“Merci!” di Paris
Editor | Kolom Tetap | November 11th, 2009
Oleh: Avanti Fontana*
Pada suatu pagi yang sibuk di salah satu stasiun metro di kota Paris, namanya Montparnasse. “Merci…! Merci…!” atau “Terima kasih…! Terima kasih…!” Dan seterusnya. Begitulah ucapan terdengar, berkali-kali, sahut-sahutan, menandai pula laju kecepatan jalan para komuter dan penduduk kota Paris menuju pintu keluar “exit” stasiun metro kereta api bawah tanah tersebut. Saat itu, saya naik metro dari Montparnasse menuju stasiun St Michel, yang membawa saya ke Kampus Sorbonne, yang tidak jauh letaknya dari Katedral Notre Dame.
Montparnasse merupakan salah satu stasiun metro terbesar karena banyaknya korespondensi metro yang membawa warga Paris dan sekitarnya ke banyak penjuru kota. Sebagai stasiun besar, Montparnasse banyak dipakai sebagai stasiun peralihan menuju wilayah atau kota lain di Perancis, dengan Gare de Montparnasse-nya. Bahkan, negara jika kita mau bertransportasi dengan kereta api lintas negara.
Pengalaman yang satu ini ingin saya bagikan kepada pembaca karena merupakan satu dari banyak pengalaman unik, berbekas di hati, laku, dan dapat menjadi contoh kebiasaan baik bagi tindakan kita semua.
Ucapan “merci” atau “terima kasih” tersebut saya dengar, terdengar, juga banyak sekali saya alami sebagai warga sementara kota Paris saat saya studi di sana. Suara saat mengucapkan kata “terima kasih” itu tinggi, rendah, ada yang keras, ada yang hampir berbisik karena pelannya, yang pasti terdengar dan bisa didengar. Kebiasaan itu begitu membekas dalam pengamatan dan pengalaman serta dapat saya tiru dengan cepat.
Ucapan “merci” yang mau saya gambarkan itu, tentu pembaca sudah dapat menduga-duga konteksnya. Ya, betul! Itu terjadi ketika seorang membuka pintu untuk dirinya, ia tidak membiarkan pintu itu tertutup sendiri (jika pintu itu otomatis) atau menutup pintu itu jika ada orang berikutnya yang mau melewati tempat atau pintu itu.
Praktik itu adalah aturan umum yang cepat sekali ditiru oleh para pendatang. Dan, tindakan itu mudah sekali ditiru, bukan? Jangan menutup pintu jika ada orang berikut dalam jarak satu sampai bahkan lima meteran yang akan lewat. Pegang pintu atau pinggir pintu itu sampai orang yang berikutnya memegang atau menyambutnya untuk membantu dirinya melewati pintu itu, dan seterusnya. Peristiwa pertukaran tangan dalam memegang daun pintu atau bibir pintu itulah saat ucapan “terima kasih” meluncur otomatis, dan penuh syukur dari orang yang berikutnya, dan berikutnya.
Itu sudah berlaku umum sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa bagi yang tidak melakukannya akan dianggap “tidak sopan”. Coba perhatikan apakah situasi ini terjadi di lingkungan sekitar kita? Bila belum, baik juga ya bila kita mempraktikannya.
Ucapan “Merci!” jarang sekali diucapkan tanpa ada garis senyum di wajah… Ini tentunya menambah hangatnya stasiun-stasiun dingin di musim dingin. Menambah hangatnya stasiun tanpa air conditioner di musim panas. Menambah rekahnya bunga-bunga di musim semi saat para penumpang tiba di atas stasiun. Dan, menambah kemuningnya daun-daun keemasan di musim gugur saat para penumpang melewati taman-taman tempat rehat di Paris, yang jumlahnya lebih banyak dari yang ada di Jakarta.
Adegan kehidupan riil itu pun terjadi di situasi-situasi lain. Seperti misalnya saat membuka pintu untuk memasuki gedung lalu ada orang di belakang kita yang akan masuk. Maka, dalam hitungan jarang antara 2-3 meteran misalnya, kita tunggu sampai orang itu datang, barulah kita melepas daun pintu atau pegangan pintu, dan seterusnya.
Yang lucu, kalau saat saya sedang memegang pintu dan menunggu (tanpa rasa menunggu) orang berikut tiba, tindakan saya itu ternyata membuat orang tersebut berlari…. Itu biasanya terjadi pada orang-orang baru (karena merasa enggak enak atau merepotkan).… Saya juga dulu pernah begitu karena merasa risih, kok ditunggu. Padahal, tip-nya mudah, tidak perlu atau jangan lari…. Santai saja karena kalau jarak orang berikutnya adalah 10 meteran, apalagi 100 meter, biasanya juga tidak ditungguin. Ada rasa dalam hal jarak yang aturannya belum pernah saya baca. Yang pasti, situasi itu berjalan begitu alami. Bisa karena biasa.
Tindakan menyambut orang berikutnya untuk melewati pintu yang sama bila kita amati dan resapi merupakan lingkaran perbuatan baik (virtuous circle) yang terus terjadi tanpa kita tahu batas awal dan akhirnya. Siapa yang menduga kita akan membukakan pintu untuk orang lain atau memegangkan pintu untuk orang lain? Yang ada adalah kesiapan dan kerelaan, natural. Kita dihadapkan pada dorongan untuk berbuat baik. Situasinya tersedia tanpa ada estimasi kapan akan terjadi. Dan, tidak ada hitungan untung rugi, yang pasti untung, kebaikan. Itu sudah menjadi kebiasaan, habitus masyarakat dalam dunia yang banyak orang sering bilang, “Warganya sangat kaku dan dingin….”
Itu adalah contoh sederhana tindakan yang menciptakan nilai manfaat bagi orang lain, yang tentunya akan membawa buah bagi diri sang pemberi, dan seterusnya, lebih besar lagi, bagi lingkungan sekitar….
Metro yang saya tumpangi dari Montparnasse, di ujung selatan kota Paris pun tiba di stasiun tujuan saya saat itu, St Michel, di kawasan latin di tepi Sungai La Seine. Bahkan, salah satu pemberhentian di St Michel letaknya ada di bawah Sungai La Seine. Bagian stasiun itu dilewati oleh RER A, yaitu jaringan transportasi kereta yang menghubungkan Paris dengan wilayah-wilayah di sekitarnya yang masih disebut Region Parisienne, khususnya wilayah-wilayah di Selatan luar kota Paris.
Saat mau turun, saya beserta penumpang lain menunggu pintu otomatis metro terbuka. Penumpang yang akan turun menanti sampai pintu terbuka. Penumpang turun dari metro terlebih dahulu, baru penumpang yang sudah menunggu naik ke dalam metro. Kecuali memang beberapa orang yang bergegas naik sekalipun belum semua penumpang turun keluar dari metro. Mereka ini, mungkin saja belum paham tata krama angkutan publik di Paris. Saya masih ingat kejadian itu di Metro Lini 10, saat itu.
Mempersilakan yang turun keluar lebih dahulu, baru kemudian masuk kemetro juga merupakan kebiasaan yang bisa kita contoh. Sama halnya dengan mendahulukan orang yang keluar dari elevator atau lift, baru disusul masuknya orang yang ingin naik lift. Tentunya kebiasaan baik itu bukanlah monopoli kota Paris, salah satu dari banyak kota paling inovatif di dunia. Jakarta pun (hendaknya) bisa.[af]
* Avanti Fontana, penulis buku Innovate We Can!, fasilitator & coach untuk Inovasi, peneliti & fasilitator pengajaran bidang inovasi, manajemen dan strategi pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, berpengalaman lebih dari 9 tahun sebagai pengamat dan analis praktik inovasi. Ia sedang menapaki kegiatan barunya sebagai penulis buku-buku populer atau ilmiah-populer tentang inovasi dan coaching. Avanti dapat dihubungi melalui pos-el: avantifontana[at]gmail[dot]com. Ia menerbitkan Blog Note tentang inovasi dan coaching di alamat www.imedcoaching.com sejak tahun 2007.

November 15th, 2009 at 10:52 am
Budaya antri…..kapan ya kita bisa seperti itu. Setiap akan keluar dari kereta api saya selalu dihadapkan pada pilihan2 tidak menyenanggkan,karena belum sempat kita turun penumpang yang akan naik sudah lebih dahulu masuk. Saya mencoba menunggu, malah terdesak ke dalam lagi. Kalau saya berjubel memaksakan diri turun, kok kampungan banget. Ayo…kita mulai dari diri sendiri…antri…. Good writing Bu Afanti….