Home » 2009 » January

Monthly Archives: January 2009

Alone, But Not Lonely?

ad163x2001Oleh: Alexandra Dewi*

Belum lama ini saya berkesempatan untuk bertemu teman-teman lama saya, bekas teman saya kuliah dulu di Los Angeles. Mereka adalah teman-teman wanita saya, yang sudah saya kenal sejak secara legal saya belum boleh masuk ke club dan minum minuman beralkohol di Amerika. Seseorang apparantly secara hukum belum boleh masuk ke club, beli, atau minum minuman beralkohol kalau belum mencapai umur 21 tahun. Namun, kami semua menggunakan fake ID , dengan bangganya dan dengan penuh keinginan tahu, sebelum umur 21 pun sudah hang out dan drink alcohol beverage di sana.

Bisa dibayangkan dong, sudah berapa lama kami tidak ketemu. Well, sekarang saya sudah kepala 3, jadi sudah jadi lebih dari satu dekade kami belum ketemu. Its so exciting. So many things to catch up with. Sekarang, kami sudah jadi mami-mami. We are a married women now. Bahkan, beberapa dari kami punya anak lebih dari satu.

Ngobrol punya ngobrol, kami saling mengenang masa lajang. Betapa dulu kami pernah pacaran dengan siapa, atau sekadar date dengan siapa, dan saling bertukar info (jika ada yang tahu), apakah yang terjadi kepada manusia-manusia tersebut. Well, sekadar gossip, entertainment, penasaran dicampur dengan harapan, semoga hidup kami lebih baik daripada hidup mereka. Setiap pasangan yang sudah putus biasanya punya ’Secret competition’ dengan ex- boyfriend /ex-girlfriend. Setelah mereka putus, hidup siapa yang lebih baik? Siapa yang lebih sukses dari segala aspek kehidupan? Terutama, siapa yang mendapatkan pasangan yang lebih baik?

Anyway, ketika kami membicarakan masa lajang, jadul (zaman dahulu) kami ingat, kadang kami accept a date, hanya sekadar karena kami kesepian (lonely). Daripada enggak ada date, walaupun yang mengajak kami date ketika itu, sebenarnya kami enggak terlalu pengen, ya sudahlaaaah Hitung-hitung buat hiburan akhir minggu, walaupun some of those dates bisa dikategorikan sebagai a bad date. Loneliness, alias kesepian can make us do some stupid things.

Sekarang kami sudah menikah, harusnya kamilega, karena tidak pernah lagi harus put up dengan bad dates, dan rasa kesepian. Is that right? Pertama-tama sih karena sudah lama enggak ketemu, pada jaga image, kami semuanya mengaku that our marriage is perfect. Pokoknya, semuanya serba fine, serba OK. Pokoknya, apa pun pertanyaannya, jawabannya:Fine, atau enggak “Great, atau enggak sekalian Wonderful’. Tapi, setelah beberapa gelas wine, after all, we then still admit, even married people, can still be lonely.

Jadi, kalau dulu masih lajang dan umur 20 tahunan bisa kesepian, jangan berpikir kalau sudah married tidak akan pernah lagi merasakan yang namanya kesepian. Dan, yang namanya kesepian itu its so human. Nothing to be ashamed off, actually.

Biasanya, kami nonton film di bioskop sendirian, malu. Pergi makan malam atau lunch duduk di restoran sendirian, juga malu. Khawatir kalau orang nanti pikir kami a loner, a loser, atau enggak tahu deh, what else will people think. Padahal, siapa juga yang mikirin? Sometimes, its good and enjoyable to spend some time alone.

Saya tanya kepada teman-teman saya yang sudah married ini, “Kesepian macam apa yang kita maksud di sini? Mereka bilang, kadang kalau suami keluar kota atau harus kerja lembur; atau kadang soal anak-anak; atau issue pribadi yang memang tidak bisa atau lebih baik tidak dikomunikasikan dengan suami; atau kadang, sad but true, sudah malas saja mau ngomong apa. This is whole other topic (its about marriage), so I am not gonna discuss it further.

Maksud saya di sini adalah, single atau married, young or old, we all human. We get lonely. Ada teman saya yang single, dia bilang,I am alone, tapi saya tidak lonely. You know what?Kalau memang benar demikian, saya salut. Tapi, bisakah? Benarkah? Seseorang bisa alone dan tidak merasakan yang namanya kesepian?

Secara theory, harusnya kita bisa enjoy dengan kesendirian kita. We need to be happy, spending time with ourselves. Makanya, kita harus punya hobby, harus mencintai diri sendiri, dan whole other nine yards of theories yang bisa kita dapatkan dengan membaca buku-bukunya Deepak Coprah. Maksud saya, theory-nya bisa didapatkan di berbagai macam buku, sehingga harusnya kalau ada theory-nya, tinggal mempraktikannya saja yang bagaimana. How?

Saya sih masih dwelling on the subject, soal apakah mungkin kita manusia kalau sendirian tidak merasa kesepian? Saya yakin, kalau sudah sampai tahap itu, berarti kita sudah mulai mendekati enlightment, yang mana tadinya saya pikir untuk mendapatkan hal itu saya harus make a trip ke Tibet untuk ketemu Dalai Lama, kalau betul beliau tinggal di sana.

Is it soooooooooo bad for someone to be lonely sampai-sampai berbagai macam buku di self help aisle mengajarkan bagaimana mendapatkan pasangan, bagaimana supaya tidak kesepian, dan topik topik sejenis lainnya? Salah satu teman pria saya pernah bilang,Lonely... is bad, lonely and horny, you are in trouble.” Funny, isnt it? No wonder all these books suggest us how not to be lonely, as we all do not want to be in any kind of trouble.

Tapi, setelah saya renungkan kembali, kesepian itu tidak selalu buruk. Itu kalau kita mau menyadarinya, dan mengisi rasa ‘kosong’ itu dengan hal-hal yang positif. Misalnya, kita bisa isi dengan cari kegiatan yang baik untuk kita, entah itu socializingkarena terbukti bahwa kita sebagai mahkluk sosial perlu teman-temanatau dengan olahraga, karena juga terbukti olahraga itu sehat buat jiwa dan raga. Atau, dengan mencari hobby yang bisa kita tekuni, bisa dengan hobby ringan seperti membaca, nonton film, atau hobby lainnya yang lebih mendalam, misalnya belajar hal-hal baru, mulai dari belajar bahasa asing atau memainkan alat musik seperti piano.

Yang lebih saya mengerti sekarang juga, bahwa apa pun agama kita, jauh dari doa alias berkomunikasi dengan Sang Pencipta kita, ternyata benar-benar merupakan suatu kunci, di mana kita bisa menghilangkan rasa ‘kosong’ atau kesepian yang tidak baik.

Banyak dari kita yang berdoa hanya kalau sedang susah. Tapi, apakah kalau dalam keadaan biasa-biasa saja kita bisa tetap setia mendekatkan diri kepada Tuhan? Bukannya saya sok suci, lho. Coba deh kita sama-sama mengulas di dalam hati kita, ketika kita sedang tidak dekat dengan Tuhan, pasti ada rasa bagaimana…gitu. Yang mana rasanya hanya bisa dihilangkan dengan beribadah secara pribadi. Building a connection with God.

Kenalan saya yang rajin berdoa, sharing kepada saya bahwa, kalau kita benar-benar dekat dengan Tuhan, kita bisa beneran alone tapi tidak lonely. Dia katakan kepada saya, “Kita tidak usah banyak berpikir soal banyaknya keinginan kita. Tapi, pikirkan saja Tuhan maunya apa. Sisanya, soal apa yang kita mau, Tuhanlah yang akan mengaturnya. Seperti perkataan, “Jangan tanyakan apa yang negara ini bisa berikan kepada saya, tapi tanyakan apa yang bisa kita berikan untuk negara ini.” Sama juga, hubungan kita dengan pencipta kita, jangan tanyakan apa yang Tuhan bisa berikan kepada kita, tapi tanyakan apa yang bisa kita lakukan untuk Dia?

Nah, dari hasil ngobrol dengan teman-teman itu akhirnya ada kesimpulan, bahwa ketika kita sedang merasa kesepian, atau ada masalah apa pun, justru dengan menolong orang lain, banyak yang mengaku bahwa akhirnya mereka malah bisa keluar dari rasa kesepian, atau rasa terbebani dalam menghadapi masalah. Mau coba?[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku Queen of Heart dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang ketiga tentang fashion, dan yang keempat tentang kehidupan rumah tangga.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Pipiet Senja: Berbagilah dengan Siapa pun

pipietsenjaJika Anda adalah penulis pemula, mungkin Anda akan “merinding” melihat data produktivitas seorang Pipiet Senja. Tahun 1978-1985, ia menerbitkan 12 novel populer. Lalu, tahun 1991-2006, ia meluncurkan 28 buku anak. Kemudian, tahun 2001-2008, ia berhasil menerbitkan 33 novel islami! Dan, sepanjang 1983-2008, ia juga menerbitkan 23 antologi puisi bersama. Total, sekurang-kurangnya Pipiet sudah menghasilkan 96 buku dalam waktu 30 tahun terakhir. Dan, itu semua belum termasuk ratusan cerpen serta puluhan novel bahasa Sunda yang tak terdata semua judulnya.

Apa komentar yang tepat untuk prestasi tersebut? Fantastik… Dahsyat… Luar biasa! Sebuah kombinasi yang kokoh antara kreativitas, imajinasi yang kaya, dedikasi pada profesi, dan motivasi diri yang tak terbendung.

Tetapi, yang juga menambah bobot “keelokan” seorang Pipiet adalah bahwa ia menuliskan karya-karya tersebut dalam belenggu penyakit thallasemia. Penyakit kelainan darah sejak lahir semacam ini suka memutus-mutus tali asa penderitanya. Tetapi, belenggu thallasemia justru memacu kreasi dan prestasi penulis fiksi islami ini. Produktivitasnya seolah tak tertandingi oleh penulis-penulis yang lain.

Pipiet Senja dikenal dengan karya-karya seperti Lukisan Rembulan, Menggapai Kasih-Mu, namaku May Sarah, Tembang Lara, Rembulan Sepasi, Meretas Ungu, atau kapas-kapas di Langit yang jadi novel bestseller itu. dan, oleh Ahmadun Yosi Herfanda, seorang jurnalis dan penyair, perempuan bernama asli Etty Hadiwati Arief kelahiran 16 Mei 1957 di Sumedang, Jawa Barat, ini disebut sebagai Sang Ikon Fiksi Indonesia.

Sudah lebih dari 30 tahun berkiprah di dunia kepenulisan, Pipiet belum juga surut berkarya. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, ia malah makin tertantang untuk berpacu karya dengan penulis yang masih muda-muda.

Selain itu, dari dulu hingga sekarang, ia terus berbagi pengalaman dan ilmu dengan menularkan virus gemar menulis ke semua kalangan. Satu hal yang mendorong dia melakukan hal itu adalah sebuah visi; “Saya ingin banyak generasi muda, terutama kaum perempuan yang menjadi penulis.” Pertengahan januari 2009 lalu, dalam sebuah wawancara melalui email dengan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com, Pipiet Senja menegaskan, supaya kita tidak takut hilang “jatah rezeki” hanya karena berbagi. Berikut petikan wawancaranya:

Sebagai aktivis Forum Lingkar Pena (FLP), bisa Anda gambarkan bagaimana perkembangan terakhir organisasi kepenulisan tersebut?

Semakin bagus, semakin pesat secara karya, baik yang di daerah di Indonesia maupun yang di mancanegara. Meskipun secara organisasi agak keteteran, terutama yang di daerah. Perlu disemangati, dimotivasi selalu para kadernya, terutama untuk menumbuhkembangkan para penulis pemula menjadi eksis!

Anda disebut-sebut sebagai salah satu sastrawati yang memberikan corak atau warna islami dalam setiap karya Anda. Sesungguhnya, corak atau warna islami itu tadi seperti apa gambarannya?

Intinya, yang sastra islami itu, antara lain tak ada unsur ngeseks. Kalaupun ada, biasanya kita mengambil simbol-simbol. Baik melalui simbol alam maupun rasa bahasa yang terselubung. Atau, bahasa yang puitis. Karya islami ditujukan untuk menginspirasi, mencerahkan umat.

Dengan karya yang lebih dari 80 buku, sebenarnya bagaimana cara Anda menggali tema-tema tulisan?

Temanya beragam, mulai dari tema untuk anak-anak batita, balita, ABG, remaja, sampai lansia. Menggali ide, mungkin ya? Ide jika sudah ada tinggal kita siapkan segala perlengkapannya. Umpamanya, kalau perlu survei ke suatu tempat, kita lakoni. Kalau tidak bisa, kita bisa browsing-an dan chatting-an. Umpamanya untuk mem-plot setting atau “penglataran” luar negeri, atau tempat yang masih asing bagi kita.

Dari semua karya, mana yang sangat menguras emosi, daya tahan, dan daya kreatif Anda?

Meretas Ungu (Gema Insani Press), Kupenuhi Janji (Duha Publishing), Kapas-kapas di Langit (Zikrul Hakim), Dalam Semesta Cinta (Jendela), Jejak Cinta Sevilla (Jendela), dan Cinta dalam Sujudku (Luxima Publishing).

Kalau karya yang Anda anggap monumental?

Kapas-kapas di Langit dan Tuhan Jangan Tinggalkan Aku.

Bagaimana cara Anda mempertahankan ‘daya tahan’ untuk tetap produktif?

Sering mencermati karya terbaru, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Jadi, saya selalu tergerak untuk terus berkarya. Merasa tertantang untuk tetap eksis di khazanah kepenulisan. Lagi pula, memang inilah duni saya, profesi saya, sumber mata pencaharian saya. Ya, terus saja daku berkarya, sampai ajal menjemput….

Anda tidak kuatir ada duplikasi tema atau ide dalam karya-karya Anda?

Tidaklah. Karena saya yakin, setiap penulis selalu memiliki ciri khasnya tersendiri. Tidak mungkin karya kita bisa diduplikat secara persis!

Sebenarnya, apa yang membanggakan dari profesi sebagai penulis itu?

Lebih dekat ke masyarakat luas, hehehe…. Nama kalau sudah dikenal kan banyak yang menyapa? Ini membuat saya (punya) banyak saudara di mana-mana. Banyak mengalir rezeki jika saya dalam kemalangan. Terima kasih, ya Allah, dan para penggemar saya, terima kasih!

Kalau ditanya, Anda itu hidup untuk menulis, atau menulis untuk hidup, jawabannya?

Insya Allah, saya hidup untuk menjalankan perintah Allah. Menulis hanya sekadar sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup, kebutuhan batin juga. Hanya salah satu sarana! Tidak lebih!

Ketika Anda menulis, “Mosok ada penulis bisa naik haji dari bukunya?” Sesungguhnya, apa yang ada di benak Anda terkait dengan profesi sebagai penulis dengan kesejahteraan hidup?

Alhamdulillah, saya termasuk yang berangkat umroh dan haji memang karena saya seorang penulis. Ada seorang penggemar, kebetulan teman di pengajian yang begitu empati dan suka sekali dengan karya-karya saya. Melalui adik inilah saya diajak umroh, kemudian dihajikan secara gratis. Subhanallah, alhamdulillah…. Hanya Allah Swt yang bisa membalas budi baiknya.

Ketika, akhirnya, Anda bisa naik haji berkat tulisan, apa pendapat Anda?

Tiada mampu berkata-kata untuk waktu lama sekali, seperti mimpi laiknya. Namun, intinya adalah bahwa melalui lahan profesi apa pun, kita bisa saja naik haji. Jika Allah sudah berkenan, mana lagi yang tiada mungkin?

Tak sedikit orang, bahkan sebagian di antaranya penulis, yang memandang bahwa imposible banget hidup dari hanya menulis. Pandangan Anda?

Tergantung siapa yang menjadi penulisnya, barangkali. Kalau gaya hidupnya memang hura-hura dan amburadul, yah, dari pekerjaan apa pun bisa imaging! Saya pribadi memang hidup ini, maksud saya makan dan nafkah saya, selain atas izin Allah Swt, Dia pun telah memberkahi saya sesuatu, yakni menulis!

pipietsApa idealisme Anda sehingga mau melanglang buana dan sangat gencar menyebarkan ‘virus gemar menulis’?

Saya ingin banyak generasi muda, terutama kaum perempuan yang menjadi penulis. Saya tak pernah takut menularkan virus menulis ini, khawatir diambil jatah rezeki saya umpamanya, tidak! Allah sudah mengatur semuanya untuk kita. Maka, berbagilah dengan siapa pun.

Anda juga menyemaikan ‘virus gemar menulis’ itu ke lingkungan keluarga sendiri. Ini lebih sulit atau lebih mudah?

Kalau kepada anak-anak, sama sekali tidak sulit. Bahkan, sesungguhnya tanpa diajak-ajak pun; Butet (Adzimattinur Siregar) dan Abang (Haekal Siregar) sudah ngebet duluan berkarya. Mereka melihat contoh dari ibunya, barangkali pikir mereka; “Kok si Mama tanpa keluar rumah pun punya duit banyak, ya?” Hihihi.…

Penulis-penulis baru akan terus bertumbuh, dan Anda adalah salah satu yang berperan dalam menginspirasi dan melahirkan mereka. Lalu, di mana Anda menempatkan diri dalam gelombang kemunculan penulis-penulis baru tersebut?

Bukan saya yang menempatkan diri, tetapi masyarakatlah atau kalangan komunitas sastra biasanya yang melakukan hal demikian. Aduh, teteh mah hepi-hepi sajaaah! Senang banget atuh banyak penulis baru di Tanah Air. Luar biasa memang pesatnya!

Hal apa lagi yang ingin Anda raih dari aktivitas menulis ke depan?

Pertama, ingin mengangkat karya-karya islami, bukan cuma karya saya sendiri, ke dunia layar lebar dan pertelevisian. Kedua, ingin memiliki rumah baca untuk anak-anak miskin di sekitar rumah saya. Masih banyak anak yang tak mampu untuk sekolah, dan perempuan yang buta huruf. Ketiga, ingin lebih banyak menulis buku untuk anak-anak dan lansia.

Terakhir, kita semua hanya “mampir ngombe” di dunia ini. Kalau masa “mampir ngombe” itu sudah habis, Anda ingin dikenang sebagai penulis yang seperti apa?

Insya Allah, saya hanya ingin dikenang sebagai umat yang ikhlas, tawadu, dan istikamah saja di mata Allah. Amin, ya Robbal alamin.[ez]

Catatan: terima kasih kepada SuaraSurabaya.net atas izin pemuatan foto-fotonya.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.5/10 (15 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Jangan Pernah Lari dari Tantangan!

sgOleh: Sulmin Gumiri*

Perkenalan saya dengan Edy Zaqeus baru satu bulan. Meskipun perkenalan kami baru seumur jagung, yang dimulai pada saat saya kesasar ikut workshopCara Gampang Menulis Buku Bestseller di Jakarta, Desember 2008 lalu, saya merasa Mas Edy memang luar biasa. Betapa tidak, hanya melalui komunikasi beberapa kaliseputar naskah buku yang belum kelar-kelar juga saya tulistiba-tiba bak petir di siang bolong, dia menawarkan saya untuk menjadi salah satu kolomnis di situs www.andaluarbiasa.com ini.

Mulanya, saya sempat ragu untuk menyampaikan kesanggupan saya, mengingat saya belum pernah sekalipun menulis artikel. Tapi, setelah diprovokasi oleh e-mail Mas Edy yang mengatakan, “Ini sebuah tantangan,” saya pun akhirnya nekat menyanggupi, menjadi kolomnis di situsnya orang-orang luar biasa ini.

Ya, hidup ini memang penuh dengan tantangan. Tanpa tantangan, tak akan pernah ada kemajuan atau kesuksesan. Tantangan kehidupan bahkan sudah dimulai sejak pertama kali kita dilahirkan ke dunia ini. Begitu seorang bayi lahir, ia langsung menghadapi tantangan karena kehilangan sumber asupan makanan, akibat diputusnya tali pusar atau plasenta yang selama ini merupakan jalur satu-satunya untuk menyuplai kebutuhan makanannya yang berasal dari sang ibu. Akibat terputusnya saluran makanan otomatis itu, ia pun mulai merasakan lapar dan haus. SI bayi kemudian mulai menangis dan meronta.

Pada saat itulah, biasanya para suster mulai mengenalkan kepadanya sebuah tantangan, agar ia bisa memfungsikan mulutnya sebagai saluran penyuplai makanan baru yang ada pada dirinya. Karena benar-benar haus dan lapar, si bayi terpaksa membuka mulutnya ketika suster menempel-nempelkan puting dot plastik berisi susu ke bibirnya. Ia pun mulai terbiasa minum susu melalui dot. Setelah terbiasa minum susu melalui dot, si bayi ditantang lagi agar bisa mendapatkan ASI langsung dari ibunya.

Agar si anak mau membuka mulut dan bisa menyusu, sang ibu biasanya menjentik-njentikkan jari telunjuknya supaya si bayi mau membuka mulutnya, dan kemudian langsung menyusu kepada ibunya. Demikianlah, karena tantangan rasa haus dan lapar yang luar biasa, akhirnya si bayi pun mulai terbiasa dengan pola baru, yaitu mendapatkan kebutuhan hidupnya dengan menerima asupan makanan atau minuman melalui mulutnya.

Sekitar 15 tahun yang lalu, saya mengalami pembelajaran yang luar biasa. Di kantor, saya berteman dengan seorang tukang sapu yang usianya jauh lebih tua dari saya. Ia sudah bekeluarga dan sudah dikaruniai seorang putri. Karena tidak mampu menyewa rumah kos, mereka diberi izin untuk tinggal di rumah penjaga di belakang kantor. Saya suka bergaul dengannya karena ia termasuk orang yang ramah, rajin, kerja ikhlas, dan jujur.

Saya juga sangat kasihan kepadanya karena untuk menghidupi keluarganya, ternyata ia hanya dibayar oleh kantor saya sebesar Rp 25.000 saja setiap bulannya. Biasanya, untuk sekadar menambah penghasilannya, ia tidak segan-segan menawarkan diri kepada para karyawan kalau-kalau ada yang bisa dikerjakannya di luar jam kerja, entah di kantor atau di rumah karyawan tersebut. Sayangnya, meskipun ia sudah memelas ke sana kemari, hanya satu dua orang karyawan saja yang kadang-kadang peduli dan mau memanfaatkan tenaganya.

Suatu hari, ia mengeluhkan kepada saya tentang teguran keras pimpinan kantor yang mewajibkan dirinya untuk datang lebih pagi lagi dari biasanya, berada terus di kantor, dan baru boleh meninggalkan kantor setelah semua karyawan pulang. Kepada saya, ia menyatakan sangat keberatan dengan permintaan pimpinan tersebut. Karena, kalau hanya untuk pekerjaan menyapu dan menutup kantor, mengapa ia harus stand by di kantor dari jam 6.30 pagi sampai jam 2 siang? Seandainya saja ia bisa memanfaatkan sela waktu antara selesai menyapu dan menutup kantor, ia ingin sekali mencari penghasilan tambahan di luar untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Karena iba, saya pun mencoba memberikan solusi kepadanya. “Pak, karena saya juga pegawai kecil, saya tidak bisa membantu Bapak dari segi materi. Tetapi mulai besok, setelah membersihkan ruangan, Bapak boleh bekerja di luar mencari tambahan, asalkan Bapak bisa kembali berada di kantor sebelum jam 2 siang. Jika pimpinan menegur Bapak, biarlah saya yang menjelaskannya,” begitulah kira-kira tantangan saya kepadanya.

Akhirnya, melalui seorang kenalannya ia bisa mendapatkan pekerjaan sebagai kernet taksi kota yang beroperasi mulai jam 7 sampai jam 12 siang. Setelah beberapa waktu, pernah ia bercerita kepada saya, bahwa meskipun hanya menjadi pembantu sopir, ia bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan untuk menutupi kebutuhan bulanan keluarganya.

Karena kesibukan melanjutkan pendidikan ke luar negeri, saya benar-benar telah melupakan dan tidak tahu kelanjutan nasib teman saya tersebut. Suatu pagi, tidak lama setelah saya dan keluarga kembali ke Tanah Air, saya kaget sekali. Ketika itu saya ingin membayar makanan di sebuah warung sarapan pagi, yang selalu sesak oleh pengunjung di kota kami. Saat saya menyerahkan uang, pemilik warung mengatakan, “Maaf Pak, makan Bapak sudah dibayar oleh Pak Haji.

Saya bingung, Pak Haji siapa, ya? Apa benar ada orang yang mau-maunya membayar sarapan pagi saya dan keluarga? Kalau ya, mengapa beliau melakukan itu? Saya bingung dan sedikit malu. Lalu, si ibu pemilik warung menunjuk ke deretan belakang pengunjung dan mengatakan, Tuh, dia Pak Hajinya. Saya pun menoleh dan melihat pasangan keluarga yang suaminya melambaikan tangan ke arah saya.

“Apa kabar Pak Sulmin, lama sekali kita tidak bertemu….” Dengan ragu-ragu saya pun mendekat kepada Pak Haji dan Bu Haji di depan saya. Saya hampir tidak percaya, ketika saya tiba-tiba ingat bahwa Pak Haji di depan saya ini adalah teman lama saya, si tukang sapu yang pernah menyampaikan keluhan kesulitan hidup keluarganya, sekitar 10 tahun yang lalu.

Karena sama-sama terharu, kami pun saling berpelukan dan menanyakan keadaan keluarga masing-masing. Pak Haji teman saya itu pun kemudian mengundang saya dan keluarga untuk bertamu ke rumahnya, yang ternyata tidak terlalu jauh dari lokasi tempat tinggal kami saat ini. Singkat cerita, setelah kami bertandang ke rumahnya, dengan suka cita dia menyampaikan terima kasih kepada saya, yang menurutnya telah membantu perubahan kehidupan keluarganya sejak ia menjadi tukang sapu di kantor saya dulu.

Rupanya, setelah kepergian saya ke luar negeri, suatu hari pimpinan kantor saya marah besar kepadanya, karena dia selalu meninggalkan kantor saat jam kerja. Karena saya tidak ada, ia seperti kehilangan tempat curhat di kantor, dan akhirnya nekat minta berhenti. Ia kemudian pindah dan mencari kos murahan di daerah ke pinggiran kota. Selain tetap menjalani profesi sebagai kernet, ia juga berusaha bekerja serabutan, apa saja asal bisa untuk menghidupi anak dan isterinya.

Diam-diam, pemilik taksi kota yang juga pengusaha kayu tempat dia bekerja, merasa kasihan terhadap nasib teman saya tersebut. Pengusaha kayu itu kemudian menawari mereka untuk tinggal di bedengan pangkalan kayu miliknya. Untuk membantu penghasilan sang suami, pemilik pangkalan kayu juga memberikan sedikit modal kepada isteri teman saya tersebut, untuk berjualan makanan kecil sambil melayani para pembeli kayu.

Demikianlah, suami isteri tersebut bekerja siang dan malam membanting tulang untuk mempertahankan kehidupan keluarganya. Karena jujur dan mau kerja keras, kehidupan mereka perlahan-lahan mulai membaik. Pada saat pemilik pangkalan kayu memperluas usahanya, suami isteri tersebut dipercaya mengelola langsung salah satu pangkalan kayu milik majikannya. Lama kelamaan, mereka memiliki pangkalan kayu sendiri, hingga mampu membeli beberapa buah taksi kota.

Di perkumpulan pemilik taksi kota, teman lama say itu pun kemudian dipercaya menjadi ketua Organda. Dan, dengan mewakili Organda, ia kemudian masuk dalam jajaran pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Setelah umroh beberapa kali dan naik haji, ia kemudian diajak mengurus Partai Golkar di kota kami. Saat kami bertandang ke rumahnya, ia sedang mencalonkan diri untuk menjadi Ketua Partai Golkar di daerah kami.

Demikinalah, kehidupan seperti mengalir deras berpihak kepadanya. Saat ini, ia hampir mendapatkan semuanya, mulai harta, kedudukan, dan kemuliaan. Teman lama saya ini mengatakan, bahwa ia benar-benar tidak percaya terhadap perubahan kehidupan keluarganya. Dan untuk itu, ia hanya bisa mengucapkan kepada saya, “Terima kasih atas tantangan yang telah Bapak berikan.

Banyak sekali kisah kehidupan seperti yang dialami teman saya di atas, yang mencerminkan betapa pentingnya sebuah tantangan bagi kemajuan atau kesuksesan seseorang. Saat menulis artikel ini, saya baru saja menyaksikan acara inaugurasi pelantikan Barrack Obama sebagai Presiden ke-44 Amerika Serikat. Upacara pelantikan yang disaksikan langsung oleh sekitar 3 juta manusia di Washington DC, dan disiarkan secara live oleh televisi ke seluruh dunia itu, disebut-sebut sebagai pelantikan yang paling meriah dari semua presiden Amerika yang pernah ada.

Cerita kesuksesan Barrack Obama juga tidak terlepas dari kerasnya tantangan kehidupan yang dijalaninya. Sejak umur 2 tahun ia sudah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya akibat perceraian ibunya yang asli Amerika dan Bapaknya yang berasal dari Kenya. Sang ibu kemudian meninggalkannya bersama neneknya di Hawaii, karena kawin lagi dengan seorang pria Indonesia yang bernama Lolo Soetoro. Pada umur 6 tahun, barulah ia bisa berkumpul lagi bersama sang ibu dan tinggal bersama ayah tirinya di Jakarta.

Barrak Obama, yang lebih dikenal teman-temannya di Jakarta dengan nama Barry, harus berjuang keras untuk menyesuaikan diri dengan pola hidup masyarakat kebanyakan di Jakarta. Setelah ia berhasil menyesuaikan diri dengan gaya hidup orang Indonesia, demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik, ia pun kemudian dikirim kembali oleh ibunya ke Hawaii dan diasuh oleh neneknya di sana.

Di masa remajanya, ia sempat frustrasi dan mengonsumsi obat-obat terlarang akibat ketidakjelasan identitas diri. Dalam pergaulan sehari-hari, warga negara kulit hitam Amerika tidak mau menerima Obama sepenuhnya, karena ia kurang hitam untuk komunitas negro di sana. Sedangkan warga kulit putih juga menjaga jarak dengan dirinya, karena warna gelap kulitnya yang merupakan warisan dari ayahnya yang negro Afrika.

