Home » 2009 » February

Monthly Archives: February 2009

Sejumput Pesan dari Balik Jeruji Besi

igOleh: Ingrid Gunawan*

Sabtu pagi itu, saya tiba di kantor pukul 08.05. Kami akan mengadakan aksi sosial dengan mengadakan kunjungan ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita dan Anak, Tangerang. Rekan-rekan sudah berkumpul di lobi kantor dan menunggu mobil yang akan membawa kami ke sana.

Perjalanan Sabtu pagi itu lumayan lancar. Dalam waktu 45 menit kami sudah tiba di lokasi LP yang berpagar hijau dengan halaman luas. Dari jalan raya mungkin ada sekitar 30 meter ke pintu gerbang LP. Karena tidak tahu pasti apakah tempat yang dimaksud benar atau tidak, saya mengontak perantara yang mengatur kunjungan. Ternyata tempatnya benar, jadi kami menunggu teman-teman dari beberapa mobil lain di halaman.

Tak lama kemudian, ibu perantara tiba dan mengatur persiapan untuk masuk ke dalam LP. Pukul 09.45 kami semua masuk ke dalam melewati gerbang pemeriksaan. Karena sudah diinformasikan sebelumnya agar sebaiknya tidak membawa tas dan HP, maka pemeriksaan tidak bertele-tele.

Setelah melewati gerbang pemeriksaan, kami berjalan melalui jalan bersemen sekitar 25 meter menuju aula. Di kiri kanan jalan ada bangunan seperti bangsal rumah sakit dan sepintas terlihat ranjang besi. Tetapi, kami tidak bisa melihat jelas karena agak jauh dan dibatasi jalan tanah yang cukup lebar. Di sepanjang jalan kami berpapasan dengan beberapa perempuan muda berpakaian kaos seragam Natal 2007 dari sebuah gereja di bilangan Jakarta Pusat. Untuk sopan-santun, saya memasang muka tersenyum kepada mereka, karena mengira mereka adalah pengunjung dari gereja lain yang juga sedang melakukan aksi sosial.

Sampai di aula sudah berjejer bangku-bangku plastik warna hijau. Dan ternyata, perempuan-perempuan tadi yang saya jumpai di jalan, juga sudah berkumpul di dalam aula. Saya bertanya-tanya di dalam hati, “Siapa mereka, ya? Penghuni LP atau pengunjung?

Pukul 10.00 kami memulai acara kebaktiannya. Rombongan kami duduk terpisah dengan perempuan-perempuan berseragam tadi. Kemudian, ada sedikit penjelasan dari pembina dan perantara kami, bahwa kami diminta duduk berbaur dengan mereka. Oh, jadi ternyata mereka adalah penghuni LP. Kaget bercampur tidak percaya, dan hati terenyuh melihat perempuan-perempuan muda, berwajah manis, putih bersih, dan tidak ada tampang jahat atau garang, meski ada satu dua yang bersorot mata tajam.

Mulailah kami mencari pasangan dan duduk bersama dengan mereka. Sambil menyanyikan lagu pembuka, dilanjutkan kemudian dengan lagu kedua, “Aku Datang Ya Tuhan”. Sampai pada bait Aku tau kau Pembelaku, Aku tau kau Penolongku..., tak terasa air mata menetes. Cepat-cepat saya hapus karena malu kalau kelihatan menangis.

Ada pertanyaan dalam hati saya, “Apakah mereka juga merasakan, bahwa Yesus adalah pembela dan penolong mereka juga? Mengapa mereka bisa sampai berada di sana? Apa yang sudah mereka lakukan di masa lalu?” Terlintas di hati, bagaimana perasaan orang tua kalau melihat anaknya berada di LP.

Di sela-sela nyanyian, saya berusaha mencari tahu dengan memperkenalkan diri dan menanyakan namanya. Seorang gadis menyebutkan namanya, sebuah nama yang manis, seperti nama teman sekantor saya. Anaknya kecil, putih, mata sedikit sipit, rambutnya dipotong jongenskop. Sekolahnya hanya sampai SMP di sebuah kota di Kalimantan. Dengan tanpa malu-malu dia mengatakan kenapa berada di sana, ”Karena narkoba… Saya sudah tujuh tahun menjadi pemakai dan kemudian jadi pengedar. Asal-muasalnya mengenal narkoba dari diskotik.” Kata anak ini, dia ditangkap tahun 2005 dan harus menjalani hukuman selama 4,5 tahun. Dia berharap dan sedang mengajukan permohonan, supaya dalam waktu empat bulan lagi bisa keluar dari sana. Sebenarnya, banyak yang ingin saya ketahui, tetapi tidak enak kalau harus mengorek terlalu detail.

Kemudian, saya bertanya kepada satu anak lainnya. Anaknya juga manis, mukanya putih bersih tanpa jerawat, rambut hitam dan panjangnya sepunggung. Dia terkena narkoba juga karena pergaulan yang tidak terkontrol. Dia dikenalkan dengan narkoba oleh cowoknya, dan akhirnya tertangkap serta ditahan 4,5 tahun juga. Umur gadis-gadis muda ini rata-rata 23 tahunan. Memang, rata-rata kasus mereka adalah narkoba dan beberapa di antaranya terlibat penipuan/pemalsuan.

Ah, sedih sekali rasanya hati ini…. Masa muda yang seharusnya penuh dengan vitalitas, semangat, ternyata harus dihabiskan di balik jeruji besi dan tembok tinggi. Penuh dengan teman-teman senasib yang tidak baik pergaulannya. Waktu yang terbuang sia-sia karena di sana tidak ada kegiatan belajar. Yang ada hanya kerja masal mengarit rumput. Memang, setiap harinya dari Senin sampai Jumat ada waktu besuk untuk orang luar. Namun, waktu kunjungan dibatasi hanya setengah jam. Bahkan, di hari Minggu pun tidak ada kegiatan sama sekali. Mereka hanya diam di blok masing-masing. Berbagai peraturan mengisolir mereka, dan sungguh terenyuh hati ini.

Saya berkata dalam hati, ”Mereka berada di sana itu, apakah semata-mata kesalahan mereka? Siapa sebenarnya yang bersalah… orang tua, lingkungan, atau keadaan?” Tentu, banyak faktor penyebabnya. Mungkin orang tua konflik, orang tua yang tidak peduli dengan anaknya, keluarga yang broken home, pergaulan bebas, dan macam-macam penyebab lainnya. Akibatnya, mereka terjebak dalam lingkaran setan narkoba. Bagaimana mereka nanti akan menuliskan riwayat hidupnya?

Oleh karena itu, wahai para orang tua, di tangan Andalah masa depan anak-anak Anda. Bertanggung jawablah dalam membina kehidupan rohani dan jasmani mereka. Arahkan mereka kepada hal-hal yang benar supaya mereka tidak salah jalan. Kesalahan yang akan membuat penyesalan selanjutnya.

Wahai anak-anak, hargai pengajaran orang tuamu dan carilah Tuhan selalu, agar kalian diberikan pengawalan supaya selamat dalam perjalanan hidup kalian.

Kita yang berada di luar seharusnya bersyukur, bahwa kita bisa bekerja yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain. Dapat berkumpul dengan keluarga, bertemu dengan teman/saudara tanpa halangan, dan bisa pergi berjalan-jalan ke mana saja dengan bebas.

Ini baru cuplikan kecil atas pemandangan yang saya lihat di LP. Masih banyak yang tidak terlihat dan saya ketahui, yang pastilah dialami serta terjadi pada masing-masing penghuni LP itu. Saya hanya berdoa, mohon kepada Tuhan supaya selalu melindungi dan menjaga agar saya, keluarga saya, dan mereka semua tidak tersesat atau salah jalan.

Apakah mereka bisa menghayati dan meyakini lagu penutup yang kami nyanyikan saat itu…..”S’mua Baik, S’mua Baik; S’gala yang t’lah Kau perbuat di dalam hidupku, S’mua baik, sungguh teramat baik, kau jadikan hidupku berarti….”Semoga, Amin.[ig]

* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui email: ingridguna[at]yahoo[dot]com

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Anda Luar Biasa, Jika Nyaman Belajar

ekOleh: Eni Kusuma*

“Belajar tidak sama dengan bermain. Jika belajar seperti bermain, maka semua orang akan nyaman melakukannya. Tetapi, bagi orang-orang yang luar biasa, belajar adalah kenyamanannya layaknya bermain.”

~ Eni Kusuma

Ketika kita masih balita, kita belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. Seperti bermain balok sambil mengenal angka dan huruf, bermain puzzle sambil mengenal warna dan lain-lain. Tetapi, ketika kita tumbuh besar dan bersekolah, tentu cara belajar dan cara bermain pun berbeda dan terpisah. Karena, belajar membutuhkan konsentrasi tinggi yang melibatkan otak kanan dan kiri. Kita harus membaca buku-buku pelajaran, mengotak-atik angka, mengerjakan soal-soal dan lain-lain. Sedangkan bermain tidak begitu melibatkan konsentrasi. Misalnya, main ke rumah teman, bikin pesta, jalan-jalan ke mal, ke pantai, nonton TV, dan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan lainnya. Makanya, kita lebih suka bermain daripada belajar.

Demikian juga kita yang tumbuh sebagai orang dewasa, pikiran kita pun lebih kompleks lagi, karena kita memiliki tanggung jawab terhadap keluarga, orang tua dan pekerjaan kita. Berbagai masalah kehidupan pun mendera. Dari luar kita maupun dari dalam diri kita. Dari luar misalnya, masalah finansial, hubungan atau relationship, sampai masalah anak-anak kita. Dari dalam misalnya, rasa khawatir, tidak berani, gelisah, jenuh, putus asa dan lain-lain. Cara belajar pun berbeda lagi.

Jika dari luar yaitu, bagaimana kita mengelola keuangan kita, mengatur pekerjaan, membina hubungan serta mendidik anak-anak. Sedangkan dari dalam, bagaimana kita mengelola emosi kita tersebut. Kita perlu belajar itu semua jika ingin hidup kita bahagia. Kita bisa belajar dari nasihat, buku-buku, pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain. Banyak sekali buku, koran, majalah, maupun internet yang membahas tentang keuangan, bisnis, relationship, mendidik anak sampai dengan cara mengatasi masalah dari dalam diri kita seperti, pengembangan diri dan motivasi.

Sepertinya, kita disuruh untuk banyak membaca. Saya rasa memang demikian. Karena, dengan membaca kita bisa belajar lebih cepat, karena satu buku bisa berarti pengalaman orang selama bertahun-tahun. Dan, pengalaman adalah mahal harganya.

Jika kita ingin tumbuh dan berkembang menjadi seorang yang luar biasa, baik kepribadian maupun kehidupan kita, kita memang harus belajar. Dan, seperti yang sudah kita ketahui bahwa sedikit sekali orang yang luar biasa, yang bersedia untuk belajar. Selebihnya, banyak sekali yang tidak mau bersusah payah untuk belajar. Asal bisa makan dan bisa hidup, ya sudah. Karena, belajar membutuhkan konsentrasi, sedangkan konsentrasi memberikan ketidaknyamanan, maka sedikit sekali yang bisa menikmatinya.

Lebih banyak orang yang menghabiskan waktu hanya untuk kerja dan nasi, kerja dan bermain. Padahal, jika kita tahu, belajar akan memberikan kenyamanan jika dilakukan secara terus-menerus. Kita akan mengetahui banyak hal dan ini memberikan kenyamanan. Belajar akan melatih otak, semakin lama semakin terlatih, sukses adalah efeknya. Ini juga akan memberikan kenyamanan karena kita seperti berfantasi dengan pikiran kita. Tak heran, orang-orang yang luar biasa menganggap belajar adalah bermain, sedangkan bermain memberikan kenyamanan.

Orang-orang luar biasa seperti Albert Einstein sang penemu hubungan antara energi dengan massa dan kecepatan, Jennie S. Bev sang penulis lebih dari 60 buku dan peresensi lebih dari 1.300 buku, Andrias Harefa sang pembelajar, Edy Zaqeus sang guru menulis dan sederet nama-nama luar biasa lainnya adalah orang-orang yang nyaman dalam belajar. Jika tidak, tentu julukan yang ada sekarang tidaklah melekat pada mereka.

Terbiasa tidak belajar dan terbiasa belajar sama-sama memberikan kenyamanan. Karena, itu sama-sama memberikan efek keterbiasaan. Jika terbiasa tidak belajar namun tiba-tiba belajar, orang akan merasa tidak nyaman sehingga sangat mungkin ia akan kembali ke kenyamannnya semula. Begitu pula sebaliknya, jika orang-orang luar biasa seperti nama-nama di atas berhenti berkarya, mereka akan merasa tak nyaman dan tak betah. Sehingga, mereka akan kembali ke bentuk kenyamanannya semula. Jika pada akhirnya toh sama-sama nyaman, kenapa tidak memilih terbiasa belajar yang akan menjadikan kita luar biasa, meski awalnya tidak nyaman? Bagaimana menurut Anda?[ek]

* Eni Kusuma adalah seorang motivator, mantan pembantu rumah tangga (TKW) di Hongkong, kolomnis Pembelajar.com, dan penulis buku laris Anda Luar Biasa!!!.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Sumber Ketakutan

ms11Oleh: Miranda Suryadjaja*

When we say ‘I’, who or which I are we talking about?

When we say or think ‘I’, we separate.

Siapa kita, siapa Tuhan? Dua hal yang berbeda, atau menjadi satu? Sebuah paradoks, yang mana pemahaman mengenai hal ini akan memusnahkan penderitaan, atau lebih tepatnya konsep atau persepsi tentang apa penderitaan itu sebenarnya.

Dulu sebelum saya memahami konsep ini, saya selalu menganggap bahwa Tuhan adalah seorang berjenggot yang di duduk di atas singgasana di sebuah kerajaan di langit, yang punya kekuasaan luar biasa. Dan Yesus, Muhammad, Budha, Krishna, dan lain lain adalah manusia-manusia pilihan yang diberi power khusus serta ditugaskan untuk turun ke bumi demi menyelamatkan umat manusia. Dari apa? Sebenarnya, tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa ada suatu bahaya yang mengancam manusia, selain daripada dosamungkin, yang tak lain adalah kebodohan, kesalahan, atau kekhilafan manusia sendiri?

Saya telah membaca banyak buku suci dari banyak agama, namun mungkin karena tidak ada yang memberi jawaban yang memuaskan, saya tidak pernah memilih suatu agama. Dan, sekarang pun saya adalah Hindu KTP, karena saya berdarah Bali, tinggal di Bali, dan ketika sebagai mahasiswa saya mempelajari comparative religions (perbandingan agama-agama). Pada waktu itu, ajaran agama Hindu bagi saya terasa yang paling gamblang dan logis dalam menjelaskan keberadaan manusia, ada sebelum dan sesudah kehidupan. Dan mohon dicatat, pemahaman saya sebagai mahasiswa berusia 19 tahun masihlah sangat dangkal. Sehingga, ketika ditanya saya harus mencantumkan salah satu agama untuk KTP, saya pilihlah agama Hindu.

Pemikiran saya, meskipun belum memberikan jawaban yang terasa benar-benar pas, penjelasan agama Hindu tentang reinkarnasi paling masuk akal buat saya, pada saat itu. Kenyataannya, saya dilahirkan di keluarga yang menganut agama Konfusius, dengan seorang ayah yang mendeklarasikan dirinya sebagai seorang agnostik. Baru di sekolah menengah atas yang notabene sekolah Katolik saya secara formal ‘belajar’ tentang agama Katolik. Semasa di SMA saya berkenalan dengan orang-orang beragama Advent. Dan, meski tidak tertarik pada ajarannya, saya mencoba menjadi vegetarian total (vegan) selama hampir setahun.

Pada kurun waktu yang sama, saya diperkenalkan pada Transcendental Meditation oleh Ibu saya yang menganggap, atau mungkin berharap, latihan meditasi akan membuat saya lebih damai, atau lebih penurut. Sewaktu mahasiswa saya mempelajari berbagai jenis meditasi, ikut retreat agama Katolik, Kristen, Budha, dll. Saya kemudian menikah dengan seorang beragama Islam yang sangat taat, namun di saat yang sama seorang sekuler, sehingga tidak ada pemaksaan atas diri saya untuk masuk agama Islam. Tetapi, melalui dia saya mengenal karya-karya Jallaludin Rumi dan Ahmad Ghazali, para sufi Islam yang sangat saya kagumi, dan kebenaran-kebenaran yang mereka paparkan beresonansi kuat dengan batin dan hati saya.

Tatkala saya hamil anak pertama dan satu-satunya, kami berdua lagi gandrung membaca dan mendalami Bhagavad Gita serta karya-karya Rumi, yang sampai sekarang merupakan penyair mistik favorit saya. Sampai-sampai ketika anak itu lahir kami namai Govinda Rumi. Sekarang, kami tidak lagi bersama. Ayah anak saya menjadi penganut agama Budha yang sangat taat, sementara Govindasetelah belajar agama Hindu di sekolah hingga tamat SDmemutuskan agama Budha lebih cocok dengan hatinya, meskipun dia juga sangat sekuler dan terbuka terhadap semua ajaran agama.

Separation atau pemisahan yang bagaimana yang saya maksudkan? Serta apa yang perlu disembuhkan?

Manakala Anda membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain; tatkala Anda merasa yang terjadi di luar diri Anda tidak ada hubungannya atau urusannya dengan diri Anda; tatkala Anda menganggap orang lain melakukan sesuatu terhadap diri Anda (biasa yang diingat dan diperhatikan adalah hal-hal yang tidak menyenangkan bagi diri anda); tatkala Anda menyalahkan orang lain, situasi, kejadian, atas apa yang di mata anda terasa sebagai suatu penderitaan. Ini adalah beberapa contoh pemisahan yang saya maksudkan.

Pemisahan ini antara lain menyebabkan Anda merasa marah, sedih, kecewa, iri, dendam, merasa dunia tidak adil, merasa kecil, terisolasi, dan banyak lagi perasaan negatif lainnya.

Dulu, ketika saya mulai mendalami psikologi spiritual, saya paham bahwa siapa saya disebabkan oleh situasi dan kondisi, serta programming orang tua, lingkungan, sekolah, dan masyarakat. Sementara, ketika saya masih kecil, yang mana omongan dan pesan-pesan merekayang tidak lain merupakan program bawaan mereka dari orang tuanya pulamenjadi blueprint dari mindset dan cara saya bereaksi terhadap hidup. Ketika saya memahami mekanisme kebiasaan, pola pikir, serta akibatnya dalam hidup saya, saya sempat terpaku menyalahkan orang tua, menyalahkan diri sendiri, dan merasa bahwa saya tidak berdaya karena telah diprogram begitu.

Contoh lain yang lebih umum, misalnya orang beragama saling merasa bahwa agamanya lebih baik dari agama orang lain. Atau, Tuhannya hanya mengasihi mereka yang seiman dengannya. Atau, yang lebih ekstrem namun tidak jarang terjadi di negeri kita maupun negeri mana saja di dunia ini, melarang anak menikah dengan orang yang tidak seagama. Bahkan, saya tahu ada orang tua yang tidak mau bicara dengan anaknya, membuang, dan mengucilkan anak gara-gara anaknya menikah dengan orang yang beda agama.

Kita bisa berpolemik panjang tak berkesudahan soal pendapat mana yang benar. Bahkan, itu bisa mencetuskan perang dunia gara-gara masing-masing pihak merasa pendapatnya adalah benar secara absolut. Tetapi, hal itu hanya melelahkan dan menguras tenaga, tanpa ada manfaat yang berarti. Kecuali kalau Anda terlibat di suatu politik dan perolehan massa Anda tergantung dari sejauh mana Anda bisa memengaruhi mereka untuk melihat bahwa Anda benar semata.

My friends, bukan itu yang penting di sini. Yang penting, apa yang Anda rasakan dalam hati, batin, dan perasaan Anda. Tatkala Anda ngotot mempertahankan pendapat, dan merasa Anda tidak bisa lagi dekat dengan orang yang pikiran dan pendapatnya beda dengan Anda, perhatikan baik-baik apa yang terjadi di pikiran Anda, di badan Anda, serta perasaan Anda. Ada perasaan tidak enak, pikiran-pikiran negatif berkecamuk di pikiran Anda, menyalahkan, menganggap mereka lebih bodoh, keinginan untuk mempermalukan mereka karena pikiran mereka, serta mengungkit kembali masa lalu mereka yang menurut Anda salah.

Betapa banyaknya penderitaan yang tidak perlu. Dan, semua penderitaan ini timbul hanya bersumber pada satu hal: ketakutan. Ketakutan terhadap apa, Anda mungkin bertanya. Saya bukan penakut, hadapkan saya pada orang-orang garang, pada malam yang kelam, saya tidak takut, saya seorang pendekar, preman, jagoan, pemimpin.

Masalahnya, ketakutan itu sebenarnya banyak wujudnya. Kebanyakan orang yang marah sebenarnya takut kehilangan muka, takut merasa tidak dipandang, takut karena tidak didengar, yang notabene sama artinya merasa dianggap tidak penting atau tidak berarti di mata lawan bicaranya. Bisa juga orang marah karena takut dia kehilangan power-nya.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Anak Anda adalah Proyek yang Luar Biasa

ahg1Oleh: Aleysius H. Gondosari*

Tulisan berikut ini adalah bagian pertama dari 2 tulisan, yaitu “Anak Anda adalah Proyek yang Luar Biasa” dan “Milestone: Batu Pengukur yang Luar Biasa”.

Beberapa tahun yang lalu, saya tertarik dengan sebuah tulisan dalam majalah Engineering Management yang judulnya “The Project is You”. Topiknya adalah bagaimana memperlakukan karier kita sebagai sebuah proyek. Sebagaimana halnya sebuah proyek, kita perlu membuat rencana dan membuat target pencapaian pada setiap tahap atau milestone. Jadi, sebelum mulai bekerja kita perlu menentukan jenis pekerjaan apa yang akan kita pilih, untuk mencapai cita-cita kita.

Pada minggu-minggu terakhir bulan Januari 2009, ada beberapa informasi menarik yang menguatkan tentang pentingnya kita mengelola diri kita atau anak-anak kita sebagai sebuah proyek yang luar biasa.

Dalam sebuah tulisan di koran anak Berani terbitan 22 Januari 2009, Fermina Katarina Sinaga guru kelas 3 SD Fransiskus Asisi, yang pernah menjadi guru Barack Obama, berkata bahwa Obama kecil adalah calon pemimpin. Obama suka bertanya di kelas, suka menolong, dan gesit. Pada pelajaran mengarang, Obama menulis,Saya Barry Soetoro (nama Obama di Indonesia). Saya kelas tiga. Ibu guru saya ibu Fer. Teman saya banyak. Semuanya baik-baik. Saya ingin jadi presiden. Saya cinta Indonesia. Alamnya enak. Saya ingin berkeliling Indonesia.”

Ternyata cita-cita ingin jadi presiden yang ditulis oleh Barack Obama kecil sewaktu ia masih kelas 3 SD terealisasi di usia 47 tahun, tepatnya pada tanggal 20 Januari 2009.

Ada informasi penting pada tanggal 24 Januari 2009. Pada hari itu, beberapa harian memuat tentang satu juta anak Indonesia yang cerdas dengan IQ di atas 125, di antaranya koran Kompas dan koran anak Berani. Profesor Yohanes Surya dan Kak Seto mengulas betapa pentingnya bagi Indonesia untuk menangani agar satu juta anak ini bisa berhasil di masa depan, baik dari segi intelektual, spiritual, dan emosional. Dengan kata lain, ini adalah sebuah proyek yang luar biasa, karena ada satu juta anak cerdas di Indonesia yang berpotensi menjadi orang sukses luar biasa.

Dalam sebuah survei di Amerika Serikat, anak-anak yang bercita-cita atau pernah menuliskan cita-citanya sewaktu masih kecil, sebagian besar berhasil mencapai apa yang mereka cita-citakan. Tetapi, anak-anak yang tidak pernah bercita-cita, akhirnya sebagian besar menjadi orang biasa-biasa saja. Kita bisa melihat salah satu contohnya pada Barack Obama di atas.

Tahun lalu, anak saya yang waktu itu baru naik ke kelas 3 SMP, bersama anak-anak lainnya mengikuti boot camp untuk anak remaja. Di samping mendapat pelatihan motivasi dan teknik belajar, mereka juga harus menyusun visi, misi, roadmap, dan target tahunan yang akan mereka capai hingga visi mereka terealisasi. Sebagian anak bercita-cita ingin menjadi dokter, yang lain ingin menjadi pengusaha, wirausaha, insinyur, desainer, dan lain-lain. Jadi visi, misi, roadmap, dan target yang biasanya kita pelajari dalam pelajaran manajemen, sudah ditularkan kepada anak remaja. Semoga saja cita-cita mereka bisa terealisasi.

Menurut Profesor Yohanes Surya dalam bukunya Mestakung (semesta mendukung), ketika kita bercita-cita mencapai sesuatu yang besar, maka alam semesta akan ikut mendukung tercapainya cita-cita tersebut. Menurut beliau, hal ini sesuai dengan hukum fisika. Ketika kita mempunyai cita-cita, diri kita sendiri secara otomatis atau tanpa kita sadari akan membuat sebuah proyek baru untuk mencapai cita-cita tersebut.

Saya ingin menceritakan tentang Ibu saya, yang memberi inspirasi kepada saya untuk terus belajar. Ibu saya dulu pernah bercita-cita kuliah di perguruan tinggi. Tetapi, karena adik-adik beliau cukup banyak, Ibu berhenti sekolah setelah tamat SMP, agar adik-adik beliau bisa sekolah. Akhirnya, adik-adik beliau semua berhasil kuliah di perguruan tinggi. Ketika saya duduk di kelas 4 SD, ada kesempatan bagi Ibu untuk meneruskan sekolah ke sekolah guru yang setingkat SMA. Jadi waktu saya lulus kelas 6 SD, Ibu juga lulus sekolah guru pada usia 35 tahun. Kemudian, waktu saya meneruskan S-2 manajemen tahun 1994, ternyata Ibu juga sedang meneruskan pendidikan ke D-3. Tidak lama setelah saya lulus S-2, Ibu juga lulus D-3 pada usia 57 tahun.

Akhirnya, cita-cita Ibu tercapai juga untuk kuliah dan lulus dari perguruan tinggi pada usia 57 tahun. Ternyata, cita-cita tidak mengenal usia. Kita juga pernah membaca, bagaimana kerasnya pengorbanan dan usaha Adnan Buyung Nasution untuk memperoleh gelar doktor dari Universitas Utrecht di Belanda dalam usia 58 tahun.

Jadi, jangan takut untuk meminta anak Anda bercita-cita menjadi orang luar biasa. Juga jangan menertawakan anak Anda bila ia mempunyai cita-cita yang tinggi. Pikiran kita adalah seperti pohon kalpataru, yang dapat mengabulkan segala keinginan, permintaan, dan cita-cita. Cepat atau lambat, cita-cita mereka akan tercapai seperti halnya Barack Obama.

Ketika cita-cita sudah dibuat, maka langkah penting berikutnya adalah membuat beberapa milestone penting atau tonggak pencapaian yang ingin dicapai. Milestone yang terakhir adalah cita-cita yang ingin dicapai. Kita akan membahasnya dalam tulisan berikutnya “Milestone: Batu Pengukur yang Luar Biasa”.[ahg]

* Aleysius H. Gondosari adalah alumnus ITB tahun 1984, trainer bidang organisasi dan manajemen, penggemar fotografi, dan pengembang online business. Aley tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi melalui email: aleysiush[at]gmail.com atau di nomor telepon: 0818116669.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Psikologi Nyontek

tnOleh: Tanenji*

Ada sisi lain dalam dunia persekolahan di Indonesia, yakni dengan dikenalnya istilah nyontek (sontek, menyontek). Mungkin dan bisa jadi, istilah ini termasuk dalam kategori undercover. Nyontek sering kali dipahami dan merupakan sikap pecundang yang menginginkan hasil optimal tanpa harus bersusah payah. Biasanya, nyontek dilakukan oleh para siswa atau mahasiswa yang sedang mengerjakan soal ujian, dan yang bersangkutan tidak mempersiapkan penguasaan bahan/materi pelajaran yang memadai dengan berbagai alasan. Mereka menyontek pekerjaan temannya yang dianggap lebih pintar atau mengerjakan soal dengan jawaban yang dilihatnya dari catatan yang sudah dipersiapakan. Catatan ini bisa berupa apa saja, buku-buku, atau catatan kecil lainnya.

Anak sekolah/mahasiswa yang menyontek biasanya menempati posisi yang ‘aman’ dari pengawas ujian. Biasanya di barisan belakang, atau yang terhalang oleh pengawas. Makanya, ada juga istilah yang cukup beken ‘posisi menentukan prestasi’. Istilah ini jangan-jangan merupakan metafora yang diambil dari pola kekuasaan dan jabatan di negeri kita, yang mana posisi jabatan seseorang sangat berpengaruh dan menentukan terhadap kekayaan pejabat tertentu.

Tentang hal yang satu ini, pernah seseorang menanyakan kepada saya tentang alasan tidak membeli atau mempunyai mobil. Yang bersangkutan membandingkan beberapa tetangga dan koleganya yang sama-sama menjadi pegawai pemerintah yang sudah berganti-ganti mobil. Dengan bijak saya mengatakan bahwa sejarah kehidupan seseorang tidaklah sama. Bisa jadi mereka memang sudah mapan dan boleh disebut kaya sebelum menjadi pegawai pemerintah. Karena, secara wajar gaji yang dapat dibawa pulang seorang pegawai pemerintah tidaklah memungkinkan seseorang sampai kepada gaya hidup bermobil. Okelah dalam tulisan ini saya tidak akan fokus pada hal ini. Lagian, rezeki kan bukan hanya dari gaji semata? Tuhan Maha-Pemberi-Rezeki.

Penyebab Menyontek

Banyak hal yang menyebabkan seseorang menyontek. Ini di antaranya:

1. Ingin berhasil tanpa usaha yang melelahkan.

Seseorang harus memahami, bahkan harus hafal bahan-bahan pelajaran yang akan diujikan. Seorang pemalas biasanya ada saja alasan untuk tidak belajar atau membaca buku-buku yang dijadikan rujukan pembuatan soal ujian. Mestiya, berbekal kajian-kajian psikologi memungkinkan seseorang dapat memahami bahan ajar dengan mudah. Belajar yang menyenangkan mestinya juga memungkinkan siswa dapat belajar dengna enjoy juga semua informasi langsung melekat pada ingatannya (lihat bahasan tentang lupa dan ingatan).

2. Ingin membahagiakan pihak lain.

Katakanlah, siswa yang menginginkan pihak lain atau orang tuanya tersenyum bahagia melihat anaknya berprestasi dengan digambarkan pada perolehan angka-angka yang fantastis dalam nilai rapornya. Karena kurang persiapan, malas, atau alasan lainnya, ia memakai cara-cara yang bertentangan dengan mainstream yakni dengan menyontek. Ia tak memedulikan cara ini sesuai dengan norma-norma yang ada atau tidak ada. Baginya, yang terpenting adalah bisa menjawab soal-soal ujian dengan mudah karena melihat sontekan dan nilainya bagus. Titik. Padahal, kebahagian sejati para orang tua dapat dipastikan adalah perolehan nilai ujian anaknya tinggi, memuaskan, dan diraih dengan cara-cara elegan dan bermartabat.

3. Malu tidak disebut berprestasi.

Mengapa harus malu ketika tidak berprestasi? Jikalau memang belum bisa berprestasi sebaiknya mengakui saja kondisi ini. Tidak usah menggunakan segala cara yang tidak halalsampai-sampai harus menggunakan cara pecundang. Prestasi itu bukan sesuatu yang bisa didapat dalam sekejap melalui kata-kata magic bim sala bim, tetapi harus diperjuangkan melalui ketekunan. Tubagus Wahyudi, pakar hipnotis dan public speaking terkenal, pernah mengemukakan bahwa salah satu cara untuk menguasai sensorik power adalah dengan tetap melakukan ketekunan. Ketekunan dalam bidang ilmu, hobi, penelitian, dll akan membuat dan mengantarkan seseorang menjadi pakar pada bidang tertentu tersebut. Bahkan, hobi yang ditekuni dapat menjadi sumber penghasilan dan sandaran hidup.

Jadi, agar berprestasi ya janganlah menyontek. Tetapi, jalankanlah ketekunan dengan tetap membaca buku, baik sebelum maupun setelah bahan ajar itu dipresentasikan oleh guru atau dosen.

4. Bahan yang diujikan tidak menarik.

Mengapa tidak menarik? Kalau dibandingkan dengan pepatah tidak ada orang yang bodoh di dunia ini melainkan malas, maka sebenarnya tidak ada ujian yang tidak menarik. Yang ada adalah seseorang yang tidak bisa menyikapi sesuatu dengan pandangan yang berbeda dari biasanya.

5. Sistem pengawasan ujian yang longgar.

Pengawasan yang longgar dapat memunculkan ide bagi para pecundang untuk menyontek. Sedangkan pengawasan ujian yang ekstra ketat juga memungkinkan peserta menjadi lebih stres menghadapi soal-soal ujian.

Menyontek dan Kasus Ujian Nasioanl

Kalau diperhatikan sejak Ujian Nasional sebagai faktor penentu kelulusan seorang siswa dari sekolah yang ditetapkan oleh pemerintah, terjadi banyak kasus yang mana guru menjadi ‘tim sukses’. Mereka seabagai pengawas ujian, bukannya mengawasi jalannya ujian agar berjalan tertib dan aman, tetapi malahan memberikan jawaban kepada para peserta. Antarpengawas terjadi pemahaman TST (tahu sama tahu). Mengapa itu mereka lakukan? Banyak pihak beralasan; agar siswanya lulus ujian, karena kalau tidak dibantu akan banyak yang tidak lulus. Akibatnya, reputasi sekolahnya pun bisa hancur. Lebih-lebih sekolah swasta yang kualitasnya biasa saja (standar) yang mana mati hidupnya sangat bergantung pada penerimaan jumlah siswanya.

Dalam kasus ini sebenarnya seperti melihat lingkaran setan. Karena, banyak pihak menyatakan guru ditekan oleh kepala sekolah. Sedangkan kepala sekolah mengaku ditekan oleh ketua yayasan atau atasan langsungnya, seperti kepala dinas pendidikan atau kepala kantor cabang departemen yang ada di kabupaten yang menangani pendidikan. Dalam kasus ini, menyontek justru terjadi secara massif, dan bahkan ‘semi legal’, karena justru disponsori oleh para pengawas itu sendiri.

Ketika standar nilai yang ditetapkan pemerintah terlalu tinggi dijadikan sebagai alasan dan pembenaran memberikan sontekan—yang dalam pandangan saya standar tersebut masih terlalu rendah—maka mestinya standar itu ditetapkan lebih tinggi lagi. Katakanlah standar nilai dengan skala 0-10, maka yang lulus ujian adalah mereka yang mendapatkan nilai 75 persen atau 7,5. Seandainya mereka menganggap musthail, pertanyaan yang mestinya ditujukan pada pengelola sekolah adalah, “Selama ini mereka ngapain aja? Mengapa siswa belajar tiga tahun sampai tidak siap menghadapi soal ujian nasional? Yang salah siapa? Apa gurunya? Apa bahan ajarnya? Apa metodenya? Atau, sarananya?

Dan, janganlah menyalahkan siswa karena siswa datang ke sekolah adalah untuk belajar. Belajar yang menurut KKBI adalah proses perubahan tingkah laku, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Dan, janganlah pula menyalahkan soalnya yang terlalu tinggi. Dalam sebuah kesempatan pejabat Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional pernah menyakatan bahwa soal matematika SD kelas 6 di Indonesia adalah yang paling mudah se-ASEAN. Bagaimana jika dibandingkan dengan kawasan lain? Bagaimana bila dibandingkan seasia? Sedunia? Wajarlah demikian, sehingga sampai-sampai Human Development Index (HDI) Indonesia merupakan yang paling rendah. Bahkan, katanya berada pada titik nadir, yaitu lebih rendah daripada Vietnam, negara yang belum terlalu lama bangkit dari sisa-sisa reruntuhan perang bersenjata melawan hegemoni Amerika Serikat (AS).

Akibat Menyontek

Bagi yang menyontek ketahuan oleh pengawas dapat dipastikan bagaimana kisah selanjutnya. Bisa dikeluarkan dari ruang ujian dan menanggung malu, dan bahkan lebih fatal lagi adalah adalah didiskualifikasi dan dinyatakan tidak lulus ujian. Hal ini pernah terjadi pada siswa di sebuah SLTA favorit di Jakarta Timur. Ia adalah siswa yang pintar dan rajin. Ia dikeluarkan dari ruang ujian bahkan tidak diluluskan bukan karena ia menyontek. Tetapi, yang ia lakukan adalah memberi sontekan pada yang lainnya. Bahkan, mestinya guru sebagai pengawas yang memberikan sontekan pada siswanya mestinya jugadikeluarkan dari jabatan atau profesinya, karena ia kontraproduktif dengan usaha-usaha sebelumnya, yaitu menanamkan banyak nilai dan norma bahwa siswa harus memegang kejujuran sekalipun langit akan runtuh.

Akibat lebih jauh ketika seseorang sudah lulus dari lembaga pendidikan maka ia tidak bisa menghadapi persoalan kehidupannya. Mengapa banyak produk sekolah yang menganggur? Jangan-jangan, itu karena penamanan nilai di sekolah mengalami kegagalan.

Menyontek dan Kreativitas

Kalau Anda menginginkan keberhasilan, hal ini bisa dilakukan dengan cara menyontek secara all out. Apa saja dunia yang Anda geluti? Katakalah seorang petani, ia bisa melakukan hal yang sama dengan petani lainnya ketika hasil panennya meningkat. Seorang pemusik juga demikian adanya. Sering kali seseorang yang bergelut di bidang musik diklaim sebagai plagiat gara-gara nada ciptaannya mirip dengan karya pemusik lainnya, baik di dalam maupun luar negeri. Ada juga yang berkilah bahwa, “Ya, wajar saja wong nada itu cuma tujuh, dari do dampai si. Bagi seorang pengusaha juga bisa demikian. Bila ada bidang baru yang boleh dibilang sukses dan masih sepi pesaingnya, bisa disontek. Termasuk acara-acara televisi kita juga banyak yang menyontek acara serupa di belahan dunia lain.

Sedangkan bagi pelajar atau mahasiswa, menyonteklah secara kreatif. Artinya, jangan menyontek pada saat ujian berlangsung. Agar ujian dapat dijalankan dengan sukses, bacalah setiap bahan pelajaran atau buku yang dijadikan rujukan sebanyak tujuh kali. Karena, sebelum dibaca sebanyak tujuh kali, bahan rujukan masih berada di otak dan belum turun ke dada.

Hal ini sesuai dengan pepatah Arab yang menyatakan al ilmu fi al shudur la fi shutur, ilmu itu ada di dada bukan di lembar-lembar kertas. Artinya, mesti ada proses internalisasi dari apa-apa saja yang menjadi kajian seseorang agar tetap melekat pada ingatan berjangka lama (long term memory).

Andrias Harefa pernah menyatakan bahwa kunci seseorang agar kreatif adalah dengan 3 N: niteni, niroke, nambahi. Atau, dalam bahasa lain yakni mencirikan, menirukan, dan menambahkan. Banyak kasus belajar justru dipahami sebagai proses peniruan. Contoh, anak kecil belajar berjalan, belajar berbicara, atau belajar apa saja adalah menirukan gerakan orang dewasa di sekelilinginya, terutama orang tuanya.

Artinya, sebelum mempunyai ide, langkah pertama bisa menirukan apa saja yang ada di sekelilingi kita. Sebagaimana halnya belajar menjahit baju. Pola dasar baju di mana saja dan kapan saja kan sama? Ada lengan, ada kerah, ada kancing, ada saku. Selebihnya adalah penambahan-penambahan di sana-sini akibat yang ditimbulkan dari proses kreativitas.

Jadi, menyontek di ruang ujian adalah tindakan yang tidak bijak, konyol, sembrono, serta tidak menghargai karunia Allah. Tuhan adalah Sang Maha-Pemberi akal pikiran yang luar biasa kepada setiap manusia. Menyontek sebagai bahan permulaan kreativitas dimungkinkan, karena bagaimanapun tidak ada yang original di dunia ini. Yang terjadi adalah proses kreatif yang terus-menerus untuk menciptakan produk, baik barang atau jasa, maupun produk kreatif lainnya.[tan]

* Tanenji lahir dan dibesarkan di Brebes, Jawa-Tengah, pada 12 Juli 1972. Ia menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan kini menjadi dosen tetap pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah serta dosen tidak tetap pada tiga perguruan tinggi swasta di Jakarta-Timur, Depok, dan Bogor. Sewaktu kuliah, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi. Tanenji juga aktif menjadi peneliti dan trainer pada Center for Teaching and Learning Development (CTLD), sebuah lembaga semi otonom di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang mengkhususkan pada pengembangan pembelajaran baik pada sekolah dasar dan menengah, serta perguruan tinggi. Ia mengaku terinspirasi pada Andrias Harefa, dan bercita-cita menjadi WTS (Writer, Trainer, and Speaker) yang sukses, andal, dan terkenal. Semboyannya,Tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang berani mencobanya’. Tanenji dapat dihubungi melalui e-mail: tanenji[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.1/10 (42 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +20 (from 36 votes)

5 Menit yang Menentukan Hidup Anda

epOleh: Ery Prasetyawan*

Cukup seringkah Anda merasa menghabiskan satu hari tanpa rencana? Sehingga, seakan hari lewat begitu saja, tidak terasa hasil nyatanya? Apalagi pada zaman sekarang, banyak sekali kegiatan penggoda yang bisa menghabiskan waktu kita secara cepat dan tak terasa. Contohnya adalah game di komputer, baik offline maupun online. Begitu juga dengan keasyikan chating dengan teman, baik melalui Yahoo Messenger, Facebook, dan masih banyak lagi media messenger lain yang mengasyikan.

Hal ini terjadi begitu saja dan mengisi hari-hari kita. Sehingga, seakan-akan dalam sehari kita tidak menghasilkan apa-apa. Kalaupun ada yang bisa kita hasilkan, sering kali itu hanyalah sedikit dan kurang produktif. Hal ini berbahaya bagi kita, karena produktivitas kita akan selalu menurun, dari hari ke hari. Kalau hal ini diakumulasikan dari bulan ke bulan, dan dari tahun ke tahun, akan sangat membahayakan kinerja (performance) kita. Selanjutnya, kita bisa rasakan akibat jangka panjangnya, lebih banyak hal negatif yang akan menimpa kita. Bahkan, kalau kita ini karyawan, bisa-bisa kita diberhentikan dari pekerjaan, atau kalau bisnis kita bisa bangkrut atau pailit.

Terus, apa yang bisa mencegah hal itu?

Banyak orang menyodorkan manajemen waktu yang harus kita lakukan, yaitu dengan cara menjadi lebih disiplin. Ini terasa klise bagi kita dan juga agak rumit melakukannya. Karena, kalau dari awal kita mendengar hal-hal yang berbau menajemen kita langsung jadi malas. Jangankan melakukan, mendengarkan saja kita sudah malas. Kedengaraanya perlu usaha keras dan panjang untuk menerapkan manajemen waktu dengan disiplin. So, kita jadi malas, deh! Manajemen waktu dengan disiplin… Hmmm, sound so goodbut too good to be true!”

Saya pun sudah mengalami problem manajemen waktu seperti di atas, memang tidak mudah. Sampai akhirnya saya menemukan hal dan cara yang sederhana, yang bisa kita lakukan untuk membuat diri kita tetap on the track dengan hasil-hasil yang baik dan tetap mempertahankan top performance kita. Di sisi lain, kita pun masih tetap bisa fun, enjoy, dan chating namun kinerja masih tetap nomer 1.

Pengalaman saya begini:

  1. Setiap pagi sebelum mulai melakukan aktivitas, baik di kantor maupun bisnis, setelah saya sampai di kantor dan pertama kali duduk di kursi, saya luangkan waktu 5 menit saja untuk menuliskan 5 hal paling prioritas yang harus selesai hari itu pada secarik kertas (kertas Post It).
  2. Saya urutkan kelima hal tadi sesuai prioritasnya dan saya beri kotak kecil sebagai tempat mencentang kalau sudah selesai.
  3. Lebih jelas lagi kalau di setiap hal itu juga diberi jam, sebagai tanda kapan waktu saya harus mengerjakannya.
  4. Saya tempelkan kertas kecil ini di dekat monitor kumputer atau saya masukkan ke dalam saku baju. Lalu saya fokus dan berkomitmen untuk menyelesaiakan semuanya hari itu juga.

Dengan langkah sederhana dan tidak merepotkan ini, kita akan tetap terjada pada jalur atau target-target kita. Dan juga, kita masih bisa main game dengan tenang karena kita sudah bisa mengontrol aktivitas dan target-target kita hari itu.

Untuk detailnya, yang biasa saya alami begini. Pagi jam 08.15 saya sampai di kantor. Setelah menyalakan dan menunggu komputer loading up, seperti biasa saya meluangkan waktu 5 menit untuk memikirkan 5 target terpenting yang harus kelar hari itu.

  1. Meng-upload hasil evaluasi seluruh anak buah di data base.
  2. Mengecek bahan rapat divisi sebagai persiapan sebelum rapat.
  3. Membuat laporan implementasi proses dan prosedur baru.
  4. Menulis atau merevisi bab-bab dari rangkaian naskah buku saya.
  5. Self-learning untuk hal teknis.
  6. Bayar SPP anak.

Lho, kenapa kok 6? Ya, yang nomor 6 adalah target yang tidak terlaksana hari kemarin. Jika ada target hari kemarin yang tidak bisa selesai, maka target itu harus tercantum dan dilaksanakan pada hari berikutnya. Jadikan itu prioritas nomer 1 di hari berikutnya. Itulah yang ada di pikiran saya, dan saya menuliskannya di kertas Post-It begini.

  1. SPP anak, 10.00-10.30.
  2. IPM (nama lain dari evaluasi di perusahaan saya), 09.00-10.00.
  3. Rapat divisi, 10.30-11.00.
  4. Proses & prosedur, 11.00 – 12.00.
  5. Training, 13.30-15.00.
  6. Menulis/revisi naskah, 17.00-18.00.

Di samping setiap aktivitas itu saya berikan kotak kecil sebagai tempat mencentang apabila sudah berhasil saya kerjakan. Dan, hari itu biasanya pada jam 11.00 aktivitas no 1-4 sudah selesai.

Nah, di sini kita bisa pilih apakah kita mau istirahat sebentar (karena tinggal dua aktivitas yang tersisa, sedangkan waktu masih banyak) atau kita bisa melanjutkan aktivitas ke-5 dan ke-6 sampai selesai dulu, baru kita bermain. Atau, kita bisa bermain dulu barang 30-60 menit, baru mengerjakan pekerjaan berikutnya. Mengasyikan, bukan? Bisa chating, browsing, main game, atau diskusi ringan dengan teman dll, tanpa kita lupa atau kelewatan tugas-tugas kita!

Setiap kita mencentang sebuah aktivitas sebagai tanda sudah menyelesaiakannya, ada rasa senang, lega, dan yang paling penting semangat bertambah untuk menyelesaiakn semua aktivitas hari itu. Nah, cara ini sederhana tetapi ampuh sekali. Hanya perlu waktu 5 menit saja. Itulah 5 menit yang bisa menentukan hidup kita. Selamat mencoba. Anda Luar Biasa![ep]

* Ery Prasetyawan, S.T., P.M.P., S.I. C.P.M., adalah ahli manajemen proyek yang sekarang bekerja sebagai Senior Manager di sebuah perusahaan telekomunikasi multinasional. Ia juga seorang trainer dalam bidang manajemen proyek. Ery juga meminati bidang internet marketing, SEO, afiliasi, dan kini sedang menulis sebuah buku tentang manajemen utang. Ayah satu anak yang tinggal di Cinere, Depok ini mengembagkan tips website yang beralamat di: www.tips-db.com. Ery dapat dihubungi melalui email: income_21[at]yahoo[dot]com atau nomor telepon: +62 811904262.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Renungan di Balik Memperingati Hari Ulang Tahun

fa

Oleh: Fida Abbott*

Setiap tahun tentunya kita selalu memperingati hari ulang tahun. Bagi mereka, siapa pun yang sedang memperingati ulang tahun, lagu-lagu “Happy Birthday to You” atau “Panjang Umurnya” tak akan terlewat begitu saja sebelum meniup lilin-lilin yang berdiri tegak di atas cake.

Seminggu yang lalu, beberapa hari sebelum ulang tahun saya tiba, pesan utama yang saya utarakan kepada sang suami adalah agar ia tak perlu repot-repot membeli hadiah spesial untuk saya. Meskipun saya mengetahui, bahwa sebenarnya usaha saya itu pun akan sia-sia belaka. Apa pun alasan saya, saya yakin ia pun masih akan tetap memberikan sebuah hadiah ulang tahun kepada saya.

Setiap menjelang ulang tahun tiba, saya selalu merenungkan sejenak bagaimana saat saya lahir ke dunia ini. Dari beberapa cerita yang saya dengar, baik dari Bapak dan keluarga dari pihak Ibu saya mengatakan, bahwa saya terlahir dengan ukuran bayi yang sangat kecil, yaitu hanya seberat 2,2 kg. Bayangkan! Saat itu, menurut cerita mereka, Indonesia masih belum memiliki alat pembantu khusus (inkubator) untuk bayi-bayi yang lahir dengan ukuran kecil. Sehingga, mereka hanya melakukan blonyohan (mengolesi) minyak di sekujur tubuh saya dalam beberapa bulan dari awal kelahiran saya. Katanya sih sebagai pengganti proses tersebut. Tidak tahu apakah itu benar bila dipandang dari segi medical, tetapi nyatanya, saya berhasil tumbuh dan berkembang dengan sangat baik hingga dewasa. Dan, saya pun telah dikarunia seorang putri, buah cinta dari perkawinan saya dengan seseorang berwarga negara Amerika.

Saya kembali merenung, bagaimana keadaan saya waktu itu. Mereka bercerita, kalau mereka tidak tega saat melihat saya sewaktu bayi. Ukuran baju yang telah mereka sediakan pun tampak kebesaran di badan saya waktu itu. Sekarang setelah usia hampir berkepala empat, tubuh saya pun masih terlihat mungil. Seorang dokter di AS pernah mengatakan, bahwa saya adalah seorang pasiennya yang terkecil yang pernah ditanganinya selama bertahun-tahun. Dia pun bersyukur bahwa ternyata saya melahirkan dengan C-section (operasi cesar) karena posisi diagonal si jabang bayi, yang mana kondisi kepala di sebelah kanan atas dan kaki di sebelah kiri bawah. Seharusnya, posisi kepala berada di bagian bawah dan kaki di bagian atas. Kalau tidak melalui C-section, ia merasa khawatir, saya akan menemukan kesulitan dalam proses melahirkan bayi saya. Karena, dia yakin persentase tinggi si bayi ini pasti berukuran tidak kecil, mengingat suami saya memiliki postur tubuh sebagaimana orang-orang AS, tinggi dan besar.

Renungan terakhir menjelang ulang tahun saya adalah semakin bertambah usia, maka semakin berkuranglah usia saya untuk hidup di dunia ini. Mengingat semua itu, kembali saya terpanggil untuk mengingat apa hal yang baik atau terbaik dan berguna atau bermanfaat yang telah saya berikan atau bagikan kepada sesama, terutama linkup terkecil dan utama/pertama, yaitu keluarga sendiri. Itu semua tentu mengarah kepada eksistensi kita sebagai manusia, apakah berguna bagi sesama kita.

Saya merenungkan kembali malam itu. Ternyata, saya akui bahwa selama kita hidup di dunia, kita akan selalu dikenang oleh sesama. Baik itu oleh keluarga, sanak famili, para sahabat, rekan-rekan sejawat, dan lain-lain, apakah kita telah melakukan hal-hal yang baik ataupun sebaliknya. Apabila kita telah terlabel, bahwa kita banyak melakukan hal-hal yang baik, maka kita akan dikenang jasa-jasa baik kita. Misalnya, sebagai seorang penulis pemberi inspirasi; seorang dokter yang murah hati dan tidak berorientasi terhadap apa yang diterimanya saja; seorang guru yang tidak menjual keprofesioanalannya demi mendapatkan tambahan income, dan sejenisnya.

Sebaliknya, apabila kita sering melakukan hal-hal yang tidak baik, misalnya terkenal sebagai pencuri, perampok, salah satu koruptor negara, dan sejenisnya, maka kita pun akan dikenang dengan label tersebut. Manakah yang Anda pilih? Anda dikenang dengan jasa-jasa baik ataukah dikenang oleh karena telah melakukan hal-hal yang tidak berkenan? Saya yakin Anda akan memilih pilihan yang pertama, yaitu sebagai seseorang yang dikenang oleh karena jasa-jasa baik yang telah dilakukan.

Malam itu pun pikiran saya teringat akan keluarga di Indonesia. Merayakan ulang tahun bukanlah hal yang biasa dilakukan oleh keluarga saya. Biasa-biasa saja, hampir tak ada tanda untuk hari spesial itu bagi masing-masing anggota keluarga, selain ucapan selamat. Paling tidak, saya ditodong oleh rekan-rekan di tempat kerja atau teman-teman dekat untuk memberi traktiran. Terkadang ada juga yang memberi sebuah kado atau selembar kartu ucapan, atau sebuah ucapan saja, itu semua saya hargai, karena merupakan suatu bentuk perhatian khusus yang mereka berikan kepada saya secara pribadi.

Setelah perkawinan saya di AS, ternyata perayaan ulang tahun telah menjadi tradisi di pihak keluarga suami saya. Meskipun hanya berupa sebuah cake, dan sebuah hadiah, setiap ulang tahun dari masing–masing anggota keluarga tiba, pasti akan dirayakan walaupun hanya dihadiri oleh anggota keluarga sendiri. Jadi, saya merasa usaha untuk meminta suami saya agar tidak memberikan saya sebuah hadiah, pasti akan sia-sia belaka. Dia akan mencari tahu sendiri kira-kira benda apa yang sedang saya butuhkan saat ini, sehingga ia akan membelikannya sebagai kado ulang tahun.

Waktu telah menunjukkan pukul 11.30 malam waktu di tempat saya. Mata saya masih tetap kuat bertahan, namun tubuh saya sudah mulai tampak lelah. Karena itu, rasanya ingin rebah saja di atas tempat tidur. Menjelang menit-menit ulang tahun saya tiba, saya berdoa dalam hati, kiranya saya hadir ke dunia boleh menjadi berkat untuk sesama, baik itu untuk keluarga sendiri, para sahabat, rekan-rekan sejawat dan sekerja, offline maupun online, baik itu melalui tingkah laku/sikap, perkataan, pikiran, maupun tulisan-tulisan saya.

Akhirnya, saya pun terlelap. Saat bangun di pagi hari, tiga buah mawar merah dan sebuah kartu menyambut pagi indah saya. Ternyata ada satu lembar uang cash di dalam kartu. Suami saya berkata, “Buy a very nice thing for yourself!” Malam itu juga saya membeli sebuah baju yang sederhana, tetapi tampak indah dan semampai di tubuh saya. Suami dan si kecil pun menyukainya. Senang rasanya saya dapat menuruti permintaannya. Saya berpesan lagi kepadanya, agar tidak ada lagi hadiah untuk saya pada hari Minggu (15 Februari 2009), yang mana suami punya rencana untuk merayakan ulang tahun saya yang akan dihadiri oleh anggota-anggota keluarga lainnya.

Sekali lagi pesan saya tidak mempan juga. Hari Minggu pagi sebelum saya berangkat ke gereja, di atas tempat tidurdengan mata yang masih berat untuk dibukasuami saya menghampiri dan membangunkan saya sambil memberi sebuah bungkusan. Dia berkata, “Happy Birthday! One Birthday present for you.” Saya pun terjaga dan terbangun. “Gateway” adalah sebuah tulisan pertama dalam pembungkus kotak tersebut yang saya baca. Oh my God! begitu saya berucap dalam hati saya. Sebuah notebook yang telah saya incar selama ini dan saya sudah siap untuk membelinya dengan uang hasil jerih payah sendiri, ternyata kini sudah berada di depan mata saya. Kemudian saya bangkit dan menghampirinya, memeluknya dan mengucapkan terima kasih.

Ternyata dia memang mengetahuinya, bahwa saat ini saya sedang memerlukan sebuah notebook, agar saya dapat menemani si kecil ke mana-mana tanpa meninggalkan jadwal online saya yang kian padat.

Semua hal-hal tersebut yang telah saya ceritakan di atas mengekspresikan, bahwa ulang tahun merupakan hari yang spesial bagi kita masing-masing untuk merenungkan arti hidup kita, yang semakin hari semakin bertambah tua. Apa yang telah kita perbuat untuk sesama dan keluarga, negara Tanah Air kita? Menerima dan menikmati berkat dari mereka yang menyayangi/mencintai kita melalui apa-apa yang telah diterima. Dapatkah kita memanfaatkannya untuk berbagi kepada sesama? Kadangkala kita melupakan hal ini karena umumnya yang kita ingat hanya bagaimana kita akan merayakan ulang tahun kita, masakan/menu apa yang akan kita hidangkan untuk perayaan ulang tahun tersebut, siapa-siapa saja tamu yang akan diundang, dirayakan di mana; di restaurant sederhana atau di hotel berbintang lima, dan sebagainya.

Saat akan mengakhiri tulisan ini, sebuah kartu ulang tahun dari sang suami masih tergeletak di samping saya. Memang, saya sangat menyukai bait-bait puisi yang tertera di dalamnya. Dua buah kalimat paling akhir tertera demikian:

You bring so much joy to my life

just by being the beautiful,

caring person you are.

I’m very lucky man to have you

For my wife

HAPPY BIRTHDAY

***

Coatesville-PA, 17 Pebruari 2009[fa]

* Fida Abbott adalah Arek Suroboyo yang lahir pada 11 Pebruari 1970 di Surabaya dan sekarang tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia mengenal dunia tulis menulis sejak usia 8 tahun hasil didikan langsung ayahndanya, Imam Sujono, dan melahirkan cerpen remaja pertamanya berjudul “Kidung Kasih untuk Lintang” pada usia 13 tahun. Menulis merupakan aktivitas lulusan Pertanian jurusan Agronomi dari UPN ‘Veteran’ Surabaya ini. Fida memiliki beberapa pengalaman kerja di bidang landscape, dari proyek kecil hingga besar, dari perumahan tunggal, real estate, hingga hotel, kondominium, apartemen berbintang lima di Surabaya. Ia pernah berkarier di AIG-Lippo, jadi guru les privat, dan kini tercatat sebagai WALMART Associate, menjadi Redaktur Pelaksana Harian Online KabarIndonesia (HOKI), www.kabarindonesia.com sekaligus Direktur Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH). Tulisan-tulisannya tersebar di beberapa media online, antara lain di KabarIndonesia, Helium, Cross-Written, The Daily Avocado, dan ketiga blog-nya di www.fidaabbott.blogspot.com, www.buanainspiration.blogspot.com dan www.abbottsbooks.blogspot.com. Fida adalah penulis buku What Prayers does Mommy Teach Me dan Dancing in My World. Ia dapat dihubungi melalui email: …

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.9/10 (14 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +8 (from 8 votes)

Tante Ann: Ibunda Barrack Obama

iyOleh: Iftida Yasar*

Perempuan adalah makhluk yang sangat istimewa. Oleh Allah perempuan diberikan kemuliaan untuk menjaga amanah melahirkan generasi penerus. Tugasnya sebagai sosok yang sangat berperan dalam menentukan kualitas generasi penerus, baik secara fisik maupun pembentukan karakter, membuatnya harus dapat selalu menjaga citra diri dan memeliharanya.

Perempuan adalah tiang rumah tangga, pemersatu keluarga, cahaya keindahan dan kebenaran. Ia adalah pemimpin dalam rumahnya untuk anak-anaknya dalam menanamkan nilai-nilai baik kejujuran, keteguhan, kesetiaan, kelembutan, dan kasih sayang. Dengan kasih sayangnya ia menjaga rumah tangganya dari segala tantangan baik dari luar maupun dari dalam.

Tidak semua perempuan memahami dan mampu menerapkan tugas dan kodratnya. Banyak yang gamang dan larut dalam kungkungan masalah tanpa mampu bangkit serta melihat indahnya tantangan kehidupan. Perempuan sebagai makhluk yang mengemban tugas melahirkan generasi penerus harus sehat dan bahagia. Ia layaknya mampu mengetahui kodratnya sebagai pemersatu keluarga dan mampu menjaga rumah tangganya dari tantangan. Tantangan dari dalam berupa keteguhan untuk meyakini bahwa kodratnya adalah membentuk karakter anak-anaknya dengan menjadi panutan dan menjalankan nilai baik, seperti kejujuran, keteguhan, dan kasih sayang.

Perempuan sering digambarkan sebagai mahluk Tuhan yang halus, memesona, indah, lemah, perlu dijaga, dan dilindungi karena dibuat dari tulang rusuk laki-laki. Halus, sehingga jika perempuan berkata keras atau mempertahankan pendapatnya dengan gigih di muka umum, maka ia akan dicap sebagai perempauan keras atau kasar. Perempuan tidak usah neko-neko berdebat atau mempertahankan pendapatnya, tidak pantas, lebih baik diam saja, dan mengalah.

Perempuan yang memercayai hal ini seratus persen akan selalu merindukan sang pangeran yang akan selalu mencintai, melindungi, dan mendampinginya. Kebutuhannya akan berhenti di batas ini seperti Dewi mencari cinta”. Tanpa cinta maka hidupnya tidak akan bahagia. Bisa jadi jika ia tidak bahagia, maka hidupnya akan murung, sedih dan lupa akan tugasnya mengantarkan anak-anaknya tumbuh kembang dan menjadi manusia yang kuat, bahagia, dan sukses.

Perempuan digambarkan memesona dan indah sehingga ia harus tampil prima, menjaga keindahan tubuhnya, berpakaian dan berdandan yang menarik untuk mempertahankan citra pesonanya. Jika perempuan terlihat lusuh, tidak berdandana, gembrot, maka ia dianggap bukan perempuan. Banyak kasus cacat bahkan kematian perempuan akibat operasi plastik, suntik, dan lain-lain tindakan karena keinginan perempuan untuk terlihat cantik dan langsing. Begitu sibuknya perempuan mempercantik dirinya sehingga mungkin lupa memikirkan tumbuh kembang anak-anaknya, yang lebih banyak bersama mbaknya (baca: pembantu/pengasuh) karena ibu mereka sibuk di salon.

Perempuan lemah, jadi ia jangan mengerjakan pekerjaan yang berat. Kasih saja yang ringan dan tidak memerlukan kemampuan yang tinggi. Karena lemah, perempuan jadi tidak mau menerima tantangan tugas yang beragam, tidak mau pulang telat, sering izin dengan berbagain alasan, mulai dari sakit perut karena menstruasi, anak sakit, pembantu tidak ada, dsb. Ada juga perempuan yang dengan atribut keperempuannya meminta jatah jabatan atau kedudukan karena, katanya, suatu pekerjaan tidak akan seronok dan hambar tanpa kehadiran perempuan. Dengan kenesnya perempuan jenis ini tidak malu menyodorkan dirinya untuk menjadi sesuatu tanpa menyadari dia tidak punya kompetensi, hanya karena ia ingin perempuan ada di situ.

Tetapi, di lain pihak perempuan juga menginginkan adanya kesamaan hak, menuntut gaji yang sama besar, fasilitas yang sama, jabatan yang sama dengan laki-laki, semuanya dengan cap emansipasi. Bahkan yang lebih ekstrim adalah tidak butuh laki-laki, lakukan semua sendiri, pekerjaan seberat apa pun tidak mau dibantu.

Kita yang sering menonton film barat dapat melihat dengan jelas bagaimana mandiri dan perkasanya perempuan seperti itu. Mereka tidak berdandan, berpenampilan gagah perkasa, bahkan menjadi orang tua tunggal “by choice” hanya untuk membuktikan bahwa mereka bisa hidup tanpa laki-laki.

Beda dengan kita di Indonesia, banyak perempuan terutama yang berada pada lapisan bawah, mereka harus bekerja keras menghidupi keluarganya. Lihat di Bali, bagaimana para perempuan menjadi kuli bangunan, mengangkat batu, dan bekerja keras di bawah teriknya matahari. Semua dilakukannya karena ia harus membantu mencari nafkah dengan alasan yang klasik, bahwa penghasilan suami tidak mencukupi untuk keluarga. Perempuan juga banyak yang berperan sebagai penghasil utama dan penopang kehidupan rumah tangganya.

Biasanya, pekerja perempuan lebih penurut, gampang diatur, fleksibel, dan mau mengerjakan pekerjaan apa saja tanpa hitung-hitungan. Hikmahnya, ia akan bekerja lebih keras dan sering menghadapi tantangan sehingga terasah kemampuannya, dan akhirnya dapat memiliki karier yang baik.

Pendapat di atas agak kontradiktif memang, yang mengatakan bahwa perempuan adalah makhluk lemah yang tidak bisa mengerjakan apa-apa, tetapi di lain pihak jika ia mau (by choice) atau karena terpaksa, maka perempuan bisa menjadi apa saja. Perempuan bisa jadi tukang becak, sopir taksi, tukang bangunan, supervisor, bahkan direktur utama di perusahaan besar. Semuanya dimulai dari bagaimana cara pandang kita memperlakukan diri sendiri.

Kenapa judul tulisan diatas adalah mengenai Tante Ann, Ibunda dari Maya Soetoro dan Barack Obama, presiden Amerika Serikat yang ke 44? Saya melihat Tante Ann adalah sosok ibu yang sangat istimewa, yang mampu mengantarkan anak-anaknya hidup dengan harga diri, mandiri, dan selalu berjuang untuk mencapai cita-citanya. Tante Ann adalah perempuan istimewa, bukan perempuan biasa. Sebagai perempuan kulit putih, ia berani memutuskan menikah dengan orang yang bukan kulit putih. Walaupun kedua perkawinannya kandas, tetapi ia tetap mengajarkan anak-anaknya agar menghargai bapaknya.

Dari biografi tentang Barrack Obama, banyak perjalanan yang dilakukannya untuk bertemu dengan keluarga ayahnya. Maya Soetoro juga kelihatannya tumbuh menjadi perempuan yang bahagia, mandiri, dan mempunyai kepedulian terhadap masyarakat. Walaupun sejak kecil ia ikut ibunya, tapi Maya tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga ayahnya.

Di sini terlihat jelas, bahwa tante Ann mampu memainkan peranan sebagai ibu yang mandiri, walaupun harus menghidupi anak-anaknya sendiri. Tante Ann tidak terpuruk dalam kesedihan menangisi kegagalan cintanya. Ia berkonsentrasi membesarkan anak-anaknya dan mewarisi nilai-nilai baik yang mampu mengawal kedua anaknya menjadi manusia yang berhasil.

Perjalanan panjang dan penuh dengan perjuangan untuk bertahan dan meraih sukses melekat erat pada diri Obama. Awal perjuangannya mencalonkan diri sebagai kandidat presiden Amerika Serikat dipandang sebelah mata oleh lawan politiknya. Bagaimana mungkin seorang keturunan Afrika dapat menjadi presiden di negara adidaya, yang notabene masih memandang orang kulit putih adalah lebih pantas untuk menjadi presiden mereka? Apalagi ia pernah tinggal di Indonesia dan diisukan pula beragama Islam. Walaupun Amerika ingin dipandang sebagai negara demokrasi, baik dalam bidang politik maupun agama, tetapi rasanya mempunyai seorang presiden yang beragama Islam bukan pilihan bagi mereka.

Berbagai isu dapat dilewati oleh Obama, bahkan secara telak ia dapat mengalahkan Hillary Clinton, lawan beratnya yang merupakan senator dari New York, dan pernah menjadi seorang first lady Amerika Serikat. Sampai detik terakhir kampanyenya Hillary tidak pernah menyangka ia harus menyerah dan kalah dari seorang Obama yang keturunan Afrika, disukan beragama Islam, dan juga mempunyai karier politik yang jauh lebih yunior dibandingkan dengan dirinya.

Hebatnya, setelah dinyatakan kalah Hillaryyang walaupun kecewa beratlalu mendukung penuh pencalonan Obama sebagai wakil partai demokrat untuk maju sebagai kandidat persiden Amerika Serikat. Sungguh, Hillary juga bukan perempuan biasa. Ia termasuk perempuan istimewa yang meminta 18 juta pendukungnya memilih Obama menjadi persiden.

Tanpa bimbingan seorang ibu yang kuat, seorang Obama tak akan mampu terus maju menggapai impiannya menjadi persiden Amerika. Walau harus menghadapi kesulitan sebesar apa pun, ia punya mimpi yang tak kunjung padam, menjadi presiden Amerika. Tekad kuat Tante Ann adalah memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anaknya, dibarengi dengan pendidikan moral untuk selalu hormat pada orang lain, mempunyai kebanggaan terhadap kemampuan diri sendiri, dan berbuat baik kepada orang banyak. Pendidikan karakter yang baik ini diwarisi dan dijalankan oleh kedua anak tante Ann.

Michelle Obama, pendamping sang presiden, adalah juga perempuan cerdas yang istimewa. Ia mampu membawakan peranannya sebagai pendukung suaminya. Dalam berita Kompas 27 Agustus 2008 lalu, ia mengatakan di depan puluhan ribu pendukung Demokrat di Denver, Barack dan Michelle dibesarkan dengan nilai keluarga yang harus bekerja keras, memegang moto bahwa janjimu adalah utangmu, mengatakan apa yang harus dilakukan dan memperlakukan orang secara hormat walaupun saling tidak sependapat.

Mereka berdua membangun nilai-nilai tersebut dan mewariskannya pada generai muda. “Kami menginginkan anak-anak kami dan semua anak din egeri ini mengetahui bahwa batas tingginya cita-cita kita adalah mencapai mimpi dan kemauan untuk mewujudkannya,” demikian Michelle Obama. Begitu besar peran ibu dalam pembentukan pribadi Obama sehingga sang istri begitu mencintai dan menghormatinya.

Sebagai perempuan, Tante Ann adalah figur yang patut dijadikan panutan. Ia cantik bukan hanya fisiknya saja, tetapi juga hatinya. Ia percaya dengan apa yang dianggapnya baik dan menjalankan kehidupannya dengan mandiri. Tante Ann adalah tiang rumah tangga, pemersatu keluarga, cahaya keindahan dan kebenaran. Ia adalah pemimpin dalam rumah untuk anak-anaknya dalam menanamkan nilai-nilai baik kejujuran, keteguhan, kesetiaan, kelembutan, dan kasih sayang. Dengan kasih sayangnya ia menjaga dan membimbing anak-anaknya dari segala tantangan untuk meraih mimpi mereka.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Ia suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau email: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Dispersal: Strategi Sukses Semua Makhluk

sgOleh: Sulmin Gumiri*

Dalam mata kuliah Ekologi yang saya ajarkan kepada para mahasiswa pascasarjana, ada satu topik yang selalu hangat diperbincangkan mahasiswa setiap angkatan. Topik itu adalah tentang kebiasaan untuk melakukan dispersal pada sebagian individu organisme baik tumbuhan, hewan, dan juga pada manusia. Kata dispersal sebenarnya berasal dari istilah ekologi untuk menggambarkan penyebaran organisme dari tempat asalnya. Fenomena penyebaran berbagai jenis makhluk hidup ini bisa kita lihat, misalnya pada melentingnya sebuah biji tumbuhan pada saat kulit buah yang sudah masak tiba-tiba merekah, sehingga ia terlempar jauh dari pohon induknya.

Pada binatang misalnya, kita melihat bagaimana seekor rusa jantan muda tiba-tiba berjalan sendiri keluar dari lintasan perjalanan kelompoknya dan mencari arah baru pengembaraannya. Gejala dispersal pada manusia bisa kita lihat pula pada hijrahnya seseorang dari desa ke kota, atau dari satu kota ke kota yang lain, dan bahkan dari negara satu ke negara yang lain. Mengapa makhluk-makhluk itu melakukan dispersal? Jawabannya hanya satu, yaitu untuk mencari kehidupan yang lebih baik atau menemukan kesuksesan.

Dispersal dan sukses adalah proses alami yang diciptakan oleh Sang Pencipta bagi semua makhluknya. Dispersal sebenarnya sangat terkait dengan tantangan yang telah saya tulis di artikel saya sebelumnyan (baca: “Jangan Pernah Lari dari Tantangan!”). Untuk melakukan dispersal tidaklah mudah, karena makhluk yang melakukannya pasti akan menghadapi risiko. Sebuah biji yang melenting paling jauh dan terpisah dari tumpukan biji-biji lain sekitar pohon induknya, akan menghadapi risiko tersangkut di pohon, mendarat di pasir gersang sehingga mengering dan mati, atau juga mungkin akan ditemukan oleh hewan pemakan biji, sehingga ia gagal melanjutkan proses kehidupan untuk menjadi sebatang pohon baru.

Seekor rusa jantan yang keluar dari lintasan kelompoknya akan menempuh perjalanan panjang yang mirip judi. Ia bisa mati kehausan jika tidak menemukan sumber air di lintasan barunya, atau ia juga bisa diterkam predator, atau ditembak oleh pemburu yang menemukannya pada saat ia sendirian.

Sementara, orang yang melakukan hijrah dari satu tempat ke tempat yang lain bisa stres karena tidak punya teman, tidak paham bahasa orang di sekitarnya, atau mungkin terlunta-lunta akibat tidak berhasil menemukan pekerjaan di tempat barunya.

Meskipun penuh risiko dan bahkan bisa berujung kepada kematian, tetapi tetap saja ada individu makhluk hidup yang mencoba melakukan dispersal. Mereka yang nekat melakukan dispersal ini tentulah makhluk-makhluk luar biasa yang berani menghadapi tantangan, karena mereka sadar bahwa di balik tantangan dan risiko tentu ada imbalan kesuksesan yang sengaja disembunyikan oleh Sang Pencipta.

Bayangkan, jika biji yang melenting jauh tersebut jatuh di tanah yang subur dan tidak ditemukan oleh hewan pemakan biji-bijian. Ia akan sangat cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya, kemudian mulai membelah diri dan tumbuh subur menjadi pohon yang tinggi menjulang, tanpa harus berebut unsur hara atau sinar matahari dengan saudara-saudaranya yang memilih tumbuh berdesak-desakan di sekitar pohon induk mereka.

Setelah berpetualang tersesat ke sana kemari dengan melawan haus dan dahaga, sang rusa jantan “nyeleneh”, yang keluar dari kerumunannya dan mencari jalan sendiri, mungkin akhirnya akan bertemu dengan padang rumput yang luas menghampar di pinggiran sungai. Dengan sumber makanan yang melimpah ia akhirnya menjadi pejantan muda yang besar dan kuat sehingga menjadi raja di teritori baru yang dikuasainya, sesuatu yang tidak akan ia dapatkan seandainya ia terus bersama kelompoknya. Sebab, ia akan selalu dihardik dan dihajar oleh pejantan senior yang memimpin kelompok mereka karena persaingan makanan dan pasangan.

Setelah setengah putus asa karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaaan di Kota Jakarta yang katanya sekejam ibu tiri, seorang Andrie Wongso, sang petualang dari Malang yang tidak tamat Sekolah Dasar itu, akhirnya berhasil menjadi seorang aktor film laga di Hongkong karena usaha kerasnya sendiri. Berbekal success story yang dialaminya, sekarang Andrie benar-benar sukses menjadi motivator nomor satu di Indonesia. Ia mengajarkan kiat-kiat mencapai kesuksesan, tidak saja bagi orang kebanyakan, tetapi juga untuk orang-orang intelektual di perguruan tinggi.

Bagi kita manusia, strategi menggapai kesuksesan dengan melakukan dispersal ini telah dipraktikkan sejak dulu kala. Di luar negeri kita bisa melihat bagaimana para petualang Eropa dulu, yang berlomba-lomba bermigrasi ke Benua Amerika, dan akhirnya sukses membangun negara Amerika Serikat yang merupakan kekuatan ekonomi nomor satu dunia saat ini. Atau, lihat orang-orang Cina yang sejak dulumeskipun tidak bisa berbahasa Inggrismereka terus-menerus menyebar di hampir seluruh negara dan berhasil menguasai jaringan perdagangan dunia.

Di negeri sendiri, kita bisa belajar dari pemuda-pemuda Minang yang selalu gerah tinggal di desa mereka, dan akhirnya merantau sehingga, tidak saja para pedagang garmen dan restoran padang yang menyebar di mana-mana di seluruh pelosok Indonesia, tetapi juga para ilmuan tersohor dan tokoh politik nasional pun banyak yang berasal dari suku perantau ini.

Dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa, hampir tidak ada satu pun pulau di Indonesia ini yang tidak didiami oleh suku Jawa. Dan, mereka rata-rata menjadi contoh bagaimana membangun keberhasilan di tempat yang baru mereka tinggali.

Ada yang unik dari orang-orang luar biasa yang sukses karena melakukan dispersal. Ternyata, kesuksesan mereka bukan karena faktor tempat tujuan dan bukan pula karena faktor keberuntungan. Ada orang sukses karena ia pindah dari desa ke kota, tetapi ada juga orang yang justru sukses setelah putus asa mencari pekerjaan di kota dan akhirnya ikut transmigrasi di desa.

Banyak orang Jawa yang sukses setelah pindah ke Sumatera, tetapi tidak sedikit pula orang Sumatera yang justru sukses karena ia merantau ke Jawa. Apakah orang-orang yang sukses karena melakukan dispersal hanya didominasi oleh kalangan pria saja? Tidak juga. Ir. Ciputra adalah contoh pemuda Sulawesi yang berhasil membangun raksasa bisnisnya setelah menaklukkan kerasnya kehidupan Jakarta, tetapi Jenie S. Biev justru sukses menjadi penulis wanita Indonesia terkemuka setelah berhasil mengalahkan para pesaingnya di Amerika.

Lalu, apa sebenarnya rahasia kesuksesan yang dicapai oleh makhluk-makhluk luar biasa yang melakukan dispersal di atas? Yang pertama adalah tekad mereka yang memang benar-benar luar biasa. Hanya makhluk yang punya nyali besar yang berani menghadapi risiko dispersal. Selain memiliki nyali besar, mereka juga memiliki visi yang besar yaitu “sukses”. Karena, tujuan dispersal mereka hanya untuk sebuah kesuksesan, maka mereka biasanya menyusun strategi atau rencana untuk mencapai kesuksesan tersebut.

Agar bisa melenting jauh, sebuah biji yang akan melakukan dispersal biasanya kecil dan ringan serta membentuk dirinya seperti bersayap, agar bisa terbang jauh dan menentukan arah sendiri ketika ditiup angin. Rusa jantan muda yang akan melakukan dispersal biasanya sudah terlihat dari kebiasaannya yang agresif dan suka berlari-lari ketika berjalan bersama rombongan, sebagai persiapan agar dapat berlari kencang saat menghindari predator yang mungkin menyerangnya selama pengembaraan.

Orang yang akan berpindah ke tempat baru biasanya sudah menyiapkan bekal dengan meminta nasihat orang tua, melatih kesabaran, memperdalam keterampilan, menyiapkan dokumen, atau belajar bahasa agar cepat dapat beradaptasi, bergaul, dan berkompetesi di tempat baru yang akan ditujunya.

Orang-orang yang berpindah ke tempat baru biasanya sangat percaya bahwa jika tekad sudah dihujamkan dalam hati, dan dengan berbekal strategi yang sudah dipersiapkan sebelumnya, maka perwujudan visi besar untuk menggapai kesuksesan itu hanya tinggal menunggu waktu saja. Karena keyakinan yang sangat besar untuk meraih kesuksesan tersebut, mereka tidak segan-segan bekerja keras. Mereka percaya bahwa tidak ada cara instan untuk mencapai suatu kesuksesan. Sukses harus melalui sebuah proses dan karenanya memerlukan waktu lama untuk mencapainya.

Dan di atas segalanya, orang-orang sukses adalah mereka yang sadar bahwa sukses ternyata tidak identik dengan harta, popularitas, kedudukan, dan pangkat. Orang yang sukses adalah orang yang mengetahui tujuan hidupnya, bermanfaat bagi orang lain, dan terus bertumbuh untuk menuju potensi maksimum yang ada pada dirinya. O.A. Batista mengatakan, Anda telah mencapai puncak sukses segera setelah Anda tidak lagi tertarik kepada uang, pujian, dan publisitas.

Untuk melihat salah satu potret orang sukses, tidak ada salahnya kalau kita belajar dari Ir. Ciputra, sang raja bisnis properti Indonesia. Bos PT Pembangunan Jaya, Metropolitan Development, dan Ciputra Group yang bisnisnya menggurita di kota-kota besar Indonesia, dan bahkan di luar negeri, ini benar-benar mewakili orang sukses karena tradisi dispersal yang ada di keluarganya.

Pada masa kanak-kanak Pak Ci, panggilan akrabnya, ternyata cukup sengsara. Pria keturunan dengan nama cina Tjie Tjin Hoan ini lahir di Parigi, Sulawesi Selatan. Sejak usia 12 tahun, ia telah menjadi yatim karena ayahnya dituduh anti-Jepang, ditangkap, dan akhirnya meninggal dalam penjara. Sejak itu, ia harus membantu sang ibu dengan bangun pagi-pagi mengurus sapi piaraan, sebelum berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki sejauh 7 km. Mereka hidup dari penjualan kue ibunya. Setelah lulus SMA, berkat kerja keras sang ibu, ia kemudian berhasil masuk ke ITB dan memilih Jurusan Arsitektur.

Setelah Ciputra meraih gelar insinyur pada tahun 1960, ia kemudian pindah ke Jakarta. Di Ibu Kota inilah awal kesuksesan Ciputra. PT Pembangunan Jaya yang pada awal didirikannya pada tahun 80-an cuma dikelola oleh lima orang, dan berkantor di sebuah kamar kerja Pemda DKI Jakarta Raya, kini 20-an tahun kemudian telah menjadi perusahaan raksasa di bawah konsorsium Pembangunan Jaya Group, yang memiliki sedikitnya 20 anak perusahaan dengan 14.000 karyawan.

Namun, Ir. Ciputra, sang pendiri, belum merasa puas. Ia terus bekerja dan berkreativitas untuk mewujudkan mimpi besarnya. Pada suatu kesempatan beliau pernah berkata, “Kalau sudah merasa berhasil, biasanya kreativitas akan mandek.” Sadar akan makna hidup yang sesungguhnya, di usianya yang ke-75, ia malah berkiprah ke bidang pengabdian masyarakat dengan memilih bidang pendidikan. Lalu, didirikannyalah sekolah dan Universitas Ciputra. Bukan sekolah biasa, tetapi sekolah ini menitikberatkan pada enterpreneurship. Dengan sekolah kewirausahaan ini Pak Ci ingin menyiapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa pengusaha. Demikianlah, kesuksesan Pak Ci tidak didapatkannya di tanah kelahirannya di Sulawesi, tetapi justru di Kota Metropolitan Jakarta yang penuh dengan tantangan dan risiko.

Kepada kita yang mungkin mulai putus asa dengan permasalahan kehidupan yang tidak ada titik terang dan jalan keluarnya, mengapa kita tidak mencoba strategi dispersal? Yaitu dengan mencari peruntungan baru di tempat lain, seperti telah dicontohkan oleh Pak Ciputra?[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui email: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Do Simple Things with Great Love

ad1Oleh: Alexandra Dewi*

Selama kita masih menjadi manusia dan berdomisili di bumi, pastinya kita akan punya yang namanya keinginan, masalah, tujuan hidup, desire, atau apalah namanya, yang membuat kita setiap pagi bangun tidur dengan suatu tujuan atau pekerjaan.

Setiap manusia, siapa pun itu, punya kisah hidup yangbilamana kita simakada pelajaran atau hikmah di dalamnya yang bisa kita ambil, dari cerita kehidupan setiap manusia.

Contoh, seorang anak kecil yang berjualan koran, yang saya dan suami temui suatu hari, menolak menerima uang yang ingin kami berikan kepadanya. Ketika kami mengeluarkan uang sepuluh ribu untuk uang ekstra dari harga koran yang kami beli, si anak menjawab, “Saya tukang koran, bukan pengemis. Hebat! Kecil-kecil sudah tahu bahwa walau miskin, walau hanya jualan koran, tapi dia tetap punya yang namanya dignity atau harga diri.

Sedangkan cerita lain adalah orang yang sudah kaya raya, sudah umur kepala 8. Bukannya menggunakan uangnya untuk menikmati masa tua dengan anak cucu, masih ibaratnya serakah main saham besar-besaran sehingga ketika global economy crisis datang, hampir semua sahamnya anjok, bahkan ada yang sampai habis sama sekali .

Jadi, apakah benar orang semakin berumur semakin bijaksana? Bisakah ada kemungkinan bahwa manusia berumur 21 tahun lebih dewasa dan bijaksana dari pada seseorang yang berumur 41 tahun? Is it older means wiser?

Kembali ke si anak kecil yang punya dignity tadi. Saya jadi berpikir bahwa siapa ya yang mengajari anak itu? Saya berasumsi bahwa ia mungkin tidak ada uang untuk sekolah sehingga harus jualan koran. Tapi, dengan tidak berpendidikan pun, karakternya bisa lebih dari mereka yang berpendidikan.

Contoh lain yang membuat saya tersentuh adalah pembantu rumah tangga saya, Mbak Ti. Mbak Ti kerja dengan sungguh-sungguh dan saya hampir tidak pernah harus menyuruh. Dia sudah tahu apa yang harus dikerjakan. Tapi, yang membuat saya tersentuh adalah suatu kejadian ketika Mbak Ti membawa keranjang berisi baju kotor yang harus dicuci di rumah Mama saya. Waktu itu, saya masih tinggal di apartemen yang tidak ada mesin cucinya. Mbak Ti jalan kaki membawa keranjang berisi baju dan handuk kotor. Pada hari itu, ketika ia sedang berusaha menyeberang jalan, sebuah motor menabraknya. Dan, Mbak Ti terkapar di pinggir jalan dengan kepala bocor, berdarah, dan perlu dijahit.

Si pengemudi motor bertanggung jawab dengan mengantarkan Mbak Ti berobat ke puskesmas. Setelah itu dia juga mengantarkan Mbak Ti pulang ke rumah Mama saya. Pulang kantor saya kaget mendengar kabar itu, dan langsung saya ke kamar menengok Mbak Ti. Bukannya saya yang minta maaf karena dia kecelakaan selagi bekerja untuk saya, tapi Mbak Ti malahan yang menangis begitu melihat saya. Serta merta dia minta maaf soal keranjang baju dan handuk kotor yang tidak bisa dia selesaikan dengan baik, karena hilang tercecer di pinggir jalan ketika tertabrak motor!

Saya tidak pandai menghibur orang, tapi saya segera katakan bahwa saya tidak peduli dengan baju dan handuk kotor saya. Saya LEGA bahwa Mbak Ti tidak apa apa. Maksud saya, dia tidak sampai cacat, atau lebih parah lagi koma, atau pindah alamat ke surga.

Sekarang, Mbak Ti masih bekerja di keluarga saya. Dan, ketika saya naikkan gajinya awal tahun ini, Mbak Ti malah bilang, “Tidak usah…!” Katanya, kalau dia bekerja hanya karena gaji tok, dia sudah ke mana-mana.

Baru sekali ini saya dapat orang yang menolak gajinya dinaikkan!

Justru karena Mbak Ti orang yang penuh rasa syukur, saya jadi kekeuh bahwa saya mau naikkan gajinya. Diam-diam saya mengkhayal, Mbok ya orang-orang yang lebih berpendidikan itu bisa punya rasa bersyukur seperti Mbak Ti, yang paling-paling tidak sampai lulus SMP….”

Kadang saya bingung, dengan segala keterbatasannya, si anak kecil yang jual koran dan Mbak Ti pembantu rumah tangga saya, kok bisa tetap baik hatinya ya….? Sedangkan orang-orang yang berpendidikan (tinggi) belum tentu punya kebijaksanaan seperti mereka.

Contoh: Seorang teman saya komplain soal pegawainya yang ketika di-PHK malah membawa kabur kendaraan kantor. Padahal, tittle-nya Sarjana Hukum, lho! Atau, kenalan saya yang punya pegawai kantoran, yang kerjanya malah chatting di jam kantor, atau bahkan download situs-situs porno. Atau juga kenalan saya lainnya yang komplain soal pegawainya yang ahli desain grafis, tetapi korupsi budget cetakan. Dan ketika ketahuan, si pegawai ini malah menuntut perusahaan teman saya itu untuk tidak menggunakan hasil desain grafisnya, yang mana sudah jasanya sudah dibayar penuh oleh perusahaan.

Yang lebih aneh lagi, dari ketiga pegawai yang ‘korup’ itu, semuanya juga selalu menanyakan kapan perusahaan mau menaikkan gaji mereka. Padahal, jika penghasilan ketiga pegawai itu saya bandingkan dengan penghasilan Mbak Ti sebagai pembantu rumah tangga, atau dibandingkan dengan hasil jual koran si anak kecil tadi, tentu penghasilan para karyawan berpendidikan itu jauh lebih besar.

Jadi, kadang saya jadi berpikir, “Mungkin, semakin berpendidikan seseorang, semakin banyak pengetahuannya, dan semakin banyak pula keinginannya. Dan, semakin banyak keinginan, semakin stres pula kalau tidak kesampaian.” Tentu saja, mereka akan semakin sulit untuk merasa bahagia.

Namun, di sisi lain saya bersyukur bahwa orang tua saya menyekolahkan saya sehingga saya punya pengetahuan dan keinginan. Makanya, saya suka wondering, “Apa yang Mbak Ti atau si anak penjual koran kecil itu miliki, tapi tidak saya miliki?

Saya intropeksi diri, mungkin saya kurang sederhana dalam berpikir. Hidup Mbak Ti, saking sederhananya, membuat dia stay in a moment. Dia tidak berpikir banyak soal masa depan. Hari ini ya hari ini. Dan setiap hari, saya lihat dia bisa tertawa-tawa dan raut wajahnya tidak pernah mencerminkan orang lagi stres. Tapi kalau saya, dengan pengetahuan yang saya tahu sekarang, disuruh kerja seperti Mbak Ti, pastinya saya akan bersungut sungut. Aneh juga dunia ini!

Apakah berpendidikan artinya lebih bahagia? Apakah yang uangnya lebih banyak pasti lebih bahagia? Apakah berpendidikan pastinya tahu mana yang baik serta benar, dan tahu juga mana yang salah? Apakah orang kaya pastinya lebih pintar dari orang yang tidak punya uang? Tidak ada suatu teori yang pasti, tidak ada pukul rata akan suatu formula tentang bagaimana mendapatkan rasa bahagia dan rasa syukur.

Akhirnya, saya seperti bertanya jawab dengan diri saya sendiri. Bagaimana caranya supaya saya sendiri bisa tahu yang namanya rasa bersyukur? Bagaimana saya bisa jadi manusia yang ada gunanya? Dengan segala pengetahuan saya, kok rasanya saya tidak bisa berbuat hal-hal besar atau gebrakan yang membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik?

Akhirnya, saya belajar dari Mbak Ti, dan anak kecil si penjual koran tadi. I learn to do small things with great love.

Penjual koran jasanya adalah mendistribusi koran di jalan, di mana pekerjaan itu dia lakukan dengan pride. Dari pride dan dignity yang dipunyainya saja dia bisa menyebarkan kekaguman dan menghapus pandangan atau stereotype bahwa penjual koran pastinya mengemis juga. He is doing simple thing – menjual koran, but he do it with great love–asal halal dan bisa membantu kehidupan rumah tangga orang tuanya.

That is great love. Karena banyak anak yang orang tuanya kaya tapi malah bersungut-sungut ketika ulang tahunnya tidak dipestakan oleh orang tuanya. Atau, mereka malah membentak orang tuanya ketika orang tuanya membelikan handphone, tapi handphone-nya bukan merek Nokia yang terbaru, atau bukan Blackberry Bold. Haiya...!

Mbak Ti kerjanya ‘hanya’ pembantu rumah tangga, tapi pekerjaannya dilakukan dengan teliti dan suka cita. Wong saya enggak pernah suruh, Mbak Ti malah dengan kreatifnya menyusun sepatu saya di lemari. Padahal, saya biasa copot sepatu seenaknya sehabis pulang kantor. Dan bahkan, Mbak Ti mau mencuci sandal gym saya yang kotor, yang mana saya sendiri sebagai si pemilik sandal malah tidak sadar, bahwa sandal itu bisa dicuci. She is doing simple thingsbut with great love.

Akhirnya, saya taruh pesan itu di Blackberry saya, di Face Book saya, dan di Yahoo Messanger saya. Do simple things with great love. Supaya saya ingat, setiap kali saya bayar gaji karyawan tepat waktu, bukan saja tanggung jawab, tapi saya lakukan dengan suka cita dan rasa syukur, bahwa saya bisa membantu keuangan rumah tangga para karyawan saya.

Waktu tahun baru Cina lalu, semua karyawan saya beri amplop merah, masing masing Rp50 ribu, tidak peduli posisi manajer atau satpam, semua dapat sama rata, yaitu Rp 50 ribu. Mungkin,—mana saya tahumanajer saya mengumpat saya pelit. Tapi saya tidak peduli. Yang penting, walau kecil saya rela memberi. Do simple, litte things with great love. Biar kecil asal datang dari hati yang tulus.

Kalau ada teman yang curhat, walau buat saya masalah itu sepele, saya dengarkan dengan penuh perhatian. Saya tahu, biasalah kalau bukan kita sendiri yang mengalami, kita akan anggap remeh. Sedangkan bagi yang mengalami, pastinya itu hal yang sangat berarti.

Saya buang sampah pada tempatnya, supaya yang harus membersihkan tempat itu minimal saya enggak menambah kerjaan mereka. All in all, tiap hari saya membaca pesan di handphone sayato do simple things with great love. Saya jadi berpikir, apa yang bisa saya kerjakan supaya setiap hari saya masih diberi kesempatan untuk bangun tidur dengan sehat oleh Tuhan, maka hari itu saya membuat suatu yang bermanfaat buat keberadaan saya di dunia ini, sekecil apa pun itu.

Karena saya tidak bisa melakukan hal-hal yang besar, seperti menghilangkan macet di kota Jakarta, atau menguatkan kurs rupiah terhadap mata uang asing, dan saya tidak bisa jadi pawang hujan, bukan berarti saya tidak ada gunanya. Semua orang ada gunanya, kalau dia mau jadi berguna. Selama kita masih diberi kesempatan tinggal atau berdomisili di dunia ini, dan selama Tuhan masih memberi kita kemampuan untuk bangun dari tidur setiap harinya, saya yakin hari itu kita diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari rencana-rencana Tuhan.

So, I start with small, simple things but always with great love. Seperti diberi tanggung jawab: Kalau tanggung jawab kecil saja kita tidak mau menjalankannya, bagaimana kita bisa mendapat tanggung jawab yang lebih besar? Siapa tahu suatu ketika saya bisa-bisa jadi pawang hujan beneran? Hey, you never knows…! J[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku Queen of Heart dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang ketiga tentang fashion, dan yang keempat tentang kehidupan rumah tangga.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)