke ketiga element tadi. Dan, mengarah ke masa depan yang jelas. Masa inovasi untuk menjadi yang pertama, terbaik, dan berbeda sudah bukan zamannya saya lagi hehehe.

Saya sudah pernah di sana. Sekarang justru oposite dari itu, menjadi yang kedua atau ketiga, atau sepuluh besar terbaiklah. Terus, tidak perlu yang berbeda. Saya happy sekarang, bila harus menjadi follower. Bukan the breakthrough. So, apa pun itu, yang dapat mendorong perkembangan semua bisnis saya adalah CRM. Maintain... maintain… maintain….

Bagaimana Anda memandang marketing communication sebagai bagian penting dalam sukses bisnis Anda?

ns3Wooow! Marcomm bagi saya sih, senjata utama untuk membangun persepsi, citra, dan merek yang harus diedukasikan, disampaikan, dan dikomunikasikan kepada market. Dengan perkembangan teknologi saat ini, media komunikasi menjadi banyak pilihannya. Kalau dulu, kan kita berharap kepada iklan di televisi, media cetak, radio, pokoknya outdoor and indoor. Sekarang, sudah further, ya… Internet, SMS, video, call center, events, semua bisa dijadikan alternatif pola marcomm.

Hebatnya, dan yang saya suka, globalisasi telah membuka komunikasi tanpa batas, tanpa terhalang oleh geografis. Coba saja, komunikasi yang ditempatkan di YouTube, mampu menjangkau konsumen di semua negara. Marcomm diperlukan, bukan hanya untuk mendapatkan new customer, tetapi juga untuk maintaining the existing one.

Oh ya, marcomm bagi saya akan mengarahkan ke sebuah integrasi dan sinergi. Maka, saya harus bisa membuat satu ditambah satu menjadi sama dengan tiga atau empat. Bayangkan, kalau tidak ada sinergi, maka satu ditambah satu menjadi lebih kecil dari dua, atau bahkan lebih kecil dari satu.

Anda masih muda, tetapi sudah menangguk kesuksesan dalam kehidupan dan bisnis. Bagaimana Anda memandang nilai penting dari masa-masa produktif seseorang?

Pada dasarnya, masa produktif buat saya sih tidak terlekang masa. Walaupun nanti sudah tua, saya tetap mau produktif. Saya tidak mau membiarkan otak dan tubuh merasa tua. Umur dan kualitas pasti akan tersesuaikan. Namun, saya tidak mau menanamkan kesan tersrbut untuk menajadikan diri saya lemah. Ya, tidak bisa dinihilkan. Banyak yang beranggapan, memasuki usia lansia, let say 50 tahun, dianggap tidak lagi produktif. Karena, sudah sakit-sakitan, demensia alias pikun, depresi, dan penyakit-penyakit degeneratif lainnya. Saya enggak mau kayak begitu. Lihat saja Om Bob, beliau 75 tahun. Dan, bagi saya beliau sangat produktif sampai hari ini.

Makanya, mumpung saya masih muda hahaha.... Saya memiliki kebiasaan baik dalam menjaga kesehatan. Misalnya, banyak mengonsumsi makanan, sayuran, dan buah-buahan yang mengandung vitamin, kalsium, karbohidrat, dan lainnya. Dan rutin berolahraga. Juga banyak melakukan aktivitas olah pikir dan olah tubuh. Supaya apa? Nanti, masa tuanya tentu akan lebih baik, dan bisa tetap produktif, kan?

Bagaimana Anda memaknai peran ambisi dalam menggapai kesuksesan?

Ambisi, buat saya sangat penting. Seperti mesin yang harus tetap menyala untuk menghasilkan sesuatu. Sesuatu itu adalah mimpi-mimpi yang selalu mau saya capai. Itu untuk menambah semangat dalam mencapai tujuan hidup. Saya tidak mau kehilangan ambisi, karena jalan saya mencapai tujuan bisa tersendat-sendat. Tidak memiliki motivasi mencapai apa yang saya inginkan. Akhirnya, karena terlalu pelan, saya akan ter-ninabobo-kan dalam arus yang lamban.

Di buku Anda tertera pernyataan “Bunuhlah Kreativitas”. Bagaimana Anda menjelaskan pernyataan itu di tengah tren ekonomi kreatif, yang dipandang oleh sejumlah pakar menjadi kunci kemenangan dalam persaingan di masa krisis ini?

Hihihi… Ampuunnn, deh. Pengalaman pribadi, tuh! Banyak kreativitas yang jadi stock dan tidak terlaksana. Karena hanya ada ide dan cukup kreatif, tapi tidak executed. Jadi, saya tidak lagi menanggapi kreativitas tersebut, tapi menghilangkannya. Kembali ke rencana awal, merapikan satu per satu. Kemudian, beberapa tim yang menjadi ‘kerikil’ di sepatu saya, yang membuat saya sulit berjalan bahkan berlari, saya berikan kondisi terminasi. Poinnya, sih… banyak buanget orang briliant dengan banyaknya ide, kreativitas, inovasi, luar biasa banyaknya! Namun, hanya sedikit yang bisa menjadikannya nyata. So, better compete with the real creativities.

Naomi, Anda baru saja melepas masa lajang. Coba jelaskan, bagaimana Anda akan mempertahankan ide-ide gila seperti “Boroslah”, “Perbanyak Masalah”, “Berontaklah”, “Paranoidlah”, “Langgarlah Janji”, di hadapan pasangan Anda?

Hahaha…. Asli, lhopertanyaan ini membuat saya tertawa terbahak-bahak hahaha.Ini wawancara atau mau mengajak berantem, toh? Backfire-nya tajam amat… hahaha. Gini deh, yang saya alami saja saat ini, deh! Saya mau boros untuk membuat suasana rumah tidak membosankan. Saya membuat diri senyaman mungkin dengan membuat kantor pribadi di lantai dua. Beberapa gadget sudah saya incar untuk membuat mobilitas saya terpenuhi. Hmmm boros itu boleh, apalagi untuk me-maintain pasangan, agar tidak monoton, toh? Dinamis gitu, walaupun renovasi sana sini memang boros hahaha.

ns4Kalau “Perbanyak Masalah!” …?

Tanpa mau memperbanyak masalah, tapi justru saya me-listed semua masalah yang ada, yang belum terjadi, yang sudah terlanjur, wuiihhh pokoknya buanyak masalah yang ter-provideI don’t want to create it nor make it gone, but I want to handle it and solve it also inticipate itMemang, agak berbenturan juga, sih. Tetapi, konteks yang diambil adalah mau saling mengenal dan mengantisipasi masalah apa pun. Membiasakan untuk berkomunikasi dengan terbuka, separah apa pun masalah tersebut hihihhi….

Kalau “Berontaklah!” …?

Saya jadi geli hahaha. Saya memang berontak waktu saya harus diubah menjadi sosok ‘orang lain’ hehehe Saya tetap mau berkarier, berbisnis, beredar. Tapi, beberapa hal bisa dinegosiasikan. Pemberontakkan terjadi apabila saya harus dijadikan sebagai pantulan symbol dari apa yang tidak saya miliki. Karena saya mau diterima apa adanya, bukan ada apanya… Thanks God… pasangan saya cukup liberal, domokratis gitu hehehe.Komunikasi adalah kunci yang paling baik. Tapi, ada banyak kesadaran, kok bahwa ternyata si NS itu bagus di bidang ini, tapi yang lain masih jauh dari kata baik hehehe….

Sekarang kalau menganjurkan supaya paranoid, maksudnya?

Saya paranoid untuk sesuatu yang tidak berjalan dengan baik. Apalagi pasangan saya cukup banyak penggemarnya hahaha…. Nah, untuk menjadikan diri saya sebagai wanita tepat yang telah dipilihnya, maka paranoid ya supaya bisa menjadi yang ‘tepat’ itulah. Itu yang memicu saya untuk mengoreksi, instrospeksi diri, menjadi ‘wanita’ yang tidak tomboy lagi. Memberi kenyamanan, bahwa pasangan saya adalah leader, walaupun saya cukup tegas di keseharian saya dalam memimpin bisnis.

Apalagi, pasangan saya ini dunianya kan perempuan hehehe…. Semuanya wanita cantik, pintar, sempurna sebagai wanita, naaaahhhh… paranoid dong hahaha.... Nanti pasangan saya diambil orang, piye?! hahaha…. Saya sendiri masih harus banyak belajar, bagaimana mengagumi dan menghargai betapa hebatnya pasangan saya, yang selama ini tdk pernah saya perhatikan detailnya. Karena memang saya memilih dia hanya sebagai sosok seorang ‘Yos’, si lelakiku hehehe…. bukan aksesorisnya dia siapa, apa, dan bagaimana….

Nah, kalau melanggar janji, bagaimana ini?

Nah, konteks…. Ini sebenarnya soal jangan obral janji bila tidak mampu menepati. Langgarlah bila mau dikategorikan sebagai OPUD. Dalam aplikasi ke pasangan saya, maka tidak ada yang banyak berubah di diri saya dalam hal ‘janji’. Saya jarang dan hampir tidak mau membuat janji. Cause, for me DO is better than PROMISSES. Untung pasangan saya tahu dari dulu, tuh.Makanya, if I already saidyes”, pasangan saya akan tenang. Karena saya sangat menjujung tinggi tiap kata dari mulut saya hehehe.

Ok, sebagai perempuan muda dengan beragam bisnis dan sukses yang sudah Anda raih, pada sisi mana Anda meletakkan posisi pasangan hidup Anda?

Pertanyaan tricky, ya…… Seperti quotes yang famous itu, lho! Don’t walk in front of me, I might not follow, don’t walk behind, I might left you, but please walk beside me… bla…bla… kalau tidak salah, ya kayak begitu bunyinya. Memang, tidak bisa totally seperti itu. Tetapi, saya juga agak perang batin, nih hahaha…. Tetap masih banyak belajar supaya bisa lebih baik dalam menempatkan posisi kepala rumah tangga, as a leader adalah pasangan saya, bukannya saya hahaha.So far so good… pasangan saya lumayan sabar.

Jadi, tidak ada semacam… yang satu memerintah yang lain?

Hubungan saya dengan pasangan bukanlah hubungan antara atasan dan bawahan. Tetapi, kami ingin menjadi pasangan yang saling melengkapi, seperti tangan kanan dan tangan kiri. Saya sangat menghargai pasangan saya. Oh ya, saya kan senang dengan pria berseragam, tuh! Tetapi, seragam putih, jadi saya sering bermimpi bisa menjadi istrinya seorang dokter, pilot, atau kapten kapal hahaha…. Kesamaannya, selain seragam, mereka cukup tough dalam menghadapi hidup. Tingkat adrenalin terhadap nyawa orang lain sangat erat. Sehingga, semoga tingkat kesadaran hidupnya akan lebih peka lagi.

Sebenarnya, apa yang Anda inginkan dari seorang pasangan?

Saya tidak ingin memiliki pasangan yang pintar, tetapi juga tidak yang tidak pintar. Saya berharap dapat pasangan yang sabar…. Dari dia itulah, saya mau punya ketenteraman batin. Mau hidup nyaman, mau di setiap gusar dan resah saya, ada yang bisa menjadi tempat menitipkan batin. Saya menginginkan deposito di surga. Dan, tangga menuju ke sana adalah jalan yang akan terpimpin dengan baik oleh pasangan saya. Jadi, jelas sudah bahwa posisi pasangan saya, adalah sebagai belahan dan ketenangan jiwa. Yang memiliki kepekaan terhadap kehidupan ini. Yang menjadi pemimpin dengan tujuan yang sama, yaitu menabung di surga hehehe….

Mimpi-mimpi yang sedang Anda kejar dalam 5-10 tahun ke depan?

Mimpi yang sangat dekat… Saya mau punya anak hehehe…. Yang lainnya sih, hanya menjaga kualitas dan stabilitas dalam mengikuti perkembangan teknologi. Mau menjadi bagian dalam perkembangan bisnis di Indonesia. Sama seperti sekarang, tidak berubah, lima tahun yang lalu dan lima tahun yang akan datang…. Naomi Susan seperti ini saja, kok! Berharap akan lebih baik, dan baik lagi dalam pencapaian-pencapaian berikutnya.

Terakhir, masih akan menulis buku lagi?

Mauuuuuuu…. Tapi, tetap tidak mau nulisnya hehehhe… Inspirasi dan dikompilasikan saja oleh teman-teman, yang mau membantu menjadikan buku tersebut layak dibaca.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi Naomi Susan.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.5/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox