Home » Kolom Lepas » “Radio Rusak” Ingin Menyelamatkan Kekayaan Bangsa

“Radio Rusak” Ingin Menyelamatkan Kekayaan Bangsa

yrOleh: Yusnita Rifai*

Sesekali ingin rasanya saya berhenti mengutuki kegagalan beberapa sistem di Indonesia. Namun, ternyata berat untuk tidak menjadi radio rusakjulukan suami dan anak saya karena kerap mendengar kritikan saya terhadap berbagai hal. Acara radio rusak kali ini adalah masalah hak atas kekayaan intelektual (HAKI).

Silakan membaca beberapa poin penting di bawah yang saya jadikan gerutuan reguler. Maaf jika penyampaiannya rada formal, namun itu lebih baik ketimbang aslinya yang sebagian besar diekspresikan dalam bahasa gado-gado (bahasa Indonesia logat Makassar-Mandar campur bahasa prokem Inggris dan Jepang hehehe…).

Indonesia memiliki aset dan komoditas asli yang berlimpah, termasuk obat tradisional. Sayang sekali, puluhan item HAKI tersebut telah dibajak negara lain. Amerika Serikat dan Jepang berada di posisi teratas setelah mematenkan lebih dari 41 resep obat tradisional Indonesia. Parahnya, itikad pemerintah untuk melindungi komoditas obat tradisional yang bernilai ekonomi tinggi masih belum terlihat jelas. Itu dibuktikan oleh prosedur pendaftaran paten yang rumit dan mahal serta kurangnya survei dan inventarisasi atas kekayaan sumber bahan obat.

Tahun 2002 Indonesia pernah dihebohkan oleh 11 registrasi paten perusahaan Shiseido, Jepang atas bahan-bahan rempah jamu tradisional Indonesia. Atas partisipasi berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), registrasi tersebut kemudian dibatalkan. Hal serupa terjadi ketika Amerika Serikat mematenkan beras basmati dan tanaman turmeric yang kemudian dibatalkan oleh lembaga HAKI India. Berita terbaru tentang perebutan hak eksklusif atas tanaman temulawak antara Indonesia dan Korea juga tidak sedikit menarik perhatian masyarakat dunia.

Bukan hanya obat tradisional yang menjadi incaran negara maju, kekayaan lain berupa makanan tradisional, pakaian, lagu bahkan alat musik banyak diklaim hak kepemilikannya oleh bangsa lain. HAKI kopi toraja yang telah dimiliki oleh Key Coffee Jepang menyebabkan Indonesia sulit mengekspor langsung produk yang notabene adalah kebanggaan rakyat Sulawesi Selatan itu ke Jepang. Sebab alih-alih dapat dituduh melanggar merek yang telah terdaftar sebagai paten milik perusahaan Key Coffee. Bagaimana cara menyelamatkan hak paten obat tradisional kita?

Meningkatkan Pemahaman Masyarakat tentang HAKI

Berdasarkan UU No.19 (2002), HAKI terbagi dalam dua kategori yakni hak cipta dan hak kekayaan industri, di mana paten, merek, dan varietas tanaman merupakan hak kekayaan industri. Hak eksklusif (paten) yang diberikan negara kepada inventor yang berhasil mengolah simplisia, obat herbal terstandar atau fitofarmaka maupun kepada formulator yang menemukan formulasi komposisi obat tradisional akan meminimalkan risiko pemalsuan dan pengkopianan produk tanpa kompensasi kepada pemilik lisensi.

Sosialisasi undang-undang tentang paten obat tradisional tidak hanya perlu menjangkau dunia penelitian, perguruan tinggi, farmasi, dan industri, tetapi harus disebarluaskan kepada masyarakat perkotaan maupun pedesaan yang kebanyakan bertindak sebagai konsumen obat tradisional. Hal ini bertujuan untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan ekonomi dalam era perdagangan bebas, di mana negara pemilik lisensi dapat menjual produk obat tradisional dengan harga melangit.

Perusahaan Martha Tilaar dan Sido Muncul telah merasakan keuntungan mematenkan produk tradisional. Kedua perusahaan obat dan jamu tradisional ternama ini merasa lebih bebas mengiklankan produk-produknya tanpa takut digugat oleh pihak lain, utamanya pihak asing. Negara lain yang hendak menggunakan produk mereka harus membayar sejumlah royalti sehingga menjadi sumber pendapatan bagi perusahaan dan sumber devisa bagi negara.

Pemerintah Mempermudah Prosedur Pendaftaran Paten

Prosedur pendaftaran paten dan merek di Indonesia terkenal menelan waktu dan biaya. Berdasarkan standar yang ditetapkan Ditjen HAKI, tarif setiap permintaan paten sebesar Rp575.000 per produk. Untuk tahap pemeriksaan, tarifnya mencapai Rp2 juta, bahkan kadang tiga kali lipat dalam praktik penyelenggaraannya. Setelah dipatenkan, setiap tahun produk tersebut dikenai biaya pemeliharaan sebesar Rp700.000 (biaya ini relatif tidak sama setiap tahunnya).

Setelah tahap registrasi, pendaftar harus menunggu 18 hingga 24 bulan untuk mengetahui apakah ada keberatan dari masyarakat terhadap produk yang didaftarkan. Jika tidak, pemohon paten berhak mendapatkan hak patennya untuk jangka waktu 20 tahun sejak filling date.

Bandingkan dengan negara tetangga semisal Korea yang hanya membutuhkan waktu tiga bulan untuk mengeluarkan sertifikat paten kepada pendaftar dengan membayar hanya 81 dollar AS untuk registrasi paten per produk, dan 3.840 dollar AS untuk biaya pemeliharaan per 20 tahun.

Selain biaya yang mahal dan waktu pengurusan yang lama, adanya kewajiban untuk memproduksi obat tradisional lisensi di wilayah Indonesia (termasuk investasi, penyerapan tenaga kerja, hingga masalah transfer teknologi) adalah kendala utama lambatnya proses mematenkan obat tradisional di Indonesia. Hal ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Sebab, bukan tidak mungkin paten yang sedang dalam kepengurusan registrasi keburu ditemukan inventor negara lain.

Perlunya Dokumentasi dan Pembatasan Penyebarluasan Informasi Sumber-sumber Obat Tradisional

Industri maupun perorangan hendaknya memahami aturan TRIPs (Trade-Related Aspect of Intellectual Property Rights) pasal 22, bahwa setiap pihak yang mendaftarkan suatu merek harus membatalkan merek barang yang telah didaftarkannya apabila merek tersebut mengandung indikasi geografis dan terbukti barang tersebut bukan berasal dari daerah si pendaftar. Sehingga, proses dokumentasi resep maupun bahan obat tradisional yang terkait dengan indikasi geografis dan traditional knowledge adalah hal yang sangat penting, di mana data tersebut dapat menjadi tameng ketika ada pihak lain yang hendak mendaftarkan paten yang sama.

India, misalnya, telah mendokumentasikan secara lengkap resep-resep pengobatan tradisionalnya sehingga pihak pemerintah mudah menghalangi permohonan paten yang menggunakan resep-resep obat tradisional India.

Oleh era globalisasi dan era digital, pihak pemerintah, industri, dan perorangan juga perlu membatasi penyebarluasan informasi tentang sumber-sumber bahan obat tradisional. Alternatif ini ditempuh sebagai langkah terakhir mengingat lamanya waktu dan mahalnya biaya dari proses aplikasi sebuah hak paten di Indonesia. Sehingga, tidak ada pihak tertentu yang ingin mencuri start di tengah penantian seorang inventor akan hak eksklusifnya.

Proses menyelamatkan hak negara kita terhadap paten obat tradisional tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu kerja sama bersinergi antara lembaga HAKI, pemerintah, industri, farmasi, dan masyarakat. Semoga dengan era digital kekayaan Indonesia dapat dipermudah proses dokumentasi, inventarisasi, dan pengawasannya oleh pihak-pihak terkait.

Waduh saya sangat bersyukur jika Anda telah sampai pada paragraf terakhir ini. Artinya, walaupun jenuh Anda masih bertahan membacanya hehehe… Saat ini, saya sedang bersekolah di luar sehingga akses untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dan pihak terkait tertahan oleh ribuan mil bentangan jarak. Tolong disampaikan bahwa radio rusak ingin menyelamatkan hak paten obat tradisional.[yr]

* Yusnita Rifai adalah dosen Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin-Makassar. Ia telah menggondol gelar Master of Biotechnology Studies, Flinders University, Australia, dan saat ini berstatus sebagai mahasiswa program doktoral pada Departement of Natural Product and Chemistry, Graduate School of Pharmaceutical Science, Chiba University, Japan. Yusnita dapat dihubungi melalui pos-el: yusnitarifai[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.7/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +9 (from 11 votes)

2 Comments

  1. nina says:

    saya sependapat dengan tulisan bu yusnita diatas,hal itulah yang mendasari saya untuk mengangkat paten obat tradisional ini sbg tema tugas akhir saya, sungguh sangat disayangkan Indonesia dgn kekayaan alamnya yg melimpah di bidang obat-obatan namun justru negara lain yg menikmatinya hanya karena ketidakseriusan pemerintah untuk melindunginya melalui sistem hukum.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Met malam. Salam kenal sebelumnya. Ga sengaja mampir kemari dari google dari obat herbal . Numpang baca2 dulu. ^_^

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar