Memperkaya Diri Lewat Kegagalan

rsOleh: Relon Star*

“Orang yang mencoba melakukan sesuatu namun gagal,

adalah jauh lebih baik daripada mereka yang tidak

mencoba apa pun, namun berhasil”

~ Lloyd Jones

Tidak ada seorangpun yang mau gagal. Bahkan tidak ada orang yang merancangkan kegagalan singgah di hidupnya. Namun terkadang kita perlu memiliki sedikit kisah tentang kegagalan hidup, supaya berkaca dari kegagalan dan mengambil langkah yang lebih cerdas untuk membenahi kehidupan kita.

Aku termasuk dalam deretan orang yang pernah gagal. Bahkan gagal dalam rentang waktu yang cukup lama yaitu selama tujuh tahun. Entah kenapa, orang sealim diriku (ehem!) bisa terlibat jauh dalam dunia narkotika dan obat-obatan terlarang. Padahal, menurut guruku di sekolah, aku ini termasuk anak yang cerdas loh! Bahkan suatu kali guru Bahasa Indonesia pernah berusaha menjebakku dalam sebuah ujian harian. Ia memberikan pertanyaan yang sangat sulit, supaya aku tidak bisa menjawabnya. Namun di luar dugaan, semua pertanyaan bisa kujawab. (Ini pengakuan beliau ketika aku menjumpainya untuk diwawancara seputar kisahku dulu semasa sekolah, demi keperluan penulisan buku perdanaku).

Menjadi orang gagal selama tujuh tahun, cukuplah membuatku jera. Ketika teman-temanku yang lain sudah menginjak bangku kuliah, aku masih bingung bin bengong jika ditanya soal masa depan. Tak seorang pun sependapat bahwa aku bisa memiliki masa depan gilang gemilang. Tetapi untunglah penulis skenario hidupku membuat kisah yang berbeda dalam hidupku. Karena setelah aku putar haluan—dari seorang mantan morfinis menjadi penulis—kini hidupku berbeda. Bahkan kegagalan tersebut kini menjadi harta karun yang berharga bagiku, karena melalui kisahku berjuang lepas dari jerat candu narkoba, kini aku dapat memperkaya iman orang lain yang merasa hidupnya hancur, tapi merasa punya teman: seorang mantan morfinis … yang kini sukses menjadi penulis.

Kalau Anda mau menambahkan diriku dalam daftar teman Anda, silahkan saja. Asalkan Anda terinspirasi dengan kisahku, dan mulai menciptakan kisah sukses Anda sendiri … yang pernah gagal tetapi bisa bangkit kembali.

Anda tidak dapat menghubungkan titik demi titik di dalam kehidupan ini dengan melihat ke depan. Anda hanya dapat melihat titik-titik tersebut terhubungkan ketika Anda melihat ke belakang. Anda mungkin tidak memahami kegagalan demi kegagalan saat ini, tetapi percayalah suatu saat nanti Anda akan sangat mengerti dan menghargai nilai dari kegagalan.

Ingatlah, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Dan, setiap kegagalan adalah batu loncatan penting untuk sebuah kesuksesan, semua bergantung pada bagaimana Anda melihatnya.

Kalau Anda menyebutkan satu nama dari seseorang yang sudah sukses sekarang, coba perhatikan dengan seksama bagaimana kehidupannya … tentu ia pernah mengalami kegagalan. Bahkan mungkin daftar kegagalannya lebih banyak dari yang kita ketahui, dan yang kita sendiri pernah alami.

Kalau kita mau jujur, kegagalan dapat memberikan sumbangsih yang besar bagi kita jika mau mengambil makna dari kegagalan tersebut, lalu mengambil langkah yang lebih cerdas untuk mencetak sukses di masa mendatang.

Berapa banyak orang di dunia ini yang pernah mengalami kegagalan, namun ketika ia bangkit dari keterpurukan, maka ada masa depan baru di hidupnya. Aku salah satunya. Kini aku menyikapi kegagalan dengan pandangan yang berbeda. Bahkan aku menyulap kegagalanku ini menjadi harta karun yang berharga, karena banyak orang yang terinspirasi begitu mendengar kisah hidupku. Tanpa adanya kisah masa gelapku, aku tidak dapat bercerita banyak tentang kisah suksesku kini, karena ceritanya diawali dari masa gagal selama tujuh tahun.[rs]

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.9/10 (43 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +31 (from 31 votes)

Tuhan Mengirimkan Lelaki di Tengah Hujan

hf2Oleh: Hanna Fransisca*

Beberapa waktu belakangan ini, saya seringkali dihinggapi penyakit mudah naik darah. Kesabaran saya bisa tiba-tiba terbang oleh emosi yang meledak, –tanpa bisa ditahan. Ada banyak hal kecil yang sesungguhnya tak patut dijadikan alasan untuk marah, akan tetapi entah kenapa, emosi selalu kembali datang secara tiba-tiba.

Malam itu sopir kantor terlambat datang, padahal jadwal rapat sudah ditentukan. Terlalu lama menunggu, maka emosi pun menyelinap tanpa bisa ditahan. Akhirnya saya putuskan untuk meloncatkan diri di atas motor tukang ojek, dengan pertimbangan praktis: untuk menghindari jebakan macet, dibanding dengan memilih taksi.

Tapi hasilnya tentu saja sudah bisa ditebak: debu-debu jalanan membuat saya semakin kesal. Belum lagi tingkah tukang ojek yang ternyata sangat liar, melebihi perhitungan kepraktisan ketika saya memutuskan memilih ojek. Ia bertingkah bak seorang pembalap. Menyalip sana, menyelip sini, memotong jalur, memainkan gas dengan seenak hati, hingga katup jantung saya rasanya ingin meledak. Ingin rasanya saya berteriak, meloncat turun dan memarahinya: “Kamu cari mati ya? Mau membunuhku ya? Dasar bodoh!”

Niat buruk belum terlaksana, hujan tiba-tiba datang. Sungguh hujan yang sangat tidak tepat waktu. Meski pada saat-saat normal saya teramat menyukai hujan, tapi malam itu saya benar-benar tidak membutuhkan hujan. Sungguh-sungguh hujan yang menjengkelkan. Saya tentu tidak ingin basah kuyup di tempat rapat. Alangkah malu dan terhinanya jika sampai hal itu terjadi. Maka saya memutuskan menyuruh tukang ojek untuk segera mencari tempat berteduh. Apa hendak dikata, maksud hati ingin cepat, tapi justru semakin terlambat. Saya harus segera mencari pengganti ojek dengan taksi. Tapi di mana pula saya bisa mendapatkan taksi? Di tengah hujan deras begini…. Dalam hati, saya mulai menyesali keputusan yang dipilih beberapa saat lalu. Andai saya lebih sabar menunggu supir kantor, tentu saat ini saya tengah duduk nyaman di dalam mobil. Sekeras apa pun hujan datang, tentu saya tidak akan mengalami kepanikan yang tidak penting.

Kami segera merapat ke halte bus untuk berteduh. Jelas tak ada taksi menunggu di halte bus. Dan jelas, di tengah hujan deras diperlukan kerja keras untuk menghentikan taksi yang tengah lewat. Sementara waktu semakin merambat. Sementara orang-orang padat berkerumun di halte bus, berdesakan menghindari deras air yang mengguyur.

Orang-orang berlarian sambil melindungi rambut mereka dengan tas di kepala mencari tempat berteduh. Suara-suara knalpot motor, klasok mobil, teriakan kernet bus, membuat kepala saya pening. Untunglah saya bisa memperoleh tempat duduk di bangku besi yang dingin. Saat itulah mata saya terpana oleh seorang lelaki tua yang sedang menyeret-nyeret pantatnya.

Tangan kanan lelaki tua itu dijadikan tumpuan kekuatan. Ia begitu sabar menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit. Saya melihat ia meraba-raba trotoar. Bisa dibayangkan betapa pedih telapak tangan itu saat menyentuh pasir-pasir dan kerikil kecil. Bisa dibayangkan betapa nyeri paha, pantat, dan kaki yang diseret di tanah, atau di bekas-bekas retakan beton, atau di pinggir tonjolan batu-batu yang menempel pada aspal. Ia mulai meraba-raba lagi. Saya tidak bisa melihat dengan seksama apa yang ingin ia raba kini, sebab dirinya mulai tertutup timbunan manusia lain yang sibuk mencari tempat berteduh.

Sejenak lupa dengan ojek dan taksi, tiba-tiba timbul rasa iba di hati. Tapi entah bagaimana setan bekerja, rasa iba yang telah muncul dengan keras kemudian ditepis. Saya kembali tidak peduli. Secara refleks mata kemudian berpaling, dan tidak memperhatikan lelaki itu lagi.

Untuk menghibur diri, karena toh pada akhirnya memang harus pasrah menerima keadaan, maka saya mengeluarkan ponsel. Mengakses jaringan internet dan menulis status FB, “SEDANG BERTEDUH DI HALTE BUS”. Rasa kesal, dan juga sekaligus kegeraman pada keterlambatan yang mungkin tak akan termaafkan, telah memunculkan penyakit eksistensi yang berbau narsis. Entah gejala apa, sejak popularitas dunia maya diwakili oleh dinding facebook, hampir setiap orang selalu membayangkan dirinya penting untuk diketahui. Hampir setiap orang selalu membayangkan, bahwa setiap kejadian yang menimpa diri sendiri (bahkan hingga pada taraf yang sangat pribadi), juga penting diketahui oleh orang lain. Barangkali sejenis penyakit “ingin terkenal”, atau “ingin disanjung”, yang tak terlampiaskan dalam pergaulan sehari-hari, dan kemudian terwakili oleh dinding facebook yang sanggup mengabarkannya pada dunia yang lebih luas.

Pada kenyataannya, facebook memang bisa menjadi wakil dalam menumpahkan kejengkelan pribadi, terutama pada saat-saat semacam ini. Tentu, dengan harapan mendapat respon saat menulis status berita semacam ini (yang sesungguhnya tidak terlalu penting untuk orang lain), saya menunggu respon. Banyak yang memberi jempol, sedikit yang memberi tanggapan serius. Tak peduli apakah jempol itu doa berkah atau sebaliknya mensyukuri diri saya yang sedang kehujanan, saya tetap merasa bangga bak seorang seleb. Mata seolah tidak ingin lepas dari layar facebook. Saya pun mulai menghitung berapa jempol yang diberikan teman-teman, dan siapa saja yang menghadirkan jempolnya.

Beberapa saat saya merasa sekeliling saya semakin sesak. Tersadar berada di tempat umum dan tidak aman berponsel ria, akhirnya saya memasukkan kembali benda kecil itu ke dalam tas. Memperhatikan tumpahan hujan yang kian menderas, melihat kembali kiri-kanan siapa tahu ada keberuntungan datang sebuah taksi. Dan entah kenapa, tiba-tiba muncul kembali rasa penasaran pada lelaki tua tadi. Mata saya jelalatan mencari sosok tubuhnya.

Astaga! Ia masih terlunta-lunta untuk bisa berteduh. Rambutnya yang kriting awut-awutan terlihat basah kuyup. Celana panjangnya, bajunya, seluruhnya kuyup. Saat itulah saya bisa melihat lebih jelas, ternyata: kakinya kecil sebelah. Ia mengibas-ngibaskan kedua telapak tangannya untuk membersihkan pasir-pasir yang menempel. Ia meraba-raba tongkat kayunya. Sentuhan tangan itu seolah menyentuh batang hatiku. Ia duduk diam. Tongkat kayu kini di taruh di atas pahanya. Beberapa orang melempar uang logam padanya. Ia bergeming. Seorang wanita gemuk berbaju batik ketat seperti karung yang membungkus nangka, menarik dua bungkus kerupuk di kayu penyangka jualan. Wanita itu membayar pada lelaki tua. Saya terkejut saat lelaki itu memperlihatkan bola matanya yang putih keluar sebelah. Sebelah lagi terpejam. Tuhan! Di samping cacat kaki, dia juga buta.

Tak tahan menahan rasa iba, saya pun berdiri, menyibak kerumunan, dan memberikan selembar uang kertas di telapak tangannya. Di luar dugaan, ia membuat harga diri saya luruh terjatuh.

“Saya bukan peminta-minta,” katanya. Ia mengulurkan kembali uang kertas itu, dan meminta maaf. Ada kemarahan dalam suaranya yang bergetar, “Kalau mau membeli kerupuk saya, silahkan.”

Sekali lagi, belakangan ini saya sedang diserang penyakit mudah marah. Dan perlu diketahui, bahwa marah adalah penyakit menular tercepat di dunia. Dengan serta merta saya mengambil kembali uang kertas dari tangannya. Bisa dibayangkan betapa wajah saya memerah saat itu, lebih-lebih saat diketahui beberapa pasang mata memandang lurus tepat ke arah saya. Baru saja bibir saya terbuka ingin menyahut dengan rasa tersinggung, ibu berpakaian batik tadi mendekat.

“Dia setiap hari berjualan kerupuk di situ, Neng” bibirnya meruncing ke arah trotoar di samping kali besar yang airnya hitam, “Dia tidak mau menerima uang cuma-cuma.” Dalam hati saya ingin menyahut, “ah! dasar sombong!”

“Di jaman sekarang mana ada manusia seperti itu, Neng. Seribu satu,” si ibu berpakaian batik kembali berkata.

Tiba-tiba saya merasa malu sebagai manusia yang dibekali akal sehat dan tubuh tanpa cacat. Sebenarnya ingin saya membeli kerupuk dari lelaki tua itu, sebagai empati saya yang datang tiba-tiba. Tapi niat saya urungkan mengingat kesombongan diri saya sesaat lalu. Hujan mereda. Saya pun meninggalkan tempat itu begitu saja. Bergegas ke tepi jalan, diikuti tukang ojek yang terus bertanya: “Ayo naik lagi, Bu.”

“Saya mau cari taksi!”

***

Tiba di rumah, seusai rapat yang gagal, saya membersihkan tubuh. Menyantap makan malam, dan dihantui pikiran macam-macam. Wajah lelaki tua itu, ucapan ibu yang berpakaian batik, berkelebatan dalam ingatan saya. Lalu hal yang paling aneh, Si Mbok yang membantu saya di rumah, malam itu menyajikan kerupuk. Kerupuk yang sama seperti yang dijual oleh lelaki tua buta yang tidak sengaja kutemui beberapa saat lalu. Selera makan saya tiba-tiba sirna. Kerupuk itu berbayang di mata. Saya teringat bagaimana lelaki tua itu berusaha keras mencari tempat berteduh. Ia yang menyeret-nyeret pantat dan pahanya, tanpa peduli nyerinya kulit yang tergelupas demi perjuangan hidup. Ia yang saban hari tersiram debu, kadang kehujanan. Ia yang mungkin juga dimaki-maki orang, “dasar buta!” Astaga. Saya merasa, sayalah yang sesungguhnya buta. Sepanjang malam, saya dirundung gelisah.

Esok harinya, saya sengaja melewati jalan itu agar bisa bertemu dengan lelaki buta bersama kerupuk dagangannya. Saya ingin memborong seluruh kerupuknya, sebagai tanda sesal dan permintaan maaf. Tapi lelaki tua itu tak ada di sana. Lusanya pun begitu. Bahkan lusanya lagi dan lagi. Lelaki tua itu seperti lenyap ditelan bumi. Jejaknya tidak pernah saya temukan lagi. Ia seolah sirna bersama satu peluang yang telah Tuhan berikan kepada saya. Kesempatan ternyata tidak datang dua kali, bahkan untuk melakukan hal baik sekali pun. Barangkali Tuhan sengaja mengirimkan sebuah pelajaran paling berharga pada malam itu, dan pelajaran itu hanya datang pada satu malam saja. Dan saya dengan tega telah melewatkannya.

Setiap teringat itu, saya selalu merenung. Dan setiap kali saya membuka dinding facebook, serta menemukan jempol-jempol yang bermunculan di sana, saya selalu bertanya: untuk apakah sesungguhnya makna jempol-jempol itu. Bukankah sesungguhnya, lelaki tua buta itulah yang paling berhak mendapatkan jempol atas kualitas dirinya. Tapi bagaimanakah saya harus memberikan jempol itu padanya, sedangkan ia tak pernah lagi saya temukan.[hf]

Jakarta, September 2010.

*Hanna Fransisca (Zhu Yong Xia), lahir 30 Mei 1979, di Singkawang, Kalimantan Barat. Jatuh cinta dengan bacaan sastra dan aktif menulis di dunia maya. Tulisan-tulisan motivasinya bisa dijumpai di andaluarbiasa.com. Menulis puisi dan prosa. Puisi dan cerpennya dimuat di Kompas, Koran Tempo, Suara Merdeka, Malang Pos, dan sejumlah majalah sosial. Kumpulan puisinya terbit pada April 2010 dengan judul Konde Penyair Han (Penerbit KATAKITA). Cerpen-cerpennya diterbitkan dalam antologi Kolecer & Hari Raya Hantu (Juni 2010). Selain aktif di organisasi sosial dan profesi Lions Club Jakarta Kalbar Prima, ia adalah seorang pengusaha yang mengelola bisnis di bidang otomotif. Hingga kini, ia menetap di Jakarta.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.8/10 (12 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +36 (from 38 votes)

Bangkit dari Krisis

Oleh: David Siagian*

“I was never myself discouraged or hopeless… When one theory was discarded, I developed another at once. I realized very early that this was the only possible way for me to work out all the problems.”

~ Thomas Alfa Edison

Dalam perjalanan hidupnya setiap orang pasti pernah mengalami krisis—baik karena persoalan yang berasal dari diri sendiri maupun dari luar. Namun, apa yang membuat seseorang bisa cepat pulih, sedangkan yang lain membutuhkan waktu yang lama atau malah putus asa?

Optimisme dan upaya keras meraih kembali harapan tentu saja sangat diperlukan agar seseorang bisa keluar dari krisis. Banyak orang-orang besar, organisasi-organisasi, dan perusahaan-perusahaan high profile dunia pulih kembali dari krisis yang mereka alami setelah berupaya keras dan optimis meraih kembali visi awal. Mereka raih kembali cita-cita mereka dan memenangkan kembali kepercayaan publik. Namun tidak sedikit pula orang-orang, perusahaan atau organisasi sulit untuk berjalan kembali ke rel yang benar menuju sukses.

Merespon dengan cepat

Salah satu kunci keberhasilan mereka bangkit dari krisis adalah segera merespon krisis dan memperbaiki kesalahan. Thomas Alfa Edison awalnya adalah murid terbodoh di kelasnya dan ia selalu diejek oleh murid-murid lainnya karena kelemahan nalarnya. Bahkan ia dikeluarkan dari sekolah karena dianggap menyebalkan. Namun kita tahu bahwa Edison menjadi ilmuwan besar, dan penemuannya dinikmati orang di seluruh dunia hingga kini. Penulis-penulis besar pun mengalami hal yang serupa dengan kegagalan Thomas Edison. Mereka pernah ditolak. Tulisan-tulisan mereka pernah direndahkan dan diabaikan oleh penerbit hingga ratusan atau bahkan ribuan kali. Tentu saja kegagalan-kegagalan seperti ini adalah saat-saat krisis yang bisa menjatuhkan semangat berkarya. Tetapi mereka tetap optimis, mencoba lagi dan mencoba lagi hingga akhirnya menjadi penulis besar.

Menarik sekali jika akhir-akhir ini kita membaca dan mendengar bahwa perusahaan otomotif terbesar dunia, Toyota Motors Corp, mengalami krisis hebat setelah jutaan mobil mereka harus ditarik di seluruh dunia terutama di Amerika Serikat dan Eropa karena kegagalan sistem Toyota, yang bertumbuh pesat menjadi raksasa dunia mengalahkan General Motors, telah mengabaikan masalah kecil yang berdampak serius terhadap keselamatan penumpang. Yang patut disayangkan lagi mereka gagal merespon keluhan konsumen dengan cepat dan mengkomunikasikannya ke publik. Walaupun demikian bukan berarti Toyota tidak bisa bangkit lagi. Hanya saja cost yang mereka keluarkan akan semakin besar karena kelengahan mereka.

Jonathan Hemus, Kepala Konsultan pada perusahaan konsultasi Insignia Inggris mengatakan kepada AFP bahwa pemulihan akan semakin cepat jika krisis segera direspon. Sebaliknya ia menambahkan, “Pemulihan akan lebih sulit jika Anda memulainya dengan buruk dan menunda untuk bertindak.”

Jika sebuah organisasi atau seseorang bertindak cepat menangani krisis dalam beberapa hari pertama, maka organisasi itu akan merasa lebih positif kemudian hari, kata Hemus. Namun jika orang atau organisasi itu baru bertindak setelah seminggu atau lebih, maka masalah akan semakin sulit.

Penarikan kendaraan-kendaraan Toyota beberapa bulan terakhir ini telah merusak imej produsen mobil terbesar di dunia itu. Raksasa Jepang itu telah menjadi sorotan semenjak Januari terkait dengan berbagai kesalahan teknis yang telah menyebabkan penarikan kendaraan lebih dari delapan juta kendaraan di seluruh dunia. Namun ketika perusahaan itu menghadapi krisis terbesar dalam sejarahnya, para analis optimis bahwa reputasinya tidak akan jatuh sama sekali.

Presiden Toyota Akio Toyoda harus diingatkan bahwa beberapa perusahaan high-profile di masa lalu juga bisa bangkit dari keterpurukan, bahkan kadang-kadang krisis yang mereka hadapi justru memperkuat posisi mereka di masa depan dan dalam jangka waktu yang lama. Hanya Toyota bergerak lambat dalam merespon krisis yang dihadapinya bahkan Toyoda, 53, presiden Toyota, menghindar dari publik selama dua pekan setelah penarikan kendaraan mereka di AS. Mereka juga lamban merespon keluhan kosumen, “sehingga saya kira Toyota dalam posisi sulit saat ini,” kata Hemus.

Krisis yang dialami Johnson & Johnson’s, perusahaan obat AS, terkait dengan produk pil mereka yang terkontaminasi dengan Tylenol di awal 1980-an bisa bangkit kembali dan menjadi pahlawan, kata para pakar industri Public Relation.

Ketika delapan orang meninggal setelah meminum obat penawar rasa sakit cyanide-laced, perusahaan itu melakukan penarikan massal dan melakukan kampanye media secara besar-besarann untuk memperkenalkan paket ganti rugi dan memberikan pengganti secara grastis kepada para konsumennya.

Tindakan Ideal

Berbeda dengan Johnson & Johnson’s yang bertindak cepat melakukan penarikan produk bermasalah, sebaliknya Toyota dikecam karena bergerak sangat lambat dalam merespon keluhan konsumen.

Nama besar seperti Coca-Cola dan Exxon Mobil pun tidak luput dari krisis atau kegagalan. Namun mereka, sama seperti Toyota saat ini, mendapat kecaman di masa lalu karena lambannya merespon publik, walapun demikian mereka berhasil memperbaiki reputasi mereka kembali.

“Jelas, situasi seperti Johnson & Johnson–dimana mereka bereaksi dengan sangat cepat, dimana mereka bersiap siaga, merespons dan mengkomunikasikan masalah dengan cepat dan terbuka—adalah tindakan yang ideal,” kata Deborah Hayden dari Kreab Gavin Anderson Jepang.

Krisis yang alami Thomas Alfa Edison ditanggapi ibunya dengan cepat. Edison tidak dibiarkannya jatuh dalam kegagalan tapi dengan sabar ia telah membngkitkan semangat sang anak. Edison pun, kemudian, menjadi orang besar yang akan dikenang oleh setiap orang di saat menghidupkan lampu listrik. Baginya semakin banyak mengalami kegagalan akan semakin dekat dengan keberhasilan. Bukan tidak mungkin saat ini kita mengalami krisis atau kegagalan, tapi yang penting adalah bagaimana merespon krisis tersebut.[ds]

* David Siagian …

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.9/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 6 votes)

Don’t Open Your Mouth When …

eaeOleh : Emmy Angdyani Erawati*

Ketika saya membuka e-mail lama yang masuk ke inbox saya, saya tertarik membaca kembali e-mail yang dikirim oleh seorang teman. “Don’t open your mouth when : “, demikian judulnya. Ada lebih kurang 15 point singkat petunjuk praktis tentang judul di atas.

01. In the heat of anger

Jika panas sudah sampai di ubun-ubun, hati kita sudah panas mendidih, tentu Anda setuju siapa pun dan sepandai-pandainya orang me”manage” hati, pasti kecenderungan kalimat yang kontraproduktif bahkan destruktif akan terlontarkan.

02. When you don’t have all the facts and you haven’t verified the story .

Check and recheck mungkin itu singkatnya. Acapkali kita sudah memperbincangkan bahkan telah membroadcast kemana-mana, padahal kevalidan berita atau cerita belum ada.

03. If you can’t say it without screaming it.

Saya pernah mendapat pertanyaan dari mentor rohani saya begini, “Mengapa jika dua orang bertengkar, maka volume suara akan begitu keras, bahkan sampai berteriak-teriak?” Jawabannnya adalah karena secara fisik ke dua orang itu berdekatan, tapi jiwa ke dua orang itu berjauhan sehingga dalam menyampaikan sesuatu , satuan “decibel” suara akan berlipat agar sampai kepada lawan bicara. Biasanya naiknya emosi berbanding lurus dengan volume suara.

04. If you would be ashamed of your words later or you may eat your words later

Istilah yang umum dipakai adalah “menjilat ludah sendiri”. Lebih baik tidak berkata apa-apa dari pada kita sendiri yang malu di kemudian hari. Atau pepatah “mulutmu harimaumu” juga tepat dikaitkan dengan point ini.

05. If your words will damage a friendship

Tidak jarang pertemanan atau relationship lainnya yang sudah dibangun dengan susah payah seringkali ternodai karena kita tidak mampu mengendalikan kata kata yang keluar dari mulut kita.

06. If your words will damage someone else’s reputation

Biasanya diawali dengan “bisik bisik” menceritakan kejelekan atau aib orang lain, lama-kelamaaan reputasi orang lain akan tercoret dengan tinta merah. Berawal dari bisik-bisik, secara sistemik akan mampu merusak reputasi seseorang. Bukankah ini berarti secara sistemik pula kita menghancurkan hidup orang lain?

Ada pepatah yang mengatakan: “Pikiran hebat membicarakan ide, pikiran biasa membicarakan kejadian, pikiran bodoh membicarakan orang.” Tentu membicarakan orang di sini dalam konotasi membicarakan kejelekan atau aib orang. Apakah kita memilih untuk berpikiran bodoh?

07. It is time to listen

Ada waktu untuk berbicara, ada waktu untuk mendengar. Mengapa Tuhan menciptakan kita dengan dua telinga dan satu mulut, agar kita ingat bahwa kita perlu cepat mendengar dan lebih lambat untuk berbicara.

Jadi, jika saat kita membuka mulut, malah membuat panas suasana, mendemotivasi, tidak jelas kebenarannya atau membuat perpecahan, adalah lebih bijak jika kita berdiam diri.[eae]

* adalah seorang Insinyur Teknik Kimia yang lahir di Surabaya, 2 Maret 1969. Emmy adalah ibu dari seorang anak berusia 10 tahun dan pernah berkarier di perbankan selama sepuluh tahun. Sekarang ia bekerja di sebuah perusahaan pelayaran nasional di Surabaya sekaligus menjalankan wirausaha persewaaan mobil. Ia dapat dihubungi di Pantai Mentari M-40, Surabaya, HP: 081.2358.7773 atau pos-el: angdyany[at]telkom[dot]net.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.2/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 10 votes)

Hadapi dengan Senyuman

pratama-pudji-w1Oleh: Pratama Puji Widiyanto*

Senyuman adalah pahala, pencair suasana, dan ketenangan jiwa. Namun di jaman sekarang, kok susah sekali menemukan orang yang selalu tersenyum lepas. Mudah kita temui orang-orang dengan wajah cemberut, menggerutu, dan pemarah. Apakah kondisi bangsa, kondisi keluarga, kondisi lingkungan dan kondisi masyarakat sekitar yang membuat kita jadi sulit untuk tersenyum dan lebih sering marah-marah? Tidak adil rasanya kalau kita selalu menyalahkan keadaan, tanpa membawa solusi terbaik.

Padahal ketika orang tersenyum, aura positif akan muncul. Sebuah amarah bisa cair seketika ketika kita mampu menyikapinya dengan senyuman. Ketika kita berkenalan dengan orang lain, senyuman adalah kunci untuk membuka pintu berkomunikasi. Senyuman merupakan tanda bagi orang yang bahagia dan bersyukur dalam hidupnya.

Saya mempunyai kenalan seorang tukang becak di perumahan. Pak Urip namanya. Orangnya sangat ramah, usianya sekitar 40 tahun. Walaupun tidak muda lagi, dia nampak gesit dan jarang menunjukkan raut muka lelah, yang sering saya lihat justru senyuman yang tersungging. Ketika orang berpapasan dengannya dia tersenyum, ketika ada orang perumahan yang meminta tolong, dia siap dan membantu dengan semaksimal mungkin. Pernah suatu ketika Pak Urip diminta untuk membantu keluarga kami membersihkan gudang. Dengan cekatan, dia mengerjakan perintah dengan baik. Ketika menyapu, mengangkut barang dan mengepel lantai semuanya diiringi dengan penuh senyuman, walaupun keringat bercucuran. Pak Urip memang orang yang berdedikasi tinggi. Jarang saya menemukan orang yang ikhlas seperti Pak Urip.

Alhamdulillah kalau kita masih diberikan kesempatan untuk tersenyum, karena banyak orang yang memilih untuk cemberut, mengeluh, dan marah-marah ketika menghadapi suatu masalah. Hadapi dengan senyuman, itulah kuncinya. Sayang rasanya kalau setiap hari kita menyiram benih negatif ke dalam pikiran dan tubuh kita, lebih baik kita menyiram benih-benih positif ke dalam kehidupan kita setiap harinya. Semua yang terjadi dalam kehidupan kita bergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Semua kendali—baik emosi, marah, senang, gembira, dan susah ada di tangan kita masing-masing.

Dalam sebuah buku yang saya pernah baca disebutkan hasil studi penelitian di Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa pria bertemperamen keras lebih berpeluang mengalami sakit jantung dini dibanding pria yang lebih kalem. Hal ini disebabkan karena ketika kita marah, tubuh akan meningkatkan pelepasan katekolamin, bahan yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah, meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Studi yang melibatkan lebih dari seribu responden pria ini menyebutkan bahwa pria yang selalu berada dalam situasi penuh tekanan dengan perasaan marah dan mudah tersinggung akan mengalami peningkatan risiko gangguan jantung sampai tiga kali lipat sebelum berusia 55 tahun. Akibat lain yang timbul adalah mengundang peningkatan risiko stroke.

Dengan melihat hasil penelitian di atas, bisa memberikan masukan bagi kita untuk memilih apakah kita ingin menjadi seorang yang penuh amarah ataukah menjadi seorang yang penuh senyuman dalam menghadapi beban dan tantangan hidup. Seberat apa pun tantangan yang kita hadapi, pasti ada solusinya dan solusi akan lahir dari pikiran-pikiran positif yang senantiasa hadir setiap hari. Salam Sukses.[ppw]

*Pratama Puji Widiyanto adalah Alumni S1 Ekonomi Jurusan Akuntansi dari UNSOED Purwokerto. Hobinya berorganisasi, sepakbola, membaca, menulis, silaturahmi dan ”belajar” dari pengalaman hidup sehari-hari. Sewaktu kuliah pernah mendapat amanah sebagai Ketua Umum HMJA FE UNSOED 2008/2009. Saat ini bekerja di Instansi Pemerintah Kotamadya Pekalongan dan berwirausaha batik. Contact Person : pratamapuji.widiyanto@gmail.com – 085 6260 4580.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Lely Arrianie: Ani Yudhoyono Bukan Politisi, Tapi Bisa Muncul Kalau Melakukan Make Over

Dr. Lely Arrianie MSi, pakar komunikasi politik

Dr. Lely Arrianie MSi, pakar komunikasi politik

Pemilu presiden 2014 masih jauh sekali, tetapi kegenitan melempar wacana capres sudah tampak meriah. Nama tokoh-tokoh seperti Aburizal Bakrie, Megawati, Prabowo Subianto, Sri Mulyani Indrawati, dan Mahfud MD belakangan cukup sering disebut. Bahkan, nama first lady Indonesia, Kristiani Herawati Yudhoyono pun mulai diunjukcobakan dan dikomunikasikan dalam wacana pilpres 2014. Pro dan kontra pun membahana memeriahkan diskusi-diskusi politik ke depan.

Namun dalam perspektif komunikasi politik, apa saja peluang serta halang rintang yang mesti mereka hadapi? Apakah mengomunikasikan calon presiden sejak saat ini sudah tepat waktu? Apa wahana komunikasi politik yang pas untuk menyiarkan potensi mereka? Dan, bagaimana pula efektivitasnya bila dikaitkan dengan realitias bahwa mayoritas pemilih kita adalah pemilih irasional?

Lely Arrianie, pakar komunikasi politik dari Universitas Bengkulu memberikan perspektif berdasar temuan-temuan penelitiannya yang sudah dibukukan dengan judul Komunikasi Politik-Politisi dan Pencitraan di Panggung Politik (Widya Padjajaran, 2010). Menurut Lely, contoh keberhasilan komunikasi politik di negara maju tidak serta merta bisa diaplikasikan di sini. Harus ada modifikasi dan kemas ulang, itu jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal.

Meski dari segi pemasaran politik istilah yang digunakan sama, positioning, targetting, dan segmentasi, menurut saya ketika hendak diterapkan dalam proses komunikasi pemasaran politik, ketiganya harus disesuaikan dengan budaya politik, etika politik, dan bahkan transformasi nilai-nilai kearifan lokal,” papar Lely, yang menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Padjadjaran Bandung, tahun 2006 dengan predikat cum laude ini.

Untuk mengetahui lebih jauh sisi-sisi terpenting dari komunikasi dan pemasaran politik, secara khusus Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com mewawancarai Lely Arrianie yang kelahiran Tanjung Enim, 2 April 1966 ini. Berikut petikan wawancara yang dilakukan melalui situs jejaring sosial Facebook belum lama berselang:

Sekarang wacana calon-calon presiden mulai bergulir. Dari sisi komunikasi politik, apakah ini sudah waktunya atau terlalu pagi?

Tergantung siapa yang memandangnya. Bagi rakyat, masyarakat kebanyakan, jelas ini enggak penting-penting amat. Bukan masih pagi, tapi terlalu subuh, fajar hehehe. Tapi bagi mereka yang menggagas program dan kepentingan politik partainya, jelas ini adalah lonceng, bedug, dan terompet yang harus segera dimainkan. Tapi menyedihkan jadinya, mengingat pascapemilu 2009 nyatanya pemenang prosesi pemilu pun belum menunjukkan bagaimana merealisasikan program.

Salah satu alasan mewacanakan capres lebih awal adalah untuk testing the water. Ibaratnya, melempar satu nama capres atau produk untuk melihat-lihat reaksi pasar. Masuk akalkah?

Enggak juga. Nyatanya yang digadang-gadang akhirnya masuk karung juga. Sekarang saya tanya balik. Antara kredibilitas dan popularitas mana yang berpeluang lebih besar untuk terus melenggang menjajal tujuan politik? Ingat kasus Amien Rais pascareformasi? Apa yang kurang dari popularitas dia? Apa yang tak pas dilihat dari kredibilitasnya? Lagi pula, dua kali kasus kenaikan ke kursi presiden nyatanya muncul karena merasa “iba” terhadap calon yang dizalimi, bukan? Pasar politik tidak sama dengan pasar ekonomi. Makanya, saya bilang politik itu komedi dilihat dari dekat, tapi tragedi dilihat dari jauh.

Dalam ranah survei politik ada pembedaan antara popularitas seseorang dengan tingkat elektabilitasnya. Dari perspektif komunikasi politik, bagaimana menyinkronkan keduanya supaya popularitas berdampak pada peningkatan elektabilitas?

Survei kadang bisa tergantung pesanan. Yang popular belum tentu elektabilitasnya tinggi, yang elektabilitasnya tinggi kadang tidak muncul dari proses meritokrasi. Tapi penyelenggara survei semacam ini pelan-pelan akan terdegradasi. Pernah dengar anekdot 3-D? Alias, duit, doa, dan dukun. Nah, di zaman gonjang-ganjing politik seperti ini, kenapa mereka berani berspekulasi dengan segala upaya pencitraan diri tadi?

Ongkos politik memang mahal, tapi tetap miskin subisatansi. Orang tiba-tiba dianggap bercitra. Pemilih seperti ditawarkan kucing dalam karung. Tapi bagi saya, orang yang popular pun tidak hanya perlu popular di media, tapi juga harus mengakar ke publilk. Jadi, kadang keduanya antara popularitas dan elektabilitas bisa dipertemukan, tetapi kadang juga tidak.

Lely: komunikasi politik kita banyak yang sifatnya manipulatif

Lely: komunikasi politik kita banyak yang sifatnya manipulatif

Para politisi belajar banyak dari kasus kekalahan Jusuf Kalla dan Wiranto pada pemilu presiden 2009 lalu. Mereka start sangat terlambat dan akhirnya gagal. Ditinjau dari perspektif komunikasi politik, apakah mewacanakan calon kandidat presiden mulai sekarang percuma saja?

Bukan masalah start , tetapi masalah mesin politik yang memang bekerja atau tidak. Menurut saya, ke depan partai politik seharusnya berfungsi untuk memanajerialkan tokoh, kader, dan aktivis partainya. Sehingga, ketika sang tokoh, kader, dan aktivis dimunculkan untuk menduduki peran presiden atau kepala daerah sekalipun, semua bergerak untuk menjelaskan ke publik. Bahwa, sang tokohlah yang memang layak menjadi pilihan. Sederhana, bukan? Tapi, karena politik adalah perang tak berdarah dan perang adalah politik berdarah, maka yang terjadi orang-orang memanfaatkan partai tidak dalam kapasitas yang sejalan dengan ideologi partai pun tampaknya dianggap tak masalah.

Menyangkut wahana komunikasi politik untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas. Sebenarnya mana yang paling efektif, komunikasi langsung ke konstituen ataukah melalui media massa, cetak, maupun elektronik?

Tadi kan kubilang “bersinar di media” tetapi (harus juga) mengakar ke publik. Kalau media biasanya dengan agenda setting selalu menganggap, bahwa apa yang dianggap penting oleh media maka dianggap penting oleh publik. Sehingga, dengan berbagai cara analisis framing berita tentang si tokoh, baik isi atau content-nya dengan segala literasi politik sang tokoh, dianggap bisa menjadi popular. Nyatanya, akhirnya kembali ke pemilih juga.

Ingat kasus iklan Sutrisno Bachir dan Rizal Malarangeng yang dimunculkan bertubi-tubi, hanya popular sesaat, bukan? Tapi yang jelas media dianggap mampu membenuntuk opini publik, asalkan tepat. Nah, kalau pemilihan kepala daerahnya di Papua sana, lalu pakai iklan di Jak Tv, pas enggak?

Dalam disiplin komunikasi politik, apakah ada strategi atau teknik yang memadupadankan antara karakter seorang calon presiden misalnya, dengan pilihan model kemasan komunikasi politik?

Oh, banyak… Tapi kan orang Indonesia latah? Mentang-mentang Obama menang terus gaya dan teknik pemasaran politik Obama dikira sama bisa digunakan juga di Indonesia. Meski dari segi pemasaran politik istilah yang digunakan sama, positioning, targetting, dan segmentasi, menurut saya ketika hendak diterapkan dalam proses komunikasi pemasaran politik, ketiganya harus disesuaikan dengan budaya politik, etika politik, dan bahkan transformasi nilai-nilai kearifan lokal.

Tapi, kan model komunikasi politik kita begitu acak. Sehingga, bisakah kita membedakan gaya komunikasi politik seorang calon dari partai yang berbasis agama, nasional, ataupun sebenarnya diam-diam bergaya komunikasi politik tradional? Apa yang dikatakan pemimpin partainya adalah harga yang tidak bisa ditawar, dibantah, dan diabaikan misalnya.

Untuk ketidakjelasan pola komunikasi politik yang tidak bersesuaian antara garis ideologi partai dengan gaya personal sang calon, apa ada “obat mujarabnya” di tengah bervariasinya demografi dan latar belakang calon pemilih?

Menurut saya agak susah. Kita kan sudah terpola dengan gaya komunikasi sesuai langgam masing-masing. Apa bisa Anda bedakan andaikan Ruhut Sitompul dan Anas Urbaningrum bertarung? Keduanya dari partai yang sama, ideologi, platform juga sama. Tapi lihat literasinya. Idialek, bukan dialek keduanya... Anas gayanya bahkan lebih mirip Maruarar Sirait, kan? Nah, persepsi berbasis demografi membelah personal branding calon dalam kekhasan kemasan yang sebenarnya penuh manipulasi juga. Apa boleh buat, itulah fenomenanya sekaligus dinamika politik yang kita hadapi, entah sampai kapan.

Lely saat mewawancarai narasumber aktivis dalam penelitian politiknya

Lely saat mewawancarai narasumber aktivis dalam penelitian politiknya

Mari menukik ke contoh konkret. Tiga nama perempuan disebut-sebut berpeluang maju ke pemilu presiden 2014, Ani Yudhoyono, Megawati soekarnoputri, dan Sri Mulyani Indrawati. Singkat saja, apa kelemahan dan kekuatan masing-masing dari sisi komunikasi politik?

Ani Yudhoyono, mungkin karena terlahir dari seorang Sarwo Edi yang notabene adalah tokoh militer yang disegani, ada nuansa maskulinitas yang dia tampilkan. Tapi, dia tetap tidak bisa disejajarkan dengan seorang Aisyah Amini (politisi senior PPP) yang pernah dianggap Margaret Thatcher-nya Indonesia. Ani Yudhoyono bukan politisi, tapi mendampingi pemimpin negara yang juga ketua dewan pembina partai politik. Dia juga tidak bisa disandingkan dengan Hillary Clinton yang mengembangkan naluri politknya. Tapi, dia bisa muncul kalau diterjunkan, diceburkan, dengan terlebih dahulu melakukan make over.

Megawati mungkin tidak akan tampil lagi. Meski pemilu kemarin suara pemilih masih cukup besar, diam, tapi teguh dalam sikap politik. Tetap konsisten dalam garis oposisi. Lalu Sri Mulyani, saya pikir dia perempuan pintar, tapi mabok ketika bersentuhan dengan politik. Sehingga, dia diskenariokan lari dari tanggung jawab pun dia menganggap adalah sebuah kebenaran. Separuh maskulin dan setengah femininitas.

Bagaimana dengan tiga kandidat pria yang paling sering disebut saat ini, yaitu Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto, dan yang dari non partai Mahfud MD?

Ketiganya berpeluang sama tapi dengan kriteria dan standard error yang berbeda. Eh, ini bahasa kuantitatif ya. Tapi enggak apa apa juga, sebentar lagi akan bermunculan kalkulasi kuantitatif dari lembaga survei, yang sebagian besar justru disiapkan oleh mereka yang ingin, akan, dan “dijerumuskan”, “terjerumus”, dan “menjerumuskan” diri dalam pertarungan politik itu. Kesiapan partai yang mengusung yang berkolaborasi dengan kesiapan calon dan semua jajaran tim sukses, termasuk menyiapkan intrik politiknya, akan menempatkan mereka sebagai balon. Kemudian, mereka menjadi calon yang akan “dijual” serta bagaimana ketiganya “menjual diri politik”.

Jadi baik Ical, Prabowo, atau Mahfud punya kans untuk itu. Jika dibandingkan kemenangan Partai Demokrat yang spektakuler pada pemilu lalu, yang disisipi aroma “Century”, membuat kita bisa berasumsi bahwa “uang” bisa memenangkan sebuah prosesi setingkat pemilihan kepala desa sekalipun. Pengalaman sebagai calon, posisi incumbent dengan fasilitas politik yang dimanfaatkan calon juga menjadi pembelajaran politik yang cukup efektif untuk bertarung. Tapi, harga sebuah “idealisme” seperti Mahfud MD mungkin tidak cukup popular di mata pemilih yang “irasional”, bukan? Sebab, masalahnya rata-rata pemilih kita memang kebanyakan irasional. Kepentingan sesaat jauh lebih dominan.

Mungkin juga karena kebanyakan masyarakat “lapar” dan permisif. Sehingga, ketika mereka menyadari bahwa hampir pasti komunikasi antara pemilih dan yang dipilih selesai ketika yang dipilih “terpilih”, maka sikap irasional menjadi rasional. Simbiosis mutualis antara yang memilih dan yang dipilih. Jadi, silahkan prediksi antara Ical, Prabowo, dan Mahfud berhadapan dengan pemilih yang irasional tadi.

Dari perspektif komunikasi politik, bagaimana cara memecah kebuntuan pemilih irasional tersebut?

Pemilih irasional akan tetap ada, terus ada, dan itu berlangsung terus sepanjang prosesi politik lebih mengedepankan untuk hanya siap mendapatkan kemenangan. Sehingga, kekalahan dianggap sebagai aib. Tetapi, menurut saya yang mengakar ke publik pemilih irasional bisa menjadi rasional. Dulu, ketika teori ethos, logos, dan pathos Aristoteles begitu diaplisasikan dalam pendekatan komunikasi massa, beberapa bagian yang ditawarkan Aristoteles relevan juga. Nyatanya ketika bungkusan atau kemasan pencitraan menyerbu dalam semua ruang hampa, pemilih yang rasional pun menjadi tidak rasional.

Ketika SBY dikemas sedemikian rupa, ia dipilih oleh ibu-ibu karena ganteng. Dipilih oleh bapak-bapak karena dizalimi. Dulu juga di negeri uwak Kennedy dia cukup lari di pantai berpasir sambil bertelanjang dada dengan postur tubuh proporsionalnya, dada bidang dan berbulu, terus para perempuan di pantai itu pada teriak histris “Kennedy… Kennedy, dan mereka merasa Kennedy lah yang harus dipilih.

Kasus Jabar juga. Hasil survei digugurkan semuanya karena Agum Gumelar yang popular dengan elektabilitas tertinggi di Jabar, toh tidak melenggang ke kursi gubernur. Dan ternyata, pemilih yang sebagian besar adalah perempuan dengan penuh percaya diri mengatakan memilih Dede Yusuf karena ganteng. Jadi, bukan gubernurnya yang dipilih. Jadi, konteks rasional dan irrasionan macam apa pula ini? Tapi, menurut saya komunikasi linier harus disingkirkan dalam tiap relasi yang menyangkut psikologis pemilih. Jadi, menjadi jelas di mana positioning, segmentation, dan targetting dalam komunikasi pemasaran politik.

Lely Arrianie: selangkah lagi ke profesor komunikasi politik

Lely Arrianie: selangkah lagi ke profesor komunikasi politik

Baik, Anda sudah menelurkan buku komunikasi politik. Apa ssaja yang Anda tawarkan dalam buku itu yang mungkin bisa dijadikan rujukan bagi praktisi politik?

Buku saya merupakan hasil penelusuran panjang dari fenomena panggung politik dengan segala pernak-perniknya. Pendekatan yang saya cenderung masih agak langka digunakan di panggung politik. Sebab itu, saya bisa melihat suatu yang tersirat di balik yang tersurat. Saya menemukan beberapa model yang meski tidak dapat digeneralisasikan, tapi cukup menjelaskan bagaimana ranah politik menjadi panggung para komunikator politik dalam mengemas “impression management politiknya.

Dan, para komunikator politik, yang menurut Nimmo hanya terbagi menjadi aktivis, profesional, dan politisi, di temuan penelitian saya menyatakan, bahwa masyarakat biasa yang menyampaikan apresiasinya ke lembaga-lembaga politik adalah juga komunikator politik. Termasuk jurnalis yang meliput siaran politik. Ini artinya, meski gaya komunikasi linier yang digagas Laswell sangat popular, menurut saya tidak dapat diterapkan di panggung politik. Karena, para komunikator politik nyatanya adalah manusia dinamis, kreatif, yang gagasan dan pikiran politiknya bahkan selalu berkembang. Jadi, sulit di tebak dan selalu berubah. Karenanya dalam “mempertukarkan” pesan politiknya mereka cenderung bergerak dinamis pula dalam model yang interaksional. Sirkuler dan konvergen, bahkan transaksional.

Terkait dengan temuan Anda itu, apa saran Anda untuk para komunikator politik kita?

Dalam konteks ini, dengan yakin saya katakan bagi para komunikator politik, “bacalah” buku saya (Komunikasi Politik-Politisi dan Pencitraan di Panggung Politik, Widya Padjajaran, 2010). Dan, ketika Anda menemukan apa yang saya tulis ternyata tidak membuat Anda melek memaknai panggung politik, berarti Anda belum membacanya.

Pesan penting dari model komunikasi yang Anda paparkan tadi apa?

Yang pasti “berkomunikasi politik” dan melakukan impression manajemen politik apa pun, harusnya tetap membuat relasional antara pemilih yang telah memilih mereka dan mereka yang terpilih tidak selesai begitu saja. Atribut apa pun yang membuat para praktisi menjadi “berjarak” dengan konstituennya, jelas merupakan manipulasi subjektif yang membuat mereka akan tersingkirkan dari prosesi politik dalam setiap wilayah panggung. Front stage ataupun back stage. Dan, saya menemukan nyatanya ada juga middle stage yang diciptakan sendiri oleh para politisi. Salanjutnya dalam ketiga wilayah tadi, saya sarankan para komunikator politik khususnya profesional, aktivis, dan politisi dapat mengemas literasi politik yang relevan. Karena, ketika mereka menggagas peran di panggung depan harusnya perilaku yang tidak layak harus steril dari penonton. Sembunyikan di belakang panggung.

Dan, karena mereka dituntut tampak biasa menguasai peran, menurut saya seharusnya para politisi terutama, tidaklah menganggap parlemen sebagai kawah candradimuka yang baru akan menggodok mereka untuk berperan. Melainkan parlemen adalah tempat mereka mempraktikkan “pembelajaran” politik yang telah mereka tempuh sepanjang menjadi aktivis, kader, dan bahkan simpatisan atau pengurus partai. Jadi, istilah “learning by doing” tidak pas untuk mereka. Sekali lagi “berbuat politiklah” ketika anda terpilih.[ez]

Foto-foto: dokumen pribadi & dokumen Proaktif Schoolen.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.8/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

EQ di Dunia Kerja

liliana-wOleh: Liliana Wahyudi*

Semakin hari dunia terasa semakin tua dan semakin penuh ketidakpastian. Kondisi ini membuat banyak orang mengalami stres dan tidak tahan menghadapinya, sehingga ada yang memutuskan untuk mendahului Tuhan dengan mengakhiri hidupnya sendiri. Sungguh miris rasanya mendengar begitu banyak kejadian bunuh diri di sekitar kita. Sehingga untuk mengantisipasi hal ini, perlu sekali kapasitas pribadi yang memadai untuk bisa menghadapi kondisi sesulit apa pun menjadi lebih baik.

Tertarik dengan hal ini, saya ingin mengetengahkan tentang bagaimana EQ (Emotional Quality – bukan Emotional Quotient). Di saat situasi tidak pasti ini emosi sering kali menjadi mudah meledak dan labil, karena itu dibutuhkan orang-orang yang punya kualitas emosi yang prima untuk bisa membuat suasana yang kondusif. Sebagai penyeimbang, dibutuhkan pula SQ (Spiritual Quality).

Anthony Robbins dalam buku best sellernya yang berjudul Awaken Giant Within menuliskan tentang 5 (lima) pokok permasalahan hidup yaitu :

Mengendalikan emosi

Mengendalikan fisik

Mengendalikan hubungan

Mengendalikan keuangan

Mengendalikan waktu

Dalam tulisan kali ini saya ingin membahas lebih dalam tentang mengendalikan emosi. Sering kali orang menjadi salah kaprah tentang EQ dan SQ yang tinggi. Sebagian orang berpendapat bahwa orang yang EQ tinggi berarti orang itu tidak pernah marah. Padahal pendapat ini keliru besar. EQ dan SQ tinggi dan rendah dapat dilihat ketika suasana memanas, orang yang bisa dengan mudah mengatakan ”Anjing!!! Goblok lu!!!! Babi !!! Stupid!!! dan kata-kata ’kebun binatang’ lainnya bisa dipastikan memiliki kecerdasan emosi yang rendah. Sementara orang yang EQ dan SQ tinggi, ketika marahpun, dia dapat mengontrol perilaku dan kata-kata yang dikeluarkannya sehingga mengena pada masalah yang akan dibereskan. Misalnya dengan kata-kata ”Saya tidak suka dengan sikap kamu ketika menghadapi pelanggan tadi ….seharusnya….,” Jadi jelas di sini, orang yang ber EQ – tinggi bisa marah… hanya kemarahan itu diungkapkan pada konteks untuk menegur dan memperbaiki sesuatu yang tidak tepat menjadi lebih baik. Sementara orang yang berEQ rendah mudah meledak-ledak, kata-katanya tidak terkontrol sehingga cenderung melukai hati orang lain bahkan menimbulkan dendam.

Bila Anda menyimak berita di pertengahan Desember 2007 di mana ada seorang guru olah raga di sebuah SMTP di Sukabumi yang tega menusuk muridnya hingga akhirnya muridnya ini meregang nyawa dalam perjalanan menuju rumah sakit. Mengapa hal ini terjadi? Karena sang guru yang tidak dapat mengendalikan diri akibat sering menerima ejekan dari muridnya itu yang menjadi tetangganya. Seandainya, Sang guru memiliki EQ dan SQ yang cerdas tidak seharusnya guru tersebut menjadi sakit hati dan melampiaskan dengan membabi buta, guru tersebut bisa saja memanggil muridnya, membereskan masalahnya, dan menyadarkan sang murid bahwa kata-kata yang dilontarkannya tidak pantas dan menyakitkan.

Seorang yang EQ dan SQ-nya cerdas akan dapat :

  • Selalu bersemangat termasuk ketika lingkungan pekerjaannya sedang mengalami demotivasi atau memiliki prinsip RMS (Rajin Malas Sama saja) atau prinsip yang penting kerja dan akhir bulan gajian.
  • Selalu berpikir progresif supaya pikiran dan perasaannya tidak memiliki kebuntuan dan kejenuhan.
  • Bersikap proaktif untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan rekan sekerja serta atasannya.
  • Selalu bersikap positif, tidak mudah sakit hati termasuk ketika atasan atau rekan sekerjanya melakukan tindakan yang berlebihan dan cenderung melukai. Napoleon Hill seorang pakar motivasi mengatakan, ”Tidak ada seorang pun yang bisa menyakiti Anda jika tidak Anda izinkan.” Dalam pengertian ini, ketika Anda ditegur secara keras oleh atasan Anda, maka Anda hanya akan mengambil poin pembelajarannya bukan makian-makin kasar yang dilontarkannya.
  • Selalu mengisi hari-harinya bukan hanya untuk mengumpulkan harta duniawi saja tetapi juga mengumpulkan pahala untuk bekal di kehidupan nanti.

Dalam pengalaman saya di lapangan, acap kali para front-liner, sales people belum memiliki aspek-aspek di atas secara memadai sehingga mereka mudah mengalami burn-out, mudah tersulut emosinya ketika menghadapi pelanggan yang sulit. Keadaan akan menjadi lebih mudah ketika saya mengajak mereka melakukan refleksi diri dan latihan mengembangkan empati. Saya cenderung mengajak mereka membuat balancing pikiran, fisik, dan kerohanian mereka terlebih dahulu dan setelah itu baru dibekali ilmu untuk berempati. Mereka menjadi lebih mudah memahami bahwa pelanggan yang marah-marah ketika berhadapan dengan mereka bisa jadi karena mengalami banyak masalah sebelum berhubungan dengan mereka, sehingga ketika ada sedikit saja masalah yang tidak berkenan bisa membuat mereka meledak. Dengan latihan empati, mereka bisa menerima reaksi-reaksi pelanggan, dan tidak menjadikan mereka reaktif melainkan responsif untuk tetap fokus pada solusi terbaik bukan fokus pada makian dan sikap customer para pelanggannya, bahkan beberapa menjadikan hal tersebut tantangan ketika saya katakan bahwa ” kecerdasan emosi Anda jempolan, pahala Anda banyak ketika Anda bisa membuat pelanggan yang marah-marah menjadi reda kemarahannya bahkan bisa keluar dari ruangan Anda dengan senyum manis”.

Hasilnya para front liner dan sales people yang mau mengembangkan EQ secara sungguh-sungguh menjadi lebih ’happy’ menjalankan pekerjaan mereka. Dengan EQ yang cerdas hubungan antar departemen pun menjadi lebih harmonis sehingga suasana kerja lebih menyenangkan dan produktivitas lebih meningkat.

Melalui tulisan ini saya berharap Anda bisa mengambil makna pembelajarannya, mari kita menjadikan setiap hari yang kita jalani sebagai anugerah Tuhan, dan mengisi dengan hal-hal yang berkualitas, supaya hidup menjadi lebih hidup. Selamat mempraktikkan![lw]

* Liliana Wahyudi adalah seorag Trainer Soft Skills yang mulai menekuni dunia pelatihan sejak tahun 1997. Ia dapat dihubungi di email : lilianawhyd@yahoo.com /lilianaw@cienliliana.com

atau website: www.cienliliana.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

Ketenangan dalam Secangkir Teh

abOleh: Abd Basid*

Tidak banyak orang tahu akan asal usul teh. Konon suatu hari Kaisar Shen Nung dari China akan minum air mendidih. Ternyata beberapa daun jatuh dari pohon karena tertiup angin sehingga terjatuh dari panci berisi air mendidih tersebut. Bukannya mengangkat daun dari panci, Sang Kaisar malah memutuskan untuk mencicipi air rebusan itu. Tidak disangka air rebusan itu sedap dan menyegarkan tubuh.

Secangkir teh memang lebih bersahabat ketimbang secangkir kopi. Secangkir kopi mungkin akan dan sering dinikmati para pecandu rokok, akan tetapi secangkir teh sering dinikmati semua kalangan—baik itu pecandu rokok atau bukan, baik itu kaum Adam maupun Hawa. Ketika orang terkena pilekpun dan “bernafsu” untuk menikmati minuman selain air putih, sudah pasti pilihannya akan jatuh pada teh hangat. Bahkan saking akrabnya, tidak jarang kata “teh” sering digunakan untuk menunjukkan keselarasan dan analogi kesemangatan, seperti yang penulis temukan dalam judul salah satu pengantar penerbit buku Sekuntum Nyawa untuk Sahabat, bertuliskan “Secangkir Teh Hangat dari Penerbit”.

Aroma teh memang sangat memesona. Aroma harum teh akan langsung tercium tatkala diseduh. Ketenangan dan kenikmatan akan terasa saat diseruput. Ada aroma dan kenikmatan tersendiri dalam teh. Apalagi diminum di sore hari—baik dalam kesendirian maupun dalam kebersamaan—dikala senja sudah menampakkan merahnya.

Minum teh di sore hari merupakan kebiasaan orang-orang Eropa. Untuk mencari ketenangan di sore hari setelah seharian menyibukkan diri, tidak sedikit dari mereka yang menghabiskannya sambil meminum teh. Bahkan bagi sebagian besar orang minum teh bukan hanya untuk menghilangkan dahaga, melainkan lebih dari itu, untuk mencari ketenangan, apalagi setelah seharian menyibukkan diri. Nikmat sekali.

Di Indonesia hal seperti itu mungkin masih jarang. Masyarakat Indonesia masih lebih memilih jalan-jalan ke toko, mal, dan sejenisnya. Padahal dalam secangkir teh ada ketenangan yang tidak kalah nikmatnya dibanding jalan-jalan ke toko dan mal. Namun, belakangan ini banyak masyarakat Indonesia yang mulai terbiasa bersahabat dengan (secangkir) teh.

Penulispun demikian. Secangkir teh yang menemani penulis dalam menulis kadang mendatangkan ketenangan, yang efeknya dapat mendatangkan imajinasi cemerlang. Namun, bukan berarti penulis menuhankan secangkir teh, akan tetapi penulis rasa setiap sesuatu membutuhkan satu yang lain, baik itu yang bergerak atau tidak. Dan secangkir teh mungkin bisa dikatakan perangkat lunak dalam ketenangan dan bersantai. Tulisan inipun ditemani secangkir teh yang pastinya dibalut dengan doa.

Teh mempunyai banyak jenis. Setiap jenis teh mempunyai pengaruh masing-masing. Sebut saja seperti teh hitam dan hijau. Teh hitam dan teh hijau dengan aroma melatinya dapat menyegarkan. Sementara teh putih mempunyai pengaruh dan memberi efek menenangkan. Bahkan ada beberapa jenis teh herbal dapat berefek dan membuat penikmatnya lebih rileks dan cocok dinikmati sebelum tidur. Hal ini bisa ditemukan seperti pada jenis teh herbal cammomele.

Apakah hal di atas mengada-ada? Tentu tidak. Hal di atas benar adanya. Apabila kita tidak melihat apa yang terkandung pada teh mungkin terkesan mengada-ada. Teh mengandung diantaranya; Pertama, antioksidan. Antioksidan yang dimiliki teh memberikan perlindungan bagi tubuh dari penuaan ataupun efek dari polusi. Kedua, berkafein lebih rendah dari kopi. Kopi biasanya mempunyai kafein 2 hingga 3 kali lipat lebih banyak dari teh. Secangkir kopi mengandung sekitar 135 mg kafein, sedangkan kafein di teh dengan ukuran yang sama, hanya terdapak kafein sebanyak 30-40 mg saja. Ketiga, melindungi tulang. Tidak hanya susu yang ditambahkan pada teh yang dapat memperkuat tulang. Akan tetapi juga ada pada teh. Ada sebuah penelitian yang menemukan bahwa orang yang telah meminum teh lebih dari 10 tahun memiliki tulang yang kuat. Ini mungkin disebabkan oleh phytochemical yang terkandung di dalam teh. Keempat, memberikan senyuman yang indah. Bukan teh yang menyebabkan kerusakan gigi, namun gula yang dicampurkan di dalamnya yang mempunyai efek buruk pada gigi. Teh sendiri mengandung flouride yang menjauhkan plak dari gigi, sehingga seseorang tidak akan malu dan grogi untuk tersenyum. Kelima, meningkatkan pertahanan tubuh. Dalam arti, dengan minum teh tubuh bisa terhindar dari infeksi. Keenam, menjaga tubuh untuk tidak kekurangan cairan. Selama ini minuman yang mengandung kafein dianggap tak dapat dikategorikan dalam minuman yang memberi kontribusi cairan bagi tubuh. Namun para peneliti ternyata menemukan bahwa minuman berkafein dapat memberikan kontribusi cairan yang sama dengan minuman lain.

Itulah salah satu logikanya, mengapa teh dapat mendatangkan ketenangan dan kesegaran pada tubuh dan cocok untuk segala suasana, terlebih lagi suasana nyantai—baik dalam kesendirian dan kebersamaan.[abb]

Oleh: Abd. Basid, jurnalis Ikatan Mahasiswa Alumni Bata-Bata (IMABA) wilayah Surabaya. Selain itu penulis aktif sebagai anggota Forum Lingkar Pena (FLP) ranting IAIN Sunan Ampel Surabaya. Penulis bisa dihubungi lewat http://lingkaran-koma.blogspot.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Menjalani Peran sebagai Ibu Rumah Tangga sebagai Pilihan Hidup

tnOleh: Tanenji

Seorang mahasiswi yang telah menyelesaikan studinya dan menikah, sempat curhat via fasilitas chatting di situs jejaring sosial facebook. Ia mengeluh karena capek-capek menjalani kuliah dan menyelesaikan S1-nya tetapi menjadi percuma dan sia-sia belaka. Karena ia hanya menjadi seorang ibu rumah tangga saja. Baginya seakan-akan ilmu dan pengetahuan yang telah susah payah diraihnya selama lebih kurang 4 tahun menjadi sia-sia. Perasaannya memuncak seolah-olah dunia seperti mau kiamat.

Banyak di antara kita dibesarkan dalam sebuah keluarga tradisional ala pedesaan di tengah pola kehidupan yang agraris. Hidup normal di antara keluarga inti yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dan anak-anak sebagai anggota keluarga. Seorang ayah bekerja dengan pergi ke kantor, sedangkan yang lainnya ke sawah, atau ke pasar, atau tempat lainnya dalam mencari nafkah. Sedangkan ibunya mengurusi rumah dan segala atributnya—mulai dari menyiapkan makanan, merapihkan rumah, membayar tagihan-tagihan, dan seabrek kegiatan domestik lainnya.

Tata keluarga yang demikian memungkinkan terjadinya bias gender karena menganggap bahwa yang berhak keluar rumah untuk sekadar mengaktualisasikan diri adalah pria. Sedangkan wanita dunianya adalah hanya sekitar dapur, sumur, dan maaf kasur.

Mind set yang demikian masih mendarah daging dalam sebagian pemikiran orang-orang yang hidup di alam modern ini. Walaupun jaman telah meng-global, tetapi ada saja yang mengkungkung diri dengan pemikiran tersebut.

Seiring dengan perkembangan kehidupan, tingkat melek huruf dan lama bersekolah penduduk berjenis kelamin perempuan semakin meningkat. Dunia kerja tidak lagi didominasi oleh pria. Bahkan dalam pekerjaan yang cenderung secara tradisional merupakan wilayah laki-laki telah terjamah oleh pelaku yang berjenis kelamin perempuan, seperti supir, dll.

Laki-Laki Penanggung Jawab Pencari Nafkah

Secara normal dan didukung oleh banyak doktrin keagamaan sebenarnya laki-laki-lah yang memiliki tanggung jawab dalam mencari nafkah untuk bekal melangsungkan kehidupan sebuah keluarga.

Untuk itu beberapa keluarga memprioritaskan anak laki-laki dalam mendapatkan kesempatan meraih pendidikan terbaik guna menyiapkan diri mereka menjadi calon kepala rumah tangga. Dari sinilah wacana pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) mendapatkan tempat dalam pembahasaannya.

Seandainya toh ada wanita yang bekerja maka bukan merupakan tanggung jawabnya dalam mencari nafkah. Tetapi hanya sebagai tambahan penghasilan bagi keluarganya karena didukung oleh pihak laki-laki atau sang suami. Walaupun tidak dipungkiri banyak yang penghasilannya lebih besar wanita dari pada laki-laki karena berbagai hal, seperti ruang lingkup pekerjaannya, latar belakang pendidikan dan pengalaman, dan banyak hal lainnya. Hal ini biasanya kalau tidak dikelola secara fair dalam hubungan antara suami isteri akan menjadi kerikil dalam hubungan harmonis antara mereka. Hal tersebut mengakibatkan banyak pasangan yang sebelumnya sama-sama bekerja akan memutuskan untuk salah satu saja yang bekerja. Dan hampir dipastikan yang terkalahkan adalah pihak si isteri. Hal ini bisa terjadi karena adanya kekhawatiran dominasi laki-laki menjadi runtuh. Penghormatan terhadap kepala rumah tangga terancam gara-gara wanita berpenghasilan mandiri.

Menjadi Wanita Pekerja

Wanita boleh bekerja menjalani aktifitas sehari-hari di luar rumah sesuai dengan perjanjian dengan sang suami. Pada dasarnya apabila suami tidak mengijinkan, beberapa doktrin keagamaan cenderung melarangnya apabila wanita tetap melakukannya ia dianggap tidak menghormati keputusan suaminya. Bila diijinkan ada baiknya wanita tetap pada koridor, bahwa pencari nafkah utama adalah pria, sedangkan ia hanya sebagai tambahan. Sehinggan sang suami tidak merasa direndahkan eksistensinya.

Konsekuensi dari seorang ibu bekerja adalah meninggalkan anak dalam waktu yang lumayan lama. Anak lalu diasuh oleh seorang baby sitter atau pembantu rumah tangga. Kalau seorang wanita menjadi guru masih lumayan, banyak waktu tersisa yang dapat dijalaninya dengan si buah hati. Bagaimana dengan para wanita pekerja kantoran yang berangkat pagi dan pulang ke rumah menjelang malam?

Pada dasarnya saya sepakat dengan wanita yang memilih untuk tetap bekerja di luar rumah setelah menikah. Bahkan saya cenderung mewajibkan para wanita itu dapat bekerja. Hal ini dikarenakan bila sang suami sudah tiada, maka ia akan mengandalkan siapa lagi dalam mendapatkan penghasilan yang memadai untuk melangsungkan kehidupannya? Tunjangan pensiun yang tidak seberapa itu? Belas kasih dari keluarga besar? Uluran tangan dari negara? Boro-boro, iya enggak?[]

Menjadi Ibu Rumah Tangga sebagai Pilihan Hidup

Life is all about choice. Hidup itu bicara tentang pilihan. Menjadi ibu rumah tangga bisa menjadi semacam pilihan tanpa paksaan bagi sebagian besar wanita dalam sebuah keluarga. Ia—sebagaimana digambarkan oleh sebuah iklan televisi—adalah ahli akuntansi terbaik dalam sebuah keluarga. Seorang ibu dapat menjadi guru les bagi anak-anaknya yang dapat mengalahkan guru formal yang sudah terkategori profesional sekalipun. Ia adalah koki terbaik yang pernah ada. Ia adalah house keeper andalan yang setia dengan pekerjaannya. Ia adalah ojek terbaik dalam antar jemput anak sekolah, hehe

Kehidupan yang rutin itu di mana saja dan kapan saja tetap mempunyai potensi yang dapat membuat kondisi seseorang mengalami kebosanan. Termasuk menjadi ibu rumah tangga, dimana kehidupannya yang dihadapi itu-itu saja sepanjang hidupnya. Apabila mau diuangkan (baca: dihargai secara professional) sebenarnya ibu rumah tangga adalah profesi tak ternilai penghargaannya. Agar tidak menjadi bosan/jenuh seorang ibu rumah tangga bisa mengaktualisasikan dirinya dalam banyak hal. Dunia arisan, dunia majelis taklim, dan dunia sosial lainnya sebenarnya memungkinkan kehidupan seorang ibu rumah tangga dapat lebih berwarna. Bahkan dapat melebihi warna pelangi terindah yang pernah ada dalam sejarah umat manusia. Untuk itu bersiap-siaplah ia keluar dari zona kenyamanan (comfort zone).

Banyak aktifitas yang dapat dijalani, baik profit maupun non-profit. Ia dapat menjadi penulis freelance. Ia juga dapat menjalani peran sebagai guru les bagi anak-anak tetangga kanan-kiri yang kurang mampu secara ekonomi secara gratis atau free of charge. Waktu luangnya bisa dimanfaatkan dengan mendesain buku-buku cerita. Ia juga bisa menuliskan pengalaman hidupnya sebagaimana pernah dikatakan oleh penulis novel laris JK Rowling. Tulislah apa yang Anda ketahui, ucapkan, lakukan, dan rasakan.

Lagian perasaan tersisih, perasaan melihat orang lain lebih bahagia dari dirinya adalah karena cuma saling memandang. Dalam istilah bahasa Jawa disebut sebagai sawang sinawang. Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga itu kampungan? Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga kurang berpengalaman? Siapa bilang menjadi wanita sebagai pekerja kantoran itu berarti hebat? Jaminan menjadi langsung kaya raya? Ya, coba kita wawancarai atau survei sebagian dari teman atau tetangga yang menjalani aktifitas seperti itu. Apakah ia dapat menjamin bahwa dirinya bahagia? Bukankah kebahagiaan itu bersifat abstrak? Bukankah kebahagiaan itu bicara soal hati? Soal bagaimana seni dalam memberikan sebagian dari yang kita miliki untuk orang lain? Karena bagaimana pun kebahagiaan itu ada dan tanpa syarat. Karena kebahagiaan itu pilihan. Termasuk menjalani peran menjadi ibu rumah tangga. Bukankah begitu kawan? Wallahu a’lam[tan]

*Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan beberapa perguruan tinggi swasta di Bogor, Depok, dan Jakarta-Timur, dapat dihubungi melaui email: tanenji@yahoo.com atau ponsel 0812 876 3133. Beberapa artikel lepasnya tentang secuil dinamika kehidupan dapat diakses di www.andaluarbiasa.com/tag/tanenji.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.7/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Masa Depan Anak dalam ‘Mindset’ Orang Tua

sup-3

Oleh : Supandi, s.pd. Mm

“Sikap hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh prinsip hidup yang dianutnya”

Masih melekat di dalam pikiran saya sebuah keyakinan yang begitu hebat yang pernah dilontarkan oleh ibu saya empat puluhan tahun yang lalu. Sebuah keyakinan yang mengobarkan energi positif terhadap diri beliau yang kemudian saya rekam dalam pikiran bawah sadar saya sebagai salah satu warisan yang sangat berharga, sekaligus sebagai ilmu dari sekolah kehidupan.

Salah satu nasihat yang mengandung makna dan keyakinan yang sangat dalam yang pernah beliau sampaikan kepada kami kurang lebihnya berbunyi demikian, “Pokoke kowe kabeh kudu pada sekolah. Senajan wong tuamu wong sing ora duwe, tapi Gusti Allah sugih. Aku yakin kowe kabeh bisa sekolah. Aku ora kepengin anak-anakku ngemben pada sengsara uripe”. Yang artinya, pokoknya kamu semua harus tetap sekolah. Walaupun orang tuamu orang yang tidak punya, tetapi Allah SWT Maha Kaya sehingga saya yakin kalian semua bisa sekolah. Saya tidak ingin anak-anakku hidup sengsara.

Tentunya bentuk keyakinan di atas beliau lontarkan tidak didorong oleh sekadar komitmen tanpa dasar. Ada semacam emosi positif yang membakar tekad di dalam dirinya. Tekad yang terhimpun di dalam pikiran super (super mind) melalui sebuah proses perpaduan antara beberapa unsur kepentingan; seperti rasa kasih sayang kepada anak, rasa ingin membahagiakan anak, dan keinginan agar anak-anaknya hidup sukses. Unsur-unsur kepentingan tersebut kemudian bereaksi dengan nilai-nilai spiritual sehingga tersimpul dalam sebuah keyakinan.

Keyakinan merupakan keadaan pikiran yang bisa dirangsang atau diciptakan oleh perintah peneguhan secara terus menerus sampai meresap ke dalam pikiran bawah sadar. Keyakinan adalah sebuah keadaan pikiran yang bisa dikembangkan sesuai dengan kemauan kita, melalui cara pengulangan perintah kepada pikiran bawah sadar dengan segenap perasaan emosi positif, sehingga pikiran bawah sadar akan menerimanya, dan digunakan sebagai landasan tindakan untuk menjadikannya sebuah kenyataan (Wuryanano: 2004).

Keyakinan akan memberikan kehidupan, kekuatan, dan tindakan kepada impuls pemikiran kita. Keyakinan akan memberikan kekuatan untuk mengubah getaran pemikiran biasa, dari pikiran manusia yang serba terbatas menjadi suatu padanan spiritual yang bersifat tanpa batas.

Pemikiran spiritual tanpa batas muncul ketika terjadi dominasi suara Tuhan yang melekat di hati seseorang. Adapun suara Tuhan dihasilkan dari hasil meditasi melalui pengamalan-pengamalan yang berkaitan dengan proses pendekatan diri kepadaNya. Proses yang mengarah kepada upaya pendekatan diri kepada Tuhan itulah yang akan membentuk keyakinan seseorang. Pada gilirannya keyakinan tersebut akan berjalan sinergis dengan prinsip hidup.

Contoh yang saya ilustrasikan tentang keyakinan dan prinsip hidup ibu saya di atas merupakan salah satu dari sekian banyak prinsip hidup dan keyakinan yang dimiliki oleh orang-orang pada umumnya, termasuk mungkin diri Anda.

Ada satu sisi yang sangat penting Anda sikapi dalam memegang teguh prinsip hidup Anda yaitu visi hidup yang didasarkan atas prinsip-prinsip kebenaran. Dengan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) yang Anda miliki, Anda harus bisa menentukan prinsip hidup yang sesuai dengan fitrah manusia; yaitu fitrah kebenaran, fitrah yang didukung penuh oleh ridlo Tuhan yang bisa membawa diri dan keluarga menuju ke arah kebahagiaan hakiki, serta memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Prinsip hidup semacam ini harus menjadi pijakan dasar untuk menentukan kebijakan dalam menentukan sikap hidup.

Prinsip hidup yang bersumber dari sesuatu yang tidak fitrah umumnya akan berakhir dengan kegagalan—baik kegagalan lahiriah maupun kegagalan batiniah. Dunia telah membuktikan bahwa prinsip hidup yang bertentangan dengan suara hati, terbukti hanya mengakibatkan kesengsaraan atau bahkan kehancuran. Terlebih di jaman modern sekarang ini. The power of visi hidup, prinsip hidup, dan sikap hidup yang didasarkan pada nilai spiritual harus benar-benar dipegang teguh demi untuk mencapai tujuan hidup jangka panjang.

Mengarahkan masa depan anak merupakan salah satu bentuk pencapaian tujuan jangka panjang. Bagaimana bentuk masa depan anak di masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh visi, prinsip, dan sikap hidup orang tuanya. Orang tua harus jeli dalam menyeting masa depan anak. Hindari cara-cara yang dewasa ini sering menjangkiti kehidupan manusia-manusia modern yaitu adanya kecenderungan manusia tertarik kepada hal-hal yang serba instan. Ingin memeroleh kekayaan dengan cepat, ingin meraih popularitas dengan cepat, meraih kekuasaan dengan mudah dan cepat, dan lain sebagainya.

Apabila konsep ini diperkenalkan dan dipertontonkan kepada anak dalam usahanya meraih masa depan, maka akan berakibat pada pembentukan pribadi yang rapuh. Mereka akan hidup tanpa digerakkan oleh visi hidup yang agung yang berorientasi pada nilai-nilai spiritual bagi kehidupan yang jauh ke depan. Mereka bagaikan akan mengarungi lautan luas tetapi tidak mengenal ke mana seharusnya perahu diarahkan. Mereka nantinya tidak memiliki daya atau powerless dalam bekerja dan tidak memiliki semangat juang yang tinggi dalam berusaha.

Fenomena di atas tentu pada saatnya nanti akan menjadi sebuah realita yang tidak kita harapkan. Semua orang tua sudah barang tentu mendambakan anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang tangguh, sholeh/sholehah, memiliki prinsip-prinsip kebenaran yang kokoh, serta sukses dunia akhirat. Jalan menuju masa depan atau cita-cita anak terbuka lebar. Walaupun kerapkali terhalang oleh tembok yang begitu kuat, namun dengan keyakinan dan langkah pasti tembok-tembok tersebut akan bisa kita lewati.[sup]

* Supandi, S.Pd. MM di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +8 (from 8 votes)