Berbagai tantangan kehidupan dan didikan keras ibu serta neneknya telah menjadikan Obama manusia tangguh. Sehingga akhirnya, ia berkibar di perpolitikan Amerika di usianya yang masih sangat muda. Puncaknya, di usianya yang baru menginjak 47 tahun, ia akhirnya berhasil mematahkan mitos bangsa Amerika, yaitu dengan menjadi presiden kulit hitam pertama di negara adidaya tersebut.

Ada beberapa pembelajaran yang bisa kita ambil dari contoh-contoh kisah di atas. Pertama, tantangan dalam kehidupan bentuknya bermacam-macam. Ada tantangan karena ketidakberdayaan, seperti bayi yang baru lahir di atas, tantangan kemiskinan seperti yang dialami oleh mantan teman kantor saya, atau juga tantangan prahara keluarga dan perbedaan warna kulit seperti yang terjadi pada Barrack Obama.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, setiap orang memiliki tantangan sendiri-sendiri seperti cacat fisik, tidak berpendidikan, tidak tinggal di kota besar, tidak bisa bahasa Inggris, tidak bisa berdagang, terlalu muda, terlalu tua, tidak bisa pidato, tidak bisa menulis, dan sebagainya. Hampir tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tidak memiliki tantangan.

Kedua, tantangan, kesulitan, atau kendala bukanlah sesuatu yang harus ditakuti dalam kehidupan. Justru dengan adanya tantangan maka kita semakin dekat kepada suatu kesuksesan. Di balik kulit durian yang berduri tajam terdapat daging buah yang enak dan lezat. Dan, di dalam kulit kerang yang keras dan kasar, terdapat mutiara yang indah berkilau. Layang-layang tidak akan pernah bisa terbang tinggi kalau tidak ada angin kencang yang menerjangnya.

Ketiga, akan selalu ada orang yang membantu kita dalam menghadapi setiap tantangan. Apakah ia suster atau ibu yang membimbing seorang bayi untuk mulai memfungsikan mulutnya, Pak Haji pemilik pangkalan kayu yang membimbing teman tukang sapu saya menjadi pengusaha sukses, atau sang ibu dan nenek yang berhasil menjadikan Obama sebagai pria yang tangguh, sehingga bisa menjadi presiden kulit hitam pertama Amerika.

Pokoknya, selalu ada jalan keluar dari setiap tantangan yang kita hadapi. Dalam agama Islam dikatakan: “Tuhan tidak akan pernah memberikan suatu ujian di luar batas kemampuan manusia untuk mengatasi ujian tersebut.

Karena kita semua tidak mungkin bisa lari dari tantangan, tinggal terserah kita bagaimana menyikapi setiap tantangan tersebut. Kita bisa memanfaatkan setiap tantangan untuk mengeluarkan potensi-potensi yang terpendam dalam diri kita, demi menggapai kesuksesan. Atau, kita justu membiarkan tantangan tersebut menjadi belenggu yang mematikan daya kreativitas dan daya cipta yang kita miliki.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik dan peneliti di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui email: sulmin[at]upr.ac.id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Forgiveness (1)

ms1Oleh: Miranda Suryadjaja*

Bagian pertama dari dua tulisan.

Beberapa hari menjelang akhir tahun lalu, saya mendapat telepon dari nomor yang tidak saya kenal, dengan sapaan pembukaan, “Apa kabar Bu, siapa ini hayo….? Orang yang sudah bikin susah Ibu dan menyakiti hati Ibu…” sambil nyerocos dengan ramah dan familiar.

Dalam hati saya berpikir, Siapa, ya? Siapa yang sudah bikin sakit hati saya sedemikian rupa, tapi saya enggak bisa ingat siapa? Mestinya, kalau sudah dikecewakan dan disakiti, pasti saya bisa menebak.

Namun saya juga senang, karena kalau enggak ingat berarti saya sudah tidak menyimpan dendam ke orang.

Akhirnya, si penelepon membuka siapa dirinya, seseorang yang pernah bekerja pada saya. Dia orang yang sangat dekat dengan saya, saya sayangi bagai anak sendiri. Namun, pada akhir masa kerjanya, ia berusaha menilep uang perusahaan yang menyebabkan dirinya—tidak ada pilihan lain selainberhenti bekerja, yang menurut pernyataannya terjadi delapan tahun yang lalu. Saya sendiri sudah tidak ingat kapan persisnya hal itu terjadi.

Selama beberapa menit kami bertukar kata. Sedikit kaku. Dari sisi saya, itu karena saya masih rada kaget dan tercengang saat mencermati apa yang saya rasakan dalam diri saya. Saya tanggapi seadanya permohonan maafnya dan keinginannya untuk bertemu saya. Saking tercengangnya, mungkin saya hanya bilang, Ya… Ya…!”

Setelah pembicaraan terakhir, barulah saya mencerna apa yang baru saja terjadi. Pertama, saya bersukacita karena di dalam diri saya tidak ada reaksi gejolak marah, kecewa, ataupun pengulangan memori tentang apa yang terjadi. Saya masih ingat samar-samar saja kejadiannya, secara garis besar, seperti suatu mimpi yang sudah lama sekali, dan lupa-lupa ingat kalau saya pernah mimpi. Oh mimpi saya yang itu, to…? Agak lucu juga.

Di sisi lain, saya merasa bahwa perasaan saya datar-datar saja. Tidak ada keinginan khusus untuk ketemu dan merangkai kembali tali silaturahmi yang putus. Ataupun, curious untuk tahu lebih lengkap tentang kejadian tersebut maupun yang terjadi dalam waktu delapan tahun terakhir. Sehingga, tatkala orang ini menyatakan sangat ingin bertemu saya, saya tidak terlalu berusaha untuk mencari waktu bertemu. Kebetulan saat itu masa liburan, di mana saya sendiri cukup sibuk dengan tamu-tamu luar kota lainnya, dan tidak mudah bertemu orang tanpa harus menyisihkan waktu secara khusus.

Pertanyaan yang terngiang-ngiang dalam benak saya adalah, “Apa yang perlu dimaafkan? Karena, sejatinya tidak ada yang perlu dimaafkan….” Di sini saya melihat hasil ajaran Jeshua (Yesus: red) pada saya.

FORGIVENESS, atau pemaafan, semata-mata berarti kembali pada asal yang suci, tidak ternoda, tidak bersalah, melihat segala sesuatunya sebagai hal yang netral. Sehingga, yang diluruskan adalah persepsi kita terhadap sesuatu. Kalau kita menganggap sesuatu sebagai suatu kesalahan, semata-mata persepsi kita yang menganggap hal itu salah. Namun, kejadian yang sesungguhnya, bahkan pelakunya pun hanyalah sekadar sebuah fenomena, sesuatu yang timbul dan kemudian hilang.

Ini yang dimaksud dengan semua kejadian adalah netral sifatnya. Persepsi kita yang menilai dan memberi arti dari suatu kejadian, suatu event, atau apa pun itu. Sehingga, pada waktu memaafkan, yang kita beri maaf adalah persepsi kita yang telah menilai bahwa kejadian tersebut salah, orangnya salah, yang menilai bahwa hal tersebut sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.

Padahal, bak langit biru, apa pun di dunia ini hanyalah awan lewat. Sekarang ada kemudian hilang, kadang cepat, kadang lambat. Suatu fenomena yang pada waktunya dia timbul, kemudian lenyap.
Atau bisa dianalogikan sebagai riak-riak gelombang. Gelombangnya sendiri tidak lepas dari laut di mana dia berada, namun dalam perwujudannya dia bisa berbeda bentuk, kecepatan, dan sifat dari asalnya. Pikiran, perasaan, dan perbuatan kita bisa dibandingkan dengan anak ombak, sementara roh kita yang kekal, yang tak berubah, adalah dasar lautan yang diam, tak terganggu, dan terefek (terpengaruh) oleh apa yang terjadi di permukaan.

Sehingga, ketika saya disodorkan permohonan maaf dari seseorangyang tampaknya telah merugikan, menyakiti, mengecewakan sayasaya tidak lagi memandangnya dari sudut bahwa dia telah berbuat sesuatu yang tidak mengenakkan terhadap saya. Saya juga kesulitan untuk memberi maaf, bahkan mengatakan kalau saya telah memaafkan orang tersebut. Karena sesungguhnya, tidak ada yang perlu dimaafkan di luar diri saya. Dan, kalaupun orang tersebut merasa bersalah, yang perlu dia maafkan adalah persepsi atau penilaian dia tentang persepsinya itu sendiri.

Untuk saya sendiri, cukup saya sadari bahwa semua kejadian sifatnya netral, dan yang terjadi dalam diri sayaemosi, perasaan, penilaian, pikiranbukan akibat atau hasil dari apa yang terjadi di luar diri saya. Tapi, itu semua hasil ciptaan saya sendiri, sejalan dengan pemahaman bahwa saya menciptakan pengalaman saya sendiri.

Setelah mencerna dan memproses apa yang terjadi—yang sempat menimbulkan rasa tercengang dan kaku karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana—saya sikapi dengan banyak bernapas lewat perut, seolah-olah sesuatu sedang mencair dan melembut dalam diri saya. Lalu, saya balas SMS mantan karyawan saya itu, dan pada intinya mengatakan bahwa dari saya sendiri tidak ada yang perlu dimaafkan. Dan, kalaupun ada yang mungkin membutuhkan maaf, itu adalah persepsi dia sendiri, terhadap apa yang telah terjadi; rasa bersalah, berdosa, ataupun anggapan tentang saya, bahwa mungkin saya marah, kecewa, dan lain sebagainya.

Dalam diri saya kemudian timbul rasa welas asih atau compassion terhadap seorang anak manusia. Apalah yang terjadi selama delapan tahun, mungkin dia banyak memikirkan kejadian itu, mungkin terus berasa bersalah, andandand…. Dan, timbul keinginan yang sesungguhnya untuk bertemu sekadar untuk menyembuhkan dan membantu dia melepaskan diri dari perasaan-perasaan negatif tersebut.[ms](Bersambung ke tulisan kedua)

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email:sayamiranda[at]gmail.com atau HP: 081389432.


VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

9 Manfaat Menulis Diari sebagai Terapi Kesuksesan

sn150Oleh: Sofa Nurdiyanti*

Menulis merupakan salah satu kegiatan yang paling spektakuler! Mengapa begitu? Banyak manfaat menulis yang bisa kita peroleh, termasuk sebagai terapi diri untuk meraih kesuksesan. Enggak percaya? Coba baca ulasan saya berikut ini.

Terapi! Satu kata yang identik dengan penyembuhan diri dan proses pernormalan kembali suatu kinerja tubuh sebagaimana mestinya, baik yang bersifat fisik maupun psikis. Terapi identik dilakukan oleh ahli klinis, seperti dokter, psikiater, maupun psikolog. Terapi digunakan sebagai langkah untuk mengaktifkan kembali kinerja tubuh yang dianggap mempunyai masalah. Jadi, terapi dimaksudkan agar mempercepat proses penyembuhan yang dilakukan oleh para ahli klinis tersebut.

Nah, kita pastinya mempunyai permasalahan dalam hidup, sedikit atau banyak. Masalah merupakan hal wajar yang dialami oleh setiap manusia. Jarang sekali ada orang yang tidak pernah mengalami masalah. Masalah akan membantu kita dalam mengembangkan diri dan membuat kita semakin survive (kemampuan bertahan hidup). Tidak ada hal berbeda yang dialami ketika kita menghadapi masalah. Perbedaannya terletak pada cara kita dalam menyelesaikan masalahnya. Banyak cara yang bisa digunakan untuk menyelesaikan sebuah masalah, salah satunya dengan menulis diari.

Hal yang perlu kita sadari adalah, tidak setiap hal yang bermasalah saja yang memerlukan terapi. Terapi dapat dilakukan setiap saat agar kita dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan, dan juga sebagai hal yang berguna untuk merefleksikan setiap hal yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Orang kadang tidak bisa merasakan ada masalah yang muncul sampai dengan adanya hal destruktif (merusak), yang membuat kehidupan seseorang itu tidak stabil. Diperlukan sebuah kepekaan atau kesadaran diri, agar kita dapat merasakan hal-hal yang kiranya membuat kita tidak nyaman, serta membuat sebuah masalah baru yang sering kali tidak kita sadari.

Menulis diari ini merupakan kegiatan yang sangat populer bagi sebagian orang, mulai dari anak kecil sampai orang dewasa. Dan, yang membuat hal ini menarik, diari merupakan hal yang tidak asing dalam kehidupan sehari-hari. Sedari kecil kita dibiasakan oleh orang tua kita untuk menulis diari. Hal yang ditulis biasanya merupakan kejadian sehari-hari yang berkesan bagi kita.

Pada waktu remaja pun, diari digunakan sebagai teman berbagi, sahabat, dan ajang untuk sharing semua peristiwa yang terjadi. Baik hal yang menyenangkan maupun saat-saat di mana seorang remaja mengalami rasa putus asa. Pada waktu dewasa, diari digunakan sebagi teman untuk menyelesaikan masalah, sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan, dsb.

Sebagian orang menganggap, manfaat menulis diari adalah untuk menuliskan peristiwa unik dan berkesan agar dapat dikenang dikemudian hari. Sebenarnya, ini bukan pendapat yang salah. Namun, ada satu hal yang tidak kita sadari ketika menulis diari, yaitu sebagai terapi diri yang efektif.

Mengapa dikatakan menulis sebagai terapi? Sebab, banyak manfaat menulis diari, yang dapat kita jadikan terapi diri secara berkala, yang berguna bagi pengembangan diri kita. Sebenarnya, ini bukan hal yang aneh lagi, karena dengan menulis diari kita bisa memetik banyak manfaat, antara lain:

1. Menghilangkan stres

Hal ini bisa dimengerti karena dengan menulis kita bisa mencurahkan perasaan kita tanpa takut diketahui orang lain. Tidak semua orang bisa dengan mudah menceritakan masalahnya pada orang lain. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh watak masing-masing orang. Pembagian kepribadian secara tradisional kita kenal ada dua, yaitu introvert dan ekstrovert. Introvert adalah orang yang memiliki tipe kepribadian tertutup, sedangkan ekstrovert adalah orang yang mempunyai kepribadian terbuka. Orang introvert tentu mengalami kesulitan dalam berbicara pada orang lain. Ini tentu saja mendatangkan kesulitan bagi orang introvert saat harus menyelesaikan masalahnya.

Dan, menulis diari adalah solusi tepat bagi orang berkepribadian introvert dalam membantu menghilangkan stres serta mengurangi beban pikirannya. Orang dengan kepribadian ekstrovert tentu akan lebih mudah dalam berbagi dengan orang lain. Namun, bukan berarti orang ekstrovert tidak memerlukan diari sebagai bagian dari terapi. Justru orang dengan kepribadian ekstrovert akan lebih mudah terbuka dan merefleksikan segala yang terjadi dalam dirinya, lebih jujur, dan mudah menemukan berbagai sisi, yang membuatnya dapat menemukan solusi dalam pemecahan masalahnya.

2 .Sebagai media merencanakan target yang ingin dicapai

Diari dapat kita gunakan untuk merencanakan hal-hal apa saja yang ingin kita capai di masa yang akan datang. Perencanaan ini dimaksudkan agar kita dapat meraih target yang diharapkan secara konkret. Dengan menuliskan berbagai hal yang ingin dicapai, itu akan membantu kita dalam memompa semangat dan meraih target tersebut. Kita akan senantiasa teringat setiap kali membuka buku diari, dan merasa berkewajiban untuk segera meraih target. Melalui perencanaan dapat kita analisis kelemahan dan kekurangan kita, serta berbagai hal lainnya yang diperlukan dalam meraih target tersebut.

3. Untuk menuliskan komitmen

Komitmen merupakan hal pokok yang diperlukan oleh setiap orang dalam meraih segala tujuan. Peneguhan janji dalam bentuk komitmen ini diperlukan agar kita senantiasa mempunyai tekad yang kuat dalam meraih tujuan kita. Apa jadinya sebuah tujuan tanpa komitmen yang kuat? Berbagai rencana jitu dan ide brilian pun akan menjadi percuma, hanya karena kita tidak mempunyai komitmen. Di saat berbagai rintangan dan hambatan yang menyertai kita, maka hal yang perlu kita ingat agar tidak putus asa ditengan jalan, adalah komitmen awal kita dalam meraih tujuan. Dengan menuliskannya, kita akan selalu teringat akan janji awal kita, sekaligus sebagai tameng dalam setiap kendala yang ada.

4. Sebagai pengontrol target

Menuliskan setiap perkembangan atas semua pencapaian target merupakan langkah selanjutnya setelah kita merencanakan dan berkomitmen dalam meraih setiap target kita. Menulis akan membantu kita dalam melihat hasil dari proses pencapaian usaha, yang kita lihat dengan target yang ingin kita capai. Dengan begitu, kita akan mudah mengetahui arah perkembangan kemajuan yang kita capai. Mengontrol setiap perkembangan yang dicapai akan membuat kita tidak menyimpang dari tujuan semula. Sering kali, dalam pencapaian suatu tujuan, di tengah jalan kita menemukan banyak pengembangan gagasan maupun ide. Hal ini tidaklah salah. Namun, terlalu banyak pengembangan justru semakin mengaburkan tujuan semula, dan arahnya pun menjadi tidak fokus. Oleh karena itu, diperlukan sebuah alat kontrol yang tepat dalam mencapai target yang diharapkan, yaitu diari.

5. Alat memformulasikan ide baru

Setelah menuliskan setiap perkembanngan yang terjadi dalam diari, tentu kita dapat melihat berbagai hal yang akan membuat kita menjadi lebih jeli dalam melihat segala hal yang terjadi. Ide dan rencana awal yang kita buat belum tentu sesuai dengan kondisi yang ada. Kondisi ini tentu saja membuat kita perlu menambah berbagai rencana baru yang sesuai dengan kondisi yang ada. Berarti, kita perlu menuliskan atau memformulasikan ide-ide atau gagasan yang baru. Hal ini dimaksudkan agar kita lebih mudah dalam menyelesaikan setiap permasalahan dan mengatasi kekurangan yang ada, sehingga akan lebih mudah pula dalam mencapai target kita.

6. Sebagai gudang inspirasi

Diari adalah tempat untuk menuliskan berbagai ide yang muncul supaya memudahkan kita dalam menemukan solusi baru yang lebih efektif dalam menyelesaikan sebuah masalah. Diari adalah sumber inspirasi bagi pemunculan ide-ide baru. Ide baru yang muncul tentang cara mencapai target, komitmen, maupun mimpi baru yang ingin kita capai, tidak boleh dianggap remeh. Oleh karena itu, jangan pernah menyepelekan sebuah ide, meskipun pada awalnya kita menganggap ide itu tidak relevan dengan kenyataan. Tapi, bisa jadi ide awal tersebuat menjadi pemantik atau inspirasi bagi kita untuk menemukan sebuah solusi yang kreatif.

7. Alat penyimpan memori

Kemampuan manusia untuk mengingat peristiwa, pengetahuan, maupun hal unik lainnya tentu terbatas. Orang tentu tidak dapat mengingat semua kejadian yang berlangsung dalam hidupnya sekaligus. Bahkan, manusia jenius sekalipun tentu mengalami kelupaan untuk beberapa peristiwa dalam hidupnya. Keakuratan data dan peristiwa secara detail tidak dapat diingat oleh manusia secara persis. Maknya, diperlukan pencatatan supaya memudahkan kita dalam melakukan proses rehearsal (mengingat kembali memori yang kita simpan), dan mengambil hikmah atas setiap kejadian, karena tentu ada hikmah yang dapat kita petik dan dijadikan pelajaran berharga.

8. Alat memudahkan penyelesaian masalah

Setiap permasalahan yang berhasil kita selesaikan akan melatih kita dalam menyelesaikan masalah berikutnya. Cara penyelesaian masalah itu bisa saja menjadi acuan kita dalam menyelesaikan masalah serupa atau yang hampir sama. Memang, solusi atas sebuah permasalahan tidak dapat kita jadikan solusi atas masalah yang lainnya. Namun, setidaknya kita bisa mempelajari teknik pengambilan keputusan yang telah kita buat, dan supaya hal itu mempermudah kita dalam menyelesaikan masalah lainnya.

9. Sebagai media refleksi dan kebijkasanaan

Menuliskan segala perasaan, masalah, dan konflik yang terjadi dalam hidup akan membuat orang semakin bijaksana. Karena, dengan menulis diari kita akan belajar berkompromi dengan setiap masalah yang ada. Belajar memahami masalah dan tidak sekadar mengutamakan ego semata. Semakin banyak kita melibatkan proses menulis dalam menghadapi permasalahan, kita akan semakin peka, tidak terburu-buru, bijakasana, dan mampu menggunakan kepala yang dingin ketika memutuskan sesuatu. Karena, terkadang kita tidak dapat melihat masalah dengan jelas jika kita tidak memetakannya dalam tulisan. Dengan menulis, segala sisi persoalan akan terlihat lebih jelas, dan itu memudahkan kita dalam mencari solusinya.

Membiasakan menulis diari akan membuat kita lebih jeli dan terlatih dalam merumuskan dan menyelesaikan sebuah permasalahan. Sehingga, kita tidak akan terjebak pada satu masalah yang ada, tidak merasa tertekan, dan tidak menimbulkan distress (stres yang berakibat negatif bagi diri kita). Kita harus jeli dalam menghadapai masalah supaya bisa mengelola stres tersebut menjadi ustress (stres yang positif).

Jika kita berhasil mengelola stres negatif menjadi stres positif, kita bisa mengelola sisi kognitif (memori) dan sisi afektif (perasaan) sehingga sisi psikis kita tidak mengalami masalah yang berarti.

Berbagai manfaat menulis diari di atas sama faedahnya dengan terapi. Karena, terapi mempunyai fungsi sebagai media penyegaran dan penormalan kembali segala aktivitas tubuh. Oleh karena itu, terapi diri melalui menulis ini akan membuat kita semakin mudah mencerna segala permasalahan dengan lebih mudah dan efektif. Dengan begitu, maka akan mengurangi tingkat stres yang tentu saja mengganggu kinerja tubuh kita.

Ketika kita berhasil memecahkan sendiri masalah kita lewat menulis, sesungguhnya kita tidak membutuhkan psikiater maupun psikolog. Psikiater akan membantu kita menyelesaikan permasalahan dari segi medis, sedangkan psikolog akan mendengarkan dan membantu kita dalam mencari solusi yang tepat bagi diri kita sendiri. Yah, jadi kita sendirilah yang harus mencari solusi terbaik atas setiap permasalahan kita, karena kita juga yang lebih tahu akan kondisi sendiri. Orang lain hanya bertugas sebagai pendengar yang baik dan membantu kita agar dapat menemukan solusi sendiri, bukan mencarikan solusi bagi diri kita.

Masih banyak lagi manfaat menulis sebagai terapi diri. Anda akan menemukan banyak manfaat lainnya yang tentu saja berbeda dari orang lain, karena setiap orang mempunyai sudut pandang dan penilaian yang berbeda. Baik, semoga Anda dapat melakukan terapi diri dengan menulis diari, sehingga tidak mengalami distress yang dapat merusak keseimbangan psikologis Anda. Selamat menulis diari.[sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa semester lima Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia tengah semangat berlatih supaya kelak mampu menjadi penulis dan trainer. Sofa dapat dihubungi melalui email: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.2/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Ocehan Si Mbot: Gilanya Orang Kantoran

bksimbotJudul: Ocehan Si Mbot: Gilanya Orang Kantoran

Oleh: Agung ‘SI Mbot’ Nugroho

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008

Tebal: xxviii+244 hal

Ukuran: 11×18 cm

Isbn: 978-979-22-4046-7

Genre: Nonfiksi

Ocehan Si Mbot mengajak kita menertawakan mitos yang berseliweran tentang dunia kerja. Cocok bagi kalian yang sedang, pernah, atau bahkan menolak menjadi oranng kantoran!

Komentar:

“Tidak dapat dihitung berapa kali saya tersenyum dan tertawa katika membaca buku ini. Mbot is dangerously funny!

~ Ninit Yunita, Penulis Test Pack

“Buku ini wajib baca kalo elo mau nangis ketawa.”

~ Adhitya Mulya, Penulis Jomblo

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Thumb Up!

bkthumbupJudul: Thumb Up!—Kiat-kiat Praktis untuk Menjadi Seorang Motivator Andal

Oleh: Frank Peppers

Penerbit: Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, 2008

Tebal: vi+256

Ukuran: 14×20,5 cm

ISBN: 978-979-24-1970-2

Harga: Rp 32.000,-

Dapatkah Anda memotivasi diri Anda sendiri?

Dapatkan Anda memotivasi orang lain?

Setiap orang ingin membuat hidupnya dan hidup orang lain berbeda. Para pekerja sosial, orang tua, pemimpin tim, manajer, para pemimpin, dan aktivis merupakan orang-orang yang selalu berusaha mengubah dunia menjadi lebih positif dan bermakna. Bagi orang-orang seperti itu, buku ini dapat menjadi alat praktis yang sangat bermanfaat. Saat dunia ini membutuhkan lebih banyak orang seperti itu. Dan buku ini dapat menjadi jalan bagi lahirnya para motivator andal.

Thumb Up! Adalah sebuah buku yang ditulis dengan maksud untuk mengingatkan kita semua bahwa kualitas, kesuksesan, dan penampilan yang terbaik berawal dari kemampuan setiap orang untuk memotivasi dan mendorong dirinya sendiri dan orang-orang lain untuk memanfaatkan berbagai bakat dan kekuatan mereka secara maksimal.

Bacalah buku ini, dan Anda akan tahu bagaimana harus menjadi seorang motivator yang terampil.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Satu Bumi Banyak Agama

bk1bumiJudul: Satu Bumi Banyak Agama—Dialog Multi-Agama dan Tanggung Jawab Global

Oleh: Paul F. Knitter

Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta

Cetakan: Ke-4, 2008

Tebal: xviii+282

Ukuran: 14,5×21 cm

ISBN: 978-979-687-135-3

Paul F. Knitter, pendukung posisi “pluralis” dan penganjur pendekatan “soteriosentris” dalam teologi agama-agama, kini berpaling pada isu baru dan mendesak bagi berbagai komunitas agama dunia. Sebagai kelanjutan dari proyeknya yang sudah dirintis sejak awal, ia menemukan pijakan kokoh bagi dialog antar-agama: Masalah kerusakan lingkungan dan ketidakadilan sosial. Bagi dia, selain menciptakan perdamaian dan kerukunan antar-agama, melindungi lingkungan hidup dan menghapuskan ketidakadilan sosial juga merupakan hal yang mendesak dalam dialog itu. Dalam buku ini, Knitter menggali dan membentangkan dasar-dasar filosofis dan teologis untuk dialog seperti itu, sekaligus memberikan petunjuk dan contoh-contoh konkret dialog tersebut.

Proyek ini merupakan test case bagi Knitter dan orang-orang yang terlibat dalam—dan prihatin atas—dialog antar-agama: Dapatkah perbedaan pendapat agama-agama mengenai hakikat ultimate reality dapat diatasi untuk mempromosikan kesejahteraan manusiawi dan ekologis?

Info: publishing[at]bpkgm[dot]com

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.2/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Aritmatika Jari Metode AHA

bkaritmetikaJudul: Aritmatika Jari Metode AHA—Berdasarkan Konsep Matematika Islam dan ESQ

Oleh: Arif Arya Setyaki

Penerbit: Khalifa, Jakarta, 2008

Tebal: 276 hal

ISBN: 978-979-1164-07-8

Ukuran: 13,5×20,5 cm

Harga: Rp 35.000,-

Terobosan spektakuler, lebih mudah dan cepat dari sempoa. Mengulang kejayaan masa silam di masa sekarang dan akan datang adalah impian kita bersama. Metode Asma’ul Husna Arithmetic (AHA) menjadi simpul yang berarti dalam merajut impian itu. Menyambung kembali gagasan dan inspirasi dari para pendahulu dengan Alquran dan As-Sunnah sebagai pedomannya merupakan upaya strategis yang mesti kita dukung bersama.

Bukankah tokoh-tokoh kritis sekaliber Ibnu Rusyd, Ibn Sina, dan Al-Khawarizzmi begitu menggema hingga daratan Eropa? Bukankah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (digital) merupakan buah dari pemikiran mereka yang mendasar?

Metode AHA ditujukan untuk segala umur, lebih khusus bagi mereka yang berusia lima tahun ke atas. Oleh karena itu, jika kita bukan pelajar; karyawan atau profesional misalnya, AHA dapat membantu meningkatkan keterampilan kita dalam berhitung tanpa kalkulator. AHA merupakan produk yang diimplementasikan dari khasanah dunia Islam, memiliki landasan ilmiah dan transendental, serta kajian literatur yang bisa dipertanggungjawabkan.

Info: aha199_ag[at]yahoo[dot]co[dot]id

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.5/10 (29 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 5 votes)

Buku Pintar Anak Jenius!

bkpintarJudul: Buku Pintar Anak Jenius!

Oleh: Adam Kho

Penerbit: PT Mitra Media, 2008

Tebal: xiv+250 hal

Ukuran: 15,3×23 cm

ISBN: 979-9566-37-1

Ubahlah kondisimu dari “apa adanya” menjadi “ada apa-apanya” dengan buku ini:

1. Menolong kamu percaya diri dan memegang kontrol penuh atas hidupmu.

2. Mengaplikasikan teknik terkenal dunia NLP (Anthony Robbins) dan Mind Maps (Tony Buzan) dunia dengan versi pas buat orang Asia.

3. Membangun daya ingat super, cerdas mengidentifikasikan dan menganalisis situasi.

4. Membuatmu pintar mengatur waktu dan menetapkan sasaran kemajuan.

5. Mengangkat dirimu menuju penampilan puncak prestasi.

6. termasuk menyusun strategi melewati setiap mata ujian dengan gemilang!

“Otak kita adalah ciptaan Tuhan, tapi kejeniusan kita adalah ciptaan kita sendiri.”

~ Albert Einstein

Jangan asal belajar kalau kamu tidak mau capai dan stres! Ini masanya belajar cerdas (study smart), bukan belajar keras (study hard). Kamu punya potensi sama dengan orang lain untuk mencapai apa yang kamu inginkan. Jadilah orang yang dibanggakan orangtua dan guru, punya banyak sahabat, meraih prestasi puncak, dan mengalami kepuasan optimal.

Mau jenius nge-band atau di lapangan olahraga? Utak-atik angka atau otomotif? Mengolah kimia atau masakan? Jadilah jenius di bidangmu masing-masing tanpa jadi aneh, tetap gaul, antikuper, dan bebas minder melalui Buku Pintar Anak Jenius: Cara Pintar Menjadi Jenius.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 2 votes)