“Beri Aku Waktu Satu Hari Saja”

irnOleh: Ida Rosdiana Natapermadi*

Malam itu, sekitar pukul delapan malam, telepon genggam saya berdering. Seperti biasa sebelum saya jawab selalu saya lihat dulu siapa yang menelepon. Segera saya tekan tombol jawab dan terdengar suara kakak ipar saya di seberang. Sepintas saya bingung, “Mas Yo menelepon aku? Dalam hitungan detik suara Mas Yo yang terbata-bata dan gemetar menyadarkan saya bahwa ada yang tidak beres! “Dik, Ibu gawat, harus dibawa ke rumah sakit lagi. Cepat datang sekarang…!Dengan perasaan panik saya jawab bahwa saya akan langsung ke rumah Ibu dan meminta Mas Yo dan kakak perempuan saya membawa Ibu ke RS Santo Carolus, tempat Ibu dirawat sebelumnya.

Saya langsung bergegas memberitahu suami dan anak saya untuk ikut ke rumah Ibu di Matraman, Jakarta Timur. Entah mengapa saya tidak memikirkan kemungkinan Ibu sudah di bawa ke rumah sakit saat saya tiba di Matraman nanti.

Ada firasat buruk yang saya rasakan saat mobil kami meninggalkan rumah. Di sepanjang perjalanan kami bertiga tidak saling bicara, entah mengapa. Seperti ada yang mengomandoi kami untuk diam, sunyi. Bahkan, telepon genggam anak saya yang biasanya selalu berdering setiap sepuluh menit itu ikut diam. Atau, mungkin telah sengaja diatur ke nada silent oleh anak saya…. Hanya bunyi mesin mobil dan suara desis AC yang terdengar.

Malam itu saya merasakan AC mobil begitu dingin sehingga tubuh saya sampai menggigil kedinginan. Saya memutar tombol pengatur temperatur AC agar lebih hangat. Anak saya tidak memprotes saya seperti biasanya. Dia seakan membiarkan apa pun yang ingin saya lakukan saat itu. Atau, dia juga sedang dalam alam pikirannya sendiri.

Di perjalanan, saya coba menelepon Mas Yo, tetapi tidak dijawab. Saya coba menelepon kakak perempuan saya, Mbak Wiwin dan Mbak Henny, tidak ada jawaban juga.

Lalu, saya kembali diam, tidak berusaha menelepon siapa-siapa lagi. Bahkan, saya tidak ingin menerima telepon dari siapa pun untuk menerima kabar tentang hal yang sudah saya ketahui. Tubuh saya terasa lemas dan ingin sekali tidur. “Duh, ini pasti ada yang tidak beres....” pikir saya. Beberapa kali saya pernah mengalami hal yang tidak beres dalam hidup saya, tubuh saya bereaksinya persis seperti ini.

Saya sandarkan tubuh ke kursi mobil, saya pejamkan mata…. Saya menarik napas dalam-dalam…. Wajah itu… ya, wajah yang begitu saya kenal. Kulit putihnya, hidung bangir-nya, mata beningnya dengan bola mata yang agak kecoklatan. Warna rambutnya pun dulu agak kecoklatan sewaktu muda, panjang dan tebal karena sering diminyaki dengan minyak kemiri. Walaupun rambut itu kini sudah memutih, namun Ibu tetap cantik di usia tuanya.

Banyak orang mengatakan saya mirip Ibu saya. Saya tersipu malu jika ada orang mengatakan begitu di depan Ibu. Saya merasa tersanjung, dan saat saya melirik Ibu untuk meminta persetujuannya atas pujian itu, saya lihat Ibu tersenyum bangga. Saya anggap beliau setuju.

Saya anak perempuan terkecil dan anak kesepuluh dari tiga belas anak Ibu-Bapak saya. Heran? Saya juga heran, kok bisa ya wanita langsing itu melahirkan tiga belas anak dari perutnya. Apalagi di antara ketiga belas anak-anak itu ada yang kembar.

Ibu melahirkan anak pertama di usia 20 tahun dan melahirkan anak ketiga belas di usia 41 tahun. Betapa kuat fisiknya dalam waktu 20 tahun melahirkan 13 orang anak.

“Ma, udah sampai,” suara suami saya membuyarkan lamunan. Saya membuka mata dan mobil kami sudah menepi di pinggir jalan di depan rumah Ibu saya. Saya dan anak saya masuk ke pekarangan rumah Ibu. Kali ini rumah Ibu berbeda dari biasanya. Tetangga kiri kanan Ibu berdatangan, dan sayup-sayup saya mendengar suara orang membaca surat Yasin di antara isak tangis.

Saya masuk ke dalam rumah, saudara-saudara saya menyambut dengan pelukan dan isak tangis. Saya diam tenang dan membisu seribu bahasa. Saya tidak mengerti ke mana emosi saya yang selama ini mudah meledak. Ke mana air mata yang biasanya cepat menggenang di pelupuk mata? mengapa saya begitu tenang menghadapi kematian Ibu? Semua tidak terjawab malam itu.

Saya mendekati Ibu yang sedang tidur di pembaringannya. Hampir sama seperti biasanya jika beliau sedang tidur, yang membedakannya kali ini adalah Ibu tidur dengan posisi telentang. Posisi tidur Ibu biasanya memiringkan badan ke kiri atau ke kanan, sama seperti kebiasaan tidur saya, memeluk guling ke kiri atau ke kanan. Satu hal lagi yang lain dengan tidur Ibu kali itu, wajah Ibu ditutupi selendang putih tipis miliknya.

Perlahan saya buka selendang tipis penutup wajah itu…. Hmm… bau vernis lemari pakaian di selendang itu tercium oleh hidung saya. Saya ingat selendang ini pernah diperlihatkannya pada saya dulu, ya… dulu sekali. “Id, lihat ini bagus, kan? Ini Ibu beli murah lho di pasar Jatinegara. Coba pegang, bahannya halus, kan?” kata Ibu sambil menyodorkan selendang itu pada saya untuk disentuh. “Kata si abang penjualnya, ini buatan China. Ibu beli satu yang putih ini, barang kali suatu hari diperlukan.

Saya pandangi wajah cantik wanita tua yang melahirkan saya ini.Ahh...,” saya mendesah dalam sampai ke ulu hati, dan perlahan saya bergumam “Innalillahi wa innaillahi rojiun.Lalu saya cium kening putihnya yang masih hangat itu, lama… lamaaaa…sekali.

Mbak Henny mendekati sambil memegang pundak saya dan berbisik,Menangislah kalau mau nangis…. Jangan dipendam begitu, Mbak enggak sanggup melihat kamu seperti ini.

Saya tengok mata Mbak Henny yang sembab. Saya perhatikan wajah-wajah saudara saya lainnya di ruang itu, wajah yang kuyu dan lelah karena menangis. Mereka sangat sedih dengan kepergian Ibu. Anak saya juga menangis sambil memegangi ujung kaki jenazah neneknya. Suami saya terisak perlahan berdiri agak jauh dari saya, sepertinya dia sengaja memberi saya ruang untuk bersama Ibu.

Mereka mengira saya menahan tangis dan sengaja memendam kesedihan. Mereka pikir saya berusaha kuat dan tegar ditinggal Ibu. Duh, mereka salah, salah sekali! Sebenarnya, saya ingin berlari sambil menjerit memanggil Ibu. Saya ingin berteriak sekeras-kerasnya agar Ibu terbangun dari tidurnya dan memarahi saya. Tetapi, entah ke mana hilangnya kekuatan itu. Sekali lagi, saya diam.

Perlahan saya tutup kembali wajah Ibu dengan kain putih tipis miliknya. Lalu, saya duduk bersimpuh di bawah tempat tidur kayu tempat Ibu bersemayam. Dalam diam terus-menerus saya membaca surat Al-Fathihah. Saya menunduk dan sesekali mengangkat kepala melihat Ibu. Ada sedikit harap agar Ibu bergerak, meminta saya mengambilkan air putih, atau mengantarnya ke kamar mandi seperti beberapa hari lalu ketika masih sakit. Namun, cepat saya tepiskan harapan itu.

Kakak laki-laki tertua saya, Mas No berada di samping saya. Mas No adalah anak tertua Ibu dan merupakan anak kesayangan beliau. Kami semua tahu itu. Bukan rahasia lagi bahwa di akhir hidupnya Ibu hanya memikirkan Mas No yang keadaan ekonomi dan rumah tangganya memprihatinkan. Selama Ibu sakit, Mas No lah yang selalu disebut-sebut namanya.

Mas No juga bersimpuh di sebelah kanan saya. Dia terus mengumandangkan surat Yasin untuk Ibu. Saat selesai membacakan ayat terakhir, saya mengingatkannya untuk membaca surat Ar-Rahman saja, karena pada saya saat saya membesuknya di rumah sakit, Ibu pernah berpesan, Bacakan surat Ar-Rahman jika Ibu meninggal dunia kelak, jangan bacakan surat Yasin.” Saya mengangguk tanda setuju. Ibu lalu menjelaskan alasannya, bahwa surat Ar-Rahman menceritakan tentang kehidupan di surga setelah kematian di dunia.

Setelah mengingatkan Mas No, saya terdiam kembali sambil, terus mendengarkan alunan merdu suara Mas No membaca surat Ar-Rahman. Dan, kami pun bergantian membacakannya untuk Ibu.

Hari semakin malam, saya melihat jam di dinding menunjuk ke pukul 11: 20 wib. Hampir pagi dan saya mulai merasa kedinginan lagi di sekujur tubuh saya. Ibu pernah mengingatkan saya, bahwa angin malam tidak baik bagi tubuh kita karena itu adalah angin laut yang bertiup ke darat. “Masuklah Id, jangan mengobrol terus di teras. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan tubuh kita…. Atau, pakailah ini….Katanya sambil menyampirkan baju hangat miliknya ke pundak saya. Begitu Ibu mengingatkan ketika saya bermalam di rumah Ibu dan mengobrol ngalor-ngidul bersama kakak-kakak saya sampai pagi.

Dingin yang saya rasakan malam itu lebih dingin dari dinginnya malam-malam yang lain. Rasa dinginnya sampai menembus tulang. Aaaahhh…. saya menggigil lagi.

Saya beranjak mencari tempat duduk yang lebih hangat. Saya melihat beberapa orang ada yang mulai tertidur di kursi, sebagian orang masih ada yang mengobrol bisik-bisik. Bau bakaran kemenyan begitu menusuk hidung saya dan membuat badan ini tambah menggigil di hari menjelang tengah malam itu. Sebenarnya, saya tidak suka dengan tradisi bakar kemenyan di hari kematian seseorang, dan saya tahu Ibu juga tidak menyukai hal itu. Tetapi apa boleh buat, tetangga-tetangga yang membantu kami menyarankan demikian.

Tiba-tiba Herry, adik laki-laki saya mengulurkan secangkir teh hangat, “Ini Mbak, minum dulu teh manis hangat. Manisnya dari madu, kok…. Saya terima cangkir teh itu dan setelah saya teguk dua-tiga kali isinya, saya letakkan cangkir bersama cangkir-cangkir teh lainnya di atas meja kecil di samping kiri saya. Ini adalah cangkir kelima yang saya letakkan di sana dengan teh yang masih terisi separuhnya. “Habiskan dulu Mbak tehnya. Dari kemarin sore kok cuma minum satu-dua teguk….Kata Herry seraya duduk di kursi samping di sebelah kanan saya.

Ini pastel buatan Imas, kesukaan Mbak. Makan satu, ya… pleaaaase….” katanya lagi seraya menyodorkan pastel buatan isterinya yang sangat saya gemari itu.Tadi Mas Win izin pulang dulu mau mengambil pakaian Mbak dan Celina, dan segera akan kembali lagi…” lanjutnya.

Sambil menggigit ujung pastel dan mengunyahnya dengan enggan, saya mendengar Herry terus bicara. Tetapi sesungguhnya saya tidak paham dengan isi pembicaraan adik saya itu, karena benak saya sedang bicara juga. Saya bicara dengan diri saya sendiri.

Seandainya, ya… seandainya suatu keajaiban terjadi pada saya malam itu, seandainya Tuhan datang pada saya dan berkata, “Aku Tuhanmu, Aku Kuasa atas segala sesuatunya, dan Aku akan mengabulkan satu permintaanmu, maka mintalah kepada-Ku saat ini, apa saja, maka Aku akan mengabulkannya….”

Lalu, saya akan bersimpuh, “Tuhan, aku hanya minta waktu satu hari saja bersama Ibuku.

Dan, Tuhan pun menjawab, “Baik… Itu permintaan sederhana, namun sebelum Aku mengabulkannya, beri tahu Aku apa alasannya dan apa yang akan kau lakukan dengan waktu satu hari bersama Ibumu?”

“Tuhan, Engkau pasti sedang mengujiku. Kau Mahamengetahui, tetapi baiklah jika Tuhan ingin mendengar langsung dariku.Pertama, aku akan meyakinkan Ibu, bahwa Mas No akan baik-baik saja sepeninggal Ibu. Kedua, aku akan mengajak Ibu jalan-jalan ke Bandung. Ketiga, aku juga akan mengajak Ibu menemui familinya di Cempaka Putih. Keempat, aku akan mengajak Ibu makan di restoran sunda kegemarannya yang enak dan nyaman. Dan, kelima… kelima… aku akan meminta maaf pada Ibu karena….

Lamunan saya buyar, terhenti oleh suara saya yang saya dengar sendiri. Tubuh saya terguncang-guncang, air mata bercucuran. Saya menangis pilu…. Herry mendekap saya dan berkata lembut,Ya Mbak, menangislah… menangislah… menangislah sepuasnya Mbakku sayang.…”

Saya melepaskan diri dari dekapan sayang adik saya dan berlari menghambur ke jenazah Ibu. Saya bersimpuh di bawah tempat tidur kayu yang tidak beralaskan kasur itu. Saya berusaha mengeluarkan suara di hadapan jenazah Ibu yang sudah mulai dingin dan kaku. Sambil sesunggukan saya berusaha sekuat tenaga untuk bicara, “Maafkan aku Bu, maafkan aku… Maaf karena tidak bisa memenuhi semua permintaan terakhir Ibu…. Aku tidak mengindahkan semua permintaan terakhir Ibu. Ibu begitu ingin bersamaku di akhir hidup Ibu. Ibu hanya ingin aku menyisihkan waktuku sebentar untuk Ibu. Maaf Ibu... Maaf….”

Permintaan maaf itu terus terucap dari bibir saya sampai urugan tanah kubur terakhir. Sampai semua orang meninggalkan tanah pekuburan yang sunyi itu, kecuali saya.Bahkan, sampai saya menuliskan huruf-huruf terakhir saya di sini. “Maafkan aku Bu….”[irn]

(Jakarta, 21 Mei 2009: Tulisan ini saya persembahkan kepada seluruh anak manusia di dunia, “Berilah sebagian besar waktumu untuk kedua orang tuamu jika mereka masih ada. Insya Allah, kau tidak akan pernah menyesal….”)

* Ida Rosdiana Natapermadi, lahir di Bandung pada tanggal 24 April 1960. Ibu yang senang membaca puisi dan menonton pertunjukan teater ini adalah seorang karyawati di salah satu perusahaan televisi swasta di Jakarta. Ibu dari satu orang anak ini tidak pernah mengira dirinya bisa menulis. Setelah disemangati oleh teman-teman penulisnya, ia kini mulai menulis. Ida dapat dihubungi di pos-el: aten_kck18[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

8 Responses to ““Beri Aku Waktu Satu Hari Saja””

  1. arko hananto budiadi Says:

    apapun kita sekarang adalah berkat orang-orang terdekat kita…namun seringkali kita tidak menyadari seringkali kita lalai dalam memberi perhatian kepada mereka…tulisan ini mengingatkan agar kita jangan lalai…terima kasih

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. sarity Says:

    hi mba idaaa, frankly belum pernah ketemu kita ya mba, baru liat difotonya aja ni skrg, cantik duekh :)

    Tulisannya bagus mba, sampe meneteskan airmata juga nih aku
    cara penulisannya juga enak dan mudah diserap, two thumbs up for you ya mba. tulis lagi yang lain mba :)

    btw..Turut berduka ya mba walaupun telat
    Semoga arwahnya diterima, diampunkan segala kesalahan dan masuk sorga
    Dan Semoga keluarga yg ditinggalkan juga mendapat limpahan rahmat yg banyak sebagai penggantinya, amiiiinnnn :)

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: -1 (from 1 vote)
  3. Leli Achlina Says:

    Teh Ida yang cantik,

    Membuka dan membaca baris demi baris tulisan yang Teteh buat, serasa membawa saya berada pada kondisi yang Teteh alami.

    Dari tulisan ini saya dapat merasakan, bahwa Teteh menulis betul-betul dari hati. Jelas begitu mengalir, begitu menguasai suasana dan begitu runut di setiap detil peristiwa.

    Secara isi, jujur emosi saya ikut terlibat. Ada makna dan pesan yang terkandung di dalamnya. Sensitif memang bagi saya bilamana membahas perihal yang berhubungan dengan ’sang ibu’.

    Itulah sebabnya Teh, saya merasa tersadarkan lewat tulisan ini. Apapun dan bagaimanapun saya ingin berusaha melakukan yang terbaik untuk beliau. Termasuk lebih memperhatikan apa yang beliau harapkan dari kami sebagai anak-anaknya. Oleh karenanya pula, saya tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti hati beliau.

    Secara daya tarik menulis, Teteh sudah berhasil membawa pembaca larut di dalamnya. Kalau boleh kasih masukkan, di asah terus Teh bakat menulisnya, sembari terus melatih kepekaan tata bahasa dan mengurangi kesalahan menulis kata.

    Bravo ya Teh…

    Salam,
    Leli Achlina

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: -1 (from 1 vote)
  4. Hanna Fransisca Says:

    Turut berduka cita, Mbak. Gaya tutur bercerita mengalir dan enak dibaca.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  5. Ibu Habibie Says:

    Jeng Ida, sengaja sy membaca tulisan Anda membawa hati sy ikut larut dalam cerita. Sy pernah jg mengalami perasaan berdosa pada ibunda. Trauma ini susah u/sy lupakan baru bisa sy hapus dr pikiran setelah sy ikut pelatihan [....]. Itupun setelah hampir 2 tahun dari sedonya Ibu sy.
    Alhamdulillah sekarang sy sdh tdk terbebani lg oleh pikiran yg sy bentuk sendiri.

    Ikut belasungkawa ya walau sdh terlambat.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Fatma KSA Says:

    makasih ya mbak..tulisan mbak ini semakin membuat saya menyadari terlalu sedikit sekali waktu saya untuk meluangkan waktu bersama kedua orangtua saya yang teramat menyayangi saya…

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. Ida Is Says:

    Mbak Ida…
    Beberapa kali aku mendapatkan pembelajaran tentang sedikitnya kesempatan yang kita berikan kepada orang tua kita hingga ajal keburu menjemput. Mbak tahu? Saat aku bertanya2 mengapa aku masih melajang diusia segini, maka jawaban yang muncul adalah mungkin Tuhan sedang memberiku kesempatan untuk lebih sering menghabiskan waktu bersama mereka. Kesempatan yang kini kusadari itu sedang kumanfaatkan sebaik-baiknya. Tapi aku tahu takkan pernah ada kata cukup. (ida_is03@yahoo.com)

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 1.0/5 (1 vote cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  8. Ida Rosdiana Natapermadi Says:

    Sahabat,

    terima kasih atas tanggapan yang diberikan terhadap tulisan saya tsb di atas. terima kasih juga untuk simpati yang diberikan terhadap ‘duka’ mendalam yg saya rasakan. khusus kepada Ibu Habibi, jika tidak keberatan ingin sekali saya tahu tempat pelatihan itu agar saya bisa ‘melepaskan’ beban bersalah ini.

    semoga pengalaman saya di atas bisa menjadi pembelajaran untuk orang lain….

    salam,
    irn

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox