Home » Kolom Tetap » “CCTV” di Sekitar Kita

“CCTV” di Sekitar Kita

sg2Oleh: Sulmin Gumiri*

Untuk bisa sukses dalam kehidupan ini sebenarnya tidaklah terlalu susah. Kita cukup meniru saja kehidupan rekan-rekan kita yang berprofesi sebagai artis. Para artis adalah sekumpulan orang yang sangat pintar dalam memainkan setiap peran yang diminta oleh sutradara kepadanya. Mereka harus siap manakalah diminta untuk berperan sebagai pelajar, guru, dokter, pengusaha, politisi, dan berbagai tuntutan peran lainnya. Kadang-kadang mereka diminta berperan sebagai orang baik-baik, tetapi di lain waktu mereka juga harus siap jika diminta memainkan peran sebagai orang jahat, kejam, dan licik. Semakin banyak peran yang bisa ia mainkan, akan semakin sukses pula orang yang berprofesi sebagai artis tersebut.

Dalam kehidupan pun sebenarnya kita dituntut untuk memainkan segala macam peran. Adalanya kita dituntut untuk memainkan peran sebagai orang tua bagi anak-anak, pasangan bagi isteri atau suami, guru bagi anak didik, atasan bagi karyawan, atau sebagai warga dari komunitas masyarakat di sekitar tempat tinggal kita. Mungkin karena begitu miripnya kehidupan kita ini dengan dunia seni peran, maka benar juga apa yang dinyanyikan oleh Ahmad Albar di tahun 80-an yang mengatakan bahwa “dunia ini adalah panggung sandiwara”.

Agak berbeda dengan dunia seni peran yang biasa dimainkan oleh teman-teman kita para artis, orang luar biasa adalah orang yang “hanya” bisa memainkan satu sisi peran saja dalam kehidupan ini, yaitu peran sebagai orang baik. Masalahnya adalah, kalau hanya memainkan peran sebagai orang baik untuk sesaat dan di satu bidang kehidupan saja mungkin dengan mudah bisa kita lakukan. Tetapi, untuk selalu menjadi orang baik di segala aspek kehidupan kapan pun dan di mana pun, kita dituntut untuk selalu belajar dan mengendalikan diri setiap harinya. Pengendalian diri dapat kita lakukan dengan selalu memantau atau memonitor segala gerak-gerik dan tingkah laku kita ke mana pun kita pergi dan di mana pun kita berada.

Namun, tidaklah mudah untuk memantau atau memata-matai diri sendiri. Untuk melakukan penilaian apakah kita selalu berbuat baik setiap saat merupakan pekerjaan yang luar biasa beratnya, karena hal ini terkait dengan kejujuran kepada diri sendiri. Tidak jarang ketika kita berkomitmen untuk selalu jujur kepada diri sendiri, kita dihadapkan kepada permasalahan bagaimana memberlakukan dan mengukur takaran sangsi atau hukuman apabila kita melanggar komitmen tersebut. Kita bisa dengan mudah bisa menjatuhkan dan menentukan jenis sangsi terhadap kesalahan orang lain, tetapi kita juga memiliki pembelaan diri yang luar biasa manakala sangsi yang sama harus diterapkan pada diri sendiri.

Masalahnya adalah, seberat dan semahal apa pun kejujuran kepada diri sendiri tersebut, kita tetap harus terus berusaha untuk mencapainya. Karena jika kita tidak biasa jujur kepada diri sendiri maka kita pun akan dengan sangat mudah untuk tidak jujur kepada orang lain. Dan, penyakit ketidakjujuran kepada orang lain inilah yang sering menjadi batu sandungan kita dalam mencapai kesuksesan di kehidupan ini.

Sebenarnya, kita bisa memaksa diri untuk senantiasa jujur kepada diri sendiri. Pemaksaan ini bisa kita lakukan manakala kita menyadari bahwa selalu ada kamera CCTV di sekitar kita yang setiap saat memata-matai ke mana pun kita pergi dan di mana pun kita berada. Kamera CCTV yang selalu menyoroti semua aktivitas kehidupan kita tersebut bentuknya bermacam-macam mulai dari yang menggunakan teknologi konvensional sampai kepada yang paling canggih, dan mulai dari yang kasat mata sampai di alam maya. Orang-orang dekat di sekitar kita seperti anggota keluarga, teman, murid, dan tetangga adalah contoh-contoh kamera CCTV konvensional dan kasat mata, yang selalu merekam gerak-gerik kita dan siap setiap saat membongkar semua ketidak jujuran yang kita lakukan.

Dengan kemajuan teknologi saat ini, kita tidak saja selalu dipantau oleh orang-orang dekat kita tersebut, tetapi kita juga sudah semakin terekspos ke semua orang. Mungkin kita masih ingat kasus pembunuhan seorang artis di sebuah hotel atau peledakan bom Bali beberapa tahun yang lalu. Rekaman kamera CCTV di sekitar tempat kejadian menjadi alat bukti yang tidak terbantahkan untuk menjerat dan menangkap para pelaku untuk mempertanggung jawabkan perbuatan tidak baik mereka tersebut. Kita juga sering mendengar bahwa sudah tidak ada lagi tempat aman di dunia ini bagi para koruptor untuk melarikan diri menghindari jeratan hukum yang telah dilanggarnya, karena dengan kecanggihan teknologi semua orang bisa membuntutinya ke mana pun mereka pergi dan di mana pun mereka bersembunyi.

Saat ini, jika kita ragu dengan kredibilitas orang yang kita kenal, kita cukup browsing saja nama orang tersebut di internet. Melalui teknologi komunikasi ini, dengan mudah kita mengetahui apakah calon teman baru kita tersebut adalah orang baik-baik dan bisa menunjang kesuksesan kita, atau ia adalah orang jahat yang justru berpotensi membawa kita kepada kehancuran. Begitu juga sebaliknya, indentitas dan kepribadian kita akan dengan sangat mudah dilacak dan dipelajari orang memalui dunia maya tersebut. Apalagi melalui teknologi komunikasi terakhir Facebook, orang bahkan sengaja mengekspos dirinya ke semua orang termasuk untuk aktivitas-aktivitas pribadi seperti ketika ia baru bangun tidur, sedang mandi, sedang sarapan, mengantar anak, ngerumpi di café, atau bahkan ketika ia habis bertengkar dengan pasangannya sekalipun.

Jadi kalau ingin sukses, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mulai berkomitmen menjadi orang yang selalu berbuat baik dengan membangun kejujuran kepada diri sendiri. Hanya dengan jujur kepada diri sendiri yang akan membuat kita juga terbiasa untuk jujur kepada orang lain. Di zaman yang serba canggih saat ini, sekecil apa pun ketidak jujuran yang kita sembunyikan, cepat atau lambat pasti akan diketahui oleh orang-orang di sekitar kehidupan kita. Dan, sekali ketidakjujuran tersebut terbongkar, sangatlah sulit untuk mengembalikan kepercayaan mereka. Kalau orang sudah tidak percaya, lalu jalan menuju kesuksesan pun mulai terasa terjal. Karena itu ingatlah, selalu ada CCTV di sekitar kita.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

1 Comment

  1. maria saumi says:

    Saya suka tulisannya pak. Thx. (Memang kalo orang jujur mah ndak takut disekitarnya ada cctv atau tidak ya pak?)..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